CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Pertama Kalinya


__ADS_3

Dengan menggunakan pesawat komersil, Marcell menjadi salah satu penumpang dengan tujuan Belanda - Indonesia. Terpaksa dengan berat hati harus meninggalkan sang kekasih hati di negara kincir angin itu untuk beberapa minggu ke depan.


Seperti biasa, Marcell tidak mau bersama orang tuanya yang menggunakan Jet Pribadi mereka. Alasannya adalah, akan terlalu sepi dan hal itu membuat Marcell semakin merindukan kehadiran Yasmin juga Aiden. Maka di sinilah ia berada, di salah satu maskapai ternama bersama penumpang lainnya.


📍 Leiden


Yasmin sedang duduk bersantai di balkon kamar yang menjadi tempat tidur nya selama berada di mansion Tholense, Entah apa yang tengah di pikirkan oleh ibu satu anak itu. dia hanya diam dan menatap lurus ke depan.


"Sayang" tegur ibu Marrisa, mendekati Yasmin. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyakan.


"Tidak ada Bu" jawab Yasmin, sebab dirinya juga tidak mengerti apa yang kini ia pikirkan.


"Ada apa? katakan pada ibu?" bujuknya, menangkap sesuatu yang membuat putrinya itu gelisah.


"Jujur Yasmin tidak tahu harus berkata apa Bu. Selama ini Yasmin hanya memikirkan semua nya sendiri dan melakukan apapun yang menurut Yasmin benar, jadi Yasmin tidak tahu harus mengatakan apa pada ibu" jujurnya masih kaku, terlalu lama ia menghadapi kerasnya dunia. Jadi ia bingung saat ibu nya berkata seperti itu.


"Maafkan ibu, kau pasti banyak mengalami kesulitan dan masa-masa yang berat. Maaf karena ibu tidak ada saat kamu membuat ibu" sesalnya.


"Bu, Yasmin tidak tahu harus bagaimana? seperti yang Yasmin katakan kemarin" Yasmin menghela nafasnya. "Yasmin berusia 13 tahun memang marah pada ibu, tapi Yasmin yang berusia 31 tahun ini tidak marah pada ibu, Yasmin yang berusia 31 tahun ini mengerti akan sakit hati dan rasa kecewa yang ibu alami. Semua sudah berlalu, dan Yasmin hidup dengan baik hingga hari ini, memang tidak mudah tapi Tuhan selalu mengulurkan tangannya di saat-saat tersulit dalam hidup Yasmin. Yasmin tidak sendiri Bu, Tuhan selalu bersamaku" tutur Yasmin membuat hati Marrisa semakin tersayat.


"Terima kasih Tuhan telah menjadikan putriku wanita yang luar biasa" Marrisa menciumi tangan Yasmin seperti saat Yasmin masih bayi.


"Dimana Aiden?" Yasmin mengalihkan pembicaraan.


"Dia pergi bersama Albert menjemput Richard" jawab Marrisa. "Dia sangat menyayangi mu Yas, ibu harap kamu bisa menerima kehadirannya" harap Marrisa menatap Yasmin.


"Siapa?"


"Richard, putra ibu dan Albert"


"Ibu bahagia di bersama pria itu?"


"Tidak ada alasan untuk ibu tidak bahagia menjadi istri seorang Albert Tholense" ungkap Marrisa. "Bukan karena hartanya, sebab ibu mengenal Albert hanya sebagai karyawan di Tholense Diamond, bahkan ibu baru tahu jika dia seorang pengusaha ketika ibu sudah melahirkan Richard. Dia pria yang baik" jelas Marrisa.


"Ibu mencintai nya?"


"Tentu saja ibu mencintai nya, tapi ibu mencari nya tanpa beban dan rasa takut. Karena ibu sudah sering mengatakan padanya jika ia menemukan wanita yang bisa membuat hatinya bergetar selain ibu, ibu minta untuk Albert mengatakan nya pada ibu. Ibu tidak ingin mengulangi kepahitan, dan sejauh ini Albert tidak macam-macam"


"Dan ibu percaya begitu saja?"

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi? hati ibu mengatakan jika Albert adalah takdirku untuk ibu"


"Lalu, apakah dulu saat ini bersama dengan ay...." Yasmin tidak jadi melangkah pertanyaan nya.


"Ibu tidak tahu, mungkin saat bersama ayah mu ibu masih terlalu naif, hingga percaya semua kebohongan ayah mu. Sebenarnya jika di ingat-ingat, ibu sudah banyak menemukan bukti pengkhianatan Bram. dari aroma parfum wanita, bukti transfer, tiket pesawat, lipstik, dan masih banyak lagi. Tapi alibi yang Bram katakan membuat ibu percaya padanya" Marrisa tersenyum miris mengingat betapa bodoh dirinya kala itu.


