
Seorang wanita cantik duduk di bangku kayu yang berada di hamparan rerumputan hijau, bibir wanita itu terus menyunggingkan senyum manisnya, matanya selalu mengikuti langkah kaki mungil milik bayi yang berusia 19 bulan. Ya dialah Yasmin, wanita itu tengah mengasuh buah hatinya, tanda cinta dari pria yang bertahta di hatinya itu sudah lahir dengan sehat selamat tanpa kekurangan apapun. Yasmin sangat bersyukur dan mencintai nya, hidupnya kini tak lagi sepi karena selalu di penuhi dengan suara tangisan, rengekan, dan celotehan anaknya.
Mungkin ada saat-saat Yasmin merasa sepi dan kosong, ketidak ada nya ayah dan ibu disisinya tentu saja membuat sudut hati Yasmin terasa kosong. Meskipun Yasmin selalu mengatakan bahwa dirinya kuat dan baik-baik saja, namun kenyataannya tidak lah seperti itu, ada rasa rindu dan sakit ketika Yasmin mengingatkan orang tuanya, meskipun jarang tapi Yasmin merasakannya. Apapun alasannya Yasmin adalah darah daging ayah dan ibunya, satu fakta yang tidak dapat di ubah meskipun Yasmin ingin melakukannya.
Marcell, pria itu tetaplah pemilik hati Yasmin. sedalam apapun luka yang di berikan oleh pria itu, Yasmin selalu mencintai nya. Bodoh memang, tapi begitulah Yasmin hatinya selalu tertutup untuk pria lain. Dengan wajah cantik dan sikap supel yang Yasmin miliki, ada beberapa pria yang ingin menjalin hubungan dengannya, namun Yasmin dengan tegas menolak. Meski begitu ada seorang pria yang bersikukuh untuk menaklukkan Yasmin secara terang-terangan dia adalah Arthur, keponakan dari Jennie.
"Sudah ku duga kalian pasti disini" ucap seorang pria yang baru saja datang dan duduk di samping Yasmin.
"Aku tidak mempersilahkan kau duduk Arthur" tegur Yasmin menatap tajam Arthur.
"Aku hanya duduk di sampingmu Yas, apakah ini suatu kejahatan?" Arthur sudah kebal dengan sikap ketus Yasmin. "Boy, kemari lah Papi membawakan sesuatu untuk mu" seru Arthur memanggil putra Yasmin. Ya Yasmin melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan seratus persen copyan wajah Marcell.
"Apakah kau sudah tak ingin hidup lagi?" ketus Yasmin mendengan kata 'Papi' dari mulut Arthur.
"Baiklah-baiklah maafkan aku" santai Arthur.
"Hai boy apa yang kau cari?" Arthur mendekati bayi itu dan menggendongnya.
"Yas, aku membawakannya untuk putramu" tegur Arthur ketika melihat Yasmin memakan Mustikkapiirakka yang di bawanya.
"Aiden tidak akan bisa menghabiskan nya, Jennie terlalu banyak membuatnya" ucap Yasmin tanpa dosa menikmati Pai Blueberry ala Finlandia itu.
"Ck..ck... kau ini" decak Arthur melihat kelakuan Yasmin, wanita pertama yang berhasil mencuri hatinya. Namun begitu sulit untuk di taklukkan.
"Makanlah sayang" ucap Arthur memberikan sepotong Pai pada Aiden yang ada di pangkuannya.
"Jennie tidak ikut kemari?"
"Tidak, Jennie sedang memasak Poronkaristys di rumah" jawab Arthur memperhatikan Aiden yang tengah makan.
"Benarkah?" mata Yasmin berbinar mendengar makanan yang tengah di olah Jennie.
"Aku tahu kau suka daging rusa, itu sebabnya aku membelinya saat perjalanan kemari" ucap Arthur menatap lembut Yasmin.
"Berhentilah mengejarku, aku tidak bisa mencintai pria lain" ucap Yasmin menatap ke arah lain.
"Kau tidak memberi kesempatan untuk hatimu menerima cinta baru Yas" Arthur meyakinkan Yasmin.
"Berhenti membicarakan hal-hal yang tidak berguna ini" ucap Yasmin.
"Aku berjanji akan membahagiakan mu juga Aiden" bujuk Arthur.
"Aku tidak bisa"
"Aku akan menunggumu" sahut Arthur.
"Jangan memaksaku" ucap Yasmin.
__ADS_1
"Aku pasti bisa mendapatkan hatimu" yakin Arthur. membawa pergi Aiden yang ada di gendongan nya.
"Arthur jangan membawa Aiden" seru Yasmin.
"Hari ini Man of out the day dan kau jangan menganggu kami" sahut Arthur semakin menjauh.
"Dia sangat keras kepala" Yasmin menggelengkan kepalanya, memandang Arthur dan Aiden yang semakin menjauh.
*
*
*
"Aku sangat menyukai ini Jennie" ucap Yasmin menikmati Poronkaristys buatan Jennie.
