
📍 Mansion Tholense
Di sebuah lapangan basket milik keluarga Tholense, terlihat Aiden dan Richard bermain si kulit bundar itu. Paman dan keponakan itu langsung akrab saat pertama kali berjumpa, berbeda dengan Yasmin yang masih sedikit canggung dengan kehadiran Richard. Jangankan Richard yang baru pertama kali bertemu, bahkan dengan Leo saja Yasmin tidak dekat, Yasmin menjaga jarak dari Leo, entah karena kehadiran Leo yang membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan ibunya atau karena keberadaan Hana, ibu tirinya yang terang-terangan menunjukkan kebencian nya pada Yasmin.
"Mereka terlihat bahagia" ucap sang tuan rumah tiba-tiba saja berdiri di samping Yasmin.
"Kau betah tinggal di sini?" tanyanya membuat Yasmin menoleh ke arahnya.
"Tempat tinggal mu sangat bagus" puji Yasmin, bukan menjawab pertanyaan sang ayah sambung.
"Aku senang jika kau menikmati tinggal di sini" Albert tersenyum, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anak tirinya itu.
"Aku tidak mengatakan jika aku menikmati tinggal di mansion mu ini" kesal Yasmin.
"Aku hanya menebak nya saja" ucap Albert.
"Kau menyebalkan, tapi mengapa ibu sangat mencintaimu?"
"Aku tidak menyebalkan Yas, tapi aku sangat pengertian. Itu sebabnya Marrisa sangat mencintai ku" bangganya.
"Ck" decak Yasmin.
"Saat kau menikah nanti, kau akan paham jika pria seperti ku ini yang sangat di butuhkan oleh para istri"
"Ku rasa itu hanya berlaku pada ibu"
"Apa kau bahagia melihat ibumu hidup denganku?"
"Aku..."
"Tidak di pungkiri jika di luar sana aku banyak bertemu wanita yang lebih cantik dari Marrisa, kau tahu bukan pekerjaan ku seperti apa? Tapi untuk meninggalkan Marrisa untuk wanita lain, itu hal yang tidak akan ku lakukan"
"Why?"
"Karena hanya Marrisa yang tetap menerima ku saat aku tidak punya apa-apa, aku bersyukur Bram melepaskan Marrisa. Mungkin terdengar jahat, tapi karena kebodohan ayahmu itu, aku memiliki kesempatan untuk bersama wanita sebaik Marrisa"
"Kau sangat mencintainya? maksudku ibuku"
"So much"
"Jika begitu jangan menyakitinya" lirih Yasmin.
"Never" tegas Albert. "Kau merestui pernikahan kami?"
"Kau membuat ibuku bahagia, tidak ada alasan untuk tidak merestui pernikahan kalian" ucap Yasmin menatap lurus ke depan.
"Kau bisa menerima Richard sebagai adik mu?"
__ADS_1
"Mungkin sekarang aku masih canggung dan belum terbiasa. Tapi aku menerima kehadirannya dalam hidupku" jujur Yasmin.
"Terimakasih, kau adalah satu-satunya saudara yang Richard miliki. Jika di masa depan Richard mendapatkan kesulitan, bantulah dia" pesan Albert.
"Richard tidak akan mendapatkan kesulitan karena memiliki ayah seperti mu"
"Semoga saja, kau juga bisa mengandalkan ku jika mengalami kesulitan. kau bisa menganggap ku sebagai paman mu bila tidak bisa menerima ku sebagai ayahmu" tutur Albert, dia paham jika posisinya sebagai ayah sambung tidak mudah di terima dalam hati Yasmin.
"Can I call you Daddy?" lirih Yasmin, membuat Albert terkejut.
"Really? of course, why not? come my daughter, please hug your Daddy" Albert merentangkan kedua tangannya, ia sungguh senang jika Yasmin menerimanya bahkan bersedia memanggil Daddy tanpa ia minta.
"Daddy" lirih Yasmin masuk dalam pelukan Albert. Yasmin sangat merindukan sosok pria sebagai ayahnya, dan Albert datang dengan tangan terbuka menerima Yasmin, bahkan jauh sebelum Albert bertemu dengan Yasmin, ayah sambung Yasmin itu sudah menerima dan menyayangi Yasmin melalui cerita yang ia dengar dari Marrisa. Sangat berbeda dengan Hana yang tidak pernah menerima kehadiran Yasmin, bahkan saat Yasmin di hadapannya Hana semakin menunjukkan sifat tidak suka ya, dan berusaha untuk mendominasi ayahnya. Hal itu pula yang mendorong Yasmin membangun benteng tinggi dengan sang adik Leo yang berusaha mendekati nya.
