CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Saudara


__ADS_3

Laura menatap datar pria yang kini tertidur lelap setelah mendapatkan kepuasan nya. Tanpa rasa bersalah dan kasihan pada Laura, Aldo langsung terlelap setelah mendapatkan pelepasan nya. Sebenarnya sikap Aldo yang berubah-ubah sering membuat Laura bingung, tapi tak sedikitpun terlintas di benak Laura untuk mengakhiri mahligai pernikahannya.


Seperti apapun sikap Aldo padanya, Laura akan tetap menjadi istri Aldo. Laura bukan lagi gadis lajang yang bebas, ada Aleena yang sangat membutuhkan sosok Aldo sebagai ayahnya dan Aldo sangat menyayangi Aleena. Laura tidak ingin Aleena kehilangan kasih sayang dari cinta pertamanya, jika Laura mengakhiri pernikahan nya dan menikah dengan pria lain, belum tentu pria itu bisa menerima dan menjadi figur ayah yang baik untuk putrinya.


Asalkan Aldo tidak melakukan perselingkuhan, KDRT yang di luar nalar, atau main tangan, Laura masih bisa menahannya. Toh selama ini hanya sikap Aldo yang kadang hangat dan dingin, Aldo hanya kasar jika saat memaksakan diri seperti tadi, namun tidak menampik jika Laura sangat menikmati permainan suaminya meskipun kadang meringis kesakitan. Bagi Laura pernikahan bukan tentang romantisme dan bahagia, tapi ada kalanya duka lara yang menjadi penyeimbang agar rumah tangga semakin erat dan kuat.


Lagi pula Laura yakin, jika suatu saat nanti ia mampu memenangkan hati Aldo seutuhnya dan bisa mengendalikan pria itu agar menjadi suami yang lebih baik lagi supaya rumah tangganya rukun dan bahagia. Hal itulah yang di harapkan oleh Laura.


"Aku akan tetap menjadi istrimu kak" bisik Laura di telinga Aldo. "Aku akan lebih berusaha lagi untuk mencintaimu, mari kita bangun rumah tangga yang bahagia bersama anak-anak kita nanti" sambungnya lalu mencium pipi suaminya, setelah itu Laura pergi ke kamar mandi membersihkan diri sebelum tidur.


Aldo membuka matanya ketika Laura turun dari ranjang, pria itu mendengar semua yang di katakan oleh istrinya. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya karena tadi ia memaksakan diri dan bermain cukup kasar dengan Laura.


"Aku juga akan berusaha menerima semua ini" lirih Aldo yang memang belum sepenuh menerima keadaan, tapi mendengar niat baik sang istri, tidak ada salahnya jika sama-sama berjuang untuk kehidupan yang lebih baik lagi.


*


*


*


Yasmin sedang berada di pusat perbelanjaan hanya untuk berjalan-jalan melepas penat dan bosan. Aiden dan Richard selalu bersama dan tidak mau di ganggu, sedangkan Marcell sibuk bekerja menyelesaikan deadline agar bisa pergi honeymoon tanpa beban.


"Kak" sapa seseorang di belakang Yasmin.


"Leo" lirih Yasmin begitu memutar tubuhnya dan mendapati sang adik sambung dari ayahnya berdiri di hadapannya.


"Aku senang bertemu Kakak disini" ucap Leo dengan wajah sumringah. "Kakak apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat" jawab Yasmin datar.


"Bisakah kita bicara sebentar Kak? ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan pada Kakak" pinta Leo.


"Aku mohon Kak" bujuk Leo melihat wajah bingung Yasmin.


"Baiklah, kita cari tempat untuk bicara" Yasmin mengajak Leo ke sebuah kafe.,

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Yasmin tanpa basa-basi, keduanya duduk di sudut kafe yang terlihat lebih sepi.


"Kak, aku minta maaf atas kehadiran ku yang secara tidak langsung mem....." kalimat Leo menggantung di udara karena Yasmin langsung menyela.


"Lupakanlah masa lalu Leo, aku sekarang hidup dengan baik"


"Bisakah aku menjadi adikmu kak?" lirih Leo penuh permohonan.


