CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Menemukan


__ADS_3

Laura menjalani kehidupan nya sebagai seorang istri dan ibu, ya akhirnya Laura menikah dengan Aldo saat itu. Mau tidak mau, Papa Bram menikahkannya dengan pria yang telah menghamilinya.


Kehidupan nya kini bukan lagi seperti Nona muda yang ingin ini itu hanya menjentikkan jarinya, Laura benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya, bukan lagi tinggal di rumah mewah dan megah, melainkan bangunan rumah dua lantai yang sederhana menurutnya yang terbiasa hidup serba wow.


"Kak Aldo, bisakah kau memberikan aku seorang pelayan?" ucap Laura saat tengah sarapan bersama suaminya.


"Apa kau sudah tidak sanggup mengurus rumah ini seorang diri?" Aldo sebenarnya baik, hanya saja ia menjadi temperamen karena sering di rendahkan oleh Mama Hana, dan Laura lah yang harus menanggung nya.


"Ya aku sedikit kewalahan karena Aleena semakin aktif" jujurnya. "Tidak perlu menginap, carikan saja yang datang pagi dan pulang sore hari" tuturnya.


"Hem, baiklah" Aldo setuju mengingat putrinya yang memang semakin aktif.


"Terimakasih" senang Laura.


"Tapi semua itu tidak gratis" Aldo tersenyum smirk.


"Tapi aku tidak punya uang Kak, kan Kakak tahu sendri seberapa banyak uang yang aku pegang" ucap Laura, Papa Bram memang benar-benar melepaskan Laura pada suaminya itu tidak ada lagi uang bulanan untuk nya dari Papa Bram, tapi sesekali Mama Hana masih memberikan uang pada Laura, namun uang itu selalu di ambil oleh Aldo dengan alasan di tabung untuk biaya pendidikan Aleena. Semua kebutuhan Laura, murni pemberian dari Aldo yang jumlahnya hanya separuh dari uang bulanannya saat masih gadis.


"Aku tidak butuh uang mu, Kau bisa membayarnya mulai nanti malam" Aldo tersenyum puas, sebab sejak menikah, Laura ogah-ogahan dalam melayani suaminya itu, Laura akan bersikap pasif saat di atas ranjang, sangat berbeda dengan malam panas ketika ia mabuk dulu.


"Apa?" Laura terkejut dengan permintaan suaminya.


"Kau tahu bagaimana maksud ku bukan? aku yakin kau bukan wanita bodoh" ucap Aldo, membuat Laura terdiam.


"Jika kau setuju, maka pagi ini kau akan mendapatkan pelayan itu, tapi jika kau tidak..."


"Aku setuju Kak" sahut Laura, yang menurutnya lebih mudah melayani Aldo dari pada mengerjakan pekerjaan rumah tangga belum lagi ia harus menjaga putrinya.


"Pilihan yang bagus, baiklah persiapan dirimu untuk nanti malam. Aku tidak ingin kecewa karena merasa tidak puas" ucap Aldo, lalu berangkat ke restoran nya.


Seperti itulah kehidupan yang di jalani oleh Laura, suaminya itu kadang bersikap lembut, penyayang, kadang juga kasar dan sangat temperamen. Meski begitu Aldo sangat bertanggung jawab menafkahi nya dan juga putrinya, hanya saja kebebasan Laura benar-benar di rampas oleh Aldo. Jika saja dulunya Laura bukan wanita bebas dan senang berhura-hura, ia pasti akan merasa sangat beruntung menjadi istri Aldo, tapi tidak dengan Laura, ia merasa terkekang dan tidak lagi hidup merdeka.


*


*


*


Marcell mulai mengerjab-ngerjabkan matanya, ia merasakan pusing dan sakit di kepala nya. Marcell membuka mata dan melihat di sekitar terasa sangat asing.


"Dimana ini?" ucap Marcell bangun dari tidurnya, ia duduk di atas ranjang itu dan mengamati ruangan.


"Ini dimana? kenapa aku merasa seperti tengah mengudara?" Marcell bertanya-tanya, dimana-mana dirinya saat ini.

__ADS_1


"Apa aku terlalu banyak minum? apakah ini yang dinamakan surga? apakah aku telah tiada?" pikiran Marcell mulai random.


"Tapi kenapa kepala ku terasa pusing dan sakit? apakah di surga juga bisa merasakan seperti ini?" gumam Marcell.


Klek...


Pintu terbuka dan Mama Helena masuk membawa segelas air.


"Kau sudah bangun?"


"Mama bisa melihatku" konyolnya.


"Apakah kau itu hantu sehingga Mama tidak bisa melihat mu" kesal Mama Helena. memberikan segelas air itu pada Marcell.


