
Mercedes Benz e-class hitam yang di kemudikan oleh Dion berhenti di lobby Regananta Group. Seorang petugas security dengan sigap membukakan pintu mobil itu lalu membungkuk sebagai rasa hormat kepada sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Regananta Group tersebut.
Marcell keluar dari dalam mobilnya di ikuti oleh Yasmin yang sengaja berangkat bersama dengan Marcell dan Dion. Dion menyerahkan kunci mobil yang di kendarai nya kepada petugas parkir khusus VIP untuk di parkir kan ke tempat yang seharusnya.
Yasmin dan Marcell berjalan beriringan di ikuti oleh Dion di belakang mereka, Ketiganya menuju lift khusus yang akan mengantar nya ke lantai 29 tempat di mana ruangan kerja mereka berada.
"Langsung ke ruangan ku Yas" perintah Marcell ketika Yasmin menuju meja kerjanya.
...
"Ada apa Tuan?" Yasmin kini duduk di depan meja kerja Marcell.
"Kemarin Papa memanggil ku" ucap Marcell secara tidak formal.
"Lalu?"
"Papa sudah menyetujui untuk memberikan proyek di Sanur Bali padaku. Dan kita harus memikirkan konsepnya seperti apa" tutur Marcell.
"Maksudnya?" Yasmin belum paham arah pembicaraan Marcell.
"Seperti katamu hari itu, aku ingin membangun sebuah hunian di sana. Menurut bagaimanapun?"
"Bukankah sebelum meminta proyek itu seharusnya kau sudah memikirkan konsep yang matang? tentang hunian seperti apa, pasar mana yang menjadi target, desain perumahan yang seperti apa? tema apa yang akan di usung, berapa lama target pengerjaan nya, berapa banyak investor yang kau butuhkan, berapa banyak biaya operasional nya. sudah adakah dalam bayanganmu?" Yasmin menatap tajam pada Marcell, sebab ia sangat yakin pria itu belum berpikir sampai sedetail itu.
"Itulah yang ingin aku bicarakan denganmu" santainya.
"Kau sangat tidak profesional Tuan Regan"
"Aku tahu kau bisa ku andalkan Yas"
"Tapi tidak selamanya kau bisa mengandalkan ku Tuan, ada saatnya kau harus memeras otak mu sendiri, karena tidak selamanya aku berada di samping mu" jawab Yasmin.
"Apakah kau berencana pergi dariku Yas?"
"Untuk sekarang belum" Yasmin menghela nafas berat. "Kita bahas ini setelah aku menyelesaikan deadline Regananta Hospital,
dan jangan memburu-buru cara kerjaku" Yasmin meninggalkan ruangan Marcell.
"Kenapa dia yang terlihat lebih berwibawa dari pada aku?" Marcell menatap pintu yang telah tertutup.
...
"Dia selalu seperti itu, melemparkan semua pekerjaan kepadaku, tapi dia yang mendapatkan pujian, is not fair" gerutu Yasmin.
"Selamat pagi Bu" sapa Nadya yang menghampiri meja kerjanya.
"Ada apa?"
"Lah..?" bingung Nadya sebab Yasmin berpesan agar segera menemui nya saat tiba di kantor. "Kan ibu yang menyuruh saya kesini" jawab Nadya.
"Astaga aku sampai lupa, maaf ya" senyum ramah pada Nadya.
"Tidak apa-apa Bu" sahutnya.
" Kau periksa dokumen ini, pastikan anggaran dana dan biaya operasional nya sama, jika ada yang tidak sama, cari tahu itu dan pastikan dana itu adalah dana darurat yang di gunakan untuk kelangsungan proyek nya. Jangan sampai ada yang lolos dari perhatian mu satu angka pun. Apakah kau paham?" Yasmin memberikan data laporan keuangan dan administrasi proyek luar negeri milik Regananta Group pada Nadya.
"Baik Bu, kapan deadline dokumen-dokumen ini?" Nadya memastikan agar bisa bekerja semaksimal mungkin.
"Jika tidak ada kejanggalan, berikan padaku sore nanti, tapi jika kau menemukan sesuatu yang janggal, kau bisa meminta bantuan Dion untuk menyelidiki nya" perintah Yasmin.
__ADS_1
"Baik Bu, saya permisi" Nadya paham akan arahan dari Yasmin.
"Semoga saja tidak ada tikus ataupun ular yang tumbuh subur dalam proyek-proyek itu" harap Yasmin agar pekerjaan nya cepat selesai.
