CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Pengakuan Marcell


__ADS_3

Setelah memutuskan pertunangannya, Marcell kembali kerumah orang tuanya. Marcell berniat menceritakan hubungan nya dengan Yasmin kepada Mama Helena dan Papa Robert untuk mencari jalan keluar. Namun kedatangan Marcell di sambut olah tatapan tajam dari Mama Helena, sedangkan Papa Robert duduk diam memperhatikan anak dan istrinya.


"Benar kau memutuskan pertunangan itu Marcell?" semprot Mama Helena pada Marcell yang baru saja memasuki ruang keluarga.


"Ya, aku mengakhiri pertunangan itu" jawab Marcell dengan tegas.


Plaakkkk.....


Satu tamparan keras dari Mama Helena, membuat Marcell dan Papa Robert terkejut.


"Sayang.." sela Papa Robert. sedangkan Marcell hanya diam saja.


"Papa diam" seru Mama Helena.


"Kau keterlaluan Cell, apa salah Laura hingga kau melakukan ini padanya?" ucap Mama Helena.


"Laura tidak salah Mam, Marcell yang tidak bisa mencintai nya" Marcell menundukkan kepalanya, ia juga tak mengerti kenapa baru sekarang menyadari perasaannya.


"Kau tidak mencintai Laura karena kau tidak belajar untuk mencintai nya"


"Aku sudah belajar Mam, tapi.."


"Tapi apa? jangan katakan kalau kau tetap tidak bisa mencintai nya" ketus Mama Helena.


"Begitu adanya Mam" Marcell menghela nafas dalam.


"Apakah ada wanita yang kau cintai boy?" sela Papa Robert.


"Ya" singkat Marcell, menatap Papa Robert.


"Katakan siapa wanita itu? kau bermain api di belakang Laura?" tuduh Mama Helena.


"Aku lebih dulu mengenal nya Mam" sahut Marcell.


"Jadi dia wanita yang pernah menghangatkan mu? ja lang mana yang kau cintai itu? apa matamu itu sudah buta astaga...?" geram Mama Helena, mengetahui wanita yang di cintai Marcell adalah wanita dari masa lalu putranya.


"Dia wanita yang baik Mam" bela Marcell.


"Wanita yang baik tidak akan melemparkan tubuhnya kepada pria yang bukan suaminya, dia pasti wanita murahan dan han.."


"Mam Yasmin bukan wanita seperti itu" seru Marcell.


"Yasmin?" Mama Helena terkejut mendengar nama Yasmin di sebut oleh Marcell.


"Apa maksudnya boy?" Papa Robert pun terkejut, sebab selama ini mengawasi Marcell tidak ada yang mencurigakan, atau memang Papa Robert yang kecolongan?


"Ya, wanita itu Yasmin" lirihnya.


"Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Yasmin?" tanya Mama Helena.


"Mam sebenarnya sebelum pertunangan itu" Marcell melirik ke arah Mama Helena. "Aku sudah bersama dengan Yasmin selama dua tahun lebih" tutur Marcell.


"Dan kau baru mengatakan nya sekarang? bukankah dulu sering kali Mama menayangkan hal ini padamu? tapi kau tidak mengakuinya?" semprot Mama Helena.


"Dulu aku belum menyadari perasaan ku Mam" lirih Marcell.

__ADS_1


"Jadi sekarang apa akan kau lakukan? bukankah Yasmin sudah pergi sejak dua tahun lalu" Papa Robert membuka suara.


"Aku akan mencarinya Pa, aku harus menemukan nya, sudah terlalu lama aku kehilangan nya" ucap Marcell.


"Kau yakin bisa menemukan nya?" Papa Robert pun tahu jika menemukan Yasmin bukanlah perkara yang mudah.


"Akan sulit, tapi aku harus menemukan mereka"


"Mereka? siapa mereka itu?" Mama Helena mulai terpancing mendengar kata 'mereka'.


"Yasmin dan..." Marcell tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Dan apa? siapa mereka Marcell?" tuntut Mama Helena.


"Mama tolong jangan menyalahkan aku, karena aku juga tidak mau ini terjadi" Marcell memohon agar Mama Helena tidak terlalu menyalakan dirinya.


"Katakan dengan jelas Marcell, jangan berbelit-belit. Kau membuat Mama sakit kepala" keluh nya.


"Sayang tenang lah dulu, kita dengarkan penjelasan Marcell" bujuk Papa Robert.


"Papa ini kenapa selalu bersikap santai?" heran Mama Helena kepada suaminya.


"Karena emosi dan marah-marah tidak akan menyesuaikan masalah" Papa Robert masih bersikap tenang. "Sekarang jelaskan boy, siapa yang kau maksud dengan mereka itu?" sambung Papa Robert.


"Sebenarnya Yasmin pergi karena marah saat mengetahui rencana Pertunangan itu" tutur Marcell.


"Untuk apa Yasmin marah jika dia tidak mencintaimu?" sela Mama Helena.


"Sayang, Mama" ucap Papa Robert dan Marcell bersamaan.


"Yasmin adalah junior ku saat di SMA, aku mengenalnya gadis yang baik meskipun banyak menyimpan misteri. Yasmin tidak pernah terbuka mengenai keluarganya, tapi aku tidak masalah dengan itu. Aku juga sadar Yasmin menyukaiku sejak saat itu" tutur Marcell.


"Terlalu percaya diri itu tidak baik" gumam Mama Helena.


