
Kehidupan Marcell berubah 180° setelah menerima surat dari Yasmin. Marcell yang dulu ramah pada setiap orang khususnya para wanita, kini menjadi pria yang dingin bahkan ranjang Marcell kini juga dingin, tidak ada lagi wanita yang di izinkan naik ke ranjangnya. Kehidupan Marcell hanya tentang kerja, kerja , dan kerja. Ya dia menjadi pria yang Workaholic setiap hari ambisinya bertambah, targetnya juga semakin di luar nalar membuat para karyawan kelimpungan mengimbangi cara kerja Marcell.
Tiada hari tanpa lembur, bahkan Marcell sering tertidur di ruangan kerjanya. Marcell tidak lagi tinggal di apartment nya, terlalu banyak kenangan indah bersama Yasmin, dan Marcell tidak sanggup hidup dengan kenangan itu, namun sesekali Marcell mengunjungi apartment nya.
Sudah dua tahun ini Marcell kembali tinggal di rumah orang tuanya, namun hal itu juga tidak membuat Marcell betah dirumah. Karena sang Mama sering mengomelinya sebab Marcell terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, dan tidak menyisakan waktu untuk Laura tunangannya. Ya pertunangan itu terjadi karena Laura sudah terlanjur menyukai Marcell, Laura juga setuju jika pernikahannya di laksanakan saat Marcell sudah mencintai nya. Sayangnya hingga di tahun kedua tanda-tanda cinta dari Marcell belum terlihat.
Ceklek...
pintu ruangan Marcell terbuka dan Laura lah yang membukanya.
"Apakah kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" ucap Marcell menatap tajam tunangannya.
"Kak, aku bukan orang lain, kenapa harus seformal itu?" sahut Laura.
"Aku tidak perduli siapapun itu, jika memasuki ruanganku harus mengetuk pintu terlebih dulu"
"Baiklah aku salah, aku minta maaf" ucapnya manja. "Kak apakah kau sibuk?" sambungnya melihat Marcell tak menghiraukan kedatangannya.
"Menurut mu?" Marcell masih sibuk dengan pena dan lembaran kertas yang ada di map snelhecter.
"Kak, tidak bisakah kau meluangkan waktu untuk makan siang denganku?" bujuk Laura.
"Gak bisa aku sibuk" sahut Marcell tanpa menghentikan aktivitas nya.
"Kak, apakah sampai sekarang kau masih belum bisa mencintai ku?" lirih Laura. pernyataan itu membuat Marcell menghentikan aktivitasnya.
"Jangan memaksaku Laura, kau tahu benar aku ini orang nya seperti apa" jawab Marcell.
"Kak, ini sudah tahun kedua, dan aku sudah menunggu mu selama itu tidak..."
"Kau bisa menikahi pria lain, jika sudah sangat ingin menikah" sela Marcell.
"Kak..." bentak Laura
"Jangan mengaturku Laura" teriak Marcell. "Jangan mengekang ku, jangan mengikat ku, jangan menuntut ku, dan jangan meninggikan suaramu padaku" Marcell menata tajam Laura.
"Bukankah sebelum pertunangan itu terjadi aku sudah menjelaskan semuanya padamu? Jika sekarang sikapnya seperti ini aku tidak keberatan jika pertunangan itu batal" ucapnya.
"Kak, aku tidak bermaksud seperti itu, tolong maafkan aku" ucapnya meraih tangan Marcell.
"Pergilah dari sini" Marcell menyingkir tangan Laura.
"Baik...baiklah aku akan pergi, tolong jangan marah padaku" lalu keluar dari ruangan Marcell, sungguh Laura tidak ingin kehilangan Marcell.
__ADS_1
Marcell memijat pelipisnya, ia sendiri juga bingung apa yang membuat Marcell tidak bisa jatuh cinta dengan Laura yang bisa di kategorikan wanita Perfect tanpa cela. Jangankan jatuh cinta, Marcell bahkan kehilangan gairahnya untuk berpetualang merengkuh surga dunia. Entahlah apa yang terjadi pada dirinya.
Karena moodnya sudah berantakan, Marcell memilih untuk pulang, ia tidak bisa bekerja dalam keadaan kacau seperti ini.
"Nadya, tolong kau handle jadwal hari ini dengan Dion, aku akan pulang" pesan Marcell kepada sekretaris nya, lalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban sang sekretaris itu.
"Ada apa dengan Tuan Regan? dia terlihat kacau" gumam Nadya menatap kepergian Boss nya.
"Dimana Tuan Regan" suara Dion mengagetkan Nadya.
"Astaga kak Dion" ucap Nadya, keduanya menjadi lebih dekat sejak kepergian Yasmin. "Tuan Regan baru saja pergi, dan dia terlihat kacau" adu Nadya.
