
Farhana atau yang lebih di kenal dengan Mama Hana bersiap menuju butik langganan nya, selain itu pemilik butik adalah temannya. Anne House Galeri adalah butik para selebritas dan para istri pejabat juga pengusaha, tak heran jika Mama Hana sangat suka belanja di butik itu, karena tidak akan di pandang sebelah mata jika berbelanja di sana.
Saat tengah memilih gaun pesta, Mama Hana melihat sekelebat bayangan sahabatnya, yaitu Mama Helena. Dua sahabat ini sudah tidak ada komunikasi lagi sejak gagalnya pernikahan dadakan putra dan putrinya. Karena penasaran melihat mama Helena di bagian wedding dress, maka Mama Hana mendekati dan mencuri dengar percakapan antara Mama Helena dan Anne pemilik butik itu.
"Jadi rupanya putra kesayangannya itu sudah mau menikah? tapi dengan siapa? apa dengan anak sialan itu?" gumam Mama Hana bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Kau yakin dengan ucapan mu itu Helena?" ucap Mama Hana mendengar nama putrinya disebut oleh sahabatnya.
"Hana" lirih Mama Helena melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Kau ternyata tengah menyiapkan hari bahagia untuk putramu? dengan siapa Marcell akan menikah? apakah dengan anak buangan itu?" geram Mama Hana mengingat Marcell memiliki hubungan dengan anak tirinya.
"Hana kau tidak pantas bicara seperti itu?" sahut Mama Helena.
"Memang benar apa yang ku katakan. Bahkan ibunya tidak mau merawat nya, apa namanya jika bukan anak buangan?" sinis Mama Hana.
"Yasmin adalah putri sulung suamimu Hana, dan itu tidak akan pernah berubah" Mama Helena mengingatkan status Yasmin.
"Tapi Bram tidak pernah menyayangi nya, bahkan Bram mengabaikan nya"
"Kau yakin Bram melakukan itu? bukan karena pengaruh mu?" balas Mama Helena.
"Aku tidak melakukan apapun" elak Mama Hana.
"Kau mengakuinya atau tidak, itu tidak masalah bagiku. Karena Yasmin adalah calon menantuku" tegas Mama Helena.
"Kau akan menyimpan benalu di dalam rumahmu Helen?"
"Yasmin akan menjadi putriku, apapun yang kau katakan tidak akan mengubah keputusan ku"
"Kau akan menyesal" ucap Mama Hana meninggalkan butik itu tanpa membeli sepotong gaun.
*
*
*
📍 Soekarno Hatta Internasional Airport
Yasmin, Aiden dan keluarga Tholense tiba di tanah air. Richard sangat antusias mengingat ini kali pertama nya menginjakkan kaki di tanah kelahiran Mommy Marrisa.
"Mommy, kita akan tinggal dimana?" tanya Richard pada Marrisa.
"Daddy sudah menyiapkan sebuah rumah sederhana di sini sayang" bukan Marrisa, tapi Albert lah yang menjawab.
"Benarkah? kenapa aku tidak tahu?" tanya Marrisa pada suaminya.
"Kau tidak perlu tahu, karena kau hanya perlu menikmatinya" ucap Albert berjalan merangkul pundak istrinya.
"Kau akan tinggal bersama kami kan sayang?" tanya Marrisa pada Yasmin.
__ADS_1
"Putriku hanya akan tinggal bersama Daddy nya sebelum sah menjadi anggota keluarga Regananta" lagi-lagi Albert memutuskan tanpa menanyai Yasmin terlebih dahulu.
"Kau setuju sayang?" Marrisa penuh harap.
"Memang dimana lagi aku akan tinggal?" ucap Yasmin tersenyum.
"Dia putriku" ucap Albert.
"Kau ini sangat menguasai" protes Marrisa.
"Bagaimana Johan sudah ada di sana?" heran Richard melihat asisten ayahnya sudah standby di samping sebuah mobil mewah.
"Uncle Jo" teriak Aiden yang sudah akrab dengan pria berkepala plontos itu.
"Selamat datang Tuan, Tuan Muda, Nyonya, dan Nona" sambut Johan pada seluruh anggota keluarga Tuan nya, lalu membukakan pintu mobil itu.
*
*
*
Mobil mewah yang di kemudikan Johan mengarah ke kawasan perumahannya elit yang berada di bilangan Jakarta Selatan.
Mobil itu berhenti di salah satu gerbang tinggi menjulang, memang tidak lebih besar dari gerbang mansion Tholense, tapi bukan berarti ini rumah murah, Yasmin sangat tahu jika di kawasan elit yang mempunyai nilai jual dengan harga selangit.
