
Yasmin memutuskan untuk kembali ke kantor setelah memastikan bahwa apa yang ada dalam pikirannya adalah sebuah kebenaran. Ya, Yasmine mengikutinya Marcell dan mengawasi apa yang di lakukan oleh pria itu di kafe.
"Sepertinya kau lebih cocok menjadi seorang detektif dari pada menjadi sekretaris Yas" Gumamnya memasuki lift.
"Tentu saja, kau akan semakin keren dan berkarisma jika menjadi detektif profesional, insting dan feeling mu selalu tepat sasaran" Yasmin kagum atas kecerdasan nya.
"Sayangnya tak seorang pun bangga memiliki ku dalam hidupnya, itu sebabnya aku selalu di buang dan tidak di inginkan" Yasmin tersebut miris, lalu melangkah keluar dari dalam lift.
Yasmin kembali larut dalam pekerjaan nya, ia hanya ingin menyelesaikan gunungan dokumen itu agar, bisa menjalankan rencananya.
*
*
*
"Terimakasih sudah mengantar kan ku pulang Kak" ucap Laura setelah sampai di pelataran rumah nya.
"Maaf aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan hari ini, karena pekerjaan ku cukup banyak" sesal Marcell.
"Aku tahu Kak, aku juga sangat paham jika Kak Marcell mempunyai tanggung jawab yang besar" senyum manis Laura yang mengerti posisi Marcell.
"Kau memang gadis yang baik, aku senang bisa mengenal mu"
"Aku juga senang bisa mengenal Kak Marcell" ramahnya. "Baiklah aku turun dulu, Kak Marcell hati-hati di jalan" ucapnya lalu keluar dari dalam mobil Marcell.
Marcell melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Laura dengan perasaan tak menentu. jujur saja sebagai pria normal dia sangat suka dan tertarik dengan Laura, yang memiliki pembawaan santai ramah dan pintar, belum lagi wajah ayu dan body yang ideal sesuai type Marcell. Lalu bagaimanakah dengan Yasmin? Marcell sungguh dilema, melanjutkannya hubungan nya dengan Yasmin pun bukan pilihan yang buruk, toh dia pria pertama bagi Yasmin dan Yasmin pun tak pernah bertingkah aneh-aneh, juga Mama Helena sangat menyukai jika Yasmine menjadi menantunya. Tapi sayangnya pikiran Marcell masih ingin bebas, belum ingin terikat akan suatu hubungan.
*
*
*
"Kau sudah makan siang Yas?" Marcell mendatangi meja kerja Yasmin.
"Tentu, jika belum makan siang aku pasti akan pingsan tertimbun longsoran dokumen ini" jawab Yasmin.
"Terimakasih kau sudah sangat bekerja keras, aku akan memberikan bonus untuk mu"
"Aku tidak akan mengucapkan terimakasih, karena sudah seharusnya kau memberi bonus untuk mengapresiasi loyalitas kerjaku"
"Baiklah Nona, maaf jika selama ini aku tidak peka"
"Jika anda peka, maka anda bukanlah Tuan Regan"
"Ya...ya... terserah kau saja, aku akan kembali ke ruangan ku" Marcell berlari dari hadapannya.
*
*
*
"Apa yang sedang kau baca?" Marcell menghampiri Yasmin yang tengah duduk santai di sofa kamar dengan sebuah buku di tangannya.
"Hanya sebuah buku" singkat Yasmin.
__ADS_1
"Buku apa? coba aku lihat" Marcell mengambilnya alih buku yang ada di tangan Yasmin.
"Apa ini Yas?" Marcell terkejut mengetahui buku apa yang ada di tangan Yasmine dan menatap Yasmin penuh tanda tanya.
"Apa?" Yasmin menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Kau bilang tidak hamil?" Marcell sudah terlihat frustasi.
"Lalu?"
"Kenapa kau membaca buku ini?" geram Marcell.
"Apa ada yang salah?" Yasmine masih terlihat santai.
"Yas kau tahu benar jika aku belum siap memilih seorang anak"
"Apakah membaca majalah ibu hamil harus seorang wanita hamil?"
"LALU KENAPA KAU MEMBACA NYA?" bentak Marcell pada Yasmin, membuat wanita itu terjingkit.
"Kau keterlaluan Cell" Yasmin keluar dari dalam kamar,
Brakkk.....
Yasmin membanting pintu kamar, ia tak menyangka Marcell akan membentak nya hanya karena dirinya membaca majalah ibu hamil. Memang apa salahnya? memang yang boleh membaca majalah itu hanya wanita hamil?
"Dia benar-benar keterlaluan" Humam Yasmin membuka kulkas, tangannya terulur mengambil kaleng softdrink lalu membukanya hendak di minum tapi tidak jadi.
