CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Bertemu Kembali


__ADS_3

Burung besi yang mengungkung Marcell dan Mama Helena lending dengan sempurna di Helsinki-Vantaa International Airport setelah mengudara hampir 19 jam perjalanan. Mama Helena dan Marcell kini keluar dari Jet Pribadi itu menuju mobil jemputan yang sudah standby menunggu kedatangan mereka.


Ibu dan anak itu menuju kesebuah hotel terdekat dari bandara untuk mengistirahatkan tubuhnya, besok mereka akan melanjutkan perjalanan ke kota tempat dimana Yasmin tinggal. Marcell hanya menurut saja apa yang di katakan oleh Mama Helena tanpa berniat membantah atau bertanya kemana dan untuk apa mereka terbang ke Finlandia secara tiba-tiba seperti ini.


"Kau menikmati perjalan ini boy?" tanya Mama Helena.


"Ck, Mama kenapa ikut-ikutan Papa?" protesnya.


"Ikut-ikutan apa maksud mu?"


"Mama kenapa memanggil Marcell dengan sebutan 'boy'? Marcell ini sudah dewasa Mam, bahkan usia Marcell sudah 33 tahun"


"Baiklah, Mama tidak akan memanggil mu 'boy' lagi jika kau sudah menembus Yasmin" tuturnya.


"Dia sepertinya di telan perut bumi" sahut Marcell putus asa.


"Bumi tidak sekejam itu boy"


"Ck" Marcell membuang muka kearah jendela, ia sungguh malas berdebat dengan wanita yang telah melahirkan nya itu.


*


*


*


Pagi ini Mama Helena akan melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Forssa. Kota yang Yasmin pilih sebagai tempat tinggalnya, selama empat tahun terakhir ini. Forssa bukanlah kota besar, kota itu adalah sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran namun tetap memiliki pesona keindahan.


"Dia memang wanita yang cerdas memilih kota indah ini sebagai tempat persembunyian nya" gumam Mama Helena mendapatkan laporan dari orang-orang yang sudah standby memantau Yasmin.


"Boy, kau sudah siap? ayo kita berangkat" ajak Mama Helena. membuktikan pintu kamar Marcell.


"Kita akan kemana Mam?"


"Menjemput seseorang"


"Siapa?"


"Kau ini kenapa jadi banyak tanya? ayo berangkat" Mama Helena menarik lengan Marcell.


"Mam, barang-barang Marcell masih berserakan di dalam"


"Biarkan saja, nanti akan ada yang membereskan nya"


"Ponsel Marcell Mam"


"Kau tidak membutuhkan nya saat ini"


"Aku sedang membahas hal penting dengan Dion Mam"


"Jangan banyak alasan boy, Papa standby di kantor untuk menggandeng semua pekerjaan mu" ucap Mama Helena menatap tajam Marcell.


"Ck, baiklah tidak perlu menarik Marcell seperti ini"

__ADS_1


"Menurut lah atau kau akan menyesal" tegas Mama Helena yang membuat Marcell terdiam.


Setelah melakukan perjalanan beberapa jam menggunakan minibus, akhirnya mobil yang di tumpangi Mama Helena itu berhenti di sebuah rumah kecil bercat merah, namun tampak rapih, nyaman dan asri.


"Kenapa berhenti disini?" Marcell melihat di sekitar.


"Apakah mereka sudah pulang?" tanya Mama Helena pada kedua orang yang duduk di bangku depan.


"Menurut pantauan kami, mereka sudah kembali sekitar 10 menit yang lalu Nyonya" jawab seorang yang duduk di sebelah pengemudi.


"Kau turun lah, jemput mereka" perintah Mama Helena pada Marcell.


"Jemput mereka? siapa dan di mana Mam?" Marcell masih belum paham dengan perintah ibunya.


"Itu rumah kecil dengan cat merah, yang ada sepedanya" Mama Helena menunjuk rumah Yasmin.


"Baiklah" pasrah Marcell, dengan malas ia keluar dari dalam mobil itu menuju rumah yang di tunjuk Mama Helena.


Di dalam rumah Yasmin, ia tengah sibuk menata makanan yang akan di antaranya ke rumah Jennie.


"Mom, Jennie juga suka jeruk. Boleh aku memberikan dua jeruk ini?"


"Ya" sahut Yasmin.


"Mom, banana ini juga bagus untuk kesehatan Jennie" Aiden terus saja berceloteh.


"Hem" Yasmin sangat tahu apa yang di maksud oleh putranya itu.


Tok...tok...tok...


