
Seorang pria paruh baya termenung di dalam ruangan kantor nya setelah menerima seorang tamu. Pria itu adalah Bramantyo Sanjaya, siang ini seharusnya ia melakukan survei ke pabrik garmen nya untuk memeriksa produk baru, namun jadwal itu urung dilakukan karena kedatangan tamu kak di undang.
Robert Regananta baru saja mendatangi nya menyampaikan sebuah kabar gembira, namun entah mengapa kabar itu juga menyesakkan dadanya.
*Flashback On*
Santi, sekretaris Bramantyo memberi tahu jika seorang Robert Regananta berkunjung ke kantor nya, setelah hampir dua tahun tidak saling bertegur sapa sejak kejadian pernikahan Laura dan Marcell yang gagal itu, hari ini Robert datang menemuinya? hal itu membuat Bramantyo penasaran.
"Lama kita tahu berjumpa tuan Bram" ucap tuan Robert begitu masuk ruangan Bramantyo. menenteng sebuah tas kerja.
"Saya rasa kita tidak perlu bertemu lagi tuan Robert, tapi apa yang membawa anda mengunjungi ku?" Bram menatap serius pada tamunya itu.
"Sepertinya anda salah Tuan Bramantyo, kita di takdir kan untuk saling terhubung. Terlepas suka tidak nya anda" Robert mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalam tas nya.
"Kami berhasil menemukan Yasmin, putrimu" Robert menjeda ucapannya. "Dan Yasmin juga setuju untuk menikah dengan Marcell dalam waktu dekat" ucapnya membuat Bramantyo terdiam seribu bahasa.
"Jika kau bertanya dimana Yasmin, dia masih berada di Leiden bersama putranya" jelas Robert.
"Putra?" ulang Bramantyo.
"Ya, putra Yasmin dan Marcell. dia sudah berusia 4 tahun"
"Lalu kenapa anda yang memberi tahu semua ini pada saya?"
"Ini permintaan putri mu, karena Yasmin belum siap bertemu denganmu. Jika mungkin datang lah untuk menyaksikan dan memberikan restu mu di hari pernikahan Yasmin dan Marcell" ucap tuan Robert.
"Tapi di sana nanti juga ada Marrisa dan Albert, bagaimana pun juga mereka orang tua Yasmin, terlebih Albert selama empat tahun ini melindungi Yasmin dan cucuku" terang tuan Robert.
"Dan ya, jika kau datang bersama Hana, pastikan dia tidak membuat keributan di sana. Saya permisi" ucap robot langsungkan meninggalkan ruangan Bramantyo tanpa menunggu kata-kata yang keluar dari mulut calon besannya itu.
*Flashback Off*
"Apakah sangat marah pada ayah mu ini Yas?" gumam Bram menatap nanar undangan pernikahan putri sulungnya. Kemarin saat pernikahan Laura, Bramantyo tidak merasakan kebahagiaan, kini apakah akan terulang di pernikahan Yasmin? Bramantyo tidak merasakan bahagia dan bangga?
Biasanya seolah ayah akan sangat bahagia mengantarkan putrinya menempuh hidup baru, suka cita dan senyum bangga menghiasi bibirnya, tapi kenapa hal itu tidak terjadi pada Bramantyo? saat melepas Laura ia tertunduk malu, dan kini saat ia akan melepaskan Yasmin, hatinya di selimuti rasa bersalah dan hantaman rasa penyesalan karena telah menyia-nyiakan putri sulungnya. Bramantyo lupa jika kehadiran Yasmin lah yang membuatnya resmi menjadi seorang ayah, namun sayangnya tanggung jawab dan kewajiban seorang ayah tidak ia penuhi.
"Ayah ingin bertemu denganmu sayang" bisik Bramantyo memejamkan matanya. Rindu, Bramantyo sangat merindukan Yasmin, sikap posesif Yasmin dan rengekan manja nya Bramantyo merindukan itu semua.
📍 Kediaman Sanjaya
Leonardo Sanjaya tengah memasukkan pakaian nya ke dalam sebuah koper besar, pria itu tidak ingin lagi tinggal bersama kedua orang tuanya. Leo muak menahan rasa tidak suka nya berada di antara Papa Bram dan Mama Hana.
Leo sebenarnya ingin menjadi seorang fotografer profesional, kecintaannya pada dunia fotografi direnggut paksa oleh Mama Hana, dan Papa Bram hanya diam saja tanpa mau tahu apa keinginan putra bungsunya itu.
