
"Tuan, di depan ada Nona Yasmin ingin menemui Tuan" lapor sekretarisnya.
"Biarkan dia masuk" Bram mempersilahkan putri nya untuk masuk melalui sekretaris nya. Lalu sekretaris itupun keluar.
"Tuan sudah menunggu Nona " suara sekretaris itu mengagetkan Yasmin.
Ini pertama kalinya Yasmin mengunjungi kantor Ayahnya, dan ini pertemuan pertama mereka setelah kelulusan Yasmin saat SMA. selebihnya Yasmin dan ayahnya hanya berkomunikasi melalui sambungan telepon dan itu juga jarang sekali.
"Ayah apa kabar?" sapa Yasmin, pada pria paruh baya itu.
"Baik, kamu ada keperluan apa hingga datang kemari?" tanya ayahnya, dengan ekspresi yang tak terbaca.
Sakit, itulah yang Yasmin rasakan. Setelah sekian lama tidak bertemu tapi sang Ayah tidak menanyakan kabarnya, meskipun Yasmin sudah menduga bahwa Ayahnya tidak akan perduli dengan keadaannya, namun kenyataannya memang jauh lebih menyakitkan.
"Aku tidak ada keperluan apapun Yah, hanya sedang ingin mengunjungi Ayah saja. Dan aku ingin memberi tahu Ayah, kalau aku ingin mengunjungi Ibu ku" jelasnya.
"Hem, Kau sudah menemukan nya? apakah ada yang bisa ayah bantu? uang saku untuk perjalanan mu mungkin" ayah Yasmin mencoba untuk memberi perhatian, namun itu seperti cambukan bagi Yasmin.
"Ya aku sudah menemukan dimana Ibu berada. Ayah tidak perlu membantu ku apapun, hanya saja tolong doakan aku agar selamat sampai tujuan, bisa saja pesawat yang aku tumpangi mengalami kecelakaan jatuh ke jurang atau laut " ucap Yasmin dengan senyuman yang miris.
"Ya, semoga kau selamat sampai tujuan" ucapnya, ini bukanlah percakapan seorang ayah dan putri nya, ini seperti percakapan dua orang asing.
"Jika aku merasa betah di sana, aku akan tinggal bersama Ibu" Yasmin memberi tahu.
"Itu terserah padamu. Laura akan segera bertunangan dengan Regan, kau tahu itu?" tanya ayahnya. perih sekali hati Yasmin mendengar pertanyaan Ayahnya.
"Aku sudah tahu itu, aku sekretaris Tuan Regan" jawab Yasmin dengan perasaan hancur.
"Hiduplah dengan baik Yas" ucap Ayahnya.
"Ayah, kehidupan ku baik-baik saja" ucapnya. "Bolehkah aku memeluk Ayah?" tanyanya pelan. sedih, sakit, perih, kecewa itu yang Yasmin rasakan, hanya untuk memeluk Ayahnya saja ia harus izin terlebih dahulu.
Yasmin langsung menghambur memeluk tubuh Ayahnya dengan erat setelah sang ayah mengangguk kan kepalanya. Terakhir Yasmin memeluk erat ayahnya saat usianya 13 tahun, sebelum pengkhianatan sang ayah terbongkar, setelah itu tidak ada lagi pelukan hangat, sanjungan manja, ataupun rengekan manja Yasmin kepada Ayahnya.
"Ayah, jika mungkin bisa tolong maafkan kehadiran ku juga Ibuku" lirihnya. "Aku tahu kehadiran ku adalah bukti nyata kesalahan ayah, maafkan aku yang terlahir sebagai putrimu, aku berjanji tidak akan menyusahkan atau menganggu kehidupan impian Ayah" lalu ia mengurai pelukannya. dan mengambil tangan kanan sang ayah lalu mencium punggung tangan itu.
"Yasmin pergi..." ucapnya langsung keluar dari ruangan ayahnya tanpa menunggu dan tahu jawaban sang Ayah.
Bramantyo terpaku melihat kepergian putri nya, sekian lama tidak bertemu, sang putri tiba-tiba mengunjungi nya dan meminta maaf atas kehadiran nya, dan pamit pergi. Ya kata pergi, bukan kata sampai jumpa, ia merasa putrinya sedikit berbeda.
Sebenarnya Bramantyo bukan tidak menyayangi Yasmin, namun ia terlalu takut kehilangan istri dan kedua anaknya yang lain. Sebab sang istri sudah mengancam akan meninggalkan nya bersama kedua anaknya jika ia terlalu dekat dengan Yasmin, dan ancaman itu sungguh ampuh, terbukti bahwa Bramantyo tidak pernah mengunjungi Yasmin.
__ADS_1
Meskipun begitu Bramantyo tidak pernah lupa memberikan nafkah pada Yasmin, baginya lebih baik jauh dari Yasmin asalkan tidak kehilangan kedua anaknya terlebih lagi istrinya. Setidaknya Yasmin masih bisa ia pantau sesekali, begitulah pemikiran nya. Alahh dasar bucin nih Bapak-bapak🙄
*
*
*
Yasmin keluar dari gedung kantor Ayahnya dengan perasaan hancur, Yasmin memutuskan untuk melepaskan pria yang ia cintai agar sang ayah tak terlalu membencinya, Namun keputusan Yasmin tidak membuahkan hasil apapun.
