
Saat semua orang yang ada di ruang makan terkejut melihat penampilan Marcell, Aiden langsung berlari memeluk lutut Marcell. Rindu, bocah cilik itu sangat merindukan Daddy nya karena tidak bertemu hamil dua minggu.
"Daddy sudah mau tidur?" Aiden mendongakkan kepalanya melihat wajah Marcell. "Padahal Aiden rindu ingin bermain dengan Daddy" sambung bocah itu mengerucutkan bibirnya.
"Daddy belum mau tidur, dan Daddy siap menemanimu bermain sepanjang malam" ucap Marcell mengangkat tubuh kecil Aiden.
"Benarkah? tapi kenapa Daddy sudah memakai piyama?" Aiden menatap heran pada Marcell.
"Sepertinya Daddy mu lebih memilih tidur dari pada makan bersama kita sayang" ucap Mama Helena menatap kesal pada Marcell, bagi tidak, mereka semua yang ada di meja makan mengenakan pakaian formal mengingat ini adalah pertama kalinya keluarga Yasmin berkunjung ke kediaman Regananta. Papa Robert dan Mama Helena juga menyambut antusias dengan menyiapkan banyak makanan dan mengenakan pakaian terbaik, sebab Mama Helena ingin berfoto bersama saat selesai makan malam sebagai kenang-kenangan pertemuan keluarga dengan formasi lengkap. Tapi Marcell malah mengenakan piyama, ingin rasanya Mama Helena menenggelamkan Marcell di danau Sunter.
"Kau masih punya banyak waktu jika ingin memikirkan ulang pernikahan ini Yas, lihat saja bagaimana cara penyambutan calon suami mu" kali ini Papa Robert juga ikut-ikutan menyindir putranya.
"Papa dan Mama tidak memberi tahu Marcell jika tamu yang di maksud adalah...."
"Jadi Daddy tidak suka dengan kejutan ini?" pertanyaan Aiden berhasil membungkam mulut Marcell.
"Sayang Daddy bukannya tidak suka, hanya saja..."
"Sepertinya aku memang harus memikirkan ulang tentang pernikahan ini jika Mama, Papa, Ibu, dan Daddy tidak keberatan" Yasmin menatap para tetua yang ada di meja makan.
"Ibu menyerahkan semua padamu sayang" ucap ibu Marrisa.
"Daddy juga tidak keberatan, bahkan ini kesempatan yang bagus untuk Daddy memanjakan putri Daddy" Albert ikut mengompori Marcell.
"Mama tidak menuntut mu sayang, yang penting Mama bisa bermain dan bertemu dengan Aiden" timpal Mama Helena.
"Memikirkan ulang memang lebih baik Yas, sebab penyesalan itu selalu datang di akhir" kata-kata bijak Papa Robert seperti katana tajam yang menembus ulu hati Marcell.
"Jangan coba-coba memikirkan ulang pernikahan kita Yas, atau aku akan..."
"Kau bisa lihat Yas, bahkan di hadapan orang tuanya dan orang tuamu pria itu berani mengancam mu" sinis Papa Robert.
"Sejak kapan Papa jadi kompor?" kesal Marcell yang sedari tadi di sudut kan.
*
*
*
__ADS_1
Marcell kini membawa Yasmin di area kolam renang, mereka duduk di sebuah gajebo yang ada di tepian kolam. Marcell menatap lekat wajah yang selama hampir dua minggu ini membuat tidur malamnya tidak nyenyak. Marcell sangat merindukan sosok wanita yang saat ini ada di depan matanya. Setelah perdebatan panjang dengan para orang tua, akhirnya Marcell di izinkan bicara berdua dengan Yasmin.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Yasmin salah tingkah saat Marcell begitu intens menatap dirinya.
"Kau tidak suka?" tanya Marcell tanpa berkedip.
"Ck, itu membuatku gugup" jujur Yasmin, dengan pipi sudah merona.
"Kau gugup hanya dengan tatapan ku? bahkan kita sudah menghiasi Aiden Yas" ucap Marcell tak habis pikir dengan kata-kata Yasmin.
"Karena tatapan mu berbeda" Yasmin menghela nafasnya. "Tidak sama saat kita membuat Aiden" Yasmin mengalihkan pandangannya, mengingat dulu hubungan nya dengan Marcell hanya tentang nafsu saja, tanpa adanya rasa cinta dari Marcell.
"Maafkan aku, aku berjanji mulai sekarang aku akan sangat mencintaimu, dan akan terus mencurahkan rasa cintaku hanya untukmu dan anak-anak kita" Marcell meraih tangan Yasmin dan menggenggam erat seolah menyatakan keseriusannya.
