
Yasmin sudah mendapatkan seorang asisten yang akan membantunya meringankan pekerjaan yang menggunung. Setiap hari berkas-berkas dan lembaran dokumen pekerjaan yang mampir di meja kerjanya semakin bertambah, Yasmin bisa saja menghandle semuanya namun deadline tidak dapat menunggu hingga akhirnya Yasmin memutuskan untuk mencari seorang asisten.
Nadya gadis berusia 23 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan di sebuah Universitas ternama di kota itu. Sebenarnya Nadya akan di tempatkan di divisi marketing oleh HRD, namun Yasmin meminta Nadya untuk menjadi asisten nya karena Yasmin di kejar-kejar oleh deadline yang menumpuk.
"Berkas yang ini juga jangan lupa, tolong kerjakan dengan hati-hati tapi harus cepat" perintah Yasmin.
"Baik Bu" sahut Nadya. lalu kembali ke meja kerjanya.
"Hufff untung saja aku melihat Nadya saat di interview pak Ruben" Yasmin menyadarkan punggungnya di kursi kerjanya, ia merasa sangat lelah. pak Ruben adalah HRD perusahaan Regananta Group.
"Hai Yas.." sapa seseorang baru saja datang.
"Oh... Selamat datang Nyonya" sapa Yasmin bangun dari duduknya.
"Marcell ada?" tanyanya yang adalah Mama Helena.
"Tuan Regan ada di ruangannya Nyonya" sopan Yasmin.
"Apakah siang ini dia ada jadwal meeting?"
"Tidak ada jadwal meeting hari ini Nyonya, tapi pekerjaan memang banyak" senyum Yasmin menerangkan schedule Tuan nya.
"Apakah aku bisa membawanya makan siang di luar?"
"Tentu saja bisa Nyonya" Yasmin tak habis pikir bagaimana bisa Mama Helena harus bertanya untuk makan siang dengan putranya.
"Baiklah aku akan ke ruangannya" senyum ramah Mama Helena, lalu berjalan menuju ruangan putra nya.
Ceklek....
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Marcell dari layar komputer.
"Mam... ada apa?" Marcell menghampiri Mama Helena.
"Mama ingin makan siang sama kamu" tutur Mama Helena duduk di sofa.
"Marcell sibuk Mam, banyak yang harus Marcell kerjakan" elaknya.
"Kau akan selalu sibuk Cell, dan Mama tahu itu. Tapi jika menunggu kau tidak sibuk, Mama tidak akan bisa makan siang bersamamu. Karena pekerjaan mu tidak akan ada habisnya" keluh Mama Helena.
"Oke baiklah, kita makan siang bersama. Tapi Marcell akan menyelesaikan kerjaan ini dulu" setuju Marcell lalu kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Cell, jika Mama mengenalkan kamu dengan anak teman Mama mau ya" ucap Mama Helena.
"Marcell tidak mau di jodohkan Mam"
"Ini bukan perjodohan Cell, hanya kenalan biasa. Jika kamu suka, kamu bisa melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. Kalau..."
"Marcell masih terlalu muda untuk pernikahan atau menjalin hubungan serius Mam" elaknya.
"Kau sudah hampir 29 tahun Marcell"
"Tapi 29 tahun masih terhitung muda untuk pria tampan, kaya raya dan pebisnis ini" sombong nya.
"Jangan mengelak Cell, bahkan ada juga aktor pria di negara kita yang usianya belum ada 25 tahun tapi sudah memiliki dua anak" kesal Mama Helena lalu membandingkan putranya dengan aktor TV.
"Sepertinya Marcell harus merambah ke dunia entertainment dan memblokir aktor itu" gumamnya namun masih bisa di dengar Mama Helena.
"Dan kau memutuskan rezeki istri dan anak-anaknya?" Mama Helena menatap tak percaya pada putranya.
__ADS_1
"Mam, pernikahan bukan lah tentang usia. tapi pernikahan adalah dimana kita membagi kehidupan kita kepada pasangan dan juga anak-anak, bukan tentang kesenangan sendiri tapi kesenangan bersama. Di butuhkan mental yang kuat juga pemikiran matang agar bisa menciptakan keluarga bahagia, dan Marcell sebagai pria yang artinya pemimpin dalam rumah tangga harus menjadi sosok yang kuat dan menjadi contoh yang baik untuk istri dan anak-anak Marcell nanti. Berumah tangga tidak semudah bayangan Mama, di mana Mama bisa menggendong cucu dan bergosip dengan menantu. Ada tanggung jawab besar yang Marcell pikul, dan Marcell belum siap untuk itu" sahut Marcell. Tanpa di sadari keduanya Yasmin mendengar percakapan mereka.
"Kau ini, memangnya Mama tukang gosip?" Mama Helena tak terima atas tuduhan Marcell.
"Hanya Mama yang tahu itu" sahut Marcell.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk" seru Marcell.
"Tuan, ini dokumen yang anda minta tadi" Yasmin masuk dengan membawa beberapa map snelhecter yang berisi dokumen dari beberapa proyek.
"Kau sudah menyelesaikan nya?"
"Ya, Nadya cukup bisa di andalkan" menandakan Yasmin tidak mungkin mengerjakan seorang diri.
"Bagus"
"Saya permisi Tuan" pamit nya.
"Yas, kau bisa ikut makan siang bersamaku dan Mama?"
