
Hujan deras mengguyur Ibu kota, kilatan dan gelegaran guntur pun bersautan membuat duet yang mengerikan bagi sebagian anak cucu Adam. Namun tidak bagi dua anak manusia yang kini tengah memadu kasih dan menghangatkan satu sama lain, sang pria bergerak dengan penuh semangat dan sang wanita mengeluh nikmat atas setiap hentakan pria itu.
"Kau selalu luar biasa Yas" ucapnya setelah mengeluarkan lahar panasnya pada lahan yang di akui miliknya.
"Hem..aku tahu" Yasmin memeluk erat Marcell.
"Kau mau minum?" Marcell mengambil satu botol air minum yang ada di nakas sebelah ranjang.
"Tentu" Yasmin mengambilnya botol minum yang ada di tangan Marcell. "Terimakasih" setelah menengguk beberapa kali.
Cup
Marcell mengecup kening Yasmin, Marcell merasa Yasmin semakin cantik dan semakin menarik, apakah Marcell sudah jatuh cinta padanya? entahlah Marcell bingung menyikapi hatinya.
"So, kemarin kau berlibur kemana? kenapa aku begitu susah menemukan mu?" Marcell membawa Yasmin dalam dekapan nya.
"Aku hanya di kota sebelah" singkat nya. "Kau sendiri sepertinya sangat menikmati waktu makan siang bersama dengan Nyonya Helena, sampai kau tak kembali ke kantor" pancing Yasmin. Yasmine ingin tahu apakah Marcell akan jujur atau berbohong.
"Yas, sebentar ada yang ingin aku sampaikan"
"Apa?"
"Hari itu, hari dimana Mama mengajak ku makan siang, ternyata Mama tidak hanya mengajakku. Tapi Mama sudah janjian dengan temannya dan teman Mama mengajak anaknya" jujurnya.
"Maksudnya kau akan di jodohkan?" tebak Yasmin.
"Bukan seperti itu, hanya perkenalan biasa" kilah Marcell.
"Hanya perkenalan biasa dan jika kau merasa tertarik dan cocok maka akan lanjut ke jenjang yang lebih serius begitu maksud mu" sinis Yasmin.
"Aku tak mengatakan seperti itu Yas " Marcell membela diri.
"Aku cukup paham akan situasi nya Cell, jika kau lupa aku ini sangat pandai" kesal Yasmin meskipun sudah tahu semuanya.
"Kau marah padaku Yas?"
"Menurutmu?"
"Yas, aku dan Laura tidak punya hubungan apapun"
"Oh... Laura, pasti dia wanita yang cantik"
"Please Yas jangan seperti ini"
"Aku seperti apa memangnya? kita juga tidak memilih hubungan apapun, bahkan akulah yang menyerahkan diri padamu" Yasmin mengenakan bathrobe nya lalu pergi ke kamar mandi.
Brakkkk...
__ADS_1
Yasmin membanting pintu kamar mandinya, kesal, marah, kecewa semua rasa itu berkumpul dalam dadanya. Padahal dia sudah mengetahui semuanya, bahkan siapa Laura pun Yasmin tahu, Yasmin pikir tidak akan sesakit ini tapi nyatanya tetap saja menyakitkan.
"Aku tidak salahkan" Marcell menatap pintu kamar mandi yang tertutup. "Tentu saja aku tidak salah, lagi pula hubungan ku dengan Yasmin atas dasar suka sama suka" Marcell membenarkan dirinya sendiri.
Di kamar mandi Yasmin tengah berendam, padahal di luar hujan turun dengan derasnya, tapi wanita itu memilih berendam dengan air dingin tanpa campuran air panas. sepertinya Yasmin bukan hanya mendinginkan pikiran nya, tapi juga tubuhnya agar urat syarafnya tidak tegang.
"Oke Yas, tenang, rileks, you can do it. Kau wanita yang kuat, kau wanita yang sangat pintar, jangan gegabah, Tidak perduli sepanjang apapun malam yang kelam, pagi pasti akan datang bersama sinar mentari" gumam Yasmin menasehati dirinya sendiri.
"Haruskah aku membenci Ayah dan Ibu karena telah membuatku terlahir ke dunia ini?
Tuhan, aku masih marah padamu, tapi aku akan bertanya, untuk apakah aku kau ciptakan? hah... percuma saja Kau tak akan menjawabnya" kesal Yasmin hingga menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidupnya.
*
*
*
"Bagaimana menurutmu tentang Marcell, sayang" tanya Mama Hana pada putrinya.
