
Yasmin sedang membuat makan malam di dapur, sebenarnya ini sudah lewat jauh dari jam makan malam yang biasanya, namun bagaimana lagi? Marcell mengurung nya di dalam kamar dan memakannya berkali-kali. Tidak munafik juga, Yasmin sangat menikmati permainan Marcell tapi urusan perut tidak akan selesai hanya dengan sentuhan, sang lambung meronta minta di isi, lagi pula Yasmin butuh energi untuk tetap bisa mengimbangi Marcell.
Sedangkan Marcell mengaku sudah kenyang, tapi Yasmin yakin jika cacing di dalam perutnya juga tengah kelaparan. Hanya saja di abaikan oleh sang pemilik.
"Kau masak apa sayang?" Marcell memeluk Yasmin dari belakang, dan meletakkan dagunya di bahu kanan Yasmin.
"Marcell, jangan mengganggu ku. Aku sungguh lapar, jika kau kembali memakan ku, aku pastikan itu yang terakhir kalinya. Karena aku pasti mati kelaparan" ucap Yasmin.
"Kenapa kata-kata mu mengerikan sekali?" Marcell melepas pelukannya dan menjauh. "Aku hanya bertanya, memang apa salahnya?" Marcell menarik kursi di meja makan, lalu duduk di sana.
"Jangan mendrama" ketus Yasmin. Ia melanjutkan masakannya, bukan masakan yang berat. Yasmin hanya memanggang empat lembar roti gandum, tiga butir telur di orak-arik, dan menyediakan dua gelas coklat panas.
Yasmin menyusun makanya, ia mengoleskan mentega pada roti panggang itu, lalu memberikan orak-arik telur di atasnya, lembaran daun selada, dan tidak ketinggalan saus cabai.
"Makanlah, tapi tidak ada daging di dalamnya, hanya telur dan sayur" ucap Yasmin memberikan sepiring roti isi telur pada Marcell.
"Tak apa, sebenarnya aku tidak lapar..."
Krukkkk....krukkk....
Lambung Marcell telah mengkhianati tuanya, memalukan sekali.
"Sekarang sedikit lapar" ucap Marcell tersenyum garing.
"Ya, aku tahu jika kau tidak terlalu lapar, dan karena aku yang sangat lapar jadi roti mu di bagi dua saja" ucap Yasmine bersiap memotong roti yang ada di piring Marcell menggunakan pisau.
"Yas, porsi makan mu kan sedikit" Marcell menarik piringnya menjauh dari jangkauan Yasmin.
"Aku bahkan bisa makan tiga kali lipat saat menyusui Aiden" ucap Yasmin mencoba meraih piring Marcell.
"Benarkah? tapi tubuh mu tetap langsing, hanya sedikit berisi dan lebih besar di bagian bukit itu" ucap Marcell.
"Ck, kau ini" Yasmin menyerah dan duduk untuk makan roti miliknya. Akhirnya mereka berdua makan dengan diam hingga kedua roti di atas piring masing-masing tandas masuk dalam lambung mereka.
Kini Yasmin dan Marcell menikmati coklat panas dengan saling bercerita.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa aku sangat sulit menemukan mu? apakah ada seseorang yang membantu mu?"
"Negara ini memang sangat menjaga privasi masyarakat nya, dan..."
.
*Flashback On*
Yasmin pergi ke salah satu swalayan untuk membeli kebutuhan rumah tangga, saat sedang mengantri untuk membayar seseorang menyapa.
"Yasmin" kata seorang Pria paruh baya, Yasmine sepertinya pernah melihat tapi entah dimana. "Kau Yasmin kan?" katanya.
"Maaf anda salah orang" Yasmin mencoba menghindari pria asing itu.
"Aku tidak mungkin salah orang, kau adalah Yasmin. Putri Marrisa, benar kan?" ucapnya.
"Kau siapa?"
"Ayo kita bicara"
"Aku tidak mau, aku tidak mengenalmu" tolak Yasmin.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kami menghubungi Marrisa untuk datang kemari" ucap pria itu.
"Kau ini siapa?" seru Yasmin.
"Ayo ikut dengan ku, ke kafe depan. Biarkan anak buahku yang mengurus belanjaan mu" ajaknya, dan mau tak mau Yasmin mengikutinya.
"Katakan siapa dirimu?" ucap Yasmin tanpa basa-basi.
"Aku Albert, suami ibu mu" jawabnya tenang.
"Untuk apa bicara padaku? aku tidak menggangu istri mu" ketus Yasmin.
"Dia mencari mu beberapa bulan ini, dia mengkhawatirkan keadaan mu" tuturnya.
"Hahaaa...kau bercanda? lucu sekali karangan mu ini" Yasmin tertawa sinis tidak percaya.
"Aku serius. Bahkan Brama juga mencarimu, dan seseorang juga tengah mencari keberadaan mu" ucapnya serius.