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya, tadi Nona Laura berkunjung, dan keluar dari ruangan Tuan Regan dengan menangis, aku rasa mereka bertengkar lagi" Nadya sudah sering melihat Laura datang dan pergi bersimbah air mata seperti tadi.
"Sampai kapanpun, aku yakin Tuan Regan tidak akan jatuh cinta dengan Laura" gumam Dion.
"Apakah dulu hubungan Tuan Regan dan Bu Yasmin sangat dekat?" kepo Nadya.
Tukkk...
Dion menjitak kening Nadya membuah wanita itu mengaduh kesakitan.
"Kak Dion itu sakit" rengeknya
"Sikap datarnya itu selalu saja datang tidak tepat waktu" gumam Nadya. "Tapi aku suka" senyum Nadya mengembang mengingat perlakuan manis Dion.
*
*
*
"Aku sungguh merindukanmu Yas" Marcell merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kamarnya. Sofa yang menjadi saksi percintaan panas terakhir nya bersama dengan Yasmin.
"Apa itu?" atensi Marcell tertuju pada deretan buku yang ada di dalam lemari, ada satu buku yang tidak tersusun dengan rapih karena ukurannya lebih besar dari pada buku yang lainnya.
"Ah... ini majalah hamil yang di baca Yasmin waktu itu" Marcell masih mengingat majalah yang sempat membuatnya terusir dari apartment nya sendiri.
Marcell membuka majalah itu dan sebuah kertas segi empat jatuh dari dalam selipan majalah itu.
"Apa ini?" Marcell mengambil kertas itu. "Bukankah ini hasil pemeriksaan orang hamil? apa itu namanya? foto USG, ya aku yakin itu" gumamnya. "Kenapa ada nama Yasmin di kertas ini?" Marcell terkejut melihat nama Yasmin tertera di gambar hasil USG itu.
__ADS_1
"Rom, cepat datang ke apartment ku, sekarang, saat ini juga!!!!!" perintahnya menghubungi temannya melalui sambungan telepon.
...
Setelah lima belas menit berlalu, teman yang tadi di telpon Marcell tiba di apartment miliknya.
"Kau sakit apa Cell?" Romi memeriksa kening Marcell menghilangkan punggung tangan nya. "Kau tidak sedang demam, apa yang sakit?" Romi serius menatap temannya itu.
"Tolong kau baca ini" Marcell mengansurkan kertas foto hasil USG itu pada Romi karena profesi nya adalah seorang dokter.
"Kenapa kau memberikanku ini? aku tidak mengerti cara membacanya " ucap Romi meraih foto USG itu.
"Kau ini seorang dokter Rom, masa membaca hasil USG saja tidak bisa? aku tahu kau bukanlah seorang dokter" Marcell menatap sinis pada Romi.
"Astaga aku bisa gila ini" Romi frustasi. "Aku ini dokter bedah, bukan dokter kandungan" jelas Romi.
"Kau itu dokter tidak berguna, membaca itu saja tidak bisa" kekeh Marcell.
"Baiklah aku akan meminta temanku yang ahlinya untuk membaca ini" ucap Romi yang tahu betul watak Marcell. Ia memotret kertas itu menggunakan ponsel nya lalu mengirimkan nya pada temannya yang berprofesi sebagai dokter kandungan dan ginekologi. Tak lama sebuah notifikasi terdengar dari ponsel Romi tanda ada pesan masuk.
"Usia kandungan nya sudah 12 weeks atau lebih tepatnya 3 bulan, janinnya sehat beratnya 23gram dengan panjang 7,4cm, wajah nya sudah terbentuk di lengkap dengan mata, hidung dan mulut. Tulang dan otot juga sudah terbentuk, kuku pada jari mulai tumbuh, alat kelamin juga sudah mulai terbentuk, namun belum berkembang secara sempurna sehingga belum terlihat jenis kelaminnya" jelas Romi, mengkopi apa yang di baca dalam pesannya.
"Siapa pemilik foto USG itu" lirih Marcell.
"Disini tertulis pemilik janin itu Nyonya Yasmin A S. Kau mengenalnya?" tanya Romi.
Deg....
"Itu artinya wanita hamil itu Yasmin" Marcell masih tidak percaya.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? tentu saja wanita hamil itu bernama Yasmin" ucap Romi
Duarrrrrr.....
Penjelasan Romi akan siapa nama pemilik janin itu bagai petir yang menyambar Marcell. Kenyataan itu memberi tamparan keras bagi Marcell. Jadi Yasmin pergi dengan keadaan berbadan dua? Yasmin mengandung anaknya? apakah sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah? Yasmin menyembunyikan buah hatinya? dan kenangan berharga yang di bawa Yasmin adalah anaknya? benarkah ini? jadi inikah alasan mengapa Yasmin pergi darinya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otak Marcell.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