
Laura masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Mama Hana, hatinya berusaha keras untuk menolak tapi otaknya mengakui kebenaran bahwa ada janin yang tumbuh di rahimnya, mengingat tamu bulanan nya belum juga datang sejak malam panas itu.
Yang menjadi pertanyaan adalah siapa pemilik benih yang kini tumbuh dalam rahim Laura? sungguh Laura tidak mengenal pria itu, bahkan sampai sekarang ia tidak pernah bertemu lagi dengan pria itu. Lalu bagaimana Laura akan menjawab pertanyaan Mama Hana dan tatapan tajam dari Papa Bram?
"Katakan Laura, siapa pria itu?" seru Mama Hana.
"T...ti..tidak" Laura menggelengkan kepalanya.
"Katakan Laura" sahut Papa Bram menatap tajam. Dan Laura hanya menangis.
"KATAKAN PADAKU SIAPA PRIA ITU?" bentak Mama Hana emosi nya memuncak melihat Laura bungkam.
"Tidak, Aku tidak tahu siapa pria itu" jerit Laura, membuat Mama Hana kehilangan kata-kata.
"Apa kau itu bodoh Laura?" seru Papa Bram. "Apakah kau anak kecil? bagaimana kau bisa tidak tahu siapa pria yang tidur denganmu? itu kau lakukan terlalu sering atau memang kau yang sangat murahan" seru Papa Bram menahan geram mendengar jawaban putrinya.
"Papa..." Laura tidak terima atas tuduhan Papa nya.
"Apakah sekarang kau menjadi seorang ja lang?" sarkas Mama Hana.
"Mama, kenapa bicara begitu?" tangis Laura semakin menjadi. Tidak salah memang apa yang di katakan oleh kedua orang tuanya, Laura memang salah, dirinya terlalu murahan hingga membiarkan pria asing menikmati tubuhnya. Tapi kenapa kenyataan itu begitu menyakitkan hatinya?.
"Mama benar-benar kecewa padamu Laura" ungkap sang Mama.
"Kau memang luar biasa Laura" ucap Papa Bram meninggalkan kamar putrinya.
"Memalukan" ucap Mama Hana beranjak dari tempatnya berdiri.
"Mama, Mama tolong jangan begini" Laura memohon pada Mamanya.
"Lepaskan tanganku, kau menjijikkan" ketus Mama Hana menepis tangan Laura.
"Putriku bukan orang rendahan seperti kamu" Mama Hana terlihat sangat kecewa dan terpukul dengan kenyataan yang ada.
Leonardo Sanjaya, putra bungsu keluarga Sanjaya itu memang berbeda dengan Papa, Mama, dan Kakak nya Laura. Pemuda berusia 24 tahun itu sebenarnya sangat dekat dan perduli dengan Yasmin. Namun tuntutan dan tekanan dari Mama Hana membuatnya jauh dari Yasmin, pun juga Yasmin menjaga jarak dengannya.
"Sial....sial....sila...." umpat Leo memukul stir mobilnya. ia sangat menyesal karena tidak mengawasi Yasmin.
"Kau dimana Kak?" Leo memang mendekat ke diri dengan Yasmin, meskipun Yasmin membangun jarak dengannya.
"Aku tahu kau marah dan benci padaku dan Mama, tapi tak seharusnya kau menghilang seperti ini" gumamnya.
"Kau harus kembali dan menjalankan amanat dari kakek" tutur Leo yang saat ini menjalankan perusahaan mendiang kakeknya yang sebenarnya di wariskan pada Yasmin. Leo mau memimpin karena pada saat itu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi di ambang pailit, Leo yang tidak ingin warisan milik Yasmin itu hancur berusaha keras untuk memulihkan perusahaan itu.
Marcell, pria berusia 31 tahun itu telah kembali ke ibu kota setelah menyelesaikan pekerjaannya beberapa hari di Bali. Marcell berniat untuk menemui Bramantyo Sanjaya untuk menanyakan keberadaan Yasmin, Marcell berharap Bramantyo berhasil menemukan keberadaan Yasmin.
"Kita kemana Tuan?" tanya Dion yang menjemput nya di airport.
__ADS_1
"Ke kantor Sanjaya Garment " sahut Marcell. "Apa Bramantyo berhasil menemukan Yasmin?" tanya Marcell.
"Sepertinya tidak Tuan, Tuan Bramantyo menemukan jalan buntu sama seperti kita" sahut Dion.
"Menurutmu kemana perginya Yasmin?" Marcell putus asa.
"Saya..."
"Bicaralah sebagai sahabat ku Dion, aku sangat kesepian" tutur Marcell.
"Aku tidak bisa menebak kemana perginya Yasmin, namun aku berjanji akan terus mencarinya hingga menemukan keberadaan mereka" janji Dion.
"Segera temukan mereka untuk Dion" lirih Marcell.
"Akan aku usahakan" sahut Dion, mengemudikan mobil itu ke arah kantor Sanjaya Garment sesuai perintah sahabatnya.