"Kau memang adikku"


"Tapi aku tidak merasa jika Kakak menganggap ku sebagai adik" perkataan Leo membuat Yasmin terdiam, entah mengapa begitu sulit menerima kehadiran Leo. Mengapa berbeda dengan Richard?.


"Leo..."


"Saat aku mengetahui kehadiran Kakak, hidupku selalu di hantui rasa bersalah. Karena kehadiran ku juga Mama, membuat Kakak kehilangan sebuah keluarga. Aku merasa sangat berdosa dan jahat pada Kakak" Leo mengungkapkan isi hatinya.


"Aku berusaha mendekati Kakak agar kita bisa berbagi rasa sakit, tapi Kakak selalu menjauhiku. Apakah Kakak sangat benci padaku? jika benar begitu, tidak salah jika selama ini aku juga membenci diriku sendiri, bahkan Papa dan Mama, aku juga membenci mereka" pria 28 tahun menangis seperti bocah 8 tahun. Bertahun-tahun hidup dengan rasa bersalah tidaklah mudah, apa lagi selama ini Leo menahannya sendirian.


"Leo, aku tidak pernah membenci mu ataupun Laura. Aku hanya menjaga jarak agar tidak masuk ke dalam kehidupan yang Ayah impikan yaitu hanya ada Tante Hana, Laura dan juga dirimu. Karena aku bukan dari impian itu, bahkan aku tidak pernah ada dalam doa ayah sebelumnya" Yasmin tersenyum getir.


"Berhenti menyalahkan dirimu, jangan menyalahkan siapapun, jangan membenci siapapun. Mari kita jalani kehidupan ini dengan baik, kau adikku, selamanya adalah adikku. Dalam tubuhku dan tubuhmu mengalir darah dari ayah yang sama, dan itu tidak akan pernah berubah"


"Apakah kau akan terus hidup seperti ini? tidakkah kau ingin hidup bahagia dan tenang?"


"Tentu saja aku mau, tapi...."


"Tidak ada tapi Leo, terimalah keadaan dan kenyataan yang ada, berdamailah dengan dirimu sendiri. Dan lihat masa depanmu, buatlah masa depan yang lebih indah, bahagia dan juga berharga sesuai keinginan mu, jangan biarkan siapapun mencuri masa depan mu" Leo hanya tertunduk dalam tangisnya.


"Dan berhentilah menangis, wanita tidak akan suka dengan pria cengeng" cibir Yasmin.


"Kak, bisakah kita menjalani hubungan Kakak adik yang sesungguhnya?" pinta Leo.


"Kenapa tidak?" Yasmin mencoba memperbaiki hubungannya dengan Leo, ia berusaha memperlakukan Leo sama seperti Richard. Bagai mana reaksi Hana nanti, Yasmin tidak perduli.


Cukup lama Yasmin dan Leo berbincang di kafe, mereka juga makan siang bersama. Hingga perdebatan kembali terjadi.

__ADS_1


"Aku tidak menginginkan perusahaan itu Leo, Tante Hana sudah benar menyuruhmu memimpin perusahaan itu" ucap Yasmin saat Leo ingin menyerahkan perusahaan milik sang Kakek yang di wariskan pada Yasmin.


"Aku tidak mau memimpin pertandingan itu Kak, lagi pula itu milik Kakak. Yang menjadi amanat terakhir dari Kakek" tutur Leo.


"Lalu kau akan melakukan apa jika tidak memegang perusahaan itu?"


"Aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Menekuni dunia fotografi yang menjadi hobi ku" ucap Leo.


"Kau masih bisa melakukan hobi mu tanpa harus melepaskan perusahaan itu Leo"


"Kakak benar-benar tidak tertarik terjun ke perusahaan itu?"


"Tidak"


"Kakak yakin?"


"Hem"


"Padahal income perusahaan itu miliaran rupiah di luar pajak"


"Aku tidak tertarik"


"Hufff...." Leo menghela nafas berat, Yasmin tetap tidak mau mengelola perusahaan milik mendiang Kakek nya.


"Aku harus bagaimana?" lirih Leo.


"Kakak yakin kau bisa menghandle semuanya" Yasmin meyakinkan adik nya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


TBC 🌺


__ADS_2