CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 10


__ADS_3

POV Mayang


Selama bekerja di caffe milik pak Bagas aku terlihat lebih bersih. Aku hanya sebagai pemanatau di caffe miliknya dan aku di tugaskan pak Bagas sebagai asisten pribadinya. Pak Bagas laki-laki yang bertubuh atletis itu menatapku penuh iba, pada awal kami bertemu di pasar, saat itu aku jatuh pingsan dan dialah sebagai penolong saat itu.


Pak Bagas orang yang sangat baik. Tapi tak sebaik hubungannya dengan istrinya, aku tahu saat bosku itu mengangkat gawai miliknya dan berbicara dengan istrinya, walau sedikit jauh masih bisa kudengar samar suara bos saat mengeluh soal tidak ada kehadirannya pada acara ulang tahun putrinya.


Ah, ulang tahun. Ali anakku sama sekali tak pernah merasakan yang namanya ulang tahun, padahal ayahnya banyak duit. Mengingat ayah dari anakku itu membuat dadaku terasa nyeri.


Pak Bagas dan aku hanya bekerja sebagai karyawan dan atasan tidak lebih, tapi pak Bagas terlalu memperhatikan penampilanku harus terlihat rapi agar pembeli tak pernah meragukan kehigenisan masakan dan makanan kita. Begitulah pesannya.


Jadi selama ini aku, ya sebab itu mungkin ayah dari anakku merasa jijik denganku, sepanjang hari hanya mengenakan daster lusuh yang sudah beberapa tahun lalu. Tapi tidak apa, dengan sikapnya memperlakukan aku seperti seorang selir maka aku lebih paham seperti apa aku harus menata diri, aku juga bisa baik, bahkan lebih anggun dari pada pelakor di luaran sana. Asalkan dana yang ada terus mengalir dengan deras.


Tepatnya hari pertama aku kerja dengan pak Bagas, aku diberi ijin yang membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi di balik sikap suamiku itu, aku menyimpan kecurigaan yang teramat dalam, terbukti saat dia tidak memberikan uang belanja padaku, bahkan untuk jajan Ali saja dia enggan mengeluarkan sepeserpun.


Aku juga tak sebodoh yang laki-laki itu bayangkan, menuruti apa maunya dengan alasan surga ada di bawah telapak kakinya. Persetan dengan surga yang dia buat, aku bisa mencari surgaku dengan caraku sendiri.


Aku hendak menelponnya saat aku melewati kompleks kontrakan lumayan bagus, terparkir jelas di sana mobil mewah yang biasa di pakai oleh ayah anakku. Namun aku abai menunggu hingga sampai di tempat kerjaan saja untuk menanyakan apa yang dia lakukan di kos-kosan yang banyak di huni oleh wanita-wanita.


Pesan kukirim padanya seolah aku tak pernah tahu dari mana dan apa yang di lakukan laki-laki bertubuh tinggi yang kini menjadi ayah anakku. Dia menjawab seadanya dan marah ketika aku menyuruh membeli makanan di luar, sangat jengkel rasanya aku ingin menghabisi laki-laki itu jika tidak kuingat bahwa dia ayah dari anakku.


Bisa-bisanya dia mengatakan bahwa tidak ada uang, selalu saja itu yang keluar dari mulutnya padahal dia setiap bulannya gajian dan sekarang ada mobil bahkan sekarang mengambil cicilan rumah. Aku sudah mencegahnya namun kata-kataku tak pernah di hiraukan, apakah aku ini hanya sampah baginya?


Aku sangat bersyukur kali ini pak Bagas jauh lebih peduli padaku walau dia bukan siapa-siapa bagiku, maksudku bukan orang spesial dalam satu hubungan.


Kadang aku merasa heran, begitu bahagiakah dirinya jika orang yang terdekat dengannya merasakan penderitaan, apa dia merasa bangga mempunyai motor mewah, mobil dan juga rumah mewah yang untuk di pamerkan semata, sementara anaknya makan seadanya dan istrinya harus banting tulang demi menutupi kekurangan-kekurangan nafkah yang dia beri.


Tuhan aku sungguh menyesal atas bujuk rayunya dulu, sampai aku rela tidak melanjutkan kuliahku demi menikah dengannya. Bahkan aku tak menghiraukan tangisan ibu kala itu, ibu yang telah membiayai kuliahku dengan susah payah tapi aku dengan entengnya mengatakan pada ibu akan menggantikan semua kerugian yang pernah ibu keluarkan untuk biaya kuliahku, aku dengan penuh keyakinan karena laki-laki yang ku sebut suami saat ini PNS jadi kupikir dia dengan senang hati akan menggantikan kerugian yang ibu tanggung. Nyatanya omong kosong belaka.

__ADS_1


Wanita yang melahirkanku hanya mampu diam. Aku tahu diam ibu penuh makna, penyesalan juga kekecewaan yang mendalam. Tapi aku beruntung hanya memiliki satu putra jika banyak anak mungkin aku akan merasakan guncang jiwa.


Terlalu banyak memikirkan laki-laki yang bikin hati dan pikiran kacau membuat aku merasakan hawa panas yang berlebihan.


