
Marrisa dan Bram masih duduk di kafe, wanita paruh baya itu menangis tergugu membayangkan kehidupan putrinya selama ini, Yasmin pasti sekuat tenaga untuk menjalani hari-hari nya. Dia dulu gadis kecil yang sangat manja, bagaimana bisa selama ini hidup sendirian tanpa adanya perlindungan dan pendampingan?
"Ini semua salahku karena mempercayakan nya padamu" lirihnya. "Kau tahu Bram? jika saja kau jujur tidak bisa mencintai ku, aku pasti dengan senang hati meninggalkan mu. Tapi karena kau memang pria brengsek, itu sebabnya kau memilih untuk menipu diriku" marriage menatap penuh kebencian.
"Aku tahu aku salah" Bram tidak bisa membela diri karena itu memang kesalahannya.
"Sehina apapun diriku, sebenci apapun kau padaku, tapi Yasmin adalah anakmu, darah dagingnya, bagian dari tubuhmu. Bagaimana bisa kau melakukan hal keji itu padanya?" geramnya.
"Maafkan aku Marrisa" cicitnya.
"Apakah maaf mu itu bisa menghadirkan Yasmin di sini? Lebih baik kau pulang Bram, jangan sampai Hana meninggalkan mu seperti Yasmin " Marrisa bangkit dari dudukku
"Aku berjanji akan menemukan nya" serunya.
"Aku tidak butuh janjimu, jika janji di hadapan Tuhan saja mampu kau ingkari. Lalu apa artinya janji yang hanya basa basi? pergilah, kembalilah pada istrimu, anggap saja, aku dan Yasmin tidak pernah ada dalam hidupmu, nikmati kehidupan impianmu itu bersama wanita terbaik di dunia ini" sarkas Marrisa. Meninggalkan kafe itu.
"Kau dimana sayang? apakah sedalam itu ayah melukai hatimu?" pikiran Bram menerawang jauh pada masa, dimana ia tidak memperdulikan kehadiran Yasmin, Bram lebih memilih bermain dan memanjakan Laura. Sering kali Bram melihat Yasmin yang menatapnya dari kejauhan, Yasmin bahkan tidak berani untuk mendekatinya.
*
*
*
Marcell terlihat mondar-mandir di dalam ruangannya, Nadya baru saja memberi tahu bahwa ia harus terbang ke Bali untuk meninjau proyek pembangunan perumahan yang ada di Sanur. Sedangkan Marcell tak ingin pergi kemanapun karena menanti kabar perkembangan pencarian Yasmin.
"Sial..." umpatnya tak dapat menemukan jalan keluar. "Gue harus bagaimana?" bingungnya.
Ceklek....
Pintu ruangan Marcell terbuka, di sana ada Papa Robert berdiri dengan gagah.
"Boy, kau akan berangkat jam berapa?" tanyanya
"Apakah Marcell harus terbang ke Bali? tidak bisakah di lakukan melalui sambungan video?" tawar Marcell karena enggan pergi.
"Kau harus profesional boy, lagi pula ini adalah proyek yang langsung kau tangani sendiri, bagaimana bisa kau melempar tanggung jawab mu pada orang lain?" Papa Robert memperingatkan agar Marcell bekerja dengan profesional.
"Tapi pa..." ucapan Marcell terputus.
"Kau juga belum memberikan nama untuk perumahan itu" potong Papa Robert.
"Benar juga" sahut Marcell. "Ehemm... Pa" Marcell ragu-ragu untuk bertanya pada Papa nya.
__ADS_1
"Katakan" papa Robert melirik putra nya, menangkap suatu keraguan di wajahnya.
"Apa yang ada dalam pikiran Papa saat menamai The Krisan Apartment saat itu?" tanya Marcell.
"Maksudnya?"
"Ck...masa begitu saja Papa tidak paham?" tutur Marcell kesal melihat respon Papa Robert.
"Kau bebas menamainya sesuai keinginan mu" ucapnya.
"Benarkah?" Marcell tampak senang.
"Hem" sahut Papa Robert.
"Baiklah Marcell akan ke Bali sesuai jadwal yang sudah di siapkan oleh Nadya" ucap Marcell yang setuju untuk pergi.
"Apa sudah ada perkembangan dari Dion?" tanya Papa Robert.
"Belum Pa, tapi Tuan Bram sekarang berada di Belanda untuk menemui mantan istrinya, jadi Marcell akan menemuinya saat beliau sudah pulang nanti" ucap Marcell.
