
Kini semua orang berada di meja makan, seperti yang di katakan oleh Albert tadi jika hari ini akan ada perayaan, maka di meja makan itu penuh dengan berbagai macam makanan. Ada makanan khas Belanda, ada juga makanan khas Indonesia tentunya. Semua orang bisa makan makan sesuai seleranya.
Aiden duduk di apit oleh Marcell dan Papa Robert, sedangkan Yasmin duduk di antara Mama Helena dan ibu Marrisa, Albert duduk di ujung meja, sedangkan Richard putra mereka sedang tidak ada di rumah.
"Sayang makanlah yang banyak" ucap ibu Marrisa mengambil kan sirloin steak yang menjadi makan favorit Yasmin sejak bisa memakan daging, Ibu Marrisa sangat ingat dulu, jika Yasmin hanya mau makan steak dengan daging jenis sirloin.
"Oma, Mommy tidak suka makan daging" sela Aiden yang membuat ibu Marrisa dan Marcell menatap heran.
"Benarkah? bukankah ini makan favorit mu sayang?" tanya ibu Marrisa.
"Oma ini bagaimana? Mommy bilang tidak suka daging sejak kecil, kan Mom? makanya Mommy hanya membeli daging untuk Aiden, tapi Mommy suka makan daging rusa yang di masak Jennie" cerita Aiden.
"Tapi sepertinya Mommy sangat suka daging sayang" ucap Marcell, menangkap kegelisahan pada Yasmin.
"Benarkah? tapi..." Aiden berusaha mengingat sesuatu. "Apa harga daging itu mahal?" tanya Aiden menatap Marcell.
"Tidak, memang kenapa?" tanya Marcell.
"Mommy bilang Aiden tidak bisa sering-sering makan daging karena....."
"Aiden, makanlah dengan manis" ucap Yasmin langsung membuat putra kecil nya itu berhenti bicara.
"Ada apa?" tanya ibu Marrisa pada Yasmin.
"Tidak ada Bu, ayo kita mulai makan" ucap Yasmin tersenyum cerah. Namun Marcell yang mengetahui arah pembicaraan putranya itu sudah kehilangan selera makannya. Ia menatap sendu pada Yasmin, wanita itu pasti hidup sangat berhemat sehingga ia tidak lagi makan makan favorit nya.
Ya tentu saja Yasmin harus menghemat uangnya, sebab biaya hidup di Finlandia tidaklah murah, selain itu ia tidak bisa menarik uang nya yang ada di rekening dimana ayah dan ibunya mentransfer. Juga tidak ada lapangan pekerjaan bagi warga asing, jika pun ada juga harus Benarkah memilih skill kemampuan standar mereka dan Yasmin tidak punya itu.
Itu sebabnya selama dua tahun pertama Yasmine tidak bekerja, dan di tahun kedua Yasmin mulai bekerja di toko bunga yang di dirikan oleh Jennie, Selain untuk mengisi waktu Jennie, sebenarnya toko itu Jennie dirikan dengan tujuan agar Yasmine mendapatkan penghasilan, sebab jika Jennie memberikan secara cuma-cuma Yasmin pasti menolaknya.
*
*
*
Tuan Albert, ibu Marrisa, Papa Robert, Mama Helena Yasmin juga Marcell kini kembali keruang tengah untuk membicarakan hal yang menjadi tujuan utama mereka datang bertamu malam ini. Sedangkan Aiden bocah kecil itu sudah tertidur tidak lama setelah makan malam tadi selesai, dan kini ia di tidurkan di salah satu kamar yang ada di mansion besar itu.
__ADS_1
"Ibu Marrisa, saya selaku Papa dari Marcell minta maaf atas apa yang di lakukan putra saya kepada Yasmin" ucap Papa Robert membuka pembicaraan.
"Ada apa ini?" tanya ibu Marrisa bingung, sedangkan Albert suaminya selain sudah tahu pokok permasalahannya, ia juga tidak mau ikut campur jika tidak di tanya, jadi dirinya hanya diam saja.
"Sebenarnya Marcell dan Yasmin, mereka belum menikah" tutur papa Robert, baik Yasmin maupun Marcell hanya diam saja sesuai perintah papa Robert dari hotel tadi. Mereka berdua tidak di izinkan bicara jika tidak di tanya.