"Maaf Tuan, saya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini" tolak nya halus.
"Apakah sangat banyak?"
"Tidak juga, tapi saya harus benar-benar teliti dan hati-hati mengerjakannya" bukan apa-apa Yasmin harus mengevaluasi data yang jumlahnya mencapai triliunan, jika salah satu angka makan kerugian tak terelakkan.
"Terimakasih Tuan, saya permisi" dan di angguki oleh Marcell.
"Kau sangat perhatian dengan sekretaris mu Cell" Mama Helena membuka suara setelah Yasmin keluar dari ruangan. Sebab sejak tadi Mama memperhatikan percakapan keduanya.
"Apakah Mama keberatan Marcell perhatian pada wanita lain?" Marcell membubuhkan tanda tangannya pada dokumen-dokumen yang Yasmin berikan.
"Tidak, bahkan Mama juga tidak keberatan jika kau menjadikan Yasmin sebagai menantu di keluarga kita"
"Mam kita sudah membahasnya tadi" Marcell mengingatkan.
"Baiklah" Mama Helena diam.
"Oke, ayo kita berangkat" ajak Marcell beranjak dari kursinya. "Kita makan siang dimana?"
"Di Restoran biasa" lalu Mama Helena dan Marcell berjalan keluar ruangan.
"Apakah tidak ada jadwal meeting hari ini Yas" tanya Marcell berhenti di depan meja kerja sekretarisnya.
"Tidak ada Tuan. Anda bisa menikmatinya waktu makan siang bersama Nyonya Helena dengan tenang" jawab Yasmin dengan senyuman.
"Baiklah, kau jangan lupa makan siang" Marcell berlalu dari hadapan nya.
"Terimakasih Tuan" sahut Yasmin memandang Marcell yang kini sudah masuk di dalam lift.
"Huffff sepertinya hubungan ini tidak akan berhasil" Yasmin menghela nafas berat.
"Bu, boleh saya pergi makan siang?" suara Nadya membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Oh...ya, ya...pergilah makan siang" Yasmine terbata.
"Maaf jika mengejutkan Ibu" Nadya merasa tak enak.
"Tidak apa, dan kenapa kau masih memanggil ku Ibu? apakah aku setua itu?" pasalnya Yasmin sudah melarang nya memanggil 'Ibu'.
"Di dalam kantor Bu Yasmin adalah atasan saya, jadi saya akan tetap memanggang Ibu. tapi jika di luar kantor saya bisa memanggil ibu dangan panggilan Kakak" Nadya profesional.
"Terserah padamu saja. Kau mau makan dimana?" Nadya pegawai baru, pasti belum tahu seluk-beluk gedung kantor ini.
"Saya belum tahu Bu"
"Di kafetaria pasti sangat ramai, kau pergi saja ke kafe YUMMYKU. di sana makan enak dan harganya juga terjangkau" saran Yasmin.
"Oh, kafe yang ada di sebrang kantor" Nadya memastikan, dan di angguki Yasmin. "Ibu tidak makan siang?"
"Saya sudah DO tadi, mungkin sebentar lagi sampai"
"Kalau begitu saya permisi Bu"
"Hem... hati-hati"
...
Sedangkan di restoran tempat Marcell dan Mama Helena makan siang. Marcell menatap kesal pada sang Mama, pasalnya bukan hanya sekedar rencana Mama mengenalkan Marcell dengan anak temannya. Namun mereka sudah janjian dan kini mau tak mau Marcell berkenalan dan makan siang bersama dengan teman Mama Helena juga anaknya itu.
"Bagaimana kuliah di Korea Laura?" tanya Mama Helena.
"Menyenangkan aunty" sahutnya tersenyum manis.
"Pasti banyak pria tampan di Korea"
"Ya begitulah"
"Tapi Laura tidak pernah pacaran selama di Korea, iya kan sayang?" sahut mamanya.
"Aku kesana untuk belajar Mah, bukan untuk pacaran"
"Bagus, jarang lho ada cewek yang punya prinsip seperti Laura, iya kan Cell" Mama Helena mencoba menarik Marcell dalam percakapan.
"Mungkin" singkat Marcell yang menikmati potong steak yang ada di piringnya.
"Marcell, Mama dan aunty Hana sudah di tunggu teman-teman di tempat arisan. Kamu tolong temani Laura ya, di akan bosan jika ikut kami" Mama Helena dan temanku langsung pergi tanpa menunggu jawaban Marcell.
"Sudah ku duga akan begini" gumamnya menatap malas pada gadis yang ada di hadapannya.
"Apa Kak Marcell sangat sibuk?" Laura memulai pembicaraan.
"Tidak juga" jawabnya santai.
"Maaf merepotkan, aku tidak tahu jika Mama akan meninggalkan ku disini" sesalnya.
"Bukan masalah. Apakah kau ingin jalan-jalan?" basa-basi nya.
"Tentu, jika tidak keberatan Kakak mau menemani?"
"Baiklah hari ini aku tidak terlalu sibuk"
Marcell dan Laura menuju ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, keduanya menghabiskan waktu bersama dan sudah terlihatlah akrab. Terlebih Marcell juga seorang pria yang ramah pada setiap wanita, hingga saking ramahnya hampir semua wanita yang di temui nya mampir ke ranjangnya sebelum Yasmin mengambil alih atas kekuasaan ranjang Marcell.
__ADS_1
TBC