
Leandro Sanjaya pria berusia 28 tahun itu masih betah menjomblo, bahkan di usianya yang terbilang sudah dewasa Leo belum terpikirkan untuk menikah, jangankan menikah pacar saja Leo tidak punya bagaimana ia bisa menikah? Jika di novel-novel pria seusia Leo ini sudah di tuntut untuk menikah oleh ibunya, tapi tidak dengan Leo. Ia dengan santainya menjalani kehidupan sesuai keinginan nya tanpa ada tuntutan apa lagi campur tangan kedua orang tuanya.
Setelah memutuskan untuk tinggal di apartment, Mama Hana memang tidak lagi merecoki kehidupan Leo, tidak lagi mendikte atau menuntut Leo segera menikah seperti sebelumnya. Sedangkan Bramantyo, ia cukup sadar diri jika tindakannya selama ini menyakiti anak-anaknya tidak hanya Yasmin, namun juga Laura dan Leo sama terlukanya tanpa ia sadari. Maka dari itu Bram membebaskan anak-anaknya menikmati hidupnya, selama tidak melakukan hal-hal negatif, Bram akan selalu mendukung nya. Dan untuk Leo, Bram tidak masalah jika putranya itu belum ingin menikah, lagi pula Leo baru berusia 28 tahun, tidak masalah jika Leo akan menikah lima atau sepuluh tahun lagi.
Leo berjalan ke lokasi tempat pemotretan yang seharusnya di lakukan oleh Yoga dan sang artis itu, dengan langkah malas Leo terpaksa menyeret kakinya ke tempat itu. Leo hanya membawa sebuah kamera di tangannya, karena semua perlengkapan sudah di sediakan oleh pihak sang artis. Entah itu background, lighting, tripod, laptop, hardisk eksternal dan lainnya, Leo hanya perlu datang dan memotret sang artis.
"Kau fotografer yang menggantikan Yoga?" tanya seorang wanita cantik dengan pakaian seksi.
"Ya" jawab Leo datar.
"Apakah kau benar-benar fotografer profesional?" wanita itu menelisik penampilan Leo.
"Bukan" jawab Leo apa adanya, karena fotografi hanya di jadikan sebuah hobi, bukan untuk profesional sebagai mata pencaharian nya.
"Aku tidak mau jika yang memfoto ku bukan seorang yang profesional" ucap wanita itu.
"Baiklah, aku pergi" ucap Leo memutar tubuhnya.
"Tuan tunggu" pinta seseorang menghentikan langkah Leo.
"Maafkan kata-kata artis saya, bisakah kita mulai pemotretan nya?" ucap wanita dewasa, sepertinya itu manager sang artis.
"Asti aku tidak mau..." kekeh sang artis.
"Alma, kita tidak punya banyak waktu untuk mencari fotografer baru, lagi pula Yoga sendiri yang menunjuk Tuan ini sebagai penggantinya, aku yakin yoga tidak akan salah pilih orang. Sekarang persiapkan dirimu" perintah Asti sang manager.
"Ckk" decak Alma berjalan mengarah spot foto.
"Maaf, aku harap Tuan tidak tersinggung dengan kata-katanya. Alma kadang memang kekanak-kanakan" ucapnya tidak enak.
"Bukan masalah" jawab Leo memulai pemotretan itu.
Leo memotret Alma dengan berbagai gaya dan pose, artis itu juga sempat beberapa kali berganti pakaian dari yang seksi, girly, sporty, casual, dan lain sebagainya. Pemotretan itu berlangsung selama dua jam karena di awal-awal mood sang artis tidak bagus dan harus mengulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang di inginkan.
"Hasil pemotretan mu bagus, lalu kenapa kau mengatakan bukan seorang profesional?" tanya Alma tiba-tiba saja berada di samping Leo yang sedang melihat hasil tangkapan lensa nya.
"Aku memang bukan profesional, tapi bukan berarti aku buta tentang dunia fotografi" sahut Leo tangannya berselancar di atas mouse entah apa yang di lakukan nya.
"Sombong sekali" cibir Alma menatap kagum hasil fotonya.
"Semua fotomu sudah aku sempurnakan dengan pencahayaan, dan komposisi lainya, apa ada yang masih kurang?" tanya Leo, namun Alma malah fokus menatapnya.
"Nona Alma" Leo melambaikan tangan di depan wajah Alma.
