
Aiden, bocah yang belum genap empat tahun itu sangat senang dengan kedatangan Marcell, Daddy yang selama ini ia rindukan dan impikan kini bisa ia peluk dan ia ajak bicara.
"Daddy ayo masuk ke kamar Aiden, Aiden akan menunjukkan banyak mainan unik Daddy" ajak Aiden antusias.
"Ayo" setuju Marcell.
"Mommy jangan di tengah pintu, Daddy dan Aiden mau masuk tidak bisa" protes Aiden karena Yasmin berdiri tepat di depan pintu.
"Sorry" ucap Yasmin, menyingkir ke sisi pintu. Aiden membawa Marcell memasuki rumah kecil dan mungil itu.
Marcell merasa nyaman saat berada di dalam rumah yang bersih dan rapih milik Yasmin, hatinya menghangat dan bahagia karena berada di tempat dan rumah bersama orang yang tepat.
"Daddy lihat, mainan ku banyak sekali" Aiden menunjukkan beberapa mobil-mobilan dengan remote control, lalu menunjukkan aneka figure Dinosaurus, juga figure gajah. Anak kecil itu memang sangat suka dengan binatang-binatang besar.
"Wah banyak sekali, siapa yang membelikannya?" Marcell mencoba menyatu dengan dunia putranya.
"Mommy yang membelikan nya, tapi yang besar-besar itu hadiah dari Jennie, saat Aiden ulang tahun" jujur Aiden.
"Siapa Jennie?"
"Jennie itu Oma, tapi Aiden panggil nya Jennie, dia tidak mau di panggil Oma atau Nenek" jelas Aiden.
"Oh...."
"Daddy lihat, yang ini masih baru" Aiden menunjukkan figure Mammoth, lagi-lagi Marcell terkejut melihat putranya begitu suka dengan binatang purba yang telah punah itu.
"Kau suka ini?" Marcell dulu tidak pernah tertarik dengan mainan sejenis figure binatang seperti ini.
"Ya aku sangat suka, tapi ini sangat mahal, Mommy tidak mau membelikan nya, untung saja uncle Arthur membelikan ini untuk ku" celoteh Aiden senang.
"Siapa uncle Arthur?" Marcell merasa tak suka mendengar cerita Aiden.
"Uncle Arthur, dia pria yang ingin menjadi Daddy ku"
"Apa?" teriak Marcell refleks. "Maaf" memihak Aiden terjingkit. "Coba Aiden cerita dengan benar"
"Uncle Arthur itu suka pada Mommy, tapi Mommy tidak suka dengan uncle Arthur. Tapi uncle Arthur tidak pernah menyerah mendekati Mommy dan selalu baik pada Aiden" penjelasan Aiden membuat Marcell meradang.
"Lalu, apakah Aiden suka dengan uncle Arthur?"
"Of course Daddy, uncle Arthur selalu bermain bola dengan ku, dia juga sering mengajak ku jalan-jalan, memberitahu hadiah dan baik" jujurnya.
"Jadi apakah Aiden lebih suka dengan uncle Arthur dari pada Daddy?"
"No, Mommy bilang Daddy adalah Daddy, satu-satunya dan tidak akan pernah tergantikan"
"Mom memang benar" Marcell tersenyum melihat cara Yasmin mendidik putranya.
"Ya Mommy selalu benar. Bahkan Mommy melarang Aiden untuk marah pada Daddy" bocah itu mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kenapa marah pada Daddy?" Marcell tak paham.
"Karena Daddy payah, kenapa sampai bisa pergi bekerja hingga lupa jalan pulang?"
"Siapa yang mengatakan begitu?"
"Tentu saja Mommy, Mommy bilang kalau Daddy pergi bekerja sebelum Aiden dilahirkan, dan lupa jalan pulang, itu sebabnya Aiden baru bisa bertemu Daddy saat Aiden sudah sebesar ini"
"Ah, begini rupanya " Marcell manggut-manggut.
"Lain kali jika Daddy perguruan bekerja berikan alamat tempat kerja Daddy juga nomer telepon nya, Mommy itu sangat Pandau dan tidak payah seperti Daddy" gerutu bocah kecil itu.
"Ya, baiklah, Daddy minta maaf karena lupa jalan pulang"
"Di maafkan, tapi Daddy harus terima hukuman dari Aiden"
"Hukuman?"
"Hem, Mommy bilang Aiden tidak boleh marah sama Daddy, tapi boleh menghukum Daddy"
"Memang apa hukuman nya?"
"Besok Aiden beri tahu" Aiden tersenyum penuh dengan misteri.