"Kau bisa belajar membuatnya" senang Jennie melihat Yasmin lahap menyantap masakannya.
"Rasanya tetap beda, aku sudah pernah membuatnya. Aku juga pernah memakannya di sebuah restoran, tapi tidak seenak ini" puji Yasmin yang sudah cocok dengan masakan Jennie.
"Kau terlalu memuji, aku takut itu sebuah kebohongan" ucap Jennie.
"Aku bukanlah pria buaya yang pandaibual Jennie" sahut Yasmin.
"Ya baiklah-baiklah, makan yang banyak agar Aiden cepat besar" ucap Jennie menambah tumisan daging rusa itu ke piring Yasmin.
"Apakah ayahnya juga kuat saat menyusu" ucap Jennie.
Uhuk....uhuk...
Yasmin tersedak mendengar ucapan absurd Jennie, bagaimanapun bisa Jennie menanyakan hal seperti itu?
"Jennie, aku sedang membahas tentang Aiden, bukan yang lain" ucap Yasmin setelah minum.
"Aku juga hanya bertanya, bukan membahasnya" jawab Jennie tanpa dosa.
"Oh astagaaaaa" kesal Yasmin, melanjutkan makanan tanpa memperdulikan Jennie.
*
*
*
*
*
__ADS_1
"Apakah kau belum menemukan keberadaan Yasmin?" Marcell menatap tajam Dion.
"Maaf Tuan, seperti dugaan ku, keberadaan Nona Yasmin sulit di temukan" jawab Dion.
"Tapi ini sudah hampir dua bulan Dion, dan kita belum menemukan tanda-tanda keberadaan nya?" seru Marcell.
"Maaf",
"Aku tidak mau tahu, kerahkan semua kekuatan yang ada. Aku ingin Yasmin segera di temukan" perintahnya.
"B...ba..baik Tuan" Dion segera keluar dari ruangan Boss nya itu.
"Kak Dion" panggil Nadya melihat Dion berlari dari ruangan Marcell. "Ada apa?" tanyanya.
"Hufff.... aku ini seorang asisten atau detektif?" gumam Dion.
"Kak Dion" Nadya menepuk pundak Dion.
"Astaga, ada apa?" Dion terkejut.
"Kak Dion yang ada apa? kenapa lari-larian begitu?" tanya Nadya.
"Ada tugas yang harus aku kerjakan, aku pergi dulu" ucap Dion meninggalkan Nadya.
"Tugas apa? kenapa buru-buru pergi. hufff... beberapa bulan ini dia jarang stay di kantor" keluh Nadya, kembali mengerjakan pekerjaan nya.
"Kau kemana Yas? semarah itulah kau padaku sehingga bersembunyi serpih ini?" Marcell menatap bingkai foto Yasmin dan foto hasil USG yang di temukan nya beberapa bulan lalu.
"Kau menjaga dengan baik anak kita kan?" tanya Marcell. "Tentu saja kau menjaganya dengan baik, karena kau sudah berjanji dan seorang Yasmin tidak akan pernah melanggar janjinya" Marcell tersenyum miris mengingat ultimatum Yasmin.
"Kau meninggalkanku juga sesuai dengan janjimu, kau benarkah pergi saat aku bersama wanita lain tanpa sepengetahuan mu. kau menepatinya dengan menghilang dari hidupku" Marcell menitikan air mata penyesalan.
"Maafkan aku yang tidak peka terhadap mu, maafkan aku yang terlalu dalam menyakiti hatimu hiks..." Marcell tidak dapat menahan air matanya. "Maafkan Daddy sayang, maaf karena di Daddy menolak kehadiran mu, maaf karena Daddy belum bisa menemukan mu" Marcell memeluk bingkai foto yang berisi gambar orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
"Kau harus kuat boy, Papa yakin kau bisa menemukan Yasmin dan anak mu" gumam Papa Robert yang dari tadi berdiri di depan pintu ruangan Marcell. Pria itu manatap iba pada putranya, yang belum juga menemukan keberadaan wanita yang di cintai dan buah hatinya. Bukan Papa Robert tidak membantu, hanya saja negara yang di pilih Yasmin adalah negara yang sangat menjaga dan menghargai privasi individu, oleh karena itu tidaklah mudah melacak dan mencari informasi data diri tentang Yasmin. Yang mereka ketahui Yasmin terakhir kali berada di Amsterdam, namun mereka belum tahu jika Yasmin juga ke Leiden untuk menemui ibunya. Sepertinya pencarian Marcell masih panjang, karena belum menemukan petunjuk apapun tentang Yasmin.
"Semoga saja segera ada kabar baik" gumam Papa Robert meninggalkan ruangan Marcell, pria itupun juga tidak sabar ingin bertemu cucu pertamanya, calon penerus gen Regananta yang selanjutnya, laki-laki atau perempuan tidak masalah baginya, selama darah Regananta mengalir di tubuhnya pasti akan menjadi orang yang luar biasa di masa depan, begitulah pemikiran papa Robert.
*
*
*
*
*
__ADS_1
TBC 🌺