
Di sebuah ruang kerja nan mewah, seorang pria paruh baya terlihat sedang memarahi dua orang pria yang ada di hadapannya, sepertinya kedua orang itu melakukan kesalahan.
"Bagaimana kalian bisa kehilangan jejak nya?" serunya.
"Maaf Tuan, kami pikir anda tidak ingin tahu keadaan dan keberadaan nya lagi" sahut salah satunya dengan menundukkan kepalanya.
"Bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu? dia juga putri ku" tuturnya tak habis pikir dengan kesimpulan yang di ambil anak buahnya.
"Maafkan kami Tuan Bram" lirih keduanya bersamaan. keduanya mengakui kesalahannya karena tidak memantau keberadaan Yasmin.
"Katakan padaku, dimana terakhir kali dia berada?" ucapnya.
"Terakhir yang kami ketahui, Nona Yasmin berada di Amsterdam dua tahun yang lalu" tuturnya.
"Setelah itu?"
"Maaf Tuan" tuturnya.
"Bagaimana dengan Marrisa? kalian sudah menemukan keberadaan nya?"
"Ibu Marrisa menetap di Leiden Tuan" jawab anak buahnya.
"Itu berarti kemungkinan besar Yasmin juga ada di Leiden?" sebab seingatnya Yasmin pamit akan mengunjungi Ibunya, dan akan menetap bersama ibunya jika ia betah. Tapi itu semua masih kemungkinan, Bram sendiri harus memastikannya.
"Kalian terus lakukan pencarian keberadaan Yasmin, aku ingin tahu kabar tentang putriku secepatnya" perintahnya tak bisa di tawar.
"Baik Tuan, kami undur diri" sahut keduanya lalu keluar dari ruangan mewah itu.
"Bagaimana keadaan mu sayang? di mana saat ini kau berada?" Tuan Bram terkenang masa-masa dimana ia dan putrinya begitu dekat, bayi mungil yang dulu pernah ada dalam pelukannya, gadis kecil yang selalu merengek dan manja padanya, bibir mungil yang pertama kali memanggil nya Ayah. Bersalah? tentu saja Tuan Bram merasa sangat bersalah dan berdosa karena telah mengabaikan darah dagingnya sendiri, sering kali ia tidak bisa terlelap di tidur malamnya, Bayang-bayang air mata Yasmin dan tatapan mata yang penuh kekecewaan dari putri sulungnya itu selalu menari-nari di pelupuk matanya. Kehidupan nya tampak baik-baik saja tapi jiwanya merintih gelisah dan tidak tenang.
*
*
*
Di Kamar bernuansa serba pink, dengan desain super Girly terjadi perdebatan antara ibu dan putrinya, ya hubungan keduanya tidak seharmonis dulu ketika pertunangan sang putrinya itu kandas. putrinya tidak terima dan selalu menyalahkan Ibunya.
"Laura sayang, mau sampai kapan kamu merah pada Mama?" ucapnya putus asa.
"Aku menginginkan Marcell Mah" ucapnya masih setia bergulung di bawah selimut tebalnya.
"Mama tidak bisa membawanya padamu sayang" ucapnya.
"Berikan aku nama wanita sialan itu" Laura bangun dan menatap tajam Mama Hana.
"Baiklah, Mama akan mencari tahu siapa wanita itu" setujunya.
__ADS_1
"Aku ingin secepatnya Mah"
"Serahkan itu pada Mama, Mama tidak akan mengecewakan putri Mama ini" janjinya. "Mama pergi dulu, Mama akan menemui Helena untuk menanyakan" pamitnya pada putrinya lalu keluar dari kamar itu.
***
"Mama mau kemana?" Marcell berpapasan denga Mama Helena yang terlihat akan pergi keluar.
"Bukan urusanmu" ketus Mama Helena yang masih marah pada Marcell.
"Mam" Marcell meraih tangan Mama Helena. "Bisa kita bicara sebentar?" lembutnya pada Mama Helena.
"Ck.." Mama Helena berdecak namun menuruti kemauan putranya itu. "Katakan ada apa?" ucap Mama Helena.
"Mam, apakah Mama sudah tahu asal usul Yasmin?" tanya Marcell.
"Tidak, yang Mama tahu orang tuanya sangat tidak bertanggung jawab" tutur Mama Helena mengingat cerita Yasmin tentang kedua orang tuanya.
"Tapi Mama mengenal Ayah Yasmin" ucap Marcell.
"Tidak, bagaimana bisa Mama mengenal Ayah Yasmin?" kilahnya.
"Mama mengenalnya, hanya saja Mama belum tahu jika dia ayahnya Yasmin" ucap Marcell.
