
Bulan terpanas dalam setahun di Amsterdam adalah bulan Juli, dengan rata-rata suhu terendah 21°C dan tertinggi 13°C. Namun bagi Yasmin ini bukan musim panas, melainkan musim dingin, karena di negara asal Yasmin suhu panas rata-rata terendah 32°C dan yang tertinggi 24°C.
Yasmin mengenakan long dress berwarna cream di balut dengan Pea Coat coklat dan sepatu boots wagdes coklat senada dengan Coat menghiasi kakinya. wanita itu tengah menikmati Pastechi isi tuna sayur dan segelas susu hangat sebagai menu sarapannya di sebuah cafe, Pastechi sendiri adalah tradisional Savory pastry dari Aruba, Carribean, namun sering di konsumsi masyarakat Belanda sebagai menu sarapan, atau camilan.
Setelah berdiam diri di kamar hotel selama beberapa hari, hari ini Yasmin memutuskan untuk menemui ibunya. Bagaimana sikap Ibunya nanti akan menjadi acuannya dalam mengambil keputusan untuk kedepannya.
*
*
*
Di sinilah Yasmin sekarang, di depan sebuah rumah mewah, bukan rumah. Ini adalah sebuah mansion yang biasanya ada di novel-novel kelas atas atau milik Boss mafia, entahlah Yasmin kurang paham. Yang pasti ini lebih mirip dengan sebuah istana, Yasmin tertegun memandang kagum pintu gerbang besar nan menjulang kokoh dan elegan.
"Aku pikir kata elegan hanya cocok untuk menilai penampilan seseorang, tapi gerbang ini juga cocok untuk di sebut elegan" gumam Yasmin mendatangi pos penjagaan untuk meminta izin masuk, tentu saja tidak mudah, tidak sembarang orang di izinkan memasuki kawasan mansion tersebut, harus ada izin dan persetujuan Tuan besarnya.
Dan setelah melakukan perdebatan panjang dengan penjaga keamanan, setra meminta konfirmasi dari pemilik kawasan kekuasaan Yasmin akhirnya di perkenankan untuk memasuki mansion mewah itu. Halaman yang luas, taman yang indah serta pilar-pilar tinggi berwarna emas menyambut pandangan mata Yasmin. Sepertinya ibu Yasmin benar-benar hidup bahagia menjadi ratu di mansion mewah ini, itu pula sebabnya uang bulanan yang Yasmin terima nominal nya sangat tinggi.
"Ibu..." Yasmin mendekati wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik dan berkelas.
"Yasmin" ucapnya datar.
"Yasmin sangat merindukan Ibu" ucapnya memeluk erat sang Ibu.
"Ibu juga merindukanmu, tapi tidak perlu seperti ini Yas, kau bukan anak kecil lagi" Ibu Yasmin mencoba melepaskan pelukan Yasmin.
"Maaf" lirih Yasmin menyadari telah melakukan kesalahan. "Ibu apa kabar?" sambungnya.
"Seperti yang kau lihat, ibu baik-baik saja dan sangat bahagia setelah berpisah dengan ayahmu" keduanya duduk berseberangan.
"Aku senang mendengar Ibu baik-baik saja" Yasmin menatap sendu Ibunya.
__ADS_1
"Lalu kau bagaimana? apakah ayahmu mengurus mu dengan baik?" tanya Ibunya.
"Aku baik Bu, ayah sangat menyayangi ku dan menjagaku dengan baik" bohongnya.
"Baguslah, setidaknya Bram tidak menyia-nyiakan darah dagingnya"
"Ibu sudah hidup dengan baik, Ibu juga terlihat bahagia, tidak bisakah Ibu memaafkannya ayahku?" lirih Yasmin.
"Ibu sudah memaafkan ayahmu Yas, ibu juga sudah melupakan nya. Tapi luka yang di buat ayahmu tentu masih membekas, tak perduli seberapa banyak waktu yang ibu habiskan, luka adalah luka dan tak semudah itu untuk kembali seperti semula" tutur Ibunya.
"Ya, Yasmin tahu itu" Yasmin pun tak kalah terlukanya akan cinta pada seorang pria.
"Lalu ada apa kau kemari? kau tinggal dimana?" pertanyaan sang Ibu membuat perih hati Yasmin, setelah 14 tahun tidak bertemu, tidak adakah sedikit rasa rindu? apakah kata rindu yang Yasmin dengar tadi hanya sebuah 'Kata' tanpa makna?
"Yasmin kemari karena ingin mengunjungi Ibu saja, Yasmin ingin memastikan ibu hidup dengan baik. Kebetulan Ayah mempercayakan suatu proyek padaku dan itu mengharuskan ku untuk datang ke Amsterdam" karang Yasmin.