"Di baik Mah, tapi dia itu player Mah"
"Itu hal yang wajar sayang, dia seorang pebisnis muda dan kaya raya, sudah pasti banyak wanita yang mengincarnya. Hidupnya akan selalu di keliling wanita cantik, tapi jika kau bisa menaklukkan nya, Mama yakin dia tidak akan melirik wanita lain, seperti Papa mu yang akan selalu tergila-gila pada Mama" membayangkan suaminya.
"Tapi Mama bukan wanita pertama bagi Papa" Laura mengingatkan akan masa lalu.
"Lalu bagaimana bisa ada dia?"
"Dia ada karena kesalahan dan kekhilafan Papa mu" bela Mama Hana.
"Ada apa ini, ratu dan putri Papa? apa yang sedang kalian bicarakan?" Papa Bram nimbrung di ruang keluarga.
"Mama mengenalkan Laura dengan putranya Helen Pah" jawab Mama Hana semangat.
"Mah, jangan memaksa jika Laura tak mau" Papa Bram mengingatkan istrinya.
"Mama gak maksa Pah, tapi Mama yakin mereka berdua cocok"
"Papa sih terserah Laura saja, kalau Laura suka ya silahkan, tapi kalau Laura tidak suka jangan di paksa. Papa pernah menjalani hubungan karena terpaksa dan itu sangat menyakitkan" Papa Bram mengenang kehidupan nya dengan istri pertamanya.
"Udah dong Pah, gak usah di kenang yang sudah pergi" kesal Mama Hana.
"Papa tidak mengenang, papa hanya tidak mau anak-anak papa menjalani kehidupan pahit itu, terutama kamu Laura, papa membebaskan kamu memilih calon suami yang benar-benar kamu cintai dan mencintai mu juga, papa ingin melihat kamu bahagia" ucap papa Bram lalu pergi meninggalkan istri dan anaknya menuju ruang kerja.
"Ayah merindukan mu nak, bagaimanapun kabarmu? terakhir kita bertemu saat kau berusia 19 tahun, kini kau hampir 27 tahun, kenapa belum pulang? apakah tidak merindukan ayah? kau hidup dengan baikkan?" Papa Bram merindukan anaknya yang tak pernah pulang.
*
__ADS_1
*
*
"Hai... morning..." sapa Yasmin tengah menyiapkan sarapan di dapur. Tidak ada lagi wajah murung atau marah, Yasmin tampak ceria dan baik-baik saja seolah tak terjadi apapun tadi malam. Padahal Marcell tengah bingung memikirkan cara membujuk Yasmin agar tidak ngambek lagi.
"Are you okay Yas?" Marcell mendekati Yasmin.
"Hem...I'm so great" jawab Yasmin yang sedang memanggang dua lembar roti gandum untuk Marcell dan salad buah untuk dirinya.
"Ayo sarapan, aku sudah membuatkan jus mangga untuk mu" Yasmin membawa makanannya ke meja makan.
"Aku ingin kopi hitam untuk sarapan Yas " protes Marcell.
"Kau harus mengubah life style mu, dan itu di mulai dari makanan yang sehat, agar kau tetap sehat dan panjang umur untuk bermain dengan anakmu nanti" sahut Yasmin yang tak ingin di bantah Marcell.
"Kau hamil Yas?" kagetnya.
"Kau ingin agar aku hamil?" tanya Yasmin.
"Yas, aku serius. Kau sedang tidak hamil kan?"
"Kalau misalnya aku hamil juga wajar Cell, sebab hampir setiap malam kau menumpahkan benih mu dalam rahim ku" enteng Yasmin.
"Tapi aku belum siap memiliki anak Yas " frustasi nya.
"Tapi kau melakukan proses nya setiap malam, dan itu tidak cukup satu kali" Yasmin mengingatkan Marcell tentang seberapa mesum dirinya.
"Aku hanya menyukai proses pembuatan nya, tapi aku belum siap dengan hasilnya"
"Sudahlah hentikan pembicaraan ini, ayo kita makan" ajak Yasmin.
"Tapi kau sedang tidak hamil kan?"
"Jangan bertanya tentang hal yang tidak penting" Yasmin tidak mengelak ataupun membenarkannya.
Yasmin semakin yakin dengan keputusan nya setelah melihat reaksi Marcell yang menolak kehadiran seorang anak. Jika saja Marcell menerima hadirnya buah hati, mungkin Yasmin akan berjuang untuk mempertahankan Marcell dan akan terus memperjuangkan hubungan tanpa nama ini. Tapi melihat Marcell yang seperti itu, rasanya tidak ada yang perlu di perjuangkan. Bagi Yasmin, hubungan nya dengan Marcell telah berakhir hanya menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar mengakhirinya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
TBC 🌺