
Aiden sudah kembali bersama dengan Yasmin juga Marcell di rumah kecil itu, sebenarnya Mama Helena ingin membawa Aiden jalan-jalan lagi, tapi karena Marcell berencana secepatnya memboyong Yasmin dan Aiden pulang ke tanah air, jadi Yasmin meminta Aiden untuk pulang kerumahnya dulu. Ia harus berpamitan pada Jennie bukan?.
Di sinilah mereka berada sekarang, di depan pintu rumah Jennie, wanita tua itu tinggal seorang diri yang membuat Yasmin tidak tega meninggalkan tempat ini.
"Jennie" seru Aiden langsung masuk dalam rumah.
"Kau lama tidak datang kemari sayang" ucap Jennie merentangkan kedua tangannya menyambut Aiden dengan pelukan hangat.
"Aku merindukanmu Jennie" ucap Aiden, sementara Marcell dan Yasmin hanya menyaksikan pemandangan itu.
"Kau mulai pintar berbohong ya"
"Aku tidak berbohong"
"Jika kau rindu padaku kenapa tidak datang kemari?"
"Aku kemarin pergi dengan Oma, Jennie, Daddy sudah pulang. Lihatlah Daddy benar-benar tampan seperti ku" Aiden menunjuk Marcell.
"Wah kau benar, pantas saja Mommy mu tidak mau dengan pria lain" ucap Jennie melirik pada Marcell dan Yasmin.
"Aku ingin bermain dengan Toby" ucap Aiden berlari mencari kucing peliharaan Jennie.
"Kau akan kembali Yas?" tanya Jennie mendekati Marcell dan Yasmin. "Duduklah, kenapa berdiri" ucap Jennie
"Apakah kau tidak mau pindah dari sini?" tanya Yasmin.
"Memang aku mau kemana?"
"Jika kau mau, ikutlah bersamaku Jennie. Aku sudah menganggap mu seperti ibuku" bujuk Yasmin tidak tega meninggalkan nya.
"Aku tidak suka hidup di negara orang asing"
"Tapi kau sendirian di sini"
"Ada Toby yang menemaniku"
"Tapi Toby itu kucing"
"Dia Keluarga ku"
"Hufff" Yasmine menghela nafas panjang.
"Dia tidak lebih gagah dari pada Arthur" Jennie mengedikkan dagunya ke arah Marcell.
"Jennie" seru Yasmin.
"Aku berkata benar"
"Yang benar saja" gumam Marcell, memang segagah apa pria yang bernama Arthur itu?.
"Kau tahu kan jika Arthur memilih senjata mix Afrika" Jennie menaik turunkan alis nya.
"Oh ya ampun, hentikan ini. Yang menurut Jennie tidak gagah saja sudah membuatku kewalahan" Yasmin menit wajahnya yang terasa memanas.
"Kewalahan?" beo Marcell yang belum paham, lalu. "Sial, apa yang di bahas para wanita ini" geram Marcell dalam hati melihat Yasmin menutup wajahnya.
"Hahahaa...." Jennie tertawa puas.
"Jennie, kenapa rumah Aiden kosong?" ucap seorang pria yang baru saja masuk. "Oh sedang ada tamu?" ia tersebut kaku.
"Arthur, dia Daddy nya Aiden" ucap Jennie.
Deg....
deg....
deg...
Marcell menatap tajam pria yang ada di hadapannya itu, memang terlihat lebih gagah, bahkan lebih tampan, ia cukup salut karena Yasmin menolak pria sempurna seperti Arthur.
Sedang Arthur menatap datar pada Marcell, harapan nya untuk mendapatkan Yasmin kini benar-benar pupus, padahal secara visual, Arthur lebih segalanya dari pada Marcell.
"Kalian jangan terlalu lama saling memandang, nanti bisa jatuh cinta" ucap Jennie.
"Jennie" rengek Yasmin, sesuatu yang tidak pernah Marcell dengar.
__ADS_1
"Sayang" ucap Marcell membuat Yasmin tersipu.
"Duduklah Arthur" ucap Jennie pada keponakannya itu.
"Kau akan kembali Yas?" tanya Arthur menatap penuh damba pada Yasmin.
"Ya, aku disini karena bersembunyi darinya, sekali dia tahu jika aku di sini, jadi aku harus kembali" jawab Yasmin. "Sering-sering lah berkunjunglah kemari Arthur, temani Jennie" ucap Yasmin memohon pada Arthur.
"Aku bukan anak kecil Yas"
"Ya, tapi kau adalah wanita tua Jennie"
"Aku dewasa, bukan tua" elaknya santai.
"Uncle Arthur" seru Aiden senang melihat Arthur.
"Hai boy, Miss you" ucap Arthur langsung memeluknya Aiden.
"Miss you too" lalu kedua pria beda usia itu melakukan tos ala mereka.
"Kau senang bertemu dengan Daddy mu?"
"Of course, Daddy is the best" Aiden merangkul leher Arthur.
"Uncle sangat sedih, karet kau pasti akan lupa"
"No, your my best uncle"
"Really?"
"I'm not sure hahaaa..." jawab Aiden tertawa, karena melihat wajah cemberut Arthur.
