CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Hukuman Marcell


__ADS_3

Yasmin berjalan memasuki sebuah restoran mewah, wanita itu menuju ke arah VIP Room sesuai tempat janjian bersama seseorang.


"Apakah aku terlambat?" ujar Yasmin yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Tidak Nona" jawab seorang pria yang sudah menunggu nya.


"Jadi bagaimana? kau sudah mendapatkan informasinya?" Yasmin antusias.


"Beliau sempat pergi ke berbagai negara Nona. pertama beliau pergi ke Australia, Inggris, Brazil, dan terakhir beliau ke Belanda, dan hingga kini beliau menetap di Belanda, karena telah menikah dengan seorang pengusaha asal negara itu" jelasnya.


"Apakah kau mendapatkan alamatnya?" Yasmin menatap penuh harap pada pria yang berprofesi sebagai detektif itu.


"Tentu Nona, Beliau menetapkan di kota Leiden, dan telah memiliki seorang putra, berusia 7 tahun. Ini alamat lengkap nya" setelah itu menyodorkan secarik kertas berisi alamat juga sebuah amplop yang berisi hasil pencarian nya.


"Apa informasi ini sudah valid?" Yasmin memastikan.


"Tentu saja Nona, saya jamin info yang saya dapatkan seratus persen benar adanya, tidak akan meleset sedikitpun" yakin bahwa apa yang di kerjakan nya sangat benar dan tepat sasaran.


"Baiklah, terimakasih banyak atas bantuan nya" ucap Yasmin tulus. "Ini imbalan untuk mu" Yasmin memberikan amplop coklat berisi sejumlah uang sebagai bayaran atas jasanya.


"Terimakasih Nona, anda bisa menghubungi saya kembali jika membutuhkan bantuan" ucap pria itu senang dengan bayaran yang Yasmin berikan.


"Hem, pergilah" usir Yasmin, lalu pria itu keluar dari ruangan tersebut.


"I got you Mom" gumam Yasmin membuka isi amplop yang di berikan oleh detektif suruhannya tadi.


"Kau tampak sangat bahagia, pantas saja kau lupa padaku" Yasmin melihat sinis foto Ibu nya bersama dengan keluarga barunya.


"Aku akan memberikan kejutan untuk mu, Ibuku tersayang" lirih Yasmin dengan tatapan mata yang tajam.


*


*


*


"Yas, kau dari mana saja?" tegur Marcell ketika Yasmin baru saja keluar dari dalam lift.


"Saya pergi makan siang Tuan, ada apa?"


"Kau tidak mengajak ku?"


"Maaf, tadi saya tiba-tiba ingin makan sesuatu. Jadi saya lupa memberi tahu anda" Yasmin mode formal.


"Bagus sekali kau melupakan aku" rajuknya, menatap kesal pada Yasmin.


"Baiklah saya akan meminta Dion untuk memesankan makan siang untuk anda" sabar Yasmin.


"Yas...!!" seru Marcell, yang tak ingin makan siangnya di urus oleh Dion sang asisten.


"Jadi kau maunya apa?" Yasmin melemparkan tas nya ke atas meja dan kedua tangannya kini berkacak pinggang.


"Aku tidak tahu, terserah kau saja" Marcell membuang muka.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? seperti wanita yang sedang pms saja" Yasmin bingung kenapa Marcell bertingkah seperti itu.


"Kau..." Marcell menatap tajam pada Yasmin. "Aku tidak perduli" marah Marcell lalu kembali ke ruangannya. Sedangkan Yasmin menatap heran pada pintu yang sudah tertutup itu.


"Aku ini kenapa? kenapa marah hanya karena Yasmin tidak mengajak ku makan siang? kenapa marah hanya karena Yasmin menyuruh Dion menyiapkan makan siang ku?" Marcell bertanya-tanya dalam hatinya.


"Lebih baik aku kembali bekerja" gumam nya lalu kembali menyalakan komputer juga laptop yang ada di mejanya.


***


Tok...tok...tok...


Ceklek...pintu ruangan Marcell terbuka dan Yasmin masuk dengan mendorong troli makanan untuk Marcell karena ia memesankan banyak jenis makan untuk sang Boss nya itu.


"Makan lah dulu, aku tak tahu apa yang ingin kau makan, jadi aku memesankan beberapa menu kesukaan mu" ucap Yasmin tanpa basa-basi. kini duduk di sofa ruang Marcell.


"Kau tidak mendengarkan aku Tuan Marcello Regananta" seru Yasmin karena tidak melihat reaksi apapun dari Marcell. "Baiklah jika kau tidak mau makan, aku akan membawanya keluar dan makan bersama Dion juga Nadya" pancing Yasmin kini meraih troli itu hendak mendorong nya.


"Beraninya kau" seru Marcell segera menghampiri Yasmin dan menahan troli itu.


"Apa? kau mengabaikan ku tadi, dan aku tidak suka itu. Jadi minggir biarkan aku keluar" kesal Yasmin.


"Kau yang lebih dulu mengabaikan aku Yas, kau pergi makan siang tanpa aku" ungkitnya.


