
Yasmin masih duduk terdiam selama beberapa saat. Mama Helena telah membawa Aiden untuk pergi jalan-jalan, Aiden yang begitu senang bertemu dengan Oma barunya sangat antusias pergi bersama Mama Helena.
"Yas" panggil Marcell yang baru saja masuk setelah mengantarkan Aiden dan Mama Helena ke mobil. "Bisa kita bicara?" tanya Marcell.
"Hemm" jawab Yasmin singkat, ia masih bingung harus bersikap bagaimana pada Marcell.
"Aku minta maaf" ucap Marcell tulus, pria itu meraih kedua tangan Yasmin. "Aku sangat menyesal karena terlambat menyadari perasaan ku" sambungnya.
"Aku juga minta maaf karena tanpa izin mu telah melahirkan Aiden" ucap Yasmin menatap Marcell.
"Kau tidak salah, melahirkan Aiden adalah pilihan yang terbaik dan sangat tepat. Terimakasih telah mempertahankan Aiden meskipun Daddy nya telah begitu menyakiti mu" ucap Marcell.
"Aiden juga anakku Cell, tentu saja aku mempertahankan nya dan mencintainya, terlebih Aiden adalah bagian dari pria yang sangat aku cin..." Yasmin tidak jadi menyelesaikan kalimatnya karena menyadari sesuatu.
"Kau masih mencintai ku Yas?" tanya Marcell tersenyum penuh arti.
"A...ak..u tidak tahu" jawab Yasmin tapi ada semburat kemerahan di pipinya.
"Baiklah kali ini biarkan aku yang sangat mencintaimu"
Cup....cup...
Marcell mengecup kedua punggung tangan Yasmin.
"Apa yang kau lakukan?" Yasmin terkejut dengan perlakuan Marcell.
"Mencurahkan rasa cintaku" ucap Marcell menatap penuh cinta.
"Aku akan membuat minuman" Yasmin segera pergi ke dapur karena merasakan kegugupan yang luar biasa saat Marcell menatap nya.
"Aku merindukanmu" ucap Marcell dengan tangan melingkar di perut ramping Yasmin.
Deg...deg...deg....
Jantung Yasmin semakin berdetak kencang, tidak di pungkiri jika Yasmin juga sangat merindukan saat-saat seperti ini. Bahkan Yasmin merindukan bercinta panas dengan Marcell, itu sangat wajar bukan? terlebih Yasmin sudah berpengalaman dan masih cukup muda.
"Cell, jangan seperti ini" lirih Yasmin yang terdiam dalam pelukan Marcell.
"Kau tidak merindukan ku Yas?" bisik Marcell di telinga Yasmin, bahkan nafas hangat Marcell dapat Yasmin rasakan dan itu membuat tubuh Yasmin bergetar.
"Aku..."
"Bolehkah aku mencium mu" Marcell membalikkan tubuh Yasmin menghadap dirinya.
Rona merah pada pipi Yasmin tidak bisa lagi di sembunyikan karena pertanyaan Marcell. Yasmin mengumpat Marcell dalam hatinya, bagaimana bisa Marcell bertanya seperti itu? seharusnya kan Marcell langsung mencium Yasmin tanpa harus bertanya dulu, jika di tanya begini Yasmin bingung harus menjawab apa bukan?
__ADS_1
"Marcell ak..hmmmppppp" Marcell melakukannya serangan dadakan tepat saat mulut Yasmin terbuka. Sungguh Marcell merindukan rasa manis, lembut han gat dan nikm at dari mulut Yasmin. Begitu juga dengan Yasmin yang langsung terbuai sesaat setelah li dah hang at Marcell mengeksplor rongga mul utnya. Entah sadar atau tidak, kini kedua tangan Yasmin terkalung dengan kuat pada leher Marcell.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, keduanya sama-sama menikmati dan meluapkan rindu yang selama empat tahun ini terpendam. Tanpa di sadari oleh Yasmin, Marcell menggiringnya menuju kamarnya, di rumah itu hanya ada dua pintu tertutup, satunya adalah kamar Aiden dan Marcell sudah tahu tadi, yang satu lagi pasti kamar Yasmin. Begitu lah yang ada di pikiran Marcell.
"Awhhh...." Yasmin terkejut saat Marcell merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dari mana Marcell tahu kamarnya? dan kapan Marcell membawanya masuk ke dalam kamar?.
"Marcell apa yang kau lak...hmmmpppttttt" Marcell kembali membungkam Yasmin dengan bib irnya. Bukan lagi ciuman hangat dan lembut, ciuman itu sangat kasar menuntut dan sudah terselimuti g ai rah, apalagi Marcell yang sudah berpuasa selama empat tahun, has rat nya semakin bergelora dan menggebu setelah kembali merasakan manisnya bertukar saliva dengan Yasmin.
