CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Anne House Galeri


__ADS_3

Albert mengantarkan Yasmin dan istrinya ke butik Anne House Galeri, sedangkan Richard memilih jalan-jalan bersama Johan. Mama Helena dan Marcell juga sudah sampai lokasi butik itu, Aiden tidak ikut serta, bocah cilik itu lebih memilih ikut ke kantor bersama Opa Robert. Aiden mengatakan ingin menjadi pengusaha muda yang sukses seperti Opa nya.


"Daddy mau pergi atau ikut ke dalam?" tanya Yasmin.


"Sepertinya Daddy harus ikut masuk ke dalam" Albert melirik pada Marcell.


"Harus ada yang menjagamu bukan?" sindir Albert pada Marcell.


"Saya setuju dengan anda Tuan Tholense" timpal Mama Helena.


"Memang ada apa di dalam sehingga Yasmin harus di jaga, seperti ada hantu saja" ketus Marcell yang kehilangannya kesempatan untuk berdua dengan Yasmin.


"Bahkan lebih menyeramkan dari pada hantu" cibir Mama Helena menggandeng tangan Yasmin memasuki butik.


"Ckk....." decak Marcell kesal mengikuti langkah calon istrinya.


Yasmin mulai mencoba berbagai jenis gaun pengantin pilihan Mama Helena, namun tidak ada satupun gaun yang lolos dari penilaian Marcell. Ada terlalu terbuka, ada yang terlalu menonjol di bagian ini itu, dan masih banyak lagi membuat Yasmin kesal terhadap Marcell.


"Jika pilihan Mama tidak ada yang lolos menurut mu, kali ini aku akan memilih pilihan ku sendiri. Jika kau tidak setuju juga, kita batalkan pernikahan ini" ancam Yasmin pada Marcell, sebab sudah tujuh gaun yang telah di tolak oleh Marcell.


"Tante aku mau yang ini" ucap Yasmin pada pemilik butik itu.


"Kau yakin?" sebab gaun yang di tunjuk Yasmin adalah gaun sederhana meskipun tampak elegan, sepertinya kurang Wahh jika di kenakan oleh menantu Regananta.


"Ya aku suka, ini simple dan elegan, tidak terlalu ramai dan mencolok" ucap Yasmin pada sebuah gaun model square neck wedding dress yang simple dengan floral cutout veil warna putih itu.


"Mama tidak keberatan kan?" Yasmin bertanya pada calon mertuanya.


"Tidak sayang, apapun yang penting kamu suka dan nyaman mengenakan nya" pasrah Mama Helena, lagi pula gaun itu terlihat sangat elegan.


"Kau setuju atau tidak?" Yasmin menatapnya tajam pada Marcell.


"Tidak terlalu buruk, aku setuju" menurut Marcell gaun pilihan Yasmin sudah sangat pas sesuai keinginan nya, pundak dan dada Yasmin tidak terlalu terbuka jika mengenakan gaun itu.


*


*


*


Setengah selesai melakukan fitting, mereka akan melihat menu catering untuk acara pesta nanti. Semua tampak terlihat bahagia kecuali Marcell yang cemberut karena Yasmin memilih bergandengan tangan dengan Daddy Albert.


"Bagaimana jika jika menggunakan satu mobil?" ide Albert dengan mengusap sayang rambut panjang Yasmin.


"Benar juga, kita bisa lebih leluasa berbincang-bincang" ucap Marrisa.


"Tidak masalah, bukan begitu Cell?" Mama Helena melirik putranya.

__ADS_1


"Hem" sahut Marcell.


"Kau yang mengemudi" Albert menyerahkan kunci mobilnya pada Marcell, sementara dirinya melenggang pergi dengan terus memeluk erat Yasmin dan sesekali tertawa, Jika orang tidak tahu, maka mereka akan mengira Yasmin dan Albert adalah ayah dan anak kandung.


"Bahkan Yasmin jauh lebih dekat dengan ayah sambungnya" gumam Bramantyo dari dalam mobil, dia ingin melihat putrinya meskipun dari kejauhan. Tapi ternyata ia mendapati sesuatu yang menyesakkan dadanya.


"Dulu hanya pada ayah kau bermanja" Bramantyo mengingat masa kanak-kanak Yasmin. Dulu Yasmin tidak mau di dekati oleh pria lain selain ayah dan mendiang kakeknya. Tapi sekarang jangankan untuk bermanja-manja, untuk bicara dengan Yasmin saja Bramantyo kesulitan.


"Sepertinya aku mengenal mobil itu" gumam Marcell melihat mobil Bramantyo dar spion.


"Mobil siapa?" tanya Albert yang duduk di samping kemudi.