"Apa ini?"


"Itu air lemon, Mama tahu kepala mu itu pasti sangat sakit" ketus Mama Helena.


"Maaf" ucap Marcell meminum air dalam gelas itu hingga tandas. "Ini dimana Mam?"


"Pesawat"


"Pesawat" beo Marcell. "Bukankah..."


"Ini Jet Pribadi kita, tentu saja kau asing karena tidak pernah mau menggunakan nya" sahut Mama Helena yang tahu isi kepala Marcell. Ya Marcell memang tidak pernah mau menggunakan Jet Pribadi itu, karena ia lebih suka menaiki pesawat komersil, sebab ada banyak orang dan tidak membuatnya bosan. Marcell pun sering memilih kelas ekonomi dari pada kelas bisnis, kecuali jika perjalanan dalam pesawat itu membutuh waktu belasan jam, maka ia akan memilih kelas bisnis untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Marcell pun bukan penggemar mobil sport yang memiliki harga fantastis itu, mobil yang ia gunakan hanya sekelas Mercedes Benz, dan menurutnya itu sudah sangat membuatnya nyaman.


"Kita akan kemana Mam?" Marcell masih linglung.


"Finlandia" jawab Mama Helena tanpa menjelaskan apapun tujuan mereka ke negara yang paling bahagia di dunia itu.


*


*


*


Yasmin menggandeng tangan putranya berjalan menuju tempat penitipan anak, Sebenarnya Yasmin akan mengantarkan Aiden menggunakan sepeda, tapi Aiden menolak karena lebih suka berjalan kaki dan bergandengan tangan seperti ini dengan ibunya.


"Apakah Mommy tidak merindukan Daddy" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut mungil Aiden.


"Astaga, apakah pertanyaan mu tentang Daddy belum selesai Aiden?" Yasmin bingung jika Aiden selalu menanyakan tentang Marcell.

__ADS_1


"Belum, sampai Daddy kembali"


"Yaaa terserah padamu saja"


"Jadi apakah Mommy tidak pernah merindukan Daddy?"


"Mommy tidak ingin merindukan Daddy mu, tapi anehnya Mommy selalu merindukan nya"


jujur Yasmin pada putranya, karena hanya pada Aiden lah Yasmin jujur dan mengungkapkan segala isi hatinya.


"Lain kali jika Daddy pergi bekerja, Mommy harus minta alamat kantor dan nomer kantor itu. Agar jika Daddy lupa jalan pulang kita bisa menjemput Daddy" saran Aiden.


"Kau benar sekali sayang, baiklah kita akan lakukan itu jika Daddy sudah datang kembali" ucap Yasmin. "Sekarang kau belajar dengan benar disini, berbaik dan bertan dengan baik, ingat jangan nakal apa lagi sampai membuat teman mu menangis" Yasmin berjongkok di depan putranya untuk mensejajarkan diri.


"Mom, I'm a good Boy. Aiden tidak mungkin menyakiti teman-teman Aiden, karena Aiden suka bermain dengan mereka" ucapnya sungguh-sungguh.


"Good Boy, sekarang berikan Mommy sebuah ciuman dan kau boleh masuk" ucap Yasmin menunjukkan pipi kanan dan kirinya.


Muach...muach...


Aiden mencium kedua pipi Yasmin lalu langsung berlari.


"By...by.. Mom, love you" ucap Aiden membuat Yasmin tersenyum bahagia, dan para Miss yang di pintu masuk ikut tersenyum menyambut kedatangan anak-anak asuh lainnya.


"Kenapa dia manis sekali, berbeda dengan Daddy nya yang menyebalkan" ucap Yasmin meninggalkan tempat penitipan anak tersebut.


Tanpa Yasmin ketahui, seseorang memperhatikan nya dan mengikuti kemanapun langkah Yasmin. Orang itu adalah kaki tangan keluarga Regananta yang sejak kemarin menjelajahi setiap sudut kota hingga desa di Finlandia.


"Kami menemukan nya Tuan" lapor salah satu orang itu pada Tuan Robert.


"Tetap awasi dia, dan jangan sampai membuatnya curiga, Apakah cucuku juga bersamanya?"


"Kami tutahu pastinya, tapi Nona itu baru saja mengantarkan seorang balita ke tempat penitipan anak, mungkin itu cucu anda" sahut nya.


"Bagus, kerahkan semua orang kesana, dan juga jaga anak itu, aku yakin sekali jika dia adalah cucuku" perintah Tuan Robert lalu memutuskan panggilan itu, ia sangat senang akhirnya menemukan Yasmin setelah dua tahun lebih mencarinya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


TBC 🌺


__ADS_2