
Mama Helena menatap sendu kepergian putra semata wayangnya ke kantor. Marcell pria yang kini berusia 33 tahun itu semakin Workaholic, setelah gagalnya pernikahan yang terjadi dua tahun yang lalu. Keseharian nya hanya di depan komputer, Meeting, dan melakukan perjalanannya bisnis ke daerah hingga luar negeri.
Sampai sekarang ia belum berhasil menemukan Yasmin, entak kemana perginya wanita itu, menghilang tanpa jejak seolah masuk dalam perut bumi. Mama Helena pun tak bisa berbuat banyak untuk menghibur Marcell, meski sejak pernikahan gagal itu Marcell lebih menurut dan mendengarkan kata-kata Mama Helena, tapi tetap saja Mama Helena tidak bisa mengendalikan kehidupan Marcell.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Papa Robert merangkul pundak istrinya.
"Apa Papa benar-benar tidak bisa menemukan Yasmin? Mama tidak tega melihat Marcell yang hanya kerja, kerja, dan kerja. Jika tidak bekerja maka ia akan minum alkohol hingga mabuk" keluh Mama Helena.
"Papa tidak bisa mengatakan apa-apa Ma. Yang pasti, Yasmin di lindungi seseorang yang lebih berkuasa dari kita" tuturnya.
"Benarkah? siapa?" Mama Helena penasaran.
"Albert, dia ayah sambung Yasmin"
"Dari mana papa tahu?"
"Dugaan papa saja, tapi yah kemungkinan besar memang seperti itu"
"Ck, Papa ini" kesal Mama Helena yang sudah sangat serius mendengarkan penjelasannya suaminya.
"Ada apa?"
"Tidak ada, Mama mau keluar. Ada janji dengan Hesti"
"Kau mengabaikan ku Helena"
"Kau ini sudah tua Robert, berhenti bersikap manja seperti ini. Aku pergi dulu" pamit Mama Helena pada Papa Robert.
*
*
*
"Apakah sudah lama menunggu?" ucap Mama Helena yang baru saja sampe di meja restoran tempat ia janjian.
"Tidak" wanita bernama Hestia itu berdiri menyambut kedatangan Mama Helena dengan pelukan. "Aku sangat merindukanmu" ucapnya.
"Kau terlalu sering pergi honeymoon bersama Jack" sahut Mama Helena.
"Bagaimana lagi, hidup kami selalu menjadi pengantin baru tanpa hadirnya buah hati" ucap Hesti.
"Sorry Hes, aku tidak bermaksud..."
"Aku tahu kau tidak bermaksud menyinggung perasaan ku, lagi pula aku dan Jack juga sudah kebal dengan kata-kata yang lebih menyakitkan. So santai saja" ucapnya.
"Aku senang kau dan Jack bisa saling melengkapi dan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia"
"Ya aku beruntung memilikinya sebagai suamiku"
"Jadi, negara mana yang menjadi rekomendasi mu, untuk ku berlibur bersama Marcell?" Mama Helena memang meminta rekomendasi temannya itu untuk destinasi wisata luar negeri karena ia adalah seorang traveller.
"Menurut ku Finlandia dan Irlandia cukup recommended sih. Kau juga pasti sudah tidak asing lagi dengan negara itu"
"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku?"
__ADS_1
"Lihatlah, aku baru saja mengunjungi Finlandia" Hesti menunjukkan hasil swafoto dan juga potret lainnya.
"Indahkan?"
"Ini dimana?" Mama Helena terpaku dengan background foto yang tertangkap kamera temannya.
"Ah... ini di Kauppatori, ini semacam Market square yang terletak di alun-alun pusat kota Helsinki. Ini tempat yang cocok untuk wisata kuliner khas Finlandia, suvenir, dan..."
"Kau yakin ini di Finlandia?" Mama Helena memastikan bahwa sosok yang ia lihat adalah benar Yasmin, wanita yang membuat hidup putranya tak karu-karuan.
"Of course, why?"
"Baiklah, aku pulang dulu" ucap Mama Helena. "Terimakasih, terimakasih telah menunjukkan foto-foto itu" Mama Helena memeluk temannya dengan perasaan bahagia juga haru, ia tak menyangka pertemuan dengan temannya berujung pada titik terang yang empat tahun ini selalu di selimuti awan hitam.
"Helen, are you okay?"
"Yes I'm okay. Thank you so much" ucap Mama Helena tulus. "Tolong kirimkan foto yang terakhir ku lihat itu" pesan Mama Helena pada temannya, lalu pergi meninggalkan restoran itu.