"Apakah ibu tidak apa-apa jika di pernikahan Yasmin nanti bertemu dengan ayah?"


"Sebenarnya ibu tidak apa-apa, hanya saja ibu masih sangat kesal mendengar pengakuannya telah menelantarkan mu. Tapi disini ibu juga bersalah karena pergi begitu saja meninggalkan" jujur Marrisa.


"Yasmin baik-baik saja Bu"


"Tapi pasti ada di saat kamu sangat membutuhkan ibu, atau saat kamu mengingat ibu, bahkan mungkin juga membenci ibu" ucap Marrisa yang memang benar.


"Ya, Yasmin pernah mengalami saat-saat itu, tapi semua sudah berlalu. Menyesali nya pun tidak akan mengubah keadaan"


"Kau sangat dewasa sayang, rasanya ibu belum siap melepaskan mu untuk menjadi istri seseorang" Marrisa memeluk erat Yasmin.


"Apakah kau sangat mencintai Marcell?"


"Ya"


"Apa yang membuat mu jatuh cinta padanya?"


"Saat itu Yasmin menjadi salah satu murid mari di SMA yang sama dengan Marcell. Dia adalah the most wanted di sekolah itu. Sikapnya ramah, baik, humble, caring dan idaman semua gadis" Yasmin tersipu menjelaskan nya.


"Dan kamu suka padanya?" tebak Marrisa mengurai pelukannya.


"Yasmin merasa nyaman dan bahagia saat bersama nya Bu. Sama seperti saat Yasmin masih tinggal bersama ibu dan ayah. Itu sebabnya Yasmin selalu mencintai nya dan melakukan apapun agar bisa mendapatkan nya. Hingga hadirnya Aiden" pungkas Yasmin.


"Lalu apa yang membuat mu melarikan diri ke Finlandia?"


"Karena saat itu Marcell tidak ingin menikah dan punya anak. Dan juga dia di jodohkan dengan wanita lain" lirih Yasmin.


"Jadi Marcell tidak menginginkan kehadiran Aiden?"


"Bukan Bu, Marcell tidak tahu jika saat itu Aiden sudah tumbuh dalam rahim Yasmin. Karena Yasmin tidak memberi tahunya, Yasmin ingin Marcell menikahi Yasmin karena memang mencintai Yasmin, bukan karena terpaksa akan hadir nya Aiden" jelas Yasmin.


"Ibu tidak mengerti, bukankah kalian sudah menjalani komitmen?"

__ADS_1


"Tidak Bu, ini memang kesalahan Yasmin yang memaksakan diri pada Marcell. Tidak ada komitmen di antara kami, tapi kami menjalani hubungan seperti suami istri selama dua tahun lebih" Yasmin menundukkan kepalanya.


"Kamu yakin Marcell sekarang mencintaimu sayang?" Marrisa khawatir jika Yasmin hanya akan di permainkan saja.


"Yakin"


"Lalu bagaimana perjodohan nya itu?"


"Marcell sudah memutuskan pertunangannya dengan Laura dua tahun yang lalu"


"Laura? sepertinya tidak asing nama itu"


"Tentu saja tidak asing Bu, Laura adalah putri ayah dan Tante Hana" jelas Yasmin.


"Benarkah? bagaimana bisa?"


"Mama Helena dan Tante Hana berteman, dan mereka menjodohkan anak-anak nya"


"Lalu bagaimana sekarang Laura? ibu takut jika dia akan seperti Hana"


"Ayah sudah menikahkan Laura dengan pria lain"


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Mama Helena dan Marcell yang menceritakan nya"


"Apa ayahmu tahu tentang hubungan mu dan Marcell?"


"Yasmin tidak tahu" Yasmin mengangkat kedua bahunya. "Jika ayah belum tahu maka, tidak lama lagi ayah pasti akan tahu. Karena papa Robert pasti akan memberi tahunya"


"Kau benar sayang" ucap Marrisa kembali memeluk erat tubuh putrinya, untuk pertama kalinya ibu dan anak ini berbicara panjang lebar dan saling bercerita tentang perasaan nya. Hal yang seharusnya menjadi rutinitas sejak Yasmin beranjak remaja, namun semua terlewatkan begitu saja hanya karena emosi. Sungguh Marrisa menyesali keputusannya meninggalkan Yasmin di bawah pengasuhan Bramantyo. Jika saja ia bisa memutar waktu, maka ia akan membawa Yasmin pergi kemanapun itu.


*


*


*


*

__ADS_1


*


TBC 🌺


__ADS_2