Marcell tiba di kantor mantan calon mertuanya, yang kemungkinan besar akan menjadi mertuanya kembali saat ia berhasil menemukan Yasmin. Marcell langsung menuju ruangan sang pemilik kantor itu.
"Santi" panggil Marcell pada sekretaris Tuan Bramantyo.
"Tuan Regan" wanita itu bangkit dari duduknya dan menundukkan kepala.
"Tuan Bram ada?"
"Ya Tuan Bram Barus selesai meeting, dan ada di ruangannya" jawabnya. "Anda akan menemui nya?" tanya sekretaris itu.
"Hem, bisa kan?" tanya Marcell.
"Saya akan memberi tahu kedatangan anda pada Tuan Bram terlebih dulu" ucap Santi pergi mengarah ruangan Boss nya
"Sepertinya kita tidak punya urusan lagi" ucap tuanya Bram menatap datar Marcell yang baru saja duduk di sebrang meja kerjanya.
"Saya berharap juga demikianlah Tuan, tapi sepertinya takdirku terikat dengan kehidupan anda" jawab Marcell tak kalah datar.
"Apa maksud mu Marcell?" tanyanya.
"Karena saya memiliki hubungan dengan putri anda" jawab Marcell tegas.
"Apakah kau pria itu?" Tuan Bram menatap tajam.
"Benar, sayalah pria itu" Jawabnya.
"Brengsek" umpat Tuan Bram menarik kerah kemeja Marcell. "Berani-beraninya kau menyentuh putriku, tanpa memberikan kejelasan status" sambungnya.
Bugh........
Pria paruh baya itu meninju wajah Marcell hingga membuat sudut bibirnya berdarah.
__ADS_1
"Pria seperti apa kau ini?" serunya.
"Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan padanya, saya tahu apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan dan saya menyesali itu" tutur Marcell.
"Jadi kau bersedia bertanggung jawab dan menikahinya?" tanya tuan Bram.
"Tentu saya akan menikahinya, saya sangat mencintainya, saya berjanji tidak akan melepaskannya lagi dan akan selalu membuatnya bahagia" senang Marcell.
"Baiklah, datang kerumah ku besok jam sepuluh, karena aku sendiri yang akan menikahkan kalian" ucap Tuan Bram.
"Apakah anda sudah menemukan nya?" tanya Marcell antusias.
"Tentu aku menemukannya, aku tidak mungkin akan membiarkannya lolos begitu saja" yakin Tuan Bram.
"Bisakah saya menemui nya sebentar saja?" pinta Marcell.
"Tidak, kau bisa menemuinya besok saat upacara pernikahan" sahut Tuan Bram.
"Apakah keadaan nya baik-baik saja? dia sehat?" tanya Marcell.
"Dia sehat dan sejauh ini baik-baik saja, meskipun sempat terlihat shock" tutur Tuan Bram.
"Baiklah saya akan menikahinya besok" saking senangnya Marcell hingga ia lupa akan sesuatu.
"Pergilah, persiapkan dirimu" usir Tuan Bram.
"APA KAU BILANG???" teriak Mama Helena, saat Marcell baru saja mengatakan akan menikah besok. "Kau serius Marcell? pernikahan itu bukanlah sebuah permainan" ucap Mama Helena.
"Aku tidak pernah seserius ini Mam" sahut Marcell yang memang berniat serius menikah.
"Dengan siapa kau akan menikah Boy?" tanya Papa Robert tenang.
"Pertanyaan macam apa itu Pa? satu-satunya wanita yang akan menjadi istri Marcell adalah Yasmin. Itu artinya Marcell tidak akan menikahi wanita lain selain Yasmin" sahut Marcell yakin.
"Jadi kau sudah menemukan Yasmin?" Mama Helena terlihat semangat.
"Bukan Marcell, tapi Tuan Bramantyo yang sudah menemukan nya. Marcell tadi menemui nya di kantor dan beliau langsung meminta Marcell untuk menikahinya" jelas Marcell.
"Kau yakin yang akan kau nikahi besok adalah Yasmin?" tanya Mama Helena ragu.
"Kenapa Mama tanya begitu?" Marcell tak tahu arah pemikiran Mama nya.
"Bramantyo itu mempunyai dua putri jika kau lupa Marcello Regananta" geram Mama Helena, membuat Marcell terdiam. Namun ia menepis kemungkinan terjadinya salah paham dalam pembicaraan nya dengan Tuan Bramantyo.
"Marcell yakin yang di maksud Tuan Bramantyo adalah Yasmin, dia baru saja kembali dari Belanda untuk mencari Yasmin Mam, dan dia juga mengatakan telah menemukan nya, dan tidak akan membiarkan nya lolos begitu saja" terang Marcell.
"Ya sudah jika itu keputusan mu dan kau sudah yakin dengan itu" sahut Papa Robert.
__ADS_1
TBC 🌺