__ADS_1
"Leo, kenapa baju-baju mu di masukkan ke dalam koper?" tanya Mama Hana heran.
"Leo mau pindah ke apartemen mah" jawabnya.
"Apartemen? kenapa tinggal di apartemen? di rumah ini bahkan banyak kamar kosong Leo?"
"Mama tolong berhenti mencampuri kehidupan Leo"
"Kau ini apa-apaan?"
"Mama yang apa-apaan? Leo sudah besar mah, Leo sudah dewasa dan Leo bisa mengatur kehidupan Leo sendiri tanpa perlu lagi Mama mendikte Leo" kesalnya menutup koper itu.
"Tidak boleh, kau tidak boleh tinggal di apartemen. Mama tidak ingin berpisah dengan mu Leo" ucap Mama Hana berdiri di tengah pintu karena Leo sudah menyeret kopernya.
"Mama tolong jangan halangi Leo" ucap nya pelan.
"Tidak, Mama tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumah ini" tegas Mama Hana.
"Mama please" ucap Leo.
"Tidak, Mama bilang tidak ya tidak" kekeh Mama Hana.
"Jangan membuat Leo semakin marah dan muak dengan keadaan ini mah" Leo menahan emosinya.
"Mama jangan egois, apa Mama tidak lelah menyiksa anak-anak Mama? apa Mama pikir kak Laura sekarang hidup bahagia? apa Mama pikir selama ini aku juga bahagia?" seru Leo.
"Leo, apa yang kau katakan?"
"Berhenti mencampuri kehidupan Leo mah, karena Leo tidak bahagia menjalani kehidupan Leo yang sekarang"
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu Leo"
"Yang terbaik menurut Mama itu belum tentu baik untuk Leo mah, tolong jangan memaksakan keadaan" Leo menarik paksa Mama hanya untuk menyingkir dari hadapannya.
"Leo tidak, jangan lakukan ini" ucap Mama Hana memegang erat daun pintu kamar Leo.
"Ada apa ini?" seru papa Bram, menyaksikan keributan antara anak dan istrinya.
"Papa Leo akan meninggalkan rumah ini" adu Mama Hana pada suaminya.
"Benar begitu Leo?"
"Ya"
__ADS_1
"Apa alasanmu pergi dari rumah ini?"
"Karena Leo tidak tahan lagi untuk bersandiwara. Leo ingin menjalani kehidupan Leo seperti kemauan Leo, bukan atas kemauan Papa atau Mama"
"Apa yang membuatmu bersandiwara?"
"Leo lelah bersandiwara terlihat baik-baik saja Pah, Leo juga tidak ingin berada di antara orang-orang egois seperti papa dan mama"
"Apa maksud mu egois?"
"Mengorbankan anak dan istri demi kebahagiaan diri sendiri bukanlah itu tidak egois?" cibir Leo.
"Leo jaga bicaramu, dia papa mu"
"Papa yang seperti apa dulu? dia bahkan tega menelantarkan putrinya demi putri yang lainnya, dia bahkan tega menipu istrinya demi wanita lain, dia..."
Plakkkkkkk...
Tangan mama mendarat mulus di pipi Leo meninggalkan cap merah telapak tangannya.
"Jangan kurang ajar Leo, suka atau tidak dia adalah Papa mu, dan kamu harus menghormatinya" tegas Mama Hana.
"Rasa hormat itu sudah lenyap 17 tahun yang lalu, ketika aku mengetahui jika hadir ku adalah duka bagi orang lain" ucap Leo berlalu begitu saja tanpa membawa kopernya.
"Leo berhenti, jangan pergi" teriak Mama Hana ingin mengejar putranya namun di cegah oleh suaminya.
"Papa, biarkan Mama menghentikan Leo" ucap Mama Hana mencoba melepaskan cekalan tangan suaminya.
"Biarkan dia pergi, dia sudah cukup tersiksa selama ini" ucap papa Bram melangkah kakinya ke kamarnya. Papa Bram mengerti betapa dulu Leo sangat berusaha mendekatkan diri pada Yasmin, saat dirinya mengabaikan keberadaan Yasmin. Namun Yasmin membangun benteng kokoh untuk tidak mengakrabkan diri dengan Leo, dan hal itu membuat Leo berubah sikap dengannya tapi papa Bram hanya mengira jika itu untuk sesaat saja, tapi ternyata Leo selama ini menahan perasaannya.
"Aku adalah seorang ayah yang gagal" lirih papa Bram mengingat kehidupan anak-anak nya.
*
*
*
*
*
TBC 🌺
__ADS_1