CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Keputusan Marcell


__ADS_3

Marcell menatap gemerlap lampu malam dari balkon kamarnya, ia masih sangat Shock mendapati kenyataan bahwa Yasmin hamil, Yasmin pergi dengan kondisi berbadan dua dan Marcell sangat yakin itu anaknya. Ingatan Marcell tertuju pada waktu dirinya dan Yasmin terbang ke Thailand, di sana Yasmin sangat lahap menyantap makanan khas Thailand itu meskipun di negaranya Juda ada restoran yang menyajikan menu serupa, tapi waktu itu Yasmin bilang tidak puas jika tidak makan langsung di negara asalnya.


Yasmin juga sempat merengek pada Marcell untuk pergi ke negeri ginseng untuk memakan Sup Ayam Samgyetang entah makanan seperti apa Marcell tidak tahu. Dan menilik dari semua kejadian itu Marcell pastikan bahwa saat itu Yasmin memang sudah dalam ****** hamil. Tapi kenapa Marcell begitu bodoh tidak menyadarinya? bahkan ketika berdebat dan Marcell menuduh Yasmin hamil saat itu, wanita itu tidak mengelak ataupun mengiyakan nya, dan Marcell baru menyadari itu sekarang.


"Kenapa kau sebodoh itu Marcell?" gumamnya menyadari kebodohannya. Bukankah hampir setiap malam Marcell mengabsen setiap inci tubuh Yasmin?


Marcell menjambak rambutnya dengan keras, sungguh Marcell merasa frustrasi, tak tahu harus berbuat apa. Dan sekarang kemana dirinya akan mencari Yasmin? dari mana Marcell memulai pencarian nya? sudah dua tahun Yasmin meninggalkan nya, dan itu berarti Yasmin sudah melahirkan? Marcell sudah menjadi seorang ayah? Marcell meraih ponselnya untuk menghubungi sang asisten,


📞"Apakah kau sudah mendapatkan data diri Yasmin?"


"..."


"Baiklah, segera bawa kemari" Marcell memutus panggilan telepon itu.


"Aku pasti akan menemukan mu Yas" gumam Marcell berjalan kearah ruang tamu.


*


*


*


"Tuan" sapa Dion yang baru saja datang membawa amplop coklat di tangannya, hasil dari pencarian nya.


"Ada apa?" Marcell melihat Dion gelisah.


"Tuan sebenarnya..."


"Berbicaralah sebagai sahabat ku Dion" perintah Marcell melihat kecanggungan dan kebingungan Dion menyampaikan informasi yang ia dapatkan.


"Aku tak tahu harus berkata apa, Kau lihat dan baca sendiri saja" Dion memberikan amplop itu kepada Marcell.


Marcell menerima dan segera membuka amplop berisi informasi dan data diri Yasmin, setelah beberapa saat membaca, Marcell menatap Dion dengan penuh tanda tanya.


"Kau tidak salahkan?"


"Aku harap itu salah, tapi itu seratus persen benar adanya" sahut Dion duduk di sebrang meja.


"Yasmin Angelica Sanjaya, putri dari Bramantyo Sanjaya dan Marrisa Andini?" jeda Marcell. "Laura Priscilla Sanjaya, putri dari Bramantyo Sanjaya dan Farhana? Jadi Yasmin dan Laura itu saudara?" tanya Marcell tidak percaya.


"Ya, ibu Yasmin adalah istri pertama Tuan Bram, mereka menikah karena perjodohan, tapi Tuan Bram diam-diam menikahi Nyonya Hana dan menghasilkan Laura dan Leo adiknya. Semua itu terbongkar saat Yasmin berusia 13 tahun, dan ibunya menyerahkan Yasmin di bawah pengasuhan Ayahnya, sepertinya Nyonya Marrisa terlalu sakit hati dengan pengkhianatan Tuan Bram" Dion membuat kesimpulan yang tak jauh beda dengan fakta.


"Jadi apa alasannya yang membuat Yasmin tinggal di kost saat SMA?"


"Menurut ku, Tuan Bram tunduk kepada Nyonya Hana. Dan pasti perlakuan buruk ibu tiri itu yang membuat Yasmin meninggalkan rumah ayahnya" lagi-lagi Dion bicara menggunakan teori.


"Menurut mu, detektif yang Yasmin sewa saat itu, apakah untuk mencari tahu keberadaan ibunya?"


"Sepertinya begitu" ucap Dion.

__ADS_1


"Kau bisa bantu aku mencari tahu dimana saat ini Yasmin berada?" Marcell memelas pada sahabatnya.


"Untuk apa mencari Yasmin? bukankah kau sudah bertunangan?" Dion mengingatkan posisi Marcell adalah pria yang terikat.


"Tidak, aku tidak bisa melanjutkan pertunangan itu, aku harus bisa menemukan Yasmin" lirih Marcell.


"Tapi kau tidak mencintai Yasmin, biarkan Yasmin mencari kebahagiaan hidup nya sendiri"


"Aku mencintainya Dion, aku sangat mencintainya. Mungkin terlambat bagiku menyadarinya, aku terlalu bodoh hingga membutuhkan waktu dua tahun untuk memahami hatiku, aku tersiksa tanpanya, aku begitu merindukan nya"


"Kau yakin" ujar Dion, sebenarnya Dion sudah tahu jika sahabatnya itu mencintai Yasmin, hanya saja sahabat itu memang terlalu bodoh karena tidak menyadari perasaannya sendiri, Namun Dion sekarang lega karena Marcell sudah menyadari perasaannya kepada Yasmin.


"Aku yakin, aku harus menemukan nya, aku harus cepat menemukan mereka, aku tidak rela jika ada pria lain yang di panggil ayah oleh anakku" ucap Marcell menggebu.