"Aku percaya padamu" Yasmin tersenyum pada Marcell, membuat jantung ayah satu anak itu tidak karuan.
"Sayangnya aku tidak bisa membawamu ke kamarku" keluh Marcell, sebab Mama Helena melarang keras Marcell bicara dengan Yasmin di kamarnya.
"Kau ini, kita tidak akan melakukannya sebelum pernikahan" Yasmin paham betul arah pemikiran calon suaminya itu.
"Aku hanya perlu membawamu ke kamar Yas, setelah itu yang terjadi hanyalah kehendak ku. Sebab kau tidak akan bisa menolak pesona dan sentuhan seorang Marcell" Marcell menaik turunkan kedua alisnya.
"Bukan mengerikan sayang, tapi menggairahkan" ralat Marcell.
"Ck" decak Yasmin kesal, sebab apa yang di katakan oleh Marcell memang benar adanya. Meskipun mulut Yasmin mengelak, tapi tubuh dan hati Yasmin membenarkan.
"Kenapa tidak memberi tahu ku jika kau dalam perjalanan pulang?"
"Jika di beri tahu, maka bukan lagi kejutan" sahut Yasmin.
"Ya, kau berhasil mengejutkan ku" ucap Marcell. "Aku pikir masih dua hari lagi kau akan datang" sambungnya.
"Aiden ingin segera bertemu dengan mu"
"Dia memang putraku, dia tahu jika dada nya tidak tahan berada jauh dari Mommy nya" ucap Marcell senang.
"Kau akan tinggal di sini kan?" tanya Marcell, di otaknya itu sudah banyak susunan rencana kotor, ia akan balas dendam karena tidak bisa menghukum Yasmin sesuai rencananya saat berada di Leiden, di tambah lagi ia harus kembali berpuasa karena Yasmin memilih tinggal di kediaman Tholense dan baru datang hari ini. Tentu saja hal itu akan bertambah ke dalam daftar tuntutan Marcell untuk berpetualang di malam-malam yang panas dan menyenangkan menurut nya.
"Putriku akan tinggal di rumah Daddy nya sampai hari pernikahan Marcell" sahut Albert di ujung kolam, pria itu berniat memanggilnya Yasmin dan mengajak nya pulang.
__ADS_1
"Benarkah?" Marcell menatap tak percaya pada Yasmin.
"Ya benar, seperti yang kau dengar" tutur Yasmin membenarkan kata-kata Daddy nya. Hal itu membuat tubuh Marcell lemas seketika.
"Ayo sayang kita pulang" ajak Albert, dan Yasmin menurut tanpa bantahan.
"Pulang? jam segini?" tanya Marcell menatap tak suka pada Albert.
"Ini sudah jam sepuluh malam, bukanya kau juga harusnya bersiap tidur dengan pakaian mu itu" cibir Albert menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku masih sangat merindukanmu Yas " Marcell memelas pada Yasmin tak perduli jika ada Albert di sampingnya.
"Tidurlah Marcell, bahkan kau sudah menggunakan piyama itu dari jam delapan" lagi-lagi Albert mencibir Marcell.
"Yas" rengek Marcell membuat Albert geli mendengarnya.
"Aku harus pulang Cell, besok kita bertemu lagi di butik" ucap Yasmin mendekati Daddy nya.
"Kau tidak merindukan ku Yas?" tanya Marcell memelas.
"Kau yang lebih tahu, karena kau sudah membuktikan nya" ucap Yasmin melangkah pergi dari kolam renang itu bersama Daddy nya.
"Aku lebih tahu? membuktikan apa?" bingung Marcell sesat namun akhirnya tersenyum penuh kemenangan.
"Tentu saja dia sangat merindukan ku, terbukti Yasmin keluar berkali-kali sebelum aku memulai permainan inti" gumam Marcell mengingat percintaan panas nya bersama Yasmin saat masih berada di Finlandia.
"Bersabarlah junior" Marcell menundukkan kepalanya melihat dimana tempat persembunyian senjata kebanggaan nya itu berada. "Jika sudah saatnya, kita akan menghabisi Yasmin tanpa ada gangguan atau penghalang apapun" Marcell memiliki sebuah rencana yang akan ia lakukan setelah Yasmin resmi menjadi istrinya.
"Tunggu tanggal mainnya" gumam Marcell berjalan menyusul Yasmin.
*
*
*
*
*
__ADS_1
TBC 🌺