CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Kehidupan


__ADS_3

***Satu Tahun Kemudian***


Jasmine Regency Townhouse adalah kompleks perumahan mewah milik Regananta Group yang terletak di daerah Sanur, Bali. Lokasi yang dulu di rencanakan untuk di bangun sebuah hotel and resort kini menjadi sebuah hunian mewah yang sangat di minati oleh turis lokal maupun turis asing yang ingin memiliki hunian di pulau Dewata ini.


Selain bisa di jadikan investasi masa depan, fasilitas dan kenyamanan perumahan mewah ini juga sangat menggiurkan. Daerah yang tenang, pemandangan memanjakan mata, pantai yang indah, suasana asri dan masih banyak lagi keindahan sebagai daya tariknya. Belum lagi desain eksterior perumahan mengusung tema klasik dan elegan di dukung dengan interior dan furniture modern, Sepertinya sang pengembang Jasmine Regency Townhouse sangat memanjakan calon penghuni rumah itu dengan baik terbukti dengan detail keseluruhan.


"Sangat indah, aku suka di sini" puji Yasmin berdiri di balkon kamar menatap hamparan pantai yang indah.


"Apakah ada yang kurang?" tanya Marcell memeluk Yasmin dari belakang.


"Siapa yang mengerjakan ini?"


"Sayang, ini semua hasil kerja keras ku, entah berapa ratus kali aku meeting dengan para kontraktor dan arsitek. Belum lagi debat dengan penanggung jawab di lapangan" cerita Marcell.


"Benarkah?"


"Sayang, pertanyaan mu menyakiti hatiku. Tentu saja itu benar, aku mencurahkan seluruh ide dan memeras otakku untuk membangun perumahan indah ini. Sebagai bukti cintaku padamu, bahkan aku menyematkan namamu di dalamnya" jelas Marcell.


"Namaku Yasmin, bukan Jasmine" kilah Yasmin belum mau memuji hasil kerja keras suaminya.


"Sayang kau serius?" tanya Marcell dengan wajah menyedihkan.


"Tentu saja aku serius, apa benar kau mencintaiku jika ejaan namaku saja...."


"Di hatiku ini terukir indah namamu istriku Yasmin Angelica Sanjaya" sela Marcell membuka dua kancing kemejanya.


"Kau dengar itu sayang? Daddy mu to pernah mau mengakui kesalahannya" ucap Yasmin mengusap perut besarnya, Ya wanita 32 tahun itu tengah mengandung anak keduanya. Kedatangan nya ke Bali dalam rangka Babymoon di trimester ketiga kehamilan nya.


"Sayang kenapa bicara begitu pada putriku?" Marcell mengelus perut bulat Yasmin. "Princess, Daddy baik-baik di dalam sana ya, Mommy hanya bercanda. Nanti malam Daddy men...."


"Men apa?" Yasmin menarik telinga Marcell.


"Awhhh sayang, sakit" keluh Marcell.


"Kau jangan bicara yang tidak-tidak dengan anakku, Marcell. Lagi pula kenapa yakin sekali jika dia perempuan?" kesal Yasmin, sebenarnya Yasmin dan Marcell sama-sama tidak ingin tahu jenis kelamin calon buah hatinya. Tapi entah mengapa sejak Yasmin di nyatakan positif hamil, Marcell yakin jika calon anaknya adalah perempuan seperti permintaan Aiden.


"Sayang, aku ini Daddy nya. Aku yang bekerja keras membuatnya, tentu saja aku tahu jika dia seorang princess" yakin Marcell. Marcell selalu memanggil Yasmin dengan sebutan sayang atau honey meskipun Yasmin hanya memanggil nya dengan nama saja, itu tidak masalah bagi Marcell. Tidak ada panggilan Mas, Aa, Kangmas, atau Akang. Jika di tilik ke belakang, hanya Laura saja yang memanggil suaminya dengan sebutan Kakak. Bisa jadi nanti Marcell dan Yasmin akan memanggil satu sama lain dengan sebutan Mommy Daddy, seperti papa Robert dan Mama Helena.


"Jadi menurutmu hanya dirimu saja yang bekerja keras? dan aku tidak?" kesal Yasmin.


"Bukan begitu sayang, kau juga bekerja keras. Bahkan sangat bekerja keras hingga kesulitan berjalan selama beberapa har..."


Bugh......


Sebuah bantal melayang tepat di wajah Marcell.


"Berhenti membicarakan hal yang akan menimbulkan efek iya-iya nantinya" Yasmin memotong kalimat Marcell dan keluar dari dalam kamar, sebab jika tidak sesuatu yang sangat di sukai Marcell pasti akan segera terjadi di siang hari ini.

__ADS_1


"Huhhhh dia sangat tahu arah nya kemana" tubuh Marcell melemas.


*


*


*


Dua orang pria beda usia tengah duduk di sebuah kedai es krim, keduanya sama-sama menikmati dingin manis dan lembut ya es krim di setiap sendokan nya.