"Marcell ahk...." Yasmin meng eluh ni km at saat telapak tangan Marcell menyapa perbukitan indah nan lembut itu. Jika sudah seperti ini bagaimana Yasmin bisa menolaknya? wanita itu malah berharap Marcell melakukan hal yang lebih.
Setelah puas mengeksplor bibir Yasmin dan memastikan wanita itu tidak menolaknya lagi, kini Marcell kembali menjelajah perbukitan Yasmin dengan bibir bas a hn ya, tangannya pun sudah turun ke dasar lembah ha ng at dan ba sah milik Yasmin, membuat wanita itu merasa melayang-layang setelah sekian tahun hiatus tidak ada yang menjajah.
Len guh an dan Des ahan Yasmin terdengar sangat indah di telinga Marcell, hal itu membuat nya semakin semangat dan terbakar. Tangan Yasmin semakin menekan kepala Marcell yang kini berada di antara kedua gapura indah miliknya, Li dah Marcell kini menyapa mulut gua hangat Yasmin yang menjadi tujuan utamanya.
"Marcell ahk...ahkkkk...." Yasmin sudah mendapatkan puncaknya sebelum Marcell memulai permainan inti.
"Dia sangat merindukan ku Yas" ucap Marcell dengan jari nya berada di dalam gua rahasia Yasmin.
"Cepat keluarkan" pinta Yasmin, karena semakin lama jari Marcell di sana, maka lahar cinta milik Yasmin akan samakan banjir.
"Kau yakin?" Marcell semakin intens menggerakkan jarinya dan itu membuat tubuh Yasmin gelisah.
"Ah...." Yasmin merasakan benda keras dan tumpul mencoba menerobos masuk dalam dirinya.
"Aku sudah mengeluarkan nya dan menggantinya dengan yang seharusnya" ucap Marcell me lu mat jari yang tadi berada di dalam gua Yasmin.
"Ahkkk...." pekik Yasmin saat tongkat kebanggaan Marcell berhasil menembus dalam gua nya.
"Kau terasa seperti kembali menjadi gadis Yas" ucap Marcell meni kmati keh anga tan dan kelembutan gua Yasmin yang terasa begitu meng gigit.
*
*
*
Marcell dan Yasmin masih terbaring dan saling memeluk di bawah selimut tanpa sehelai benang pada tubuh keduanya, setelah kegiatan panas yang mereka lakukan tadi.
"Ayo kita menikah?" ucap Marcell dengan tangan gentayangan di puncak perbukitan indah Yasmin.
"Pernikahan tidak semudah itu Cell" jawab Yasmin mencoba menyingkirkan tangan Marcell.
"Biarkan aku bermain dengannya" ucap Marcell yang tidak bisa di larang.
"Aku tahu itu tapi aku benar-benar ingin menikahi mu, menjadikan mu istri ku, satu-satunya wanita yang akan mendampingi ku saat susah dan senang, hingga hari tua" tutur Marcell bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Kau yakin bisa hidup hanya dengan satu wanita?"
"Tentu saja, apa lagi wanita itu adalah kamu"
"Awh...kau menyakitiku" protes Yasmin saat Marcell memilin puncak itu dengan kuat.
"Maaf, aku gemas" ucap Marcell tapi tidak ada rasa penyesalan.
"Bagaimana dengan Laura?"
"Dia sudah menikah, beberapa bulan setelah aku mengakhiri pertunangan itu" ucap Marcell.
"Benarkah? dengan siapa?"
"Coba kau tebak?"
"Aku tidak tahu"
"Kau belum berpikir"
"Aku tidak mau memikirkan apapun tentang nya"
"Baiklah karena aku ini pria baik, aku akan memberi tahu mu. Laura menikah dengan Aldo"
"Benarkah? bagaimana bisa? Mama nya pasti tidak setuju kan?" Yasmin sangat tahu sifat dan standar ibu tirinya itu. "Aldo kita kan yang kau maksud?" Yasmin meyakinkan diri jika Aldo yang di kenalnya lah suami Laura.
"Kapan kita memiliki Aldo?"
"Maksud ku, Aldo yang kita kenal, yang satu sekolah dengan kita dulu, sahabatmu itu"
"Ya, dia menikah dengan Aldo itu, dan Tante Hana tidak bisa menolak, setuju tidak setuju pernikahan Laura dan Aldo tetap terjadi, karena Laura sudah mengandung anak Aldo" jelas Marcell.
"Benarkah? pasti Mama nya sangat kecewa pada Laura" ucap Yasmin.
"Sudah akhiri saja percakapan tentang orang lain, aku ingin fokus pada kita berdua" ucap Marcell.
"Aku tidak mengerti" elak Yasmin pura-pura tidak tahu, padahal ia bisa merasakan sesuatu yang berdiri tegak di bawah sana.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