CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Pertemuan


__ADS_3

Di sebuah hotel mewah yang terletak di kota Leiden beberapa orang tengah melakukan persiapan untuk menuju mansion seorang pengusaha ternama. Albert Tholense dia adalah seorang pengusaha berlian dan memiliki beberapa bisnis lain, juga salah satu pemilik sebuah yayasan terbesar di Leiden menangani para penyintas kanker, yayasan itu sering melakukan penggalangan dana yang di pimpin langsung oleh Marrisa Andini, istrinya.


"Kau sudah siap sayang?" tanya Marcell pada putranya yang sudah tampil tampan dan rapih.


"Kita akan kemana Daddy?" tanyanya.


"Kita akan ke Ruman Opa dan Oma yang ada di sini" tutur Marcell. "Kau tampan sekali" puji sang Daddy.


"Ya, Daddy juga tampan seperti ku" kata Aiden yang membuat Marcell tersenyum.


"Apakah Mommy masih lama?" Marcell melirik pintu kamar mandi, dimana Yasmin ada di dalamnya.


"Sepertinya begitu, apakah aku boleh ke kamar Opa Robert?"


"Pergilah, kau tahu kamarnya?"


"Ya, aku anak yang pintar" ucap Aiden langsung pergi ke kamar Opa dan Oma nya yang terletak tepat di samping kamar yang ia tempati.


"Sayang kau masih lama?" Marcell berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sebentar lagi" sahut Yasmin dari dalam.


"Biarkan aku masuk, kenapa kau mengunci pintunya?" protes Marcell.


"Bersabarlah aku sudah siap"


"Ck sangat tidak asik" Marcell mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.


Klekkk...


Pintu kamar mandi itu terbuka dan terlihat Yasmin sudah cantik dengan off shoulder dress hitam yang panjang hingga mata kaki, tapi memiliki belahan hingga satu jengkal di atas lutut.


"Sayang" Marcell terkejut melihat penampilan Yasmin, lihatlah Yasmin memamerkan bahu seksinya dan leher itu, Yasmin menata rambut nya dengan gaya Low updo, sangat simple dan cocok sebetulnya sesuai dengan style Yasmin, tapi tidak menurut Marcell.


"Kenapa memakai baju seperti ini? dan apa-apaan ini? kenapa sobek sampai di bagian paha?" Marcell meneliti pakaian yang di kenakan Yasmin.


"Ada apa?"


"Ganti pakaian yang belum jadi ini" perintah Marcell.


"Jangan berlebihan Marcell, ini dress pemberian Mama" ucap Yasmin mengambil high heels hitam yang senada dengan warna dress nya.


"Ganti atau kita tidak jadi pergi"


"Kau saja yang tidak jadi pergi, karena aku pasti akan pergi" ucap Yasmin selesai mengenakan heels itu dan mengambil sebuah handbag.


"Yas...."


Tok...tok...tok...


"Yasmin, kau sudah siap sayang?" suara Mama Helena.


"Ya ma" seru Yasmin. "Kau akan di sini atau ikut pergi?" Yasmin menuju pintu.

__ADS_1


"Ck, Mama ini, bagaimana bisa memberikan baju yang belum jadi pada Yasmin?" gerutu Marcell.


"Kau cantik sekali sayang" puji Mama Helena, sangat senang Yasmin mengenakan pakaian yang ia berikan.


"Mama juga cantik" Yasmin tersenyum.


"Ada apa dengan anak itu?" Mama Helena meliriknya Marcell yang masih terdiam dalam kamar dengan wajah masam.


"Dia ingin Yasmin mengganti pakaian ini"


"Ck, dasar posesif, pakai ini dan kita tinggalkan saja dia" Mama Helena memberikan Long Coat berwarna merah pada Yasmin, dan menarik pergi Yasmin meninggalkan Marcell.


"Mama" seru Marcell yang di tinggalkan begitu saja oleh Mama Helena dan Yasmin. "Awas saja nanti malam, akan ku buat banyak tanda sehingga dia tidak bisa mengenakan pakaian yang belum jadi lagi" kesal Marcell terpaksa mengikuti kedua wanita kesayangannya itu.


*


*


*


Aiden langsung akrab dan menempel pada Papa Robert, pria kecewa itu menanyakan apapun yang ada di dalam pikirannya.


"Daddy bilang, pesawat yang membawa Aiden kemari itu milik Opa?"


"Daddy mu bilang begitu?"


"Ya"


"Hem, Aiden sangat suka. Aiden juga akan membelinya jika sudah besar nanti"


"Kau ingin manjadi apa jika sudah besar?"


"Aiden ingin jadi seperti Opa"


"Benarkah? kenapa tidak menjadi seperti Daddy?"


