
Yasmin memeluk erat tubuh kecil putranya, Sebab Aiden menginap di rumah Opa Robert. Aiden ingin merasakan bagaimana rasanya tidur bersama dengan Daddy nya, maka dengan berat hati Yasmin harus berpisah dengan putranya untuk pertama kalinya. Meski selama beberapa hari ini Aiden tidak tidur dengan Yasmin, karena bocah itu memilih tidur bersama uncle Richard, tapi kali ini Yasmin tidak bisa diam-diam masuk ke kamar dimana Aiden tidur seperti sebelumnya yang ia lakukan saat Aiden tidur bersama Richard.
"Ingat, jangan menyusahkan Daddy mu" pesan Yasmin pada Aiden.
"Aiden tahu Mom"
"Sikat gigi, cuci tangan, cuci...."
"Cuci kaki dan cuci muka sebelum tidur" sela Aiden. "Ya Aiden sudah hafal Mom" ucap anak itu, membuat semua yang mendengar tersenyum.
"Kau pintar seperti Mommy" puji Yasmin.
"Dia juga pintar seperti Daddy nya Yas" sahut Marcell tak ingin kalah.
"Baiklah, Mommy dan yang lainya pulang" pamit Yasmin, tak lupa ia juga bersalaman dan memberikan pelukan hangat dengan Mama Helena.
"Hati-hati di jalan" ucap Mama Helena dan Papa Robert.
"See you later Mom bye...bye..." teriak Aiden ketika mobil yang di tumpangi Yasmin mulai menjauh dari pandangannya.
*
*
*
"Johan mengatakan jika Bramantyo ingin bertemu denganmu Yas" suara Albert memecahkan kebisuan yang terjadi di dalam mobil.
"Kau akan menemaninya?" Marrisa menatap wajah putrinya.
"Yasmin belum tahu Bu" jujur Yasmin, ia tak tahu harus bersikap bagaimana pada ayah kandungnya itu.
"Jika kau mau, Daddy bisa mendampingi mu bertemu dengannya" tawar Albert melihat keraguan di wajah putrinya sambungnya.
"Terima kasih Dad, tapi untuk saat ini Yasmin belum ingin bertemu dengan nya"
"Baiklah terserah padamu saja" tutur Albert tak mau memaksa Yasmin.
"Ibu tidak masalah jika kamu menemui nya Yas" ucap Marrisa, berharap rasa ragu di hati Yasmin hilang.
"Bu sebenarnya...." Yasmin menggantungkan kalimatnya. "Yasmin belum ingin bertemu dengannya, kita hentikan pembahasan ini" pungkas Yasmin.
Suasana di dalam mobil kembali hening, sebab biasanya yang berceloteh hanyalah Aiden, tapi bocah itu kini tidak ikut serta pulang. Sampai di rumah pun tak ada satupun yang bicara, Yasmin langsung masuk ke dalam rumah begitu keluar dari mobil, Richard pun menyusul karena memang sudah mengantuk. Marrisa dan Albert memandang putra dan putrinya yang sudah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sepertinya Yasmin menyembunyikan sesuatu dari kita" tutur Albert merangkul pundak istrinya masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya begitu, tapi aku sendiri juga tidak tahu" ucap Marrisa sedih, karena Yasmin belum seratus persen terbuka padanya.
"Jika dia tidak mau bicara biarkan saja, yang penting kita selalu ada dan mensupport dia" Albert hanya ingin jika Yasmin tidak lagi merasa sendirian.
"Terimakasih kau sudah menyayangi Yasmin" Marrisa sangat bersyukur Albert menerima kehadiran Yasmin.
"Kau ini bicara apa? bukankah Yasmin juga putriku?"
"Tentu saja, Yasmin juga putrimu" Marrisa tahu jika Albert menyayangi Yasmin sama seperti Richard.
*
*
*
๐ Sanjaya Garment Office
Bramantyo duduk gelisah di kursi kebesarannya menunggu kabar dari sekretaris nya yang kemarin menghubungi asisten dari suami mantan istrinya (Johan). Lihatlah betapa kejamnya takdir pada Bramantyo, hanya untuk bertemu dengan putri sendiri ia harus menghukum orang lain, sudah seperti akan bekerja sama dengan perasaan besar saja harus menggunakan perantara.
Tok...tok...tok...
Santi, sekretaris Bramantyo itu masuk dengan menundukkan kepalanya. Sebab kabar yang akan ia sampaikan bukanlah sesuatu yang di harapkan oleh Boss nya.
"Bagaimana Santi?" Bramantyo bertanya penuh harap jika ia bisa menemui Yasmin.
"Maaf Tuan, asisten Tuan Albert mengatakan jika Nona Yasmin belum ingin bertemu dengan anda" lirih santai menyampaikan kabar yang memilukan hati Bramantyo.