*
*
*
"Nyonya Helena" lirih Yasmin mendekat Mama Helena dan mendapatkan pelukan hangat.
"Kau pergi jauh sekali sayang" Mama Helena mengusahakan lembut surai panjang Yasmin. "Kami seperti orang gila mencari keberadaan mu" ucapnya.
"Maaf" sesal Yasmin.
"Bisa kita berbicara?"
"Tentu Nyonya"
"Kau jangan memanggilku Nyonya, panggil Mama, sama seperti Marcell"
"Mama?"
"Ya, karena kau adalah putriku"
Yasmin mengajak Mama Helena berjalan-jalan di taman kecil tak jauh dari rumah nya, mereka duduk di bangku kayu pinggir sungai Loimijoki.
"Mama minta maaf atas perlakuan Marcell padamu Yas" ucap Mama Helena meraih tangan Yasmin.
__ADS_1
"Minta maaf untuk apa Nyo....eh Ma? Marcell tidak bersalah"
"Tentu saja dia bersalah karena memperlakukan kamu seperti itu, dia menjalani hubungan SEP suami istri dengan mu tetapi tidak memberikan status apapun padamu, itu salah dan tidak bisa di benarkan"
"Kalau begitu Yasmin juga sama bersalahku dengan Marcell, sebab Yasmin yang tidak bisa menahan diri" Yasmin menundukkan kepalanya.
"Bukan begitu maka Mama Yas"
"Aku tahu maksud Mama, tapi semua memang berawal dari Yasmin. Cinta itu tumbuh sejak di bangku SMA, meskipun Yasmin tahu jika Marcell telah berubah sejak kembali dari luar negeri, tapi di mata Yasmin Marcell tetaplah Marcell. Baik, hangat, ramah, perduli tanpa ada cacat cela nya. Itulah yang membuat Yasmin rela melakukan apapun untuk mendapatkan nya, Yasmine berharap ketulusan dan besarnya cinta dalam hati mampu membawa Marcell yang lama kembali, tapi ternyata tidak bisa" Yasmin tersenyum getir mengenang kisahnya bersama Marcell.
"Jadi apakah kau masih mencintai putra Mama?"
"Itu...."
"Marcell juga mencintai mu Yas, dia memang anak Mama yang bodoh sampai tidak bisa mengenali perasaannya sendiri, Bahkan butuh waktu dua tahun untuk Marcell menyadari jika dia mencintai mu"
"Maksud nya?"
"Beberapa hari setelah kepergian mu, pertunangan Marcell dan Laura terjadi. Tapi dengan catatan Marcell akan menikahi Laura jika dia sudah mencintai Laura, kau tahu bukan jika saat itu Marcell tidak mencintai Laura?" Yasmin mengangguk membenarkan jika saat itu Marcell memang tidak mencintai Laura. "Tapi setelah pertunangan itu terjadi Marcell jadi berubah, dan itu karena kepergian mu dari sisinya. Dia tidak pernah memikirkan nasib pertunangan dengan Laura, hingga dua tahun hubungan Laura dan Marcell tidak ada kemajuan. Dan akhirnya Marc memutuskan pertunangan itu"
"Tapi bukannya Laura..."
"Kau benar, Laura sangat mencintai Marcell dan tidak terima dengan keputusan Marcell. Tapi saat itu Marcell sudah jika di dalam hatinya ada dirimu, itu mengapa ia tidak bisa mencintai Laura, karena kau telah berada dalam relung hatinya"
"Tapi itu tidak mungkin"
"Itu mungkin saja sayang, dan itu juga menjadi pelajaran untuk Marcell karena telah memperlakukan mu dengan tidak baik, hingga saat dia menyadari perasaannya, kau tidak lagi di sisinya. Mama menyaksikan betapa dia frustasi mencari keberadaan mu"
"Benarkah?"
"Ya, Mama tidak sedang berbohong atau sengaja bicara begini hanya karena kau telah memiliki anak dari Marcell" tuturnya.
"Ma..."
"Sebenarnya jauh sebelum Mama menjodohkannya Marcell dengan Laura, Mama sudah bertanya pada Marcell tentang dirimu. Tapi anak bodoh itu tidak mengakui hubungannya dengan mu, dan memilih berbohong"
"Kau masih mencintai putra Mama kan? kau bersedia menjadi istri dari pria bodoh itu? bisakah Mama melamar mu pada orang tua mu?" tanya Mama Helena membuat Yasmin kebingungan, melamar? orang tua? apa yang harus Yasmin katakan?.
*
*
*
*
*
TBC 🌺
__ADS_1