"Mommy ada janji dengan uncle Arthur?"


"Tidak" sebab jarang sekali mereka menerima tamu, kecuali sudah ada janji terlebih dulu.


"Mungkin itu Jennie datang karena terlalu merindukanmu" ucap Yasmin, memang tiga hari ini Aiden tidak bermain kerumah Jennie.


"Baiklah, biar aku yang membukanya" pria kecil itu berlari dengan riang menuju pintu.


Ceklek.....


Aiden terdiam melihat sosok pria tinggi dan gagah yang membelakangi nya.


"Who are you?" ucap Aiden, membuat pria yang tak lain ada Marcell menoleh.


Deg....deg....deg....


Hati Marcell bergetar melihat wajah Aiden yang memang copy paste wajahnya, tanpa kesalahan sedikit pun.


"Are you my Daddy?" ucap Aiden menelisik wajah Marcell.


"Kau..." Marcell bingung harus berkata apa, benarkah anak kecil di hadapannya ini adalah putranya? atau hanya kebetulan mirip saja?.


"Mom, Daddy is back, Daddy sudah pulang, Daddy ingat jalan pulang" seru Aiden tersenyum bahagia menatap Marcell.

__ADS_1


"I miss you Dad" Aiden memeluk kedua kaki Marcell.


Serrrr....


Hati Marcell bergetar karena sentuhan anak kecil itu, ia menatap haru pada Aiden yang memeluk erat kakinya, ada perasaan senang yang membuncah dalam hati Marcell.


"Ck, anak itu mulai lagi. kali ini siapa yang ia panggil Daddy?" gumam Yasmin menyusul Aiden yang membuka pintu.


"Aiden, what are you doing? kau tidak boleh melakukan ini pada orang asing" ucap Yasmin menunduk, mencoba melepaskan pelukan Aiden pada Marcell


Sedangkan Marcell kembali membeku mendengar suara indah yang selama empat tahun ini ia rindukan. Marcell menatap punggung Yasmin yang belum menyadari kedatangannya.


"No Mom, ini Daddy Aiden" kekeh Aiden tak mau melepaskan tangannya.


"Aiden Daddy tidak ada dis..."


"Daddy nya ada di sini Yas" ucap Marcell dengan nada bergetar.


Deg.......


Yasmin terkejut bukan main mendengar suara pria yang sangat di cintai nya itu, Benarkah Marcell ada disini? apakah Marcell berhasil menemukan nya? Yasmin mengangkat kepalanya perlahan dan melihat siapa pria yang berdiri di hadapannya, benarkah itu Marcell?


"Marcell...." lirih Yasmin yang benar-benar melihat Marcell di hadapannya. Rasa rindu yang ia simpan selama bertahun-tahun itu seolah meledak di dadanya. Senang, terharu, sedih, benci entahlah Yasmin tidak bisa mendeskripsikan perasaannya.


"Aku menemukan mu" ucap Marcell menatap penuh cinta dan kerinduan pada Yasmin.


"Ini benar-benar Daddy Aiden kan? Mom, ini Daddy Regan kan?" suara Aiden memutuskan pandangan keduanya.


"Yes, I'm your Daddy" ucap Marcell mengangkat tubuh Aiden dan menggendong nya.


"Daddy payah sekali, kenapa bisa lupa jalan pulang" protes Aiden mengerucutkan bibirnya.


"Maaf" ucap Marcell yang tak tahu maksud Aiden.


"Dimaafkan, tapi Daddy harus menerima hukuman dari Aiden"


"Baiklah" ucap Marcell.


"Aiden dan Mommy sangat merindukan Daddy" ucap anak itu memeluk leher Marcell.


Yasmin masih terdiam tak bereaksi apapun, ia masih tidak percaya jika Marcell akan langsung menerima Aiden sebagai putranya tanpa penolakan seperti empat tahun yang lalu. Yasmin masih sangat ingat jika Marcell menolak untuk punya anak, ia beralasan belum siap untuk menjadi seorang ayah, apalagi hidup terikat dengan sebuah pernikahan.


Lalu apa ini? apakah Marcell telah berubah? apakah waktu selama empat tahun mengubah pola pikir seorang Marcello Regananta? dan kenapa Marcell tidak menanyakan asal usul Aiden? apakah Marcell akan percaya begitu saja jika Aiden adalah putranya? ya meskipun wajah Aiden seratus persen sama dengan wajah Marcell, tapi...


Yasmin masih belum bisa menyimpulkan semua kejadian yang mendadak ini.


*


*


*


*

__ADS_1


*


TBC 🌺


__ADS_2