"Aku lupa" ucap Marcell mengemudikan mobilnya.


Yasmin diam saja sepanjang perjalanan, bukan ia tidak tanda dengan mobil ayahnya. Tentu Yasmin sangat mengenali mobil itu, sebab beberapa tahun yang lalu ia berharap jika mobil yang di kendarai ayahnya itu mendatangi nya, namun semua hanya harapan, karena mobil itu tidak pernah berhenti untuk nya.


"Ada apa sayang?" Marrisa melihat raut perubahan pada wajah putrinya.


"Tidak ada apa-apa Bu" sahut Yasmin.


"Apa kau kelelahan?" kali ini Mama Helena yang bertanya.


"Ya, sepertinya begitu Mam" jawab Yasmin, tapi tidak dengan Marcell, ia paham betul apa yang di rasakan oleh calon istrinya itu.


"Kau mau ke suatu tempat?" tawar Marcell.


"Tentu saja kami tidak keberatan sayang" sahut Mama Helena tidak ingin calon menantunya itu sakit.


"Kita antar Yasmin kerumahnya dulu Cell" perintah Mama Helena.


Setibanya di rumah sederhana itu, Marcell harus mengiba pada ketiga orang tua nya untuk menemani Yasmin. Tentu saja tidak mudah, tapi apa yang di katakan oleh Marcell memang ada benarnya jika Yasmin membutuhkan seseorang untuk mendampinginya. Oleh karena itu Albert dengan berat hati mengijinkan Marcell menemani Yasmin di rumah besarnya.


"Kau jangan macam-macam Cell" ancam Mama Helena.


"Marcell hanya akan satu macam Mam" lirih Marcell melenggang masuk ke dalam rumah itu.


*


*


*


"Apa yang kau pikirkan?" buriton suara Marcell mengejutkan Yasmin yang sedang berada di dalam kamarnya.


"Kau? bagaimana bisa masuk?" bingung Yasmin melihat Marcell ada di ambang pintu kamar nya.


"Itu tidak penting, sekarang jawab aku. Apa yang sedang kau pikirkan?" Marcell menyentuh dagu Yasmin.

__ADS_1


"Aku sedang tidak memikirkan apapun" Yasmin melepaskan tangan Marcell.


"Kau yakin?"


"Memang apa yang harus aku pikirkan?"


"Mungkin saja ayahmu" ucap Marcell to the poin.


"Aku..."


"Kau harus tetap menemuinya bukan?" Marcell menarik Yasmin dalam pelukannya.


"Apa yang kau takutkan?"


"Kau memiliki ku, Aiden, Mama, Papa, Ibu, dan Daddy mu. Kami semua menyayangimu" Marcell meyakinkan Yasmin, meskipun ia tak tahu apa yang di pikirkan oleh calon istrinya itu.


"Kau tidak akan meninggalkan ku? kau tidak akan membuang...."


"Pertanyaan bodoh, tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Aku sudah pernah merasakan hidup tanpamu dan kehilanganmu, mana mungkin aku akan memberikan mu pergi lagi. itu tidak akan pernah terjadi, bahkan untuk melangkah kaki keluar dari pintu rumahku, aku tidak mengizinkan mu" tutur Marcell di akhiri dengan luma Tan di bibir indah Yasmin.


"Kau mencuri kesempatan" Yasmin memukul dada Marcell.


"Sayang, ini hal yang wajar. Aku sangat merindukanmu" Marcell kembali Melu mat bibir Yasmin dan kali ini ia menahan tengkuk Yasmin agar wanita itu tidak menolaknya.


"Hentikan Marcell, kita tidak akan hmmmpppttttt..." Marcell tidak memberikan kesempatan pada Yasmin untuk berbicara dan menolaknya.


"Sudah ku katakan, jika berada di dalam kamar, maka yang terjadi hanyalah kehendak ku" ucap Marcell mulai menggiring Yasmin ke atas ranjang. Dan tentu saja, pergulatan panas itu tidak mampu Yasmin hindari, bahkan dirinya yang terlihat lebih menginginkan sentuhan Marcell. Sungguh Yasmin merutuki reaksi tubuhnya, yang begitu kecanduan dengan apa yang Marcell lakukan.


*


*


*


*


*


TBC 🌺


Maaf ya untuk para readers, Mameeethor jarang update, sebab anak dan suami Mameeethor sedang sakit, dan sekarang Mameeethor pun ikutan tumbang😭


ini ketik 1100 kata pun seharian, sebab kepala Mameeethor rasanya mau pecah....


Sehat-sehat untuk semua readers Mameeethor...


jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar 🤗

__ADS_1


__ADS_2