"Benarkah? siapa?" Mama Helena mulai tertarik berbicara dengan Marcell.
"Tuan Bram, suaminya Tante Hana, ayahnya Laura" jelas Marcell.
"No Mam, ini kenyataan"
"Tapi..." ucapan Mama Helena terhenti, mengingat percakapannya dengan Hana saat itu. Hanya bercerita jika anak Bram dengan istri pertamanya di bawah pengasuhan Bram, dan jika di samakan dengan cerita Yasmin, semuanya masuk akal. "Apakah itu benar?" lirih Mama Helena.
"Hem" sahut Marcell. "Marcell harap, Mama tidak mengatakan pada Tante Hana tentang hubungan Marcell dan Yasmin" pintanya.
"Berarti Bram mengetahui keberadaan Yasmin?"
"Marcell tidak tahu Mam, tapi Marcell memang berniat untuk bertanya pada beliau"
"Bagus, lakukan dengan cepat, Mama ingin segera bertemu dengan Yasmin" Mama Helena antusias.
"Marcell maunya juga seperti itu Mam" tuturnya.
*
*
*
__ADS_1
"Maaf aku terlambat" ucap Mama Helena, yang ada temu janji dengan Mama Hana di sebuah kafe.
"Tidak masalah" jawab malas Mama Hana.
"Han, aku berharap hubungan persahabatan kita tidak berubah meskipun pertunangan anak-anak kita berakhir" tutur Mama Hana, yang paham jika temannya itu pasti marah.
"Aku akan memutuskan nya setelah ini" ucapnya.
"Apa maksudnya Han?" Mama Helena tak mengerti arah pembicaraan temannya itu.
"Katakan padaku, siapa wanita itu? di mana dia? siapa namanya?" tuntut Mama Hana pada Mama Helena.
"A...apa?" Mama Helena terkejut dengan pertanyaan Mama Hana.
"Kau tahu Helen? aku sangat mencintai putriku, aku tidak bisa melihat putriku hancur seperti ini. Dia tak memiliki semangat hidup, setiap hari hanya mengurung diri di kamar, makan pun harus di paksa. Aku tidak tahan melihatnya seperti itu" tutur Mama Hana.
"Aku tahu perasaan mu Hana" lirih Mama Helena, karena keadaan Marcell pun tak jauh beda dengan Laura, putra semata wayangnya itu seolah hidup di dunia lain, pencarian Yasmin belum juga menemukan titik terang dan itu membuat Marcell semakin frustasi.
"Bagaimana kau tahu? bukankah Marcell senang karena bisa bersama dengan wanita itu? katakan padaku, siapa wanita itu, siapa e, dan dimana rumahnya?"
"Hufff...Maafkan aku Hana, aku sendiri tidak tahu siapa wanita itu. Marcell mengatakan bahwa wanita itu telah pergi meninggalkan nya, dan saat ini Marcell mencarinya namun belum menemukan keberadaan nya" bohong Mama Helena.
"Lalu sapa namanya? tidak mungkin Marcell tidak mengatakannya padamu kan?"
"Sayangnya Marcell memang tidak memberi tahukan siapa wanita itu dan namanya. Marcell hanya mengatakan akan mengenalkan nya padaku jika sudah menemukan wanita itu" tuturnya.
"Dan kau pikir aku akan mempercayai ucapan mu? aku yakin kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kita ini sahabat Helen, kau tega melihat putriku yang dulunya ceria, bahagia hancur seperti ini? bukankah kau juga seorang ibu?" serunya tak percaya dengan perkataan Mama Helena.
"Kau bisa mengatakan apapun tentang ku Hana. kau juga bisa berpikir sesuka hatimu, tapi apa yang aku katakan benar adanya, dan untuk Laura, aku juga menyayangi nya, tapi aku harus berbuat apa?" sahut Mama Helena, yang sangat tidak menyukai berada di posisi seperti ini, namun Mama Helena harus berbohong agar tidak ada yang tersakiti lagi, setidaknya selama Yasmin belum di temukan, karena jika Yasmin sudah di temukan maka tidak ada lagi yang bisa di tutupi.
"Kau tidak menyayangi putriku Helen. kau hanya memikirkan putramu" ucap Mama Hana berlalu pergi meninggalkan Mama Helena.
"Maafkan aku Hana, maaf sudah membohongi mu, maaf karena aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya" gumam Mama Helena menatap kepergian sahabatnya itu.
*
*
*
*
*
TBC 🌺
Dear para readers, Mameeethor tunggu kritik dan sarannya di kolom komentar ya....
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian
terimakasih sudah mampir 🙏🙏