"Ya aku suka"
__ADS_1
"Suka?" Leo mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya hasil fotonya" tiba-tiba saja Alma salah tingkah.
"Baiklah, aku pergi" ucap Leo langsung meninggalkan tempat itu.
"Tampan" ucap Alma menatap kepergian Leo.
*
*
*
Robert dan Helena termenung di ruang keluarga, biasanya ada Aiden yang meramaikan suasana, tapi malam ini rumah tampak sunyi dan sepi hanya ada suara TV, sangat membosankan.
"Kenapa Papa setuju Aiden menginap di rumah Bram?" Helena yakin jika Hana tidak akan menyambut baik kedatangan cucunya.
"Bram mengatakan jika Aiden ingin menginap di sana Mam, lalu Papa bisa apa?" Robert sebenarnya juga tidak rela jika Aiden menginap di rumah sang besan.
"Mama yakin jika Hana tidak akan menyambut baik kedatangan Aiden"
"Bram ada di sana Mam, Bram pasti akan memperlakukan Aiden dengan baik. Aiden adalah cucunya, Bram tidak mungkin mengulang kesalahan yang pernah ia lakukan pada Yasmin dulu" yakin Robert.
"Ya, semoga saja. Besok pagi-pagi sekali kita harus menjemput Aiden"
"Mulai sekarang hanya Mama yang akan mengantar dan menjemput Aiden ke sekolah" Helena tidak ingin kecolongan lagi seperti ini. Padahal yang menjemput Aiden adalah kakeknya, tapi Helena merasa kecolongan karena membiarkan Aiden pergi bersama dengan sang besan.
"Bram juga kakeknya Mam, dia pasti juga ingin dekat dengan cucu, ingin menghabiskan waktu bersama cucunya" kata-kata bijak Robert sudah luar.
"Tapi Mama tidak rela jika Hana tidak memperlakukan cucu kita dengan baik, Papa tahu sendiri sikap Hana belum melunak"
"Bagaimana jika sikap Hana kita masukkan dalam panci presto agar melunak?" usul Robert.
"Aku tidak sedang bercanda Robert, kau ini keterlaluan" kesal Helena pada suaminya.
"Ayo kita ke kamar, aku akan menghibur mu agar kau tidak marah-marah seperti kurang jatah" sarkas Robert. menyeret paksa istri ya masuk kedalam kamar.
📍
Jasmine Regency Townhouse
Di salah satu rumah yang paling mewah dan megah, dua orang yang baru saja terbang ke nirwana itu tengah berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh. Marcell memeluk erat tubuh polos istrinya dan terus-terusan memberikan kecupan manis di seluruh wajah Yasmin.
"Tidak bisakah kau menghentikan kecupan mu ini Marcell?" protes Yasmin yang sudah merasa risih dengan sikap berlebihan Marcell.
__ADS_1
"Tidak" acuh Marcell tetap menciumi pipi chubby Yasmin.
"Aku baru menyadari jika bercinta dengan wanita hamil itu ternyata lebih menggairahkan" Marcell mengelus-elus perut bulat Yasmin.
"Aku juga merasakan hal yang sama, entah kenapa semenjak hamil aku ingin selalu bercinta" Yasmin menyadari itu.
"Jadi bagaimana saat kau mengandung Aiden dulu? apakah kau juga ingin bercinta?"
"Keinginan itu tentu datang di saat-saat tertentu, tapi aku bisa mengalihkannya" jujur Yasmin, dulu saat mengandung Aiden sangat teramat merindukan sentuhan Marcell, namun apa daya keadaan tidak memungkinkan.
"Maaf telah membiarkan mu menanggung beban yang berat" sesal Marcell.
"Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi semua sudah berlalu"
"Ngomong-ngomong kenapa kau memberi nama Aiden?"
"Entahlah, hanya terpikirkan nama itu saat pertama kali aku mendengar tangisan nya"
"Hanya Aiden?"
"Hem, hanya Aiden"
"Aiden Keith Regananta" ucap Marcell. "Kau setuju?"
"Tidak terlalu buruk" sahut Yasmin setuju dengan nama panjang yang Marcell sematkan untuk putra mereka.
"I love you" Marcell mengecup singkat bibir Yasmin.
"Aku tahu itu"
"Tidak bisakah kau membalasnya Yas?"
"Apa?"
"I love you" ulang Marcell.
"I love you more" ucap Yasmin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marcell.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