
Hari berganti, minggu berlalu, bulan yang di tunggu-tunggu oleh Marcell dan Yasmin pun datang. Minggu ini adalah due date persalinan Yasmin, Mama Helena sangat antusias menyambut calon cucu keduanya dengan mengisi penuh, kamar calon cucunya dengan barang-barang mewah dan segala jenis perlengkapan bayi. Karena Marcell dan Yasmin tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka, jadi Mama Helena menyiapkan dua warna khas baby boy, dan baby girl. Namun Yasmin dengan lembut menolaknya karena tidak ingin terlalu berlebihan, hingga akhirnya hanya menyisakan perlengkapan bayi dengan warna netral yang bisa di pakai oleh bayi laki-laki atau perempuan.
"Mama tidak marah kan jika barang-barang yang sudah Mama beli kita sumbangkan ke panti asuhan?" Yasmin dan Mama Helena duduk di taman belakang yang penuh dengan tanaman hias dan beberapa pohon buah.
"Tidak sayang, tapi jika nanti cucu Mama sudah lahir, tolong jangan larang Mama untuk membelikan barang-barang sesuai dengan gender nya" pinta Mama Helena.
"Yasmin tahu Mama sangat antusias dan sayang dengan cucu Mama, Yasmin tidak masalah jika Mama memanjakannya, tapi jangan berlebihan ya Mam" ucap Yasmin, ia tidak ingin anaknya nanti terlalu manja, tidak menghargai dan lupa bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu.
"Mama paham sayang" sahut Mama Helena. "Apakah setelah dia lahir, kalian akan menambah lagi?" tangan Mama Helena mengusap-usap lembut perut bulat Yasmin, dan mendapatkan tendangan dari si kecil.
"Yasmine belum tahu Mam" jawab Yasmin tidak habis pikir dengan pertanyaan sang mertua, yang sekarang saja belum lahir, malah di tanya nambah lagi. Tapi Yasmin tidak marah atau tersinggung dengan pertanyaan mertuanya, sebab ia sangat tahu jika orang tua Marcell memang menginginkan banyak anak, tapi apa daya jika Marcell ditakdirkan menjadi anak tunggal.
*
*
*
Marcell membelai perut besar Yasmin dan sesekali menciumnya, ia sangat tidak sabar mendampingi Yasmin di ruang bersalin dan mendengarkan suara tangis putrinya untuk pertama kali, ya Marcell semakin yakin jika bayi yang sedang di kandungan istrinya itu adalah seorang princess.
"Hsss" desis Yasmin saat merasakan tendangan kuat dari dalam.
"Princess, jangan terlalu kuat menendang Mommy" ucap Marcell di perut Yasmin.
"Berhentilah bermain dengan nya Cell, dia semakin sering menendang" pinta Yasmin merasa perutnya ngilu.
"Apakah aku boleh menjenguk nya?"
"Tidak, kemari malam sudah, lagi pula perutku terasa semakin tidak nyaman" ucap Yasmin, sebentar ia sudah merasakan kontraksi dari siang tadi, tapi Yasmin hanya diam saja, ia merasa masih sanggup mengatasinya, ia baru akan mengatakan jika sudah tidak tahan.
"Enghhh" lenguh Yasmin meremas bantal nya saat gelombang cinta itu datang.
"Ada apa? apakah sudah mau melahirkan?" Marcell sangat siaga, hanya saja ia tidak tahu apa yang Yasmin rasakan.
__ADS_1
"Apakah perlengkapan yang akan di bawa kerumah sakit sudah ada di mobil?" Yasmin berusaha mengontrol nafasnya.
"Ya, ada apa?"
"Sepertinya kita harus kerumah sakit enghhh....." Yasmin meraih tangan Marcell dan meremasnya.
"Awhhh...sayang" Marcell terkejut.
"Apakah kau benar-benar akan melahirkan?"
"Hemm" sahut Yasmin memejamkan matanya
"B..baiklah, a..a...ayo kita kerumah sakit" Marcell memapah Yasmin keluar dari kamar. Ini masih pukul 20.15 Papa Robert dan Mama Helena masih di ruang tengah, sedangkan Aiden pergi bersama uncle Leo nya.
"Marcell, apakah Yasmin sudah mau melahirkan?" Mama Helena mendekati Marcell yang memapah Yasmin.
