CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Permainan Takdir


__ADS_3

Setelah berpikir masak-masak dan menyakinkan diri sendiri, akhir Yasmin memutuskan untuk menemui Ayahnya. Maka di sinilah ia berada, dalam VIP Room sebuah restoran mewah tempat di mana Yasmin berjanji akan menemui Ayahnya.


"Maaf ayah terlambat" sesal Bramantyo baru saja datang.


"Tidak apa, aku mengerti kesibukan Ayah" sahut Yasmin.


"Terima kasih, karena sudah meluangkan waktu untuk bertemu ayah" tulus Bramantyo. "Ayah tahu, ayah banyak salah padamu, ayah bukan ayah yang baik, ayah mengabaikan mu, bahkan ayah....." Bramantyo tidak sanggup meneruskan kata-katanya, mengakui segala kesalahan dan keburukannya ternyata membuatnya benar-benar terlihat seperti penjahat.


"Ayah sungguh menyesal melakukan semua itu pada mu Nak" air mata Bramantyo tidak dapat terbendung lagi, pria paruh baya itu menangis tergugu di hadapan putrinya.


"Maafkan kesalahan dan kebodohan ayahmu ini" Bramantyo memohon pada Yasmin.


"Ayah" sebenarnya Yasmin tidak menyangka jika sang ayah akan seperti ini. "Berhentilah menangis" pinta Yasmin.


"Air mata pria tua ini tidak sebanding dengan air mata yang sering kau tumpahkan Nak" ucap Bramantyo. "Maafkan Ayah tidak ada saat kamu membutuhkan Ayah"


"Ayah benar" Yasmin mengingat sesuatu. "Ayah tidak ada saat tengah malam aku ketakutan karena suara petir bersautan, Ayah tidak ada saat tengah malam aku menangis kelaparan karena istri mu tidak memberikan ku makan, Ayah tidak ada saat aku mengerjakan PR yang tidak bisa aku kerjakan, Ayah tidak ada saat tubuhku merasakan sakit ketika wanita itu..." Yasmin mendesah kan nafas berat, sedangkan Bramantyo tampak terkejut mendengar penuturan Yasmin, tangisnya berhenti seketika.


"Apa Hana memperlakukan mu dengan tidak baik sayang?" Bramantyo benar-benar tidak menduga Yasmin mengalami semua ini. Hana memang tidak suka dengan Yasmin, tapi di mata Bramantyo hanya sebatas acuh dan tak perduli akan hadir Yasmin. Bramantyo tidak berpikir jika Hana akan bertindak sejauh itu.


"Tidak perlu membahas hal yang sudah berlalu Yah, bagaimana pun dulu keadaan ku. Tapi sekarang Ayah bisa lihat sendiri, jika aku mampu bertahan hidup sampai hari ini, dan memilikinya kehidupan yang aku inginkan" tutur Yasmin menyeka air matanya.


"Kamu bersedia memaafkan Ayah?" Yasmin tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ayah nya.


"Apa yang harus aku maafkan? Ayah hanya ingin menjalani kehidupan yang Ayah impikan bersama wanita pilihan Ayah. Tapi sayangnya aku hadir dan membuat impian indah ayah berantakan, karena aku bukan dari yang ayah impikan" ucapan Yasmin membuat Bramantyo membeku. "Bagaimana jika pertanyaan nya di ganti, apakah ayah bisa memaafkan aku yang hadir menjadi duri dalam impian Ayah?" Yasmin menatap ayahnya.


"Kamu putri ayah sayang"


"Ayah benar, aku putri Ayah. Sampai kapanpun aku putri Ayah, bahkan sampai raga ini tak bernyawa aku akan tetap menjadi putri Ayah tanpa bisa di ubah" Yasmin menghela nafasnya. "Aku datang kemari juga sebagai putri Ayah. dan mari kita jalani kehidupan kita masing-masing, ayah dengan impian Ayah, aku dengan impianku" tegas Yasmin.


"Yasmin..."


"Status sebagai ayah dan anak tidak akan pernah berubah Yah, tapi keadaan tidak akan sama seperti dulu. Aku bukan lagi gadis kecil yang akan menangis di bawah selimut ketika mendengar suara petir, aku bukan lagi anak yang ingin di gendong dan dipangku Ayah nya. Masa itu sudah lewat, dan dengan susah payah aku berhasil melewatinya" jelas Yasmin membuat hati Bramantyo berdenyut nyeri.