"Mam aku ini pria yang peka" sahut Marcell. "Dan saat Marcell kembali ke tanah air untuk bergabung di perusahaan, Marcell bertemu dengan Yasmin dan memintanya untuk bekerja bersama ku. Yasmin menerima nya karena dia masih mencintai ku"


"Kau yakin sekali" sela Mama Helena.


"Yasmin sering mengungkapkan perasaan padaku Mam" kesal Marcell karena dari tadi Mama Helena meremehkan nya.


"Jadi poin apa? dan apa hubungannya dengan mereka itu?" sela Papa Robert sebelum sang istri menyela ucapan Marcell.


"Apa lagi, tentu saja lama-lama Marcell tergoda dengan Yasmin dan kami menjalin hubungan dan tinggal bersama" ceplos Marcell.


"Kau memanfaatkan keadaan dengan baik rupanya" Mama Helena melempar sebuah bantal pada Marcell.


"Jadi kau meniduri Yasmin selama dua tahun lebih tanpa ada ikatan?" ucap Papa Robert. dan di angguki oleh Marcell.


"Astaga kau pria yang sangat breng sek Marcell" seru Mama Helena memijat pelipisnya yang terasa sakit.


"Mam, kami melakukannya atas dasar suka sama suka, dan aku baru menyadari bahwa aku sangat mencintai nya setelah dia pergi" Marcell membela diri.


"Kau masih tidak mengakui kesalahan mu?" Mama Helena menatap tak percaya pada putranya.


"Tidak Mam, aku tahu aku salah, aku menyakiti Yasmin, aku bersalah pada Yasmin dan pada anakku" lirihnya.

__ADS_1


"Anak?" ulang Mama Helena dan Papa Robert.


"Ehem...Ya...Yasmin pergi meninggalkanku dalam keadaan hamil" Marcell memejamkan matanya tak mampu melihat kekecewaan kedua orangtuanya.


"Marcell...Buk...buk....buk..." Mama Helena menyerang Marcell menggunakan bantal yad ada di sofa. "Kau keterlaluan buk....buk...buk...buk..." Mama Helena melayangkan pukulan bertubi-tubi pada tubuh Marcell.


"Ampun Mam, ampun" Marcell menangkis bantal itu dengan kedua tangannya.


"Sayang tenang lah" Papa Robert mencoba melerai amukan sang istri.


"Papa lihat, Marcell ini selain breng sek, be jat dia juga Pria yang tidak bertanggung jawab, bagaimana bisa Mama bisa tenang?" Mama Helena meronta saat di peluk oleh suaminya.


"Marah-marah begini juga tidak akan menyesuaikan masalah" Papa Robert mendudukkan istrinya di sofa.


"Boy, Papa tidak pernah mengajarkan mu menjadi pria yang tidak breng sek dan tidak bertanggung jawab seperti ini. Papa sangat kecewa padamu" ucap Papa Robert dengan tegas.


"Maaf Pa"


"Papa selalu memaafkan mu, tapi maaf saja tidak menyelesaikan masalahmu" Papa Robert menatap tajam putranya.


"Aku tahu Pa" sahut Marcell.


"Beban kehidupan Yasmin tidak mudah Cell, dan kau malah menambah beban hidupnya? kasihan sekali wanita itu" tutur Mama Helena mengingat percakapan nya dengan Yasmin saat di rumah sakit.


"Aku juga sangat menyesalkan ini semua Mam, aku merasa jahat pada Yasmin dan anakku" lirih Marcell.


"Mama tidak mau tahu, kau harus secepatnya menemukan Yasmin, dan membawanya kembali kesini, Mama tidak ingin cucu Mama kekurangan kasih sayang dan tidak mengenal Oma nya" tuntut Mama Helena.


"Itu pasti Mam" sahut Marcell yakin.


"Kemana perginya Yasmin? dia pasti sendirian di luar sana hiks...hiks..." Mama Helena tak mampu menahan tangisnya.


"Kita pasti akan menemukan nya" Papa Robert memeluk dan menenangkan istrinya.


"Dia hamil dan sendirian di luar sana Pa, tanpa pendampingan dan bimbingan orang tua, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? bagaimana jika.."


"Yasmin akan baik-baik saja Mam, aku yakin itu. Dia bisa menjaga diri dan anaknya" sahut Marcell.


"Yasmin wanita yang dipaksa kuat oleh keadaan Cell, tapi pasti ada di mana titik Yasmin merasa lemah dan butuh perlindungan. Dan kau.." Mama Helena menjeda ucapannya. "Mama kehilangan kata-kata untuk mu" kesal Mama Helena lalu pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Papa juga marah dan sangat kecewa padamu boy. Tapi kau sudah dewasa, bahkan sekarang kau sudah menjadi seorang ayah, selesaikan kekacauan yang kau buat ini. jangan membuat Papa dan Mama semakin kecewa padamu" ucap Papa Robert juga meninggalkan Marcell di ruang keluarga.


Sebenarnya Papa Robert juga sangat marah kecewa dan emosi mendengar pengakuan putranya semata wayangnya, namun posisinya sebagai kepala keluarga menuntut nya untuk bersikap bijak dan mengendalikan emosinya, tidak mungkin Papa Robert ikut-ikutan meledak-ledak seperti yang di lakukan istrinya. selain tidak ada gunanya, juga tidak menyelesaikan masalah yang ada. Pengalaman dan banyaknya jam terbang melalui lika-liku kehidupan membuat Papa Robert bersikap tenang dalam menghadapi masalah.


*


*


*


*


*


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2