"Jadi berapa lama kau disini? apakah kau menginap di hotel?"
"Yasmin tidak lama disini Bu, nanti malam Yasmin harus terbang kembali ke tanah air. Yasmin sudah cukup lega dan senang melihat Ibu bahagia" senyum tipis terbit di bibir Yasmin.
"Iya, dimana lagi aku harus tinggal jika tidak bersama ayah" tutur Yasmin.
"Apakah wanita itu memperlakukan mu dengan baik?"
"Tante Hana tidak berlaku buruk padaku"
Yasmin hanya berbicara sebentar dengan Ibunya, bukan seperti obrolan anak dan Ibu, tapi lebih seperti basa basi yang tak ada manfaatnya, Dan Yasmin meninggalkan mansion itu dengan perasaan hancur, sedih, senang, dan kecewa. Apakah harus benar-benar hidup sendirian? bahkan ibunya tidak menawarkan menginap, jangankan menginap, sesuap nasi pun tidak di berikan oleh ibunya, Yasmin hanya meminum segelas coklat panas itupun Yasmin yakini dari inisiatif maid yang ada di mansion itu.
"Dulu sendiri, sekarang pun sendiri, come on Yas, itu semua bukan masalah untuk mu, kau pintar, cerdas dan kuat. dan kau tidak sendirian, kau akan hidup dengan buah hatimu" Yasmin menguatkan dirinya sendiri.
*
__ADS_1
*
*
Forssa adalah sebuah kota dan munisipalitas Finlandia. Itu terletak hampir di tengah segitiga yang di tentukan oleh tiga kota besar terbesar di Finlandia. ( Helsinki, Turku, dan Tampere), di wilayah Tavastia Proper dan di lintasi oleh jalan raya 2 antara Pori dan Helsinki dan jalan raya 10 antara Turki dan Hameenlinna.
Disinilah Yasmin berada, Forssa Finlandia adalah tempat yang Yasmin pilih untuk memulai kehidupan barunya. Yasmin tinggal di sebuah rumah kayu berukuran minimalis, cukup untuk dirinya sendiri dan calon anaknya nanti. Rumah itu tampak indah dengan cat merah dan berada di tepi sungai Loimijoki, dengan hamparan rerumputan hijau, tenang, sunyi dan damai.
Yasmin memilih Finlandia karena Alam yang asri, keamanan sosial tinggi, sangat menjaga dan menghargai privasi, kemandirian individu. Semua itu menjadi acuan Yasmin memilih negara seribu sungai itu untuk tempat tinggal nya, belum lagi Finlandia juga terkenal dengan negara paling bahagia, tentu saja Yasmin juga ingin merasakan kebahagiaan dan berharap buah hatinya tumbuh dengan baik dan bahagia kedepannya.
"Tidak baik bagi wanita hamil terlalu sering melamun" ujar seorang wanita membuyarkan lamunan Yasmin.
"Aku tidak melamun Jennie" ucap Yasmin pada wanita baya yang usianya lebih dari 50 tahun, tapi ia tidak mau di panggil Nenek, Oma dan lainnya. Jennie itulah namanya dan begitulah ia di panggil.
"Jadi kau sedang apa?"
"Hanya menikmati semilir angin" Yasmin duduk di kursi kayu tepi sungai yang ada di belakang rumahnya.
"Kau merindukan ayahnya?" Jennie mengedikkan dagunya ke arah perut buncit Yasmin.
"Aku tidak ingin merindukan nya, tapi hatiku berkata lain" Yasmin menahan sesak di dada.
"Kau pasti bisa melewati semua ini, kau adalah wanita yang kuat, dan mulai sekarang ada aku yang akan menemani mu" Jennie memeluk Yasmin. Kedua wanita beda usia bertemu satu bulan yang lalu di Vantaa Airport Helsinki Finlandia, Jennie termasuk wanita yang ramah di antara orang-orang yang Yasmin temui selama di Finlandia, dia juga perduli dan welcome dengan orang baru, sebenarnya tidak pada semua orang baru, namun entah mengapa Jennie tertarik bicara dan menyapa Yasmin terlebih dulu. Mungkin sifat keibuannya keluar meskipun Jennie bukanlah seorang Ibu, Jennie tidak pernah menikah, dulu Jennie pernah menjalin cinta dengan seorang pria, namun sayangnya pria itu berkhianat pada Jennie dan hal itu membuat Jennie tidak ingin mengenal cinta lagi hingga usia senja Jennie hidup sendiri tanpa pendamping. Itulah yang Yasmin tahu tentang Jennie dari cerita yang keluar langsung dari sang narasumber.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