"Ada lagi yang dia katakan?" lirih Bramantyo.
"Hari ini Nona Yasmin akan fitting baju pengantin di Anne House Galeri, jika anda ingin bertemu dengannya mungkin anda bisa bertemu di sana" ucap Santi. Johan memang memberikan informasi itu pada Santi atas perintah Albert. Bagaimana pun juga Albert adalah seorang Ayah, ia memahaminya kerinduan Bramantyo pada Yasmin. Dengan memberi tahu info dimana Yasmin, mungkin bisa sedikit melegakan rasa rindu seorang ayah pada putrinya.
"Akan ku pikirkan, kembalilah bekerja" perintah Bramantyo lalu Santi keluar dari ruangannya.
"Apakah empat tahun belum cukup kau menghukum ayah mu ini nak?" lirih Bramantyo mengambil foto Yasmin yang ada di dalam lacinya.
"Maaf kan Ayah telah memberikan luka dalam hatimu" sesal Bramantyo mengusap bingkai foto di mana ada gambar Yasmin tersenyum.
*
*
__ADS_1
*
Aldo pulang dari restoran nya melihat Laura dengan telaten mengasuh putrinya yang belum genap berusia 2 tahun itu. Gadis kecilnya itu sudah lancar berjalan sehingga Laura harus semakin ekstra menjaganya.
"Pi...Pi...." oceh gadis cilik itu menyambut kedatangan Papi nya dengan merentangkan kedua tangan mungilnya.
"Papi baru datang sayang, biarkan papi bersih-bersih dulu" Laura menggendong putrinya.
"Lebih baik kak Aldo mandi dulu, aku sudah menyiapkan air mandinya" ucap Laura pada suaminya.
"Hem" jawab Aldo melenggang pergi. Sikap Aldo memang masih labil, kadang hangat, kadang dingin, kadang juga mesra, namun tak jarang juga acuh seperti tadi. Laura sendiri tidak tahu dengan isi hati suaminya, apakah Aldo mencintai nya atau tidak. Tapi bagi Laura itu tidak penting lagi, fokus nya sekarang hanya pada putrinya, ia juga tidak mengeluh lagi karena tidak bisa hang out bersama teman-temannya, bahkan penampilan Laura sudah tidak mengikuti tren fashion lagi. Seperti nya Laura memang benar-benar menikmati perannya menjadi ibu rumah tangga.
Laura membawa kan teh hangat untuk suaminya di kamar, namun saat ia meletakkan cangkir teh itu, matanya tak sengaja menangkan sebuah kartu undangan dari dalam tas kerja Aldo yang kebetulan terbuka.
"Undangan" gumam Laura membalik undangan itu mencari tahu dari siapa. "Marcell Regananta dan Yasmin Angelica Sanjaya, jadi kak Marcell sudah menemukan Yasmin?" lirihnya menatap nanar undangan itu. Cinta itu sudah tidak ada dalam hati Laura, tapi beberapa kenangan manis tentu belum memudar dari ingatan nya. Bagaimana pun juga awal hubungan nya dengan Marcell sangat berkesan, tepatnya sebelum pertunangan itu di lakukan.
"Kau masih mencintai nya?" Aldo berdiri di pintu kamar mandi dengan tangan menyilang di dada dan handuk putih melilit pinggang nya. "Kau belum bisa melihat mantan tunangan mu itu?" sinis Aldo, sejak tadi memperhatikan istrinya.
"Aku mengingatnya karena tidak sengaja melihat ini kak" Laura mengangkat kartu undangan itu. "Jika tidak, maka aku pun sudah lupa" jujur Laura berkata apa adanya.
"Benarkah? apakah kau tidak mengingat malam panas yang pernah kalian lewati bersama?" tuduh Aldo. "Aku sangat ingat jika aku bukan pria pertama bagi mu" Aldo kembali mengungkit masa lalu istrinya.
"Kakak memang bukan pria yang pertama untuk ku, tapi aku tidak pernah melakukan nya dengan kak Marcell"
"Seliar itukah dirimu?" Aldo menatap sinis pada Laura.
"Aku melakukan nya dengan kekasih ku saat masih berada di Korea, dan kak Aldo adalah orang kedua setelah dia" jelas Laura. "Tapi jika kakak tidak percaya juga tidak apa-apa, lagi pula aku juga yakin jika aku wanita kesekian yang pernah kakak tiduri" ucap Laura tidak ingin ambil pusing dengan kesimpulan yang ada dalam pikiran suaminya.
*
*
*
*
*
TBC ๐บ
Maaf ya baru sempat up ๐๐๐
Jika para readers punya waktu luang, tolong tinggalkan jejak kalian di kolom komentar yaaa, biar Mameeethor semangat bikin ceritanya๐ค
__ADS_1
Salam kenal semuanya and happy reading