*
*
*
Marcell sedang fokus ke arah layar komputernya saat ponsel berdering
Mams calling 📞
Drttt...drttt...drttt...
"Ya Mam" jawab Marcell.
"Cell, makan siang sama Mama ya" ajak Mama Helena dari sebrang telepon.
"Marcell sibuk Mam"
"Sebentar saja, gak jauh dari kantor kok" bujuk Mama Helena.
"Tapi Mam..."
"Ayolah Cell, Mama bosan makan sendirian"
"Mama bisa makan bersama Papa"
"Kau lupa jika hari ini Papa ke Paris?" Mama Helena mengingatkan.
"Baiklah, dimana?"
"Oke, Marcell kesana sekarang" Marcell langsung memutuskan sambungan teleponnya. dan beranjak dari kursi, menuju ketempat dimana ada Mama Helena.
..
"Yas, ayo makan siang" ajaknya berdiri di depan meja kerja Yasmin.
"Kemana?" Yasmin masih asik menatap lembaran kertas di tangannya.
"Kafe Angkasa"
"Kau akan makan siang besama siapa?" Yasmin mengangkat wajahnya dan menatap Marcell.
"Bagaimana kau bisa tahu?" heran Marcell, Yasmin tahu dirinya ada janji dengan orang lain.
"Aku sangat cerdas dan pandai jika kau lupa" Yasmin kembali fokus pada pekerjaan nya.
"Nyonya Helena memaksa ku makan siang bersama" jujurnya.
"Kalau begitu pergilah. Aku tidak ingin mengganggu Quality time antara ibu dan putra nya. Lagi pula aku lebih sering makan bersamamu. Nikmati waktu mu bersama Nyonya Helena dengan tenang" sahut Yasmin.
"Kau tidak ingin ikut?"
"Tidak, pergilah"
"Baiklah aku pergi. Kau jangan lupa makan siang" Marcell berlalu menuju lift.
__ADS_1
"Hem" sahut Yasmin yang tak mungkinlah terdengar oleh Marcell. "Aku yakin kau tidak akan makan siang bersama Nyonya Helena, tapi kau akan makan siang bersama Laura. huff...aku sungguh frustrasi dengan kecerdasan ku yang di atas rata-rata ini" Yasmin menutup matanya dan menyandarkan punggungnya di kursi nya.
*
*
*
"Kak Marcell" sapa seorang wanita ketika Marcell baru saja memasuki kafe Angkasa.
"Laura, kau disini?" herannya.
"Iya, aunty Helen mengajakku makan siang disini, tapi beliau belum datang" jawabnya.
"Jadi ini semua hanya akal-akalan Mama? sepertinya Tuan Robert tidak menikah seorang aktris, lalu bagaimana bisa Mama memiliki kemampuan akting?" Marcell menggelengkan kepalanya mengetahui semua hanya siasat sang Mama.
"Sepertinya mama ada urusan mendadak, jadi Mama menyuruhku untuk kesini. Apakah kau keberatan?"
"Tentu saja tidak Kak, aku malah senang" Laura tampak bahagia.
"Baiklah, ayo kita makan. kau sudah pesan?"
"Belum"
Lalu Marcell memanggil waiters untuk memesan makanan.
"Saya mau Spaghetti Aglio Olio tuna pedas yang reguler dan ice lychee tea" Marcell menyebutkan pesanan makanannya. "Kau mau apa Laura?" Marcell menatap hadis yang ada di depan nya.
"Samakan saja dengan pesanan Kak Marcell" jawabnya.
"Teman saya juga sama pesanannya mbak" Marcell memberi tahu pada waiters itu.
"Baik, mohon di tunggu pesanannya Tuan, Nona" sopan waiters itu lalu pergi ke arah dapur kafe.
"Kau tidak sibuk?" Marcell basa basi.
"Sebenarnya Papa meminta ku bergabung ke perusahaan, tapi aku belum siap"
"Kenapa?"
"Aku ingin membuka sebuah butik, tapi Papa tidak setuju, karena tidak ada yang memegang perusahaan nya"
"Lalu adik mu? bukankah kau masih punya adik?"
"Adikku memimpin perusahaan mendiang kakek"
"Berarti hanya kau harapan Papa mu, coba saja untuk memulai bergabung di perusahaan, aku yakin kau akan cepat belajar"
"Ya, akan aku pikirkan"
Obrolan keduanya terhenti ketika pesanan makanan mereka telah datang, namun sesekali mereka berbicara di sela menikmati makan siang itu, tanpa keduanya sadari bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka dari jarak aman.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