"Aku tidak membenci Ayah, bahkan aku selalu berdoa untuk kebaikan Ayah. Aku juga akan selalu menyayangi dan menghormati Ayah" tutur Yasmin kembali membuat Bramantyo berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ayah hiduplah dengan baik, ayah harus selalu sehat dan panjang umur. Aku pergi dulu" ucap Yasmin langsung meninggalkan ruangan itu tanpa ragu.


*


*


*


Bramantyo menatap istrinya dari dalam mobil, wanita yang di cintai nya lebih dari 30 tahun itu tengah menyiram bunga-bunga kesayangannya. Farhana dulu adalah gadis yang lemah lembut, ramah dan dewasa. Itu sebabnya Bramantyo jatuh cinta padanya. Namun semua berubah ketika Hana tahu Bramantyo menikahi Marrisa Andini, Hana menjadi sosok pemarah dan ambisius dalam segala hal. Tak jarang Bramantyo kesulitan menghadapi sikap Hana.


Tok...tok...tok...


Bramantyo tersadar dari lamunannya ketika kaca mobilnya di ketuk oleh Hana.


"Papa kenapa tidak turun? malah melamun di dalam mobil" ucap Hana.


"Banyak pekerjaan di kantor" bohong Bram.


"Apakah Leo belum mau pulang?" tanyanya saat memasuki rumah.


"Laura apa kabarnya?"


"Laura baik-baik saja, tapi Aldo tidak mengizinkan Laura untuk mengunjungi kita jika tanpa dirinya" jelas Hana, sedikit kesal dengan menantu nya itu.


"Biarkan saja, yang penting Aldo bertanggung jawab dan tidak menelantarkan anak istrinya, dan yang terpenting mereka semua sehat" Bramantyo mencoba memahami sikap Aldo.


"Mama sudah dengar jika sebentar lagi keluarga Regananta akan menggelar pesta pernikahan putranya?" kini keduanya duduk di ruang tengah.


"Ya, Mama bertemu dengan Helen yang sedang menyiapkan gaun pengantin untuk calon menantunya" kesal Hana mengingatkan pertemuan kala itu.


"Mama tahu siapa calon menantu mereka?"


"Mama tidak yakin, tapi sepertinya anak it....."


"Yasmin Mah, namanya Yasmin dia juga putri suami mu ini" tegas Bramantyo.

__ADS_1


"Sepertinya Papa senang sekali mengakuinya sebagai putri Papa" sinis Hana.


"Yasmin memang putriku Hana, terlepas dari apapun itu. Yasmin tetap putriku dan tidak akan pernah berubah" jelas Bramantyo.


"Terserah" acuh Hana.


"Aku akan menghadiri pernikahan nya, jika kau mau ikut, jangan coba-coba mencari keributan" Bramantyo memperingatkan istrinya.


"Papa mengancam Mama?" Hana tak percaya apa yang di katakan oleh suaminya.


"Ya, dan kau tidak akan pernah bisa membayangkan akibat nya jika sedikit saja melanggar" Bramantyo sangat menahan diri untuk tidak bertanya tentang apa yang di lakukan Hana pada Yasmin di masa lalu.


Permintaan Yasmin agar dirinya hidup dengan baik membuat Bramantyo takut mengetahui kenyataan dan kebenaran sang istri, hingga tak sanggup hidup berdampingan dengan wanita seperti Hana.


*


*


*


Di dalam sebuah kamar, tampak sepasang suami istri tengah melakukan penyatuan. Seharusnya saat-saat seperti ini adalah momen indah yang amat di tunggu dan akan memperkuat ikatan pernikahan mereka, tapi tidak dengan Laura. Saat seperti ini adalah saat menakutkan juga memegang kan baginya. Sebab tak jarang Aldo melakukannya dengan kasar dan memaksa seperti malam ini.


"Kak, pelan-pelan kau menyakitiku" keluh Laura saat Aldo menggigit kuat puncak gunung miliknya, bersamaan sesuatu yang tumpul berusaha menerobos masuk pada miliknya yang masih kering.


"Diam lah, aku tidak ingin mendengar protes darimu, lebih baik kau gunakan mulut mu untuk mendesah kan namaku, itu akan lebih berguna" ucap Aldo memulai penyatuan dengan kasar tanpa pemanasan terlebih dahulu. Membuat Laura merasakan pering yang luar biasa di bagian intinya.


*


*


*


*


*

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2