____


Entah berapa lama aku tertidur hingga tanpa kusadari bang Rohman sudah duduk di samping ranjang sambil memainkan benda pilih miliknya. Aku tahu dia tak nyaman untuk sekedar berbaring di sampingku. Tak apa, nanti akan kubuat dia bertekuk lutut di hadapanku.


Aku melirik kearah dinding sudah pukul sembilan malam, jadi aku tertidur di sore hari dengan perut kosong. Sangking sakit hatinya pada laki-laki yang sekarang ada di sampingku. Aku memicingkan mata, mengintip sekilas apa yang ayah anakku lakukan pada benda pipih miliknya.


Hatiku rasanya begitu panas melihat deretan love yang suamiku kirimkan pada wanita yang entah siapa namanya, aku tak bisa melihat jelas karena posisi dia duduk sedikit miring.


Oke, baik!


Sekarang kita akan mulai permainan yang sudah kamu rencanakan suamiku tersayang. Rasanya seperti ingin keluar isi perutku menyebutkan dia sebagai orang tersayang.


Malam terus merangkak naik, ayah dari anakku itu terus saja bergelut dengan benda pipih miliknya, bahkan sama sekali tak menyentuhku. Tak apa jika dia tidak menyentuhku akan lebih baik, tak ada hinaan yang keluar dari bibir kotornya malam ini.


Gegas aku bangkit dari tidurku khas orang yang refleks kaget ketika ingat sesuatu. Kulihat ayah dari anakku itu menyembunyikan gawai miliknya.


”Kok bangun. Mau kemana, Dek?” Tanyanya seraya menautkan kedua alis tebalnya.


”Ali, aku kangen Ali,” jawabku tergesa. Memang itulah yang kurasakan. Terlalu banyak waktuku terbuang sia-sia untuk menafkahi dan menuruti apa mau laki-laki yang ada di hadapanku saat ini membuatku lambat memperhatikan Ali.


”Dia aman kok sama ibuk,” cetusnya tanpa rasa bersalah.


”Aku tau, tapi aku mau dia pulang, dia anak kita, Bang. Bukan anak ibuk,”sungutku. Kesal sekali jika untuk urusan anak saja dia anggap sepele.

__ADS_1


”Pergi sendiri ya!” Tegasnya.


Baiklah, siapa yang butuh tumpangan dari motor dan mobil miliknya. Tumpangi saja wanita yang terbaik menurutmu Bang. Aku hanya bisa membatin.


Menyusuri jalanan yang hanya diterangi lampu teras rumah warga, aku berjalan kaki menuju rumah ibu, aku tak punya motor sendiri, kemana-mana harus berjalan kaki, bahkan menjemput Ali saja aku berjalan kaki menuju kesekolahnya, bukan aku tak bisa mengendarainya hanya saja motorku di jual oleh bang Rohman untuk uang muka cicilan motor mahal miliknya.


Rasanya hati ini hampa, hidup tanpa pegangan. Suami yang harusnya tempat bermanja malah membuat hati ini hancur tak tersisa. Rasa sayangku padanya tak tersisa secuil pun karena sikapnya yang berubah seiring berjalannya waktu.


Andai saja sikapmu seperti dulu bang. Tak mungkin, karena dia tetaplah dia, tak mungkin bisa menjelma seperti pangeran yang dalam negri dongeng.


Kakiku terasa sedikit pegal karena berjalan beberapa meter, rasa takutku tak pernah ada lagi, bahkan jika tuhan berkehendak ingin mencabut nyawaku aku sudah siap.


Tok ... Tok...


”Assalamulaikum..., Bu,” salamku sambil terus mengetuk daun pintu. Tak lama terdengar suara saklar di cetekkan.


”Walaikumsalam,” sahut ibu dengan suara khas bangun tidur.


”Ali mana, Bu?” tanyaku tanpa basa basi.


”Ali sudah tidur, kenapa malam-malam kamu kesini?” Tanya ibu lagi, kedua alisnya saling bertaut. ”Kalian di rumah ribut?” Lanjutnya. Mata ibu seperti mencari sesuatu di luar rumah.


”Kami ga ribut, Bu. Hanya saja aku memikirkan Ali, aku juga ingin tidur di sini,” jelasku. Aku menyelonong masuk kedalam kamar yang biasa aku tempati jika menginap di rumah ibu.


Sekarang aku tidak bisa terus mengikuti apa mau orang lain, sedangkan kemauanku terabaikan. Jika ingin bahagia maka bahagiakan dirimu, bukan karena laki-laki lain yang kini lebih perhatian padaku tapi nasehat dialah yang kuingat.


Dulu aku berpikir bahwa Tuhan tidak pernah adil padaku, tuhan selalu berpihak pada dia yang selalu zalim terhadapku, merasa percuma aku menumpahkan isi hatiku di atas sajadah. Nyatanya aku salah, semakin banyak aku mendengar nasihat yang membuat hati ini nyaman maka semakin banyak hikmah yang bisa kupetik di balik sikap bang Rohman dan keluarganya.

__ADS_1


Sejenak hati ingin melupakan dia, melupakan apa yang dia perbuat padaku, biarkan lelapku melupakan semua beban untuk sesaat.


Bersambung....


__ADS_2