*
*
*
Mama Helena tiba di rumah lalu menuju kamar Marcell tergesa-gesa, ia harus mempersiapkan segala nya, paspor, bisa, semua harus segera di urus.
"Mama sudah pulang?" Papa Robert melihat istrinya tengah mengobrak-abrik laci kamar Marcell. "Apa yang Mama cari?" penasaran.
"Paspor Marcell, tolong papa urus visa kita untuk ke Finlandia"
"Finlandia? kenapa mendadak sekali?"
"Dia? maksud mu Yasmin?"
"Hem"
"Dari mana kau tahu?"
Mama Helena mendekati suaminya dan memperlihatkan foto temannya dengan background Yasmin.
"Lihatlah"
"Ini benar-benar Yasmin" gumamnya. "Baiklah Papa akan segera persiapkan keberangkatan kita, minimal lusa kita pergi" ucap Papa Robert keluar dari kamar Marcell dan menghubungi asisten nya untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.
*
*
*
Dion kebingungan karena Marcell tidak datang ke kantor, ia kini menjabat sebagai asisten sekaligus sekretaris karena Nadya telah berhenti sejak tahun lalu.
Ya Nadya resign saat kehamilannya menginjak usia 7 bulan dan memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Dengan siapa Nadya menikah? kita akan mencari tahu nya nanti 🤗
"Sial, kemana perginya Marcell? kenapa selalu saja merepotkan" keluh Dion, membawa banyak dokumen yang memerlukan tanda tangan Marcell.
__ADS_1
"Kemana aku harus mencarinya?" bingungnya. "Mungkin saja dia ada di apartment nya" Dion pergi ke apartemen Marcell untuk memastikan keberadaan teman sekaligus atasannya itu.
Dion memarkirkan mobilnya di basement tempat yang biasa ia lakukan. Pria itu langsung menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai dimana apartment Marcell berada. Dion langsung membuka pintu unit apartment Marcell menggunakan kaycard yang ia pegang, karena menurutnya terlalu membuang-buang waktu jika ia harus mengetuk nya.
Begitu pintu terbuka aroma alkohol menyeruak keseluruhan ruangan dan menusuk indra penciuman Dion.
"Damn it, dia mabuk lagi" umpatan. Dion melihat Marcell yang terkapar di ruang tengah dan beberapa botol alkohol telah kosong, tandas semua ke dalam lambung Marcell.
"Ck...ck...apa yang harus aku lakukan?" Dion berkacak pinggang, antara marah, kesal, dan kasihan melihat kondisi sahabatnya itu.
"Tidak bisakah kau merasakan kehancuran pria malang ini Yas" gumamnya, memapah tubuh Marcell menuju kamar. Dengan begitu otomatis semua schedule yang sudah Dion susun rapih kini berantakan, dan itu tandanya ia harus mereschedule ulang.
"Kau harus membayar ku lima kali lipat dude" Dion mengganti pakaian formal Marcell dengan pakaian yang lebih santai.
Drtttt.... drttt.....
Ponsel Marcell berdering tertera nama Mama Helena yang memanggil.
📞Mama Calling.
"Halo Tante" ucap Dion menjawab panggilan itu.
"Dion, kau bersama Marcell? di mana Marcell?"
"Marcell sedang tidur Tante"
"Tidur? jam segini? apakah dia.."
"Tante benar, di mabuk tidak sadarkan diri di apartment nya"
"Astaga anak ini" geram Mama Helena. "Tante akan kesana" sambungnya, lalu memutar panggilan itu.
Tut...📞
"Kami akan membawanya ke Helsinki malam ini" tutur Mama Helena pada Dion. Kini Papa Robert dan Mama Helena ada di apartment Marcell.
"Helsinki? Finlandia?" tanya Dion.
"Ya, Yasmin ada di sana" jawab Papa Robert.
"Benarkah? tapi kenapa kita tidak menemukan nya saat itu?"
"Kau tahu sendiri jika privasi di Finlandia sangatlah terjaga, tidak mudah kita melacaknya disana"
"Jadi bagaimana bisa Om tahu jika Yasmin ada di sana?"
"Itu sudah menjadi garis takdir Yasmin yang sudah seharusnya kembali pada Marcell" sahut Mama Helena, kini perasaan nya lebih tenang karena mengetahui keberadaan Yasmin, meskipun mereka harus berusaha keras untuk menemukan nya. Tapi bukan masalah besar sebab uang dan kaki tangan keluarga Regananta kini mulai menjelajah setiap sudut kota yang ada di Negara seribu sungai itu.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