"Mereka? anak? apa maksudnya?"


"Yasmin pergi saat tengah hamil" ucapnya.


"Apa kau tidak tahu?" dan di angguki oleh Marcell. "Aku yakin kau pasti sudah gila, bukankah kau mengatakan bahwa sebelum Yasmin pergi kau bercinta semalam penuh? dan kau tidak menyadari bahwa Yasmin hamil?" Dion menggelengkan kepalanya, sungguh tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Aku sering mengatakan bahwa tubuhnya semakin berisi, tapi Yasmin bilang sengaja menambah berat badannya" sahut Marcell.


"Ck...ck...." Dion berdecak mendengar pengakuan Marcell. "Yasmin pergi darimu dengan membawa janin di rahimnya, aku yakin Yasmin sudah memikirkan secara matang semuanya, dan untuk mencarinya itu bukan hal yang mudah" tutur Dion.


"Aku tahu itu, lakukan segala cara agar bisa menemukan nya"


"Lakukan saja yang terbaik, aku ingin Yasmin segera di temukan" ucap Marcell.


*


*


*


Di sebuah rumah yang mewah, beberapa orang tengah duduk di ruang keluarga, akan ada pembicaraan penting yang akan di sampaikan oleh calon menantu mereka, Ya anggota keluarga Bramantyo kini menunggu kalimat apa yang akan di sampaikan oleh Marcell tunangan sang putri nya.


"Sebelumnya aku ingin minta maaf pada Laura, jika apa yang akan ku sampaikan ini menyakiti hatimu" Marcell menatap Laura.


"Kak, jangan membuatku takut. Aku tidak akan memintamu untuk segera menikahi ku" tutur Laura.


"Bukan masalah itu Ra, aku tahu kau wanita yang cantik, pintar dan cerdas. Aku hanya tidak ingin terlalu lama menggantung mu dalam ikatan ini"


"Kak, aku akan tetap menunggumu sampai kau mencintaiku" Laura menggenggam tangan Marcell.


"Maafkan aku Ra, aku tidak bisa mencintai wanita lain"


"Apa maksudnya ini?" sela Mama Hana.


"Om, Tante, sebelum nya saya minta maaf jika keputusan ini melukai harga diri kalian. Tapi dengan berat hati saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini"

__ADS_1


Duarrrrrrrrrr.....


"Kak...." Laura sudah bersimbah air mata.


"Maafkan aku Laura" sesal Marcell


"Apakah kau sengaja mempermainkan putriku Marcell?" Papa Bram menatap tajam ke arah pria yang di cintai putrinya itu.


"Maaf Om, saya benar-benar tidak bisa mencintai Laura, karena saya baru menyadari ada wanita lain di hati saya. Dan hubungan yang di paksakan tidak akan berhasil dan berakhir baik, Saya tidak mau itu terjadi dan saya yakin Om paham akan ini" ucap Marcell.


"Lalu kenapa saat itu kau bersedia bertunangan dengan Laura?"


"Saya sudah menjelaskan segalanya pada Laura Om, dan Laura tidak keberatan saat itu dan kemungkinan pertunangan ini berakhir seperti ini pun saya juga sudah membicarakan nya saat itu" Marcell membela diri dengan fakta yang ada.


"Apakah waktu dua tahun tidak bisa membuatmu mencintaimu ku Kak hiks...hiks...?" Laura menangis di pelukan Mama Hana.


"Jika yang tiga belas tahun saja tidak membuahkan hasil apapun, bagaimana yang dua tahun akan berhasil?" jawaban Marcell membuat Papa Bram dan Mama Hana terkejut, Laura pun tak kalah terkejutnya, ia tak menyangka Marcell akan menjawab seperti itu.


"Apa maksudnya Marcell?" bentak Mama Hana.


"Aku tidak bermaksud apa-apa Tante, aku hanya tidak bisa mencintai Laura, karena ada wanita lain yang sangat aku cintai, meskipun dia telah pergi tapi aku tetap mencintai nya dan akan menemukan nya" Marcell membayangkan senyum indah Yasmin.


"Kak..hiks...hiks..."


"Maafkan aku Laura, aku bukan pria seperti yang kau harapkan" Marcell melepas cincin pertunangan nya. "Sekali lagi aku minta maaf pada Om dan Tante" Marcell meletakkan cincin itu di meja yang ada di hadapannya lalu pergi keluar dari ruangan itu.


"Mah, aku mencintainya hiks...hiks...aku tidak ingin berakhir seperti ini hiks...hiks..." Laura merengek pada Mama Hana.


"Pah, lakukan sesuatu, aku menginginkan pria itu hiks...hiks..." Laura bersimpuh di pangkuan Papa Bram.


"Dia tidak mencintai mu sayang, lepaskan dia, biarkan dia pergi" Papa Bram memeluk sayang putrinya itu.


"TIDAKKKK AKU HANYA INGIN MARCELL MENJADI MILIKKU" teriak Laura lalu berlari menuju kamarnya.


"Aku sudah memperingatkan mu Hana, jangan menjodohkan Laura, kau lihat sekarang akibatnya?" Papa Bram menatap tajam istrinya, lalu pergi menuju ruang kerjanya.


Sedangkan dikamar, Laura mengamuk dan membanting semua barang yang di lihatnya, dia begitu kecewa karena keputusan Marcell yang mengakhiri pertunangan nya. Padahal Laura sudah sangat congkak di depan teman-temannya membanggakan diri karena akan menjadi menantu dari keluarga Regananta, lalu sekarang semuanya berakhir? bagaimana bisa Laura menghadapi teman-temannya? sudah pasti Laura akan di tertawakan dan menjadi bahan Bullyan.


*


*


*


*


*


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2