"Duniaku tidak selalu tentang anda Tuan Regan"


"Kau ini milikku, semua yang ada di tubuhnya adalah milikku dan hak ku, yang artinya duniamu hanya diriku" Marcell merengkuh tengkuk Yasmin dan mencium bibir Yasmin dengan kasar, Marcell tidak terima jika dunia Yasmin bukan tentang Marcell.


"Aku akan menghukum mu" Marcell langsung menyeretnya Yasmin masuk kedalam kamarnya tanpa melepaskan ciumannya.


"Kau yang membuat ku gila Yas" Marcell segera menindih tubuh Yasmin yang kini meronta melakukan perlawanan.


"Marcell kau tidak mengunci pintunya" Yasmin mengingatkan Marcell.


"Who cares" sahut Marcell yang kini sudah menjelajah pegunungan indah milik Yasmin. Dan membuat Yasmin terbuai akan permainan nya.


***


"Kemana perginya Tuan Regan? ini makanan juga seperti nya belum di sentuh" gumam Dion memasuki ruang kerja tuanya membawa beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Marcell.


Aahh...you are so tight Yas...


aahh faster Marcell...


******* dan lenguhan Marcell dan Yasmin bersautan yang terdengar oleh Dion.


"Damn it..." umpat Dion menyadari apa yang tengah di lakukan oleh Tuan nya.


"Dasar Boss luknut, otak suciku sudah tercemar" gumam Dion keluar dari ruangan Boss nya dengan wajah merah padam.


"Tuan Dion" sapa Nadya yang melihat Dion keluar dari ruangan Marcell.


"Ada apa?" ketus nya.

__ADS_1


"Apa di dalam ruangan Tuan Regan ada Ibu Yasmin? saya mencari nya dari tadi tapi tidak ketemu" keluh Nadya.


"Tuan Regan dan Nona Yasmin sedang Meeting penting dan tidak bisa di ganggu hingga dua jam kedepan. Ada apa?" Dion kini mulai pandai mengarah indah, suatu bakat baru yang tak pernah bisa dia keluarkan saat duduk di bangku sekolah.


"Ah.... Begitu ya, tadi Bu Yasmin bilang untuk menemui nya ketika saya sudah selesai dari toilet, tapi sekarang beliau Meeting dengan Tuan Regan" Nadya menundukkan kepalanya.


"Kau kembali ke ruang kerjamu, dan tunggu Nona Yasmin di sana" Dion berlalu meninggalkan Nadya, ia harus segera menyiapkan pakaian ganti untuk dua orang yang sedang terbakar di dalam sana bukan.


"Aku membutuhkan setelan kerja pria dan wanita seperti biasanya, harus sampai sebelum tiga puluh menit" perintah Dion pada seseorang di ujung telepon sana, lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.


"Suara itu bahkan lebih mengerikan dari pada tawa Susana dan suara ibu Mawarni, bagaimana bisa masih terngiang-ngiang di telingaku?" gumam Dion dalam hati. Menutup matanya dan menyadarkan punggungnya di kursinya, Dion mencoba mengusir suara luknut yang tidak sengaja masuk di telinganya, sebenarnya hanya sebentar ia mendengar, tapi sepertinya otaknya merekam dan menyimpan dengan apik suara itu hingga selalu menggema di dalam gendang telinganya.


*


*


*


Di ssbuang ruang keluarga, terjadi percakapan antara seorang ibu dan anak gadisnya, sementara sang ayah dan adinya hanya menyimak.


"Kau setuju kan bertunangan dengan Marcell?" tanya sang ibu pada anaknya.


"Tapi dia itu player Mah, aku takut dia tidak setia" ungkap anaknya.


"Dari mana kau tahu kalau dia player Laura? Mama yakin dia pria yang baik, hanya saja banyak wanita di sekitar nya yang menginginkan nya, juga uang nya"


"Tapi Mah..."


"Lagi pula kau baru disini, kau juga belum mengenal dia dengan baik, Mama yakin itu hanya kabar burung yang di sebarkan oleh pesaing bisnis nya" kekeh Mama Hana.


"Kenapa kau mendesak putri kita Hana? lagi pula Laura baru mengenalnya" sahut Papa Bram.


"Itu dia maksud ku Pah, biarkan Laura dan Marcell bertunangan agar Laura punya waktu mengenal Marcell lebih dekat, dan membuat Marcell jatuh cinta pada Laura. Aku sangat yakin putri kita yang cantik dan pintar ini bisa memenangkan dan meluluhkan hati Marcell, sehingga Marcell tidak akan pernah melirik pada wanita lain" yakin Mama Hana.


"Kau setuju sayang? kau menyukai Marcell?" tanya Papa Bram pada Laura.


"Ya, aku menyukainya" jawab Laura malu-malu.


"Mama bilang juga apa? lagian kita juga sangat mengenal orang tuanya Marcell, Mama yakin Marcell tidak akan macam-macam setelah kalian bertunangan" senang Mama Hana, mendengar pertanyaan putrinya.


"Apakah Kak Marcell setuju bertunangan denganku?" ragu Laura.


"Serahkan itu pada Mama, Mama tidak akan membuat putri kesayangan Mama ini kecewa" Mama Hana memeluk erat Laura.


*


*


*


*


*

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2