Yasmin menatap sekitar halaman depan 'rumah sederhana' yang di katakan oleh Daddy sambungnya. Di lihat dari sudut mana pun, rumah ini terlihat mewah dan megah bahkan nyamuk saja enggan berada di dalam rumah ini 'mungkin'. Yasmin memasuki rumah besar itu mengikuti ibu dan putranya yang sudah terlebih dulu masuk.
"Memang ada berapa kamar di rumah ini?" bingung Yasmin.
"Delapan kamar untuk keluarga, dan di belakang ada empat kamar untuk para pekerja" jelas Albert, yah tentu saja ada banyak kamar di bangunan dua lantai bercat putih ini, mengingat seberapa luas halaman depannya.
"Yasmin mau Tour house dulu Dad" ucap Yasmin berjalan mengelilingi rumah besar itu.
Yasmin mulai mengitari rumah itu, melihat ada ruang apa saja di dalamnya.
"Yang benar saja sederhana, bahkan di rumah ini memiliki lebih dari sepuluh kamar" gumam Yasmin. "Halaman belakang yang luas, kolam renang, ruang kerja, ruang tamu, bahkan ruangan keluarga ada dua" oceh Yasmin mengomentari rumah sederhana ala Daddy Albert.
"pantry dan dapur nya luas sekali" ucap Yasmin. "Home teater, hobby room, play ground, Gym" Yasmin sudah sampai di area garasi.
"Bahkan ada service area dan carport" heran Yasmin.
"Ada basement juga Nona" ucap Johan yang tak sengaja mendengar ucapan Yasmin.
"Benarkah?" tanya Yasmin dan di angguki Johan.
"Aku yakin jika harga rumah ini lebih dari 100 Milyar" ucap Yasmin, ia pernah bekerja di perusahaan real estate tentu saja tahu estimasi harga rumah di kawasan elit seperti ini.
"7,5% lagi 200 milyar Nona" sahut Johan yang memang membeli properti itu.
"Sudah ku duga" ucap Yasmin, langsung masuk menemui Daddy sambungnya.
__ADS_1
*
*
*
"Dad" panggil Yasmin.
"Ya sayang,kau sudah selesai? kau suka rumah ini?" tanya Albert memangku laptop nya.
"Kenapa membeli rumah ini?" Yasmin duduk di sebelahnya.
"Ada apa? kau tidak suka? atau terlalu sederhana?" tanyanya tak mengerti.
"Dad, ini kawasan kelas atas dan ini juga rumah yang cukup mewah. Kenapa Daddy membelinya? apakah Daddy berencana menetap disini?"
"Tidak sayang, bagaimana dengan perusahaan Daddy? dan yayasan kanker itu, jika Daddy menetap disini?" jawab Albert tersenyum sambil mengetikkan jadi nya di atas keyboard laptop.
"Jadi rumah ini akan kosong? tidak ada yang menempati?" tanya Yasmin. Sangat di sayangkan bukan jika rumah mewah itu kosong tak berpenghuni, bisa-bisa di ambil alih kepemilikan nya oleh mbak Kunti dan kawan-kawan.
"Itu terserah padamu sayang, ini rumahmu. Daddy hanya ingin memberikan sedikit Hadian padamu" ucap Albert membuat Yasmin melongo😮.
"Terimalah, kau dan Richard sama. Daddy tidak membedakan kalian. Daddy bekerja untuk kalian, Daddy hanya berharap kelak Daddy tidak ada, kau bisa hidup rukun dengan Richard, bimbing Richard menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab" ucap Albert menatap Yasmin penuh permohonan.
"Daddy tidak perlu memberikan apapun padaku, cukup sayangi dan cintai aku sebagai putrimu, dan soal Richard, Yasmin sudah menerima nya sebagai adikku. Tapi bukan berarti Daddy boleh meninggalkan ku juga Richard" ucap Yasmin ketakutan mendengar penuturan Albert.
"Daddy tidak akan pernah meninggalkan putra putri Daddy, never" ucap Albert merengek tubuh Yasmin.
"Aku juga mau di peluk" ucap Richard melihat Daddy dan kakak nya berpelukan.
"Aiden juga mau" paman dan keponakan itu berlari menubruk Daddy dan Mommy nya.
"Ibu juga mau di peluk" ucap Marrisa ikut nimbrung berpelukan.
*
*
*
*
*
TBC 🌺
jangan lupa mampir ke karya baru Mameeethor yaaa....
Happy reading 🤗
__ADS_1