Setelah berbicara panjang lebar, kini Yasmin dan keluarga kecilnya pamit pulang untuk, mengemas beberapa barang penting yang akan di bawa nya, sisanya akan menjadi tanggung jawab orang-orang, karena Aiden sangat menyukai mainannya itu, jadi mau tidak mau Marcell harus membawanya terbang ke tanah air juga.
"Hiduplah dengan bahagia Yas" ucap Jennie memeluk erat Yasmin.
"Terimakasih banyak atas kasih sayang mu selama ini. Aku dan Aiden sangat beruntung mengenalmu Jennie" ungkap Yasmin.
"Aku juga beruntung bisa bertemu denganmu" Jennie mencium seluruh wajah Yasmin. "Anakku yang cantik dan manis" kata Jennie membelai pipi Yasmin.
"Kau harus menjaga permata indah ku ini Marcell" ucap Jennie.
"Sekarang giliran mu menjaganya, pastikan senyum manis itu tidak luntur dari bibirnya"
"Pasti Jennie, Jennie juga sehat-sehat disini" ucap Marcell.
"Aku wanita dewasa dan sangat sehat" sombongnya.
"Jaga wanita mu dengan baik bro" ucap Arthur lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pada Yasmin.
*
*
*
*
*
Di dalam kungkungan burung besi, Marcell, Yasmin juga Aiden tengah terbaring di atas ranjang, setelah beberapa menit mengudara.
"Kita akan kemana?" tanya Yasmin memeluk erat tubuh putranya.
"Leiden, bukankah seperti kemauan mu?"
"Tapi aku..."
"Aku ada di sampingmu sayang, semua akan baik-baik saja"
"Aku percaya padamu, apakah orang tuamu juga..."
"Papa akan tiba besok pagi, dan Mama sudah menunggu kita di hotel" jelas Marcell.
"Daddy, apakah semua pesawat ada kamar besarnya seperti ini?" ucap Aiden, bocah itu memang tidak tidur.
__ADS_1
"Tidak sayang"
"Apakah pesawat ini milik Daddy?"
"Bukan, pesawat ini milik Opa"
"Benarkah?"
"Ya, kau suka?"
"Suka, jika Aiden sudah besar, Aiden akan meminjamkan pesawat ini dan mengajak Rose jalan-jalan" celoteh Aiden.
"Rose? siapa Rose?" tanya Yasmin dan Marcell.
"Dia teman baikku di tempat penitipan anak, rambutnya pirang dan panjang, wajahnya imut sekali seperti wajah Toby" jelas Aiden yang membuat kedua orang tuanya speechless.
"Aiden, kau baru saja menyamakan manusia dengan kucing" sahut Yasmin.
"Rose baik Mom, di bilang tidak apa-apa jika aku menyamakan nya dengan Toby, karena Rose sangat menyukai ku, aku boleh melakukan apapun padanya asal aku mau berteman dengannya" ucap Aiden.
"Jadi apa yang kau lakukan padanya?" tanya Marcell.
"Aku selalu bersamanya, menggandeng tangan nya, saat menanam bunga atau berries, juga saat menyiram tanaman atau menyusun puzzle dan ..."
"Dan apa lagi?" teriak Yasmin.
"Sayang, Mom" ucap Marcell dan Aiden bersamaan.
"Sorry" ringis Yasmin.
"Lanjutkan sayang" perintah Marcell.
"Kami juga berbagi makanan, dan itu membuat Viktor marah tidak suka pada kami"
"Siapa lagi Viktor?"
"Viktor ingin berteman dengan Rose, tapi Rose hanya mau berteman denganku"
"Astagaaaaaaa" kepala Yasmin tiba-tiba pusing.
"Mom are you okay?"
"No, Mommy sangat merasa buruk" sahut Yasmine membuat Marcell terkekeh geli.
"Jadi kau pasti sedih karena harus berpisah dengan Rose?" kata Marcell yang mendapat tatapan tajam dari Yasmin.
"Tidak, karena aku akan segera mendapatkan gantinya" Aiden tersenyum senang.
"Gantinya?" ucap Marcell dan Yasmin.
"Ya gantinya dari Daddy"
"Maksudnya?"
"Daddy harus membuatkan ku adik seperti Rose"
"Apa???" pekik Yasmin.
"Rose bilang, dia memilih adik yang tampan seperti ku, setelah ayah dan ibunya tinggal bersama. Jadi hukuman Daddy adalah membuatkan adik yang sama seperti Rose" ucap Aiden.
"Aiden tahu dari mana jika Daddy bisa membuat adik? apakah Aiden tahu caranya?" tanya Yasmin hati-hati.
"Semua teman Aiden yang tinggal bersama ayah dan ibunya memiliki adik Mom, itu pasti karena ayah mereka bisa membuat adik kan? Daddy tidak tinggal bersama kita, itu sebabnya Aiden belum punya adik" logika bocah itu.
"Tapi, memilih adik itu tidak bisa sesuai kemauan Aiden, bagi jika Aiden mendapatkan adik yang sama seperti Aiden, dan bukan sepenuhnya Rose?"
"Begitu ya?" di angguki oleh Marcell dan Yasmin. "Kalau begitu Daddy harus terus membuatkan Aiden adik sampai mendapatkan yang sama seperti Rose" ucap Aiden membuat Marcell tertawa penuh kemenangan dan Yasmin terdiam seribu bahasa.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