
Marrisa kembali ke mansion dengan wajah mata sembab dan wajah yang sangat murung. Sesal, tentu Marrisa merasa sangat menyesal karena telah meninggalkan putrinya. Ia tak menyangka kehidupan yang di jalani putrinya selama ini penuh dengan kesukaran, Marrisa pernah hancur dan berada di titik terendahnya karena pengkhianatan suaminya, namun itu terjadi hanya beberapa tahun saja, sebelum akhirnya Marrisa bertemu dengan Albert, pria kini menjadi suami yang begitu menghormati dan mencintainya.
Sedangkan Yasmin, penderitaan gadis kecilnya di mulai sejak ia meninggalkan nya begitu saja. Gadis kecil itu pasti sangat bingung dan sedih karena harus tinggal bersama dengan orang asing, juga ayah yang ikut mengasingkannya diri. Marrisa membayangkan pasti setiap malam putrinya itu menangis di bawah gulungan selimut dan memanggil dirinya. Penyesalan dan rasa bersalah teramat sangat kini merasuk dalam hatinya.
"Mommy" panggi seorang anak laki-laki.
"Hai son" sapa Marrisa pada putranya.
"Mommy kenapa bersedih?" tanya Richard melihat wajah sang ibu.
"Mommy merindukan Kakak mu" Jawabnya.
"Kak Yasmin? aku juga ingin bertemu dengannya. Kapan kita bisa menemuinya?" tanya Richard antusias karena Marrisa banyak menceritakan sosok Yasmin.
"Mommy belum tahu, tapi Mommy berharap kita bisa segera bertemu dengannya" Marrisa mengusap kepala putranya.
"Aku juga berharap begitu. Sayang sekali saat kakak datang aku masih di sekolah" ucapnya.
"kau sedang apa? dimana Daddy?" tanyanya.
"Ahh, aku lupa. Daddy ada di kamar Mom, aku akan berlatih basket dengan Johan" ucap Richard berlari menuju lapangan basket.
Marrisa menatap sendu putra nya yang berusia sebelas tahun itu, dulu saat ia meninggalkan Yasmin, putrinya itu berusia tiga belas tahun. Dimana saat itu masa-masa Yasmin sangat memerlukan kehadiran dan bimbingan nya, tapi ia malah meninggalkan Yasmin.
Ceklek....
Marrisa membuka pintu kamarnya dan mendapati suaminya itu duduk di ranjang dengan sebuah laptop di pangkuannya.
"Sayang, kau sudah pulang?" Albert melihat istrinya berjalan tak semangat.
"Ada apa?" tanyanya begitu melihat ada yang tak beres di wajah istrinya.
"Hiks...hiks...tolong aku" tangis Marrisa pecah, wanita paruh baya itu menangis di hadapan suaminya.
"Hei... apa yang terjadi? kenapa kau menangis seperti ini?" Albert bingung, sebab saat berangkat tadi Marrisa tampak bahagia dan semangat, kenapa sekarang menjadi kebalikan nya?
"Tolong aku, aku tidak mau kehilangan nya huhu....huhu....." tangisnya semakin kuat, wanita paruh baya itu seperti gadis kecil yang kehilangan ibunya.
"Iya, aku pasti akan menolong mu, sekarang kau bangun dan katakan apa yang terjadi?" Albert membawa istrinya untuk duduk di ranjang.
"Minum dulu" Albert memberikan minum pada istrinya. "Sudah tenang?" di angguki oleh Marrisa.
"Bisa kau ceritakan apa yang sebetulnya terjadi?" tanyanya.
Marrisa mulai mencerminkan pertemuan nya dengan Bram, ia menceritakan semua yang di katakan oleh mantan suaminya itu. Marrisa juga mengakuinya kesalahannya karena mempercayakan Yasmin pada pria brengsek seperti Bram, ia seharusnya tahu jika Bram bisa dengan mudahnya di kuasai oleh Hana, Marrisa sungguh menyesali keputusannya enam belas tahun lalu karena tidak membawa Yasmin bersamanya, dan kini ia tak tahu dimana keberadaan putrinya itu.
"Tolong temukan Yasmin untuk ku" Marrisa mengguncang tubuh tegap suaminya meskipun sudah berumur lima puluh tahun lebih tapi masih tampak gagah.
"Kau tenanglah, aku pasti akan menemui Yasmin dan membawakan kembali padamu" Albert memeluk istrinya.
*
*
__ADS_1
*
Setelah menetap hampir dua bulan di Negara Kincir Angin itu, Bramantyo kini sudah kembali ke tanah air, karena sudah tidak menemuinya alasan yang akan ia katakan pada istrinya. Ya selama hampir dua bulan ini ia menelusuri setiap sudut kota yang ada di Belanda guna mencari keberadaan Yasmin, namun ia tidak menemukan apapun, pria itu kembali ke tanah air dengan tangan kosong, hampa tanpa apa-apa.