Yasmin tetap tidak di harapkan oleh ayahnya. parahnya kini Yasmin juga membuat calon anaknya kehilangan ayahnya. Ya Yasmin juga memutuskan untuk merawat calon bayinya dan Marcell seorang diri, lagi pula selama ini Marcell tidak pernah mengatakan bahwa Marcell mencintai nya, Marcell juga belum siap menjadi seorang ayah. Dan kini Marcell akan bertunangan dengan adik tirinya, ah....garis takdir seperti apa yang Yasmin jalani ini?
*
*
*
Yasmin mengemudikan mobilnya menuju apartemen Marcell, ia harus mengemasi barang-barangnya dan beberapa dokumen penting miliknya. Yasmin berencana mengunjugi ibunya yang kini menetap di Belanda bersama keluarga barunya.
Ya begitulah, kehidupan Ayah dan Ibu Yasmin berlanjut dengan keluarga baru masing-masing. Hanya kehidupan Yasmin yang berhenti tak tentu arah bahkan kini bisa dikatakan bahwa kehidupan Yasmin hancur sehancur hancurnya.
***
"Kau dari mana saja Yas" tegur Marcell yang baru saja masuk kamar.
"Ah...kau membuatku terkejut Marcell" ucapnya yang memang terkejut dengan kedatangan Marcell tanpa menimbulkan suara.
"Aku dari tadi memanggil mu dan kau malah asik melamun disini" ucap Marcell mendekati Yasmin lalu memeluk wanita itu.
"Bagaimana pertemuan mu dengan Laura?" tanya Yasmin menahan sakit di hatinya.
"Apakah kita harus membicarakannya? apakah tidak menyakiti hati mu?" tanya Marcell.
"Aku ingin mendengar ceritamu, dan aku rasa aku sudah kebal dengan sakit hati. Lagi pula selama ini kau tidak memberikan harapan apapun padaku, akan terlalu naif jika aku sakit hati" ucapnya disertai senyuman. Miris sekali nasibnya, baik Marcell ataupun Ayah nya tidak ada yang mengetahui perasaan nya.
"Itu yang aku suka darimu, kau tidak pernah mengikat atau menuntut ku" ucap Marcell lalu mema ngut bibir Yasmin. "I want you now" bisiknya. dan di angguki oleh Yasmin. Mungkin ini adalah malam panas terakhir nya bersama Marcell dan Yasmin ingin menjadi malam yang berkesan.
"I'm on top" ucap Yasmin mengambil alih kepemimpinan Marcell. dan Marcell dengan senang hati membiarkan Yasmin memimpin kegiatan panas mereka.
"Kau terlihat semakin berisi Yas " ucapnya memandangi tubuh Yasmin yang bergerak liar.
__ADS_1
"Apakah itu membuat ku terlihat tidak menarik lagi?" tanyanya.
"No, kau terlihat semakin **** dan mengga irahkan" ucap Marcell menikmati permainan Yasmin.
"Kau suka dengan permainan ku?" ucap Yasmin di sela gerakkan.
"Always" Marcell memainkan kedua pegunungan milik Yasmin yang terpampang di depan matanya.
"Pastikan kau akan selalu mengingat dan mengenang malam panas ini" pesan Yasmin.
"Bukankah kita akan selalu mengulangi nya?" sahut Marcell dengan mulut penuh pegunungan Yasmin.
"Mungkinkah saja kau akan lupa padaku setelah bersama dengan Laura"
"Kau tahu aku bukan pria yang seperti itu"
"Apakah kau tidak mencintai Laura?"
"Aku menyukainya, bukan berarti aku harus mencintai nya kan?"
"Kau benar-benar pria breng sek Cell" Yasmin menghentak kesal mendengar pertanyaan Marcell.
"I'm love it Yas, lebih keras lagi" pintanya.
"Belajarlah mencintai Laura"
"Akan aku pertimbangkan" sahut Marcell.
Malam ini adalah malam yang panjang bagi Marcell dan Yasmin, seperti kata Marcell bahwa dirinya akan menghukum Yasmin. Terbukti semalam penuh Marcell tidak melepaskan Yasmin, sedangan Yasmin tidak menolak karena baginya ini adalah malam terakhir sebagai tanda perpisahan yang menjadi akhir dari hubungan nya dengan Marcell. Entah hubungan yang mana dan seperti apa yang berakhir, karena pada dasarnya tidak pernah ada hubungan yang di mulai, semua terjadi karena Yasmin lah yang menyerahkan diri pada Marcell dan selanjutnya adalah hubungan suka sama suka, tanpa ada paksaan maupun ikatan pasti. Yasmin cukup tahu dan paham akan semua resikonya, jangan lupa jika Yasmin adalah wanita dewasa dan cerdas, tapi mendadak bodoh jika tentang cinta, dan menjadi lemah jika di hadapan dengan Ayahnya.
*
*
*
*
*
TBC 🌺
__ADS_1