"Oh God, thank you for giving me daughter" Albert mengusap lembut rambut panjang Yasmin, Albert bahagia Yasmin memberikan kesempatan untuk nya menunjukkan kasih sayang sebagai seorang ayah.
"Terimakasih telah mencampakkan ku Bram Jika tidak, maka aku tidak akan bertemu pria sebaik Albert " ucap Marrisa dalam hati, ia dari tadi menguping pembicaraan suami dan putrinya dari kejauhan.
*
*
*
📍 Regananta Group
Marcell terlihat uring-uringan karena seharian ini ia tidak bisa menghubungi Yasmin, padahal biasanya sehari tiga kali Marcell akan menghubungi Yasmin, itu adalah ritual wajib seperti minum obat, pantang di tinggalkan apa lagi di lupakan. Tapi hari ini ia benar-benar tidak bisa menghubungi Yasmin bahkan setelah jam makan siang.
Tok...tok...tok...
Dion mengetuk pintu ruangannya.
"Tuan, meeting bulanan akan segera di mulai 5 menit lagi" Dion mengingatkan jadwal Marcell.
"Bukannya masih satu jam lagi?"
"Itu sudah saya infokan 55 menit yang lalu" sahut Dion.
"Ck, menggangu saja" kesal Marcell bangkit dari duduknya.
"Bagaimana kabar anak dan istrimu?" tanya Marcell berjalan ke ruang meeting.
"Mereka baik-baik saja Tuan"
"Kau hidup bahagia?"
"Sangat" jawab Dion tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ck, aku tidak suka dengan senyum mu itu" kritik Marcell.
"Maaf"
"Sebentar lagi aku juga akan hidup bahagia bersama Yasmin, lihat saja" ucap Marcell seolah-olah Dion adalah pesaingnya, menurut Marcell, dirinya harus lebih bahagia dari pada Dion.
"Saya mendoakan yang terbaik untuk anda dan nona Yasmin Tuan" ucap Dion tulus.
"Ck, kau ini mengapa semakin menyebalkan" Marcell berjalan lebih cepat meninggalkan Dion.
"Pewaris Regananta Group ini sangat kekanak-kanakan, memang dimana salahku?" ucap Dion menggelengkan kepalanya melihat sikap Marcell.
*
*
*
Di sebuah butik ternama, Mama Helena sedang memberikan arahan dan masukan tentang desain gaun pengantin yang akan di kenakan oleh Yasmin. Mama Helena menyiapkan beberapa model gaun pengantin, karena nantinya Yasmin sendiri lah yang memutuskan akan mengenakan gaun yang mana.
"Calon menantu ku suka gaun yang sederhana tapi elegan" ucap Mama Helena pada pemilik butik.
"Siapa gadis yang beruntung itu?" tanya Anne sang pemilik butik juga sahabat Mama Helena.
"Dia putri dari seseorang, dan akulah yang beruntung karena akan mempunyai menantu seperti dia" ucap Mama Helena.
"Gadis itu juga beruntung Helen, karena dia akan menjadi istri pewaris Regananta Group. Pasti banyak gadis di luaran sana yang memimpikan posisi itu" ucap Anne.
"Tapi dia bukan gadis seperti itu, dia gadis yang sederhana meskipun orang tuanya kaya raya" ucap Mama Helena mengingat betapa kayanya Bram, juga Marrisa yang kini menjadi Nyonya Tholense.
"Hana sangat tidak suka mendengar ini" ucap Anne mengingat kandasnya hubungan Marcell dan Laura, sebab dirinya lah yang menyiapkan gaun pertunangan yang di kenakan Laura saat itu.
"Sudah jangan membahasnya, semua sudah berlalu. Semoga Laura hidup bahagia dengan suaminya" ucap Mama Helena tulus.
"Kau yakin dengan ucapan mu itu Helena?" suara Mama Hana mengejutkan Mama Helena juga sang pemilik butik itu. Entah sejak kapan Mama Hana datang dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hana" lirih Mama Helena melihat kedatangan sang sahabat.
"Kau ternyata tengah menyiapkan hari bahagia untuk putramu? dengan siapa Marcell menikah? apakah dengan anak buangan itu?" sinis Mama Hana. Ia datang ke butik ini karena ingin membeli baju pasta, sebab Bram, suaminya mengatakan akan menghadiri sebuah pesta mewah sahabat lamanya, namun Bram tidak memberi tahu jika pesta yang di maksud adalah pesta pernikahan Yasmin dan Marcell, entah apa alasannya yang membuat Bram menyembunyikan kebenaran itu.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