"Papa menemukan nya?" tanya seseorang pada Bramantyo yang baru saja menginjakkan kaki di teras rumah.
"Apa maksudnya?" Bramantyo menatap orang yang berdiri di depannya.
"Papa tidak berhasil menemukannya kan?" tanya orang itu tersenyum remeh padanya.
"Apa maksud Leo?" saru Bramantyo pad putranya.
"Aku tahu Papa mencarinya, tapi Papa tidak bisa menemukan nya" ucap Leo menatap datar papanya lalu pergi.
"Papa kenapa tidak masuk?" seru istrinya.
"Mau pergi kemana anak itu?" tanyanya melihat mobil yang di kendarai Leo keluar dari pekarangan rumah.
"Leo bilang ada janji dengan klien" sahut Mama Hana.
"Apa dia ada macam-macam selama aku tidak di rumah?"
"Leo adalah anak yang baik, dia tidak pernah macam-macam, ada atau tidak nya Papa" bela Mama Hana pada putranya.
"Aku harap apa yang kau katakan itu benar" Papa Bram masuk ke dalam rumah. "Di mana Laura?" tanyanya yang hampa dua bulan tidak melihat putrinya.
"Laura ada di kamar" jawab Mama Hana.
Tok...tok...tok...
"Laura" panggil nya lagi karena tidak mendapat sahutan. "Papa masuk ya" izin nya lalu.
Ceklek....
Papa Bram memasuki kamar putrinya namun tampak kosong.
"Laura, kamu dimana?" serunya. "Lau..." Bram kaget melihat putri tergeletak di ambang pintu kamar mandi.
"Lauraaa" teriaknya menggema. "Mamaaaaaa" panggil Papa Bram.
"Ada apa sih Pa.." seru Mama Hana.
"Laura kenapa Pah?" tanyanya begitu melihat Papa Bram membopong Laura ke atas ranjang.
"Papa juga tidak tahu, Papa menemukan nya sudah begini. Mama tolong panggilkan dokter Rudi" perintah nya khawatir melihat putrinya tak sadarkan diri. Lalu Mama Hana menelpon dokter pribadi keluarga Sanjaya.
*
*
*
"Bagaimana dokter? apa yang terjadi pada putriku?" tanya Papa Bram kepada dokter usia baya itu, setelah selesai memeriksa kondisi Laura.
__ADS_1
"Bisa kita bicara di luar?" dokter itu manatap bingung pada Papa Bram.
"Baiklah ayo" ajaknya keluar dari kamar, di ikuti oleh Mama Hana.
"Begini, sebaiknya Laura di bawa kerumah sakit un..."
"Apakah putriku sakit parah?" sela Mama Hana.
"Tidak, Laura tidak sakit parah. Tapi Laura harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit, untuk memastikan kandungan nya baik-baik saja" ucapnya
Deg....
"A...apa maksudnya?" tanya Papa Bram.
"Putrimu tengah mengandung Bram, meskipun ****** nya baik-baik saja, tapi Laura harus memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan" saran nya. "Baiklah, aku pulang dulu, pastikan Laura makan makanan yang bergizi dan jangan terlalu banyak pikiran" sambung dokter itu lalu pergi meninggalkan kediaman Sanjaya.
"Kau dengan itu Hana?" tanya Bram menatap datar istrinya.
"Ini tidak mungkin, dokter Rudi pasti salah mendiagnosis" Mama Hana tak percaya.
"Dokter Rudi sudah lebih dari tiga puluh tahun mengabdikan diri menjadi dokter, apakah dia sebodoh itu? bagaimana caramu menjaga Laura?" serunya. "Bukankah sudah aku katakan agar kau memastikan jika Laura tidak melakukan hal yang di luar batas?" serunya marah.
"Ini tidak mungkin" Mama Hana masih tak percaya, lalu masuk kedalam kamar Laura.
"Laura...bangun Laura...." Mama Hana mengguncang kasar tubuh Laura.
"Mama.." lirihnya belum sadar sepenuhnya.
"Bangun Laura...bangun..." bentak Mama Hana.
"Mama, ada apa?" tanyanya duduk bersandarkan bantal.
"Katakan pada Mama, siapa pria itu?" ketus Mama Hana.
"Pria? pria mana Mah? Mama jangan ngaco deh, Laura baru bangun" sahut nya.
"Katakan siapa pria yang telah menghamili mu ituh?" bentak Mama Hana.
Deg....
"Hamil? siapa yang hamil?" tanya Laura.
"Siapa lagi? kau yang hamil!!! katakan siapa pria itu???" tuntut Mama Hana, membuat Laura membeku.
*
*
*
*
*
__ADS_1
TBC 🌺