"Aku pasti sudah tidak waras" Yasmin menggelengkan kepalanya lalu mengembalikan softdrink itu dan kembali mengambil satu botol yogurt blueberry, dan blueberry Pai yang ia beli sepulang kantor tadi.
Yasmin duduk di Mini bar yang ada di dapur, ia menikmati makanan dan minumannya yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas. Dadanya begitu sesak mendengar bentakan Marcell, namun entah kenapa Yasmin tidak bisa menangis, mungkin karena terlalu sering memikul beban di pundaknya, hingga air matanya segan untuk keluar, entah kapan terakhir kali Yasmin menangis, bahkan dulu saat di tinggalkan oleh ibunya, Yasmin tidak menangis, saat ayahnya lebih perhatian dengan anaknya yang lain, Yasmin juga tidak menangis.
"Pergilah Cell, aku tidak ingin bicara denganmu" Yasmin fokus dengan makanan nya.
"Yas aku tidak bermaksud..."
"Pergilah Marcell" seru Yasmin memotong kalimat Marcell.
"Yas..."
"Pergilah kau breng sek!!! pergilah kemanapun, pulanglah kerumah orang tuamu dan jangan tunjukkan wajahmu di hadapanku" kesal Yasmin.
"Yas, ini apartment ku" Marcell mengingatkan.
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan pergi" Yasmin bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi namun di tahan oleh Marcell.
"Baiklah... baiklah aku yang akan pergi dan kau tetap di sini oke" Marcell akhirnya mengalah.
"Bagus, enyahlah dari hadapanku" Yasmin kembali menikmati makanannya. ia tak perduli Marcell pergi kemana.
☘️
☘️
☘️
"Sialan, wanita itu selalu mengalahkan ku" Marcell memukul stir mobilnya. Malam ini terpaksa Marcell pulang kerumah orang tua nya setelah di usir oleh Yasmin.
__ADS_1
"Cell, kau datang? ada apa?" Mama Helena terkejut melihat kedatangan putra semata wayangnya.
"Apa Marcell tidak boleh pulang?" kesalnya.
"Kau ini bicara apa? tentu saja kau bisa pulang kapanpun, ini juga rumahmu sayang" Mama Helena memeluk Marcell.
"Mam jangan memeluk ku, aku bukan anak kecil lagi" protes nya.
"Kau ini akan selalu menjadi anak kecil Mama, memangnya siapa yang boleh memeluk mu jika bukan Mama?"
"Tentu saja kekasihku Mam, jika Mama ingin memeluk seseorang, maka Mama bisa memeluk Papa, atau mbok Minah" Marcell melenggang pergi ke kamarnya.
"Astaga anak itu, Cell.... Marcell" Mama Helena mengikuti Marcell ke dalam kamar, di lihat putra sudah terbaring di atas king size nya.
"Bagaimana dengan Laura?" kepo Mama Helena.
"Apakah Mama dulu seorang aktris pemeran?"
"Memang kenapa?"
"Marcell baru tahu kalau Mama pandai sekali aktingnya, aku yakin Tuan Robert sering tertipu dengan akting Mama"
"Astaga, kau ini benar-benar ya" Mama Helena tak menyangka jika putranya menilainya seperti itu.
"Come on Mam, Marcell sudah bilang jika Marcell tidak ingin di jodohkan" Marcell tahu niat hati Mama nya.
"Jadi kau tidak tertarik pada Laura?"
"Bohong jika Marcell tidak tertarik padanya Mam, hanya saja Marcell belum siap dengan hubungan resmi dan mengikat"
"Kau bisa bertunangan dulu Cell, Mama takut Laura di pinang orang lain"
"Kalau memang jodoh takkan kemana Mam" Marcell memberi pengertian Mama Helena.
"Kau ini, apa susahnya bertunangan, atau kau ada wanita yang sudah kau pilih?" selidik Mama Helena.
"Tidak ada"
"Kau tidak menjalin hubungan dengan Yasmin kan?"
"Kenapa Mama berpikir begitu?"
"Sebab mama lihat kau dan Yasmine cukup dekat dan akrab, jikapun ada hubungan Mama pasti akan menyetujuinya" Mama Helena mempermudah Marcell.
"Kami memang dekat Mam, pekerjaan kami mengharuskan aku dan Yasmin dekat dan akrab untuk mencapai goals goals yang sudah di target kan Regananta Group" jelas Marcell dengan logika.
"Baiklah, tapi tolong pikirkan saran Mama tentang bertunangan dengan Laura" Mama Helena keluar dari dalam kamar putra nya.
Marcell termenung memikirkan saran Mama Helena, dia pun bingung dengan perasaannya. Di sisi lain, ia tertarik dengan Laura, tapi Marcell belum rela jika harus melepaskan Yasmin. Entahlah Marcell dilema, tak mampir memutuskan pilihannya, jika mungkin Marcell ingin mendapatkan Laura tanpa harus melepaskan Yasmin. Hah....pria memang serakah.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