"Itu artinya Bram akan tahu hubungan mu dengan Yasmin?" tanya Papa Robert.
"Tidak ada yang perlu di tutupi darinya, bagai mana pun Tuan Bram adalah Ayah nya Yasmin" jawab Marcell.
"Bagaimana jika Bram mengatasi nya pada Hana?" Papa Robert khawatir.
"Baiklah terserah padamu saja, lagi pula kau juga membutuhkan restunya nanti" ucap Papa Robert.
"Terimakasih Papa sudah mendukung Marcell tanpa menghakimi dan menyalahkan Marcell" ucapnya tulus.
"Kau putra Papa, boy. Tentu saja Papa akan selalu mendukungmu, tanpa Papa salahkan pun kau pasti juga sudah sangat merasa bersalah kan? Papa tidak menghakimi mu karena kau sudah tahu kesalahan yang kau buat, dan berusaha memperbaiki nya. Papa hanya berharap kau tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan lagi, dan jangan membuat Papa Mama kecewa" nasehat bijak Papa Robert.
"Tentu Pa, Marcell merasa sangat bersalah pada Yasmin. Dan Marcell akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan yang sudah Marcell lakukan" tutur Marcell.
"Papa percaya kamu bisa melakukan nya dengan baik" ucap Papa Robert menepuk bahu anaknya. "Papa pergi dulu" pamitnya keluar dari ruangan Marcell.
"Maafkan aku Yas, aku janji saat menemukan mu nanti kau takkan pernah aku lepaskan. Akan ku berikan cinta dan kebahagiaan untuk mu" gumam Marcell penuh keyakinan.
*
*
*
__ADS_1
Laura termenung di kamarnya, sudah beberapa hari ini ia kembali menjadi pendiam. Bukan apa-apa, Laura begitu Shock saat mendapati dirinya telah menghabiskan malam panas dengan pria yang tidak di kenalnya, Laura sungguh menyesal karena tidak dapat mengendalikan dirinya.
Meskipun ini bukanlah yang pertama bagi Laura, tapi tetap saja ia merasa kecewa karena begitu mudahnya ia menyerahkan diri pada pria asing
"Dulu aku melakukannya bersama Brian karena dia kekasihku" ucap Laura mengingat kejadian saat ia masih menempuh pendidikan di negeri ginseng saat itu. "Tapi ini? oh my God Laura bagaimana bisa kau seceroboh ini? dan siapa pria itu? kenapa juga aku langsung pergi tanpa mencari tahu identitas nya?" sesalnya karena langsung pergi begitu saja.
Ceklek...
Mama Hana membuka pintu kamar Laura, dan masuk ke kamar putrinya itu.
"Sayang" panggil nya namun Laura tak mendengar. "Laura sayang" Mama Hana menyentuh pundak Laura.
"Aahh..." Laura terkejut. "Mama, kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" kesalnya melihat sang Mama sudah berada di dalam kamarnya.
"Mama sudah mengetuk pintu dari tadi, tapi kamu malah melamun. Ada apa? apakah terjadi sesuatu?" tanya Mama Hana.
"B..be..benarkah?" tanya Laura terbata.
"Hem, katakan pada Mama, ada apa?" Mama Hana menatap intens pada Laura.
"Ish... Mama apaan sih? memanggil Laura kenapa? apa yang bisa terjadi pada Laura?" jawab Laura. "Laura baik-baik saja Mah" sambungnya.
"Benar?" Laura langsung mengangguk. "Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama kan sayang?" Mama Hana tidak puas dengan jawaban Laura.
"Apa yang bisa Laura sembunyikan dari Mama? Laura kan selalu berbagi segalanya dengan Mama" tuturnya memeluk sang Mama.
"Itu harus" Mama Hana menyambut pelukan hangat putrinya.
"Ayo kita keluar makan siang" ajak Mama Hana.
"Mama duluan aja, nanti Laura nyusul. Laura mau bersih-bersih dulu" ucap Laura menunjukkan bahwa dirinya belum mandi.
"Ya udah, jangan lama-lama ya, Mama tunggu di meja makan" Mama Hana keluar dari kamar.
"Maafkan Laura Mah. Laura gak jujur sama Mama, gak mungkin juga Laura bilang kalau Laura tidur dengan pria asing" gumam Laura. "Hufff.... anggap saja malam itu tidak pernah terjadi, lagi pula hanya sekali aku melakukannya. Dulu aku sering melakukan nya dengan Brian juga tidak apa-apa" Laura meyakinkan dirinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa kedepannya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