"Sepertinya begitu Mam" jawab Marcell melihat Yasmin memejamkan matanya dan meremas kuat pundak Marcell. Mama Helena dan Papa Robert langsung sigap membantu Marcell dan Yasmin.
"Sepertinya kontraksi nya semakin intens" Mama Helena memperhatikan Yasmin, meskipun Yasmin terlihat tenang dan tidak merengek, tapi terlihat jelas jika sang buah hati mengirimkan sinyal cintanya.
"Ya ampun sayang kenapa tidak bilang?" sesal Marcell yang tidak tahu jika sang istri menahan sakit hampir dua belas jam.
"Aku masih bisa menahannya Cell, lagi pula terlalu cepat jika harus pergi ke rumah sakit enghhhh...." gelombang cinta itu datang lagi, membuat Marcell semakin cepat melajukan mobilnya.
"Tahan saya g, bentar lagi kita akan sampai" panik Marcell.
"Kamu jangan panik Marcell" ucap Papa Robert mengingatkan.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Yasmin langsung di periksa di IGD terlebih dulu, dan ternyata sudah sampai bukaan delapan lalu Yasmin langsung di bawa ke ruang bersalin.
"Apakah sakit sekali?" pertanyaan bodoh itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Marcell.
"Pertanyaan macam apa itu?" kesal Mama Helena yang masih mendampingi Yasmin.
__ADS_1
"Tidakkah pernah kau baca jika sakitnya melahirkan itu setara dengan 20 tulang yang di patahkan secara bersamaan?" omel sang Mama. "Jangan hanya tahu enaknya saja Marcell" sambung nya.
"Maafkan aku sayang" ucap Marcell mendekati Yasmin, dan langsung di Jambak dengan kuat oleh Yasmin sebagai peluapan rasa kontraksi itu datang.
"Awhhhh...awh...awh....sayang ampunnnnnn" Marcell merasa jika kulit kepalanya itu akan terlepas, sangat sakit.
"Tahan saja Marcell, sakit yang kau rasakan tidak ada apa-apanya dengan yang sedang Yasmin rasakan" ucap Mama Helena, bukannya prihatin tapi malah senang ketika Yasmin meluapkan rasa sakitnya pada sang putra.
Marcell yang tadinya ingin mengeluh seketika terdiam mendengar perkataan sang Mama, ia tidak bisa membayangkan betapa kesakitan nya Yasmin dulu saat melahirkan Aiden, apa lagi tanpa pendampingan dirinya dan keluarga disisi Yasmin, siapa yang menguatkan Yasmin kala itu?
"Maafkan aku sayang" ucap Marcell tiba-tiba saja menangis sesenggukan.
"Marcell jangan berlebihan seperti itu, Yasmin yang lebih kesakitan darimu saja tidak menangis" cibir Mama Helena. Yasmin memang tidak menangis, dia sangat bisa menguasai emosi nya, Yasmin juga mengatur nafasnya dengan baik sehingga meminimalisir rasa sakitnya. Ya semua itu tentu saja karena pengalaman pertamanya saat melahirkan Aiden dulu.
*Flashback*
Disebuah ruangan bersalin di salah satu rumah sakit yang ada di Forssa, seorang wanita terus berteriak dan mengumpat dengan menggunakan bahasa yang hanya bisa di mengerti dirinya. Dialah Yasmin, ia terus berteriak mencaci maki meskipun para perawat sudah memperingatkan agar tenang.
"MARCELL SIALAN, AWHHH....AKAN KUBUNUH KAU BRENGSEK" umpat Yasmin.
"AHHHGGGG....KENAPA SAKIT SEKALI, BRENGSEK MARCELL, AWAS SAJA JIKA AKU BERTEMU DENGANMU, MATI KAU DI TANGANKU SIALAN" racau Yasmin.
"Berteriak dan mencaci maki pria itu tidak akan mengurangi rasa sakitnya Yas, tenang lah" ucap Jennie satu-satunya orang yang mendampingi Yasmin.
"JENNIE, MARCELL ITU BRENGSEK, SIALAN, PRIA HIDUNG BELANG DAN SIALNYA AKU SANGAT MENCINTAINYA. AHGHGGG......" teriak Yasmin, perawat yang mendengar hanya geleng-geleng kepala, selain tidak tahu apa yang di katakan oleh Yasmin, perawat itu juga heran kenapa Yasmin terus berteriak.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