"Aku tidak percaya, aku bukanlah orang penting sehingga orang-orang mencari ku. Bahkan kedua orang tua ku tidak pernah perduli padaku, katakan terus terang apa mau mu" cerca Yasmin.
"Singkatnya, aku ingin kau menemui ibumu, Marrisa istriku"
"Tidak akan"
"Dia sakit Yasmin"
"Aku tidak perduli"
"Dia menyayangi mu"
"Dengan cara membuangku?" ketus Yasmin.
"Kau keras kepala. Baiklah aku akan membawa Marrisa dan Bramantyo kesini" ucapnya.
"Sudah ku katakan, banyak orang mencari keberadaan mu, entah apa masalah mu, aku tidak mau tahu. yang aku inginkan adalah temui istriku, dia sangat mengkhawatirkan dirimu" ucap Albert, ayah sambil Yasmin.
"Aku akan menemui nya, tapi tidak sekarang" ucap Yasmin.
"Kapan?"
"Tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku"
"Apa?"
"Selain dirimu, jangan biarkan siapapun tahu tentang keberadaan ku, termasuk istrimu. katakan padanya aku hidup dengan baik sesuai pesannya. Aku akan datang menemuinya di saat yang tepat. Tapi aku tidak ingin orang-orang yang kau sebutkan tadi mengetahui jika aku ada di negara ini" ucap Yasmin.
"Berapa lama aku harus menutupinya?"
"Mungkin tiga atau lima tahun"
"Dan kapan kau akan menemui istriku?"
"Suatu saat nanti"
"Tidak bisakah kau percepat?"
"Tidak, atau aku tidak akan pernah muncul di hadapannya untuk selamanya" ucap Yasmin sungguh-sungguh.
"Baiklah, aku akan berusahalah agar siap tidak bisa menemanimu keberadaan mu disini, tapi jangan lupa janjimu. Kau tahu siapa aku bukan? jangan main-main denganku" ancam Albert.
"Aku sangat tahu dirimu Tuan Albert. Dan anda juga jangan berani memberi tahu istri mu jika bertemu dengan ku disini" ucap Yasmin melangkah pergi karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.
__ADS_1
*Flashback Off*
.
"Jadi benar Albert membantu mu?"
"Kau pikir dari mana aku mempublikasikan kekuatan seperti itu?" ucap Yasmin. "Kau tahu tentang nya?"
"Ya, karena kepergian mu aku jadi tahu semua tentang dirimu Yas, maafkan aku jika selama ini tidak memperlakukan mu dengan baik" sesal Marcell.
"Kau tahu semua tentang ku?"
"Hem"
"Lalu orang tua mu?"
"Mereka juga tahu"
"Jadi kau juga tahu jika aku dan..."
"Ya, aku tahu, Papa dan Mama juga tahu tentang keluarga ayahmu, juga ibumu"
"Aku tidak tahu harus berkata apa? aku ini anak buangan hiks..." Yasmin malu karena background keluarga nya di ketahuan Marcell dan keluarganya.
"Jika kau anak buangan, maka akulah yang paling di untungkan karena menemukan dirimu. Maka dari itu menikahlah denganku dan kita buat keluarga bahagia seperti impian mu" Marcell menggenggam tangan Yasmin dan menatap penuh harap.
"Apakah tidak masalah bagi keluarga mu jika memiliki menantu seperti ku hiks..." Yasmin merasa tidak percaya diri.
"Kaulah yang terbaik Yas, Papa dan Mama menerima mu sebagai menantu dan putri mereka. Aku berjanjip jika kau akan di perlakukan dengan baik dalam keluarga ku, aku juga tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu lagi seperti waktu itu, aku sangat mencintai mu" ucap Marcell.
"Kau serius dengan perkataan mu ini Marcell?"
"Apakah aku terlihat bercanda?"
"Tidak"
"Jadi? kau bersedia menjadi istri ku? hidup selamanya bersamaku?"
"Ya" lirih Yasmin.
"Aku tidak dengar"
"Ya aku mau"
"Mau yang mana?"
"Ck, ya aku mau menjadi istrimu dan hidup bersamanya denganmu" ucap Yasmin penuh keyakinan.
"Terimakasih, aku sangat bahagia" Marcell menghampiri Yasmin lalu memeluknya, ia bahkan meneteskan air mata haru. "Aku berjanji akan selalu membahagiakan dirimu Yas, tegur aku jika aku mulai mengabaikan dirimu" Marcell mengecup seluruh wajah Yasmin.
"Terimakasih telah membalas cintaku" ucap Yasmin.
"Terimakasih karena tidak pernah lelah dan menyerah mencintai ku, terimakasih bersedia menerima ku" Marcell bahagia, akhirnya kini ia bisa menyatakan perasaannya, bahkan Yasmin langsung menerima nya tanpa ada penolakan, Marcell sangat bersyukur di cintai oleh wanita seperti Yasmin.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