"Aiden tidak mau menginap di rumah Kakek?" tanya pria paruh baya tak lain adalah Bramantyo.


"Apakah Aleena juga menginap?" tanya Aiden, hari ini pulang sekolah sengaja di jemput oleh sang Kakek.


"Kakek tidak tahu, tapi kakek rindu dengan Aiden. Menginap di rumah kakek ya" bujuknya pantang menyerah.


"Tapi, Opa..."


"Nanti Kakek telpon Opa Robert, kalau Aiden malam ini menginap di rumah Kakek" sahut Bram, menenangkan cucunya.


"Baiklah" sebenarnya Aiden kurang suka menginap di rumah sang Kakek karena Hana kurang welcome dengan kehadirannya. Namun Yasmin selalu mengatakan jika dirinya harus selalu besok baik pada orang tua, meski kita kurang menyukainya.


"Bagaimana sekolah baru mu?" tanya Bramantyo dalam perjalanan pulang, Aiden sudah beberapa kali pindah sekolah dengan alasan sekolahnya membosankan tidak menarik dan lain sebagainya. Hampir 75% sekolahan elite di Jakarta pernah Aiden coba namun belum ada yang cocok.


"Sekolahnya biasa saja, tapi...."


"Emmm...ada seorang murid yang manis dan lucu, jadi Aiden akan betah di sekolahan itu" ucap Aiden, sepertinya jiwa Playboy sang Daddy menurun padanya.


"Apakah dia cantik?" Bram tak heran jika cucunya seperti itu, mengingat sepak terjang sang menantu.


"Hem, dan menggemaskan" ucap Aiden mengingat teman barunya.


"Kalau begitu kau harus berteman dengannya" sang Kakek mengompori.


"Ya, itu yang Aiden rencanakan"


"Bagus, tapi jangan sampai membuatnya menangis" pesan Bramantyo.


"Tentu saja tidak, Aiden akan selalu memegang tangannya, dan berbagi semuanya dengannya. Seperti yang Aiden lakukan dulu dengan Rose" tutur Aiden.


"Rose? siapa itu Rose?" maklum saja, Bram jarang menghabiskan waktu bersama dengan sang cucu, berbeda dengan Robert yang setiap hari bermain dengan Aiden karena memang Yasmin dan Marcell tinggal di kediaman Regananta.


"Rose itu temanku di Forssa dulu"


"Ohhh...." Bram mengangguk paham.


"Kau merindukan nya? Rose itu?"

__ADS_1


"Sedikit" jawab Aiden, mungkin saja seiring berjalanya waktu dirinya akan lupa dengan Rose, karena ia berpisah dengan Rose di saat usianya belum genap 4 tahun, yang artinya masih balita, tapi entahlah takdir kedepannya nanti bagaimana.


*


*


*


Leonardo Sanjaya putra bungsu Bramantyo Sanjaya itu kini mulai menekuni dunia fotografi. Leo mulai aktif mengikutinya sebuah komunitas fotografi dan sering melakukan traveling ke berbagai daerah bahkan luar negeri untuk mengabadikan momen-momen tertentu.


Leo tidak menjadikan dunia fotografi sebagai sumber penghasilan nya, hanya sekedar hobi semata dan pekerjaan sampingan jika ada tawaran projects. Tapi pekerjaan utama nya tetaplah memimpin perusahaan mendiang sang Kakek, karena Yasmin benar-benar tidak mau tahu dan ikut campur. Bahkan 50% pendapatan yang Leo berikan pada Yasmin selalu masuk ke panti asuhan ataupun yayasan sosial lainya, ya Leo memberikan 50% keuntungan perusahaan pada Yasmin, meskipun berujung ia juga yang bingung harus mencari kemana dana itu akan di sumbangkan menggunakan atas nama Yasmin dan juga mendiang sang kakek.


"Leo, bisakah kau menggantikan ku besok?" tanya seorang teman sesama fotografer.


"Kemana?" saat ini Leo sedang berkumpul dengan komunitas fotografi nya.


"Ada pemotretan salah seorang artis, kau bisa kan?" ucap temannya yang bernama Yogi.


"Kenapa tidak yang lain saja? aku tidak berminat berurusan dengan artis" tolak Leo.


"Jadwal mereka semua padat, memangnya dirimu yang pengangguran" kesal Yogi.


"Aku pekerja kantoran jika kau lupa"


"Ya, tapi itu bisa kau kerjakan jarak jauh, tidak mengharuskan dirimu selalu di kantor pak Presdir"


"Ckk... menyebalkan, memang kau besok kemana?"


"Dampingi ibu negara check up"


"Lain kali kalau ambil job sesuaikan dengan jadwal check up nyokap Lo"


"Iya, gue lupa" sahut Yogi. "Lo bisa kan?"


"Mau gimana lagi?" sahut Leo terpaksa menggantikan temannya.


*


*


*


*


*


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2