"Daddy itu payah, pergi bekerja hingga lupa jalan pulang, kan sangat payah. Padahal Aiden di rumah menunjukkan dan merindukan Daddy" adu Aiden.


"Kau benar Daddy mu itu memang payah" sahut Mama Helena yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Mama jangan menghasut putraku" seru Marcell.


"Mama bicara benar, ayo masuk sayang" ucap Mama Helena pada Yasmin.


"Mam, Yasmin bersamaku" protes Marcell.


"No, atau kita akan sangat terlambat" ucap Mama Helena langsung menutup pintu mobil itu.


"Apa Mama sekarang berubah menjadi cenayang?" gumam Marc menatap nanar mobil yang sudah menjauh dari pandangan nya.


Mobil yang di tumpangi Yasmin kini sudah memasukkan area mansion Tholense, kawasan mansion itu tampak indah dan megah dari sebelumnya saat Yasmin datang.


"Wahhh besar sekali rumah Opa" Aiden tak dapat menyembunyikan kekagumannya.

__ADS_1


"Kau suka?"


"Suka Opa, apakah rumah Opa juga sebesar ini?"


"Rumah Opa besar tapi tidak sebesar ini"


"Tidak apa-apa Opa, bahkan rumah Aiden dan mommy lebih kecil dari gerbang tadi. Mom bilang besar kecilku rumah itu bukan masalah, yang penting penghuninya saling menyayangi dan mencintai. benarkan Mom" ucap Aiden, yang membuat Papa Robert dan Mama Helena miris karena cucunya tinggal di rumah yang kecil.


"Yang Mommy mu katakan memang benar, tapi rumah Opa lebih besar dari gerbang tadi" Papa Robert sangat menyayangi cucu pertama nya itu.


"Terimakasih kau sudah mendidik Aiden dengan baik Yas" ucap Mama Helena menggenggam tangan Yasmin.


"Tidak perlu Mam, Aiden adalah putra ku. Sebisa mungkin Yasmin akan mendidik nya dengan baik" ucap Yasmin tersenyum.


"Ayo kita turun" ucap Aiden tidak sabar.


Papa Robert menggendong Aiden, Yasmin, Mama Helena juga Marcell sudah ada halaman rumah dan di sambut oleh seorang maid.


"Tuan dan Nyonya ada di ruang tengah, mari saya antar" ucap maid itu membimbing Yasmin dan yang lainya masuk kedalam.


Samar-samar Yasmin mendengar percakapan antara ibunya dan ayah sambung nya, sepertinya ayah sambil Yasmin tidak mengatakan perihal kedatangannya.


"Ibu" ucap Yasmin saat melihat ibunya.


"Yas...."Ibu Yasmin langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Yasmin. "Kau benar Yasmin?" ibu Marrisa membelai wajah cantiknya. "Benar, kau adalah Yasmin putriku" ucap nya langsung memeluk erat Yasmin.


"Maafkan ibu sayang, maaf telah meninggalkan mu, maaf ibu tidak memperdulikan mu, maafkan ibu yang mengabaikan mu, ibu sangat menyesal, maafkan ibu, maafkan ibu" ucapnya dengan uraian air mata.


"Ibu berhenti lah, ibu tidak salah. Dan Yasmin bisa mengerti akan kondisi juga perasaan ibu. Mungkin Yasmin yang berusia 13 tahun marah pada ibu, tapi Yasmin yang berusia 31 tahun ini tidak marah pada ibu. Yasmin sudah menerima dan melupakan semua yang telah berlalu" ucap Yasmin, meskipun ada saat-saat dimana dia masih sangat kecewa pada ayah dan ibunya, tapi Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima dengan lapang dada.


"Putriku" ucap ibu Marrisa membelai sayang wajah Yasmin. "Terimakasih sudah tumbuh dewasa dan berhati baik" ucapnya menciumi kedua tangan Yasmin.


"Mommy Aiden memang yang terbaik" ucap anak kecil itu di gendongan Opa nya, membuat semua mata tertuju padanya.


"Siapa dia?" tanya ibu Marrisa.


"Dia Aiden, putraku dan Yasmin" ucap Marcell membuat ibu Marrisa terkejut.


"Kau sudah menikah sayang?" tanyanya yang membuat Yasmin bingung harus menjawab apa? tidak mungkinlah ia mengatakan belum menikah di hadapan Aiden, karena anak itu pasti tidak akan berhenti bertanya dan akan sangat sulit untuk menjawabnya.


"Menikah itu apa?" tanya Aiden yang membuat semua orang didalam ruangan itu bungkam tidak tahu harus menjawab apa.


*


*


*


*


*


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2