"Tapi Aiden?"
"Ya, Aiden hadir karena sikap kurang ajar putra saya ini" ucap papa Robert, yang membuat Marcell sedikit kesal.
"Jadi, jika anda tidak keberatan memiliki menantu yang kurang ajar seperti putra saya ini, malam ini saya beserta istri ingin melamar Yasmin untuk Marcell"
"Saya tidak tahu harus menjawab apa tuan Robert. Dalam hidup Yasmin, saya tidak pernah memberikan apapun padanya. Jika menikah dengan putra anda bisa membuat hidup putri saya bahagia, maka saya sebagai ibunya hanya merestui saja. Untuk mau atau tidak Yasmin menerima putra anda, silahkan anda tanyakan sendiri pada anaknya" kata Bu Marrisa menyadari dirinya tidak berhak apapun atas hidup Yasmin, dengan Yasmin mengingat dirinya saja, itu sudah lebih dari cukup membuat hatinya bahagia.
"Yasmin, sekarang semua keputusan ada padamu. Apakah kau mau menerima anak Papa ini menjadi suamimu? apakah kau bersedia hidup berdampingan dengan Marcell seumur hidup mu?" tanya papa Robert membuat jantung Yasmin berdegup kencang.
"Sayang, kau pasti menerima ku kan" sela Marcell.
"Marcell, kau tidak di izinkan untuk bicara" tegas papa Robert membuat Marcell bermuka masam.
"Bagaimana Yasmin?" ulang papa Robert.
Prok....prok....prok....
Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dan tersenyum bahagia.
"Kapan rencana pernikahan nya?" tanya ibu Marrisa antusias.
"Mungkin satu bulan lagi" jawab Mama Helena.
"Bagaimana jika satu minggu lagi?" sela Marcell.
Bugh.....bugh....bugh....
Mama Helena langsung menghadiahi beberapa pukulan di punggung Marcell.
"Jangan menyusahkan Mama Marcell" ucap Mama Helena yang tahu otak kotor putra.
__ADS_1
"Marcell hanya memberi saran Mam" kilahnya
"Dan saran mu itu tidak masuk akal" kesal Mama Helena.
"Kau ingin mengabari ayahmu Yas " tanya papa Robert, walau bagaimanapun papa Bram adalah papa kandung Yasmin, suatu kenyataan yang tidak bisa di ubah.
"Papa saja yang memberi tahu, Yasmin belum siap bertemu dengannya " lirih Yasmin.
"Baiklah jika seperti itu, aku harap Tuan dan Nyonya Tholense bisa menghadiri pernikahan Yasmin dan Marcell" ucap papa Robert.
"Pasti" jawab tuan rumah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Boleh aku minta sesuatu?" ucap ibu Marrisa.
"Katakan saja" ucap Papa Robert dan Mama Helena.
"Bisakah Yasmin dan Aiden tinggal di sini sebelum pernikahan itu? kami akan membawa mereka dua minggu sebelum hari H, apakah boleh?" tanya ibu Marrisa penuh harap, ia sangat merindukan putrinya itu, dan kini sebelumnya putrinya sah menjadi istri orang, ia ingin menghabiskan banyak waktu bersama Yasmin, meskipun hanya beberapa hari.
"Tentu saja boleh, asalkan Yasmin bersedia tinggal di sini" ucap papa Robert.
"Tapi Pa..." protes Marcell.
"Kau tidak di izinkan untuk bicara Marcell" tegas Papa Robert, membuat Marcell semakin kesal. Berpisah kembali dengan Yasmin? yang benar saja, bahkan malam ini Marcell berencana memakan Yasmin dan membuat tanda sebanyak mungkin di bagian leher, punggung juga dada, karena Yasmin berani mengenakan gaun yang belum jadi menurut Marcell.
"Kau bersedia tinggal bersama ibu kan sayang?" tanya ibu Marrisa dengan tatapan memelas penuh harap.
"Tidak Yas, jangan, aku mohon katakan tidak Yas, pikirkan aku yas" ucap Marcell dalam hati.
"Ya, kenapa tidak" jawab Yasmin tersenyum bahagia, dan hal itu membuat Marcell merasa lemas di sekujur tubuhnya. Pupus sudah harapan indah Marcell untuk mengulang malam-malam panas dengan Yasmin.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