
Warga berkumpul di halaman rumah Mayang, memandang aneh pada dua insan manusia yang sedang gaduh.
"Pergi!" Hardik Mayang kembali, membuat semua mata tertuju pada ibu satu anak itu. Mata Mayang sudah di banjiri dengan air asin yang mengalir deras.
"Ada apa ini Mayang?" Tanya pak RT setempat berusaha menenangkan kedua pasangan yang berseteru saat ini.
"Itu pak RT. Mayang ngusir suaminya," jawab mbak Sri. Mulutnya yang pedas selalu saja menyambar apa yang dia dengar.
"Diam, bukan kamu yang saya tanya," sanggah pak RT dengan nada kesal. Ibu Sri memutar bola matanya kesal. Ingin menjawab namun urung karena emak-emak lain menyenggolnya.
"Benar Mayang?" Tanya pak RT lagi pada dua pasangan yang membuat kegaduhan. Mayang mengaguk pelan, rasa sesak di hatinya kian pilu.
Pak RT mengajak Mayang untuk berbicara dan ingin tahu di mana puncak masalahnya agar semua dapat terselesaikan dengan semestinya. Namun keadaan berpihak pada Mayang, wanita itu memiliki bukti yang kuat. Perundingan yang begitu lama juga mengharuskan Rohman pergi meninggalkan rumahnya. Namun Rohman berpesan pada Mayang untuk tidak memisahkan dia dengan putranya, Mayang pun menyetujuinya.
Suasana di luar masih ramai, Rohman menenteng tasnya dengan hati yang hancur, mengingat atas semua yang menimpanya termasuk kehilangan mobilnya. Motor kesayangannya pun berderu meninggalkan warga yang masih berkerumun.
"Kamu ga bersyukur, sudah di belikan emas sama Rohman kok Yo malah kamu usir!" Cibir ibunya Ugik tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Mayang mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan apa yang di bicarakan oleh bu Ugik.
"Padahal enak ya, Bu. Sekarang dia tinggal jalan-jalan sama teman laki-lakinya kok malah nuntut yang enggak-enggak," cetus bu Nia. Hebat sekali gosip-gosip yang beredar. Ini semua semenjak kedatangan sepupu Rohman ke kampung ini, dia mengontrak tidak jauh dari rumah Mayang.
"Sudah ... Sudah. Jangan ngomong tanpa mengetahui bukti," hardik pak RT membuta mereka memonyongkan bibirnya. Mereka semua pulang kerumahnya masing-masing, sepupu Rohman masih berdiri di halaman rumah Mayang, sementara pak RT juga pulang kerumahnya, merasa jengah dengan kelakuan warganya.
"Mau apa?" Tanya Mayang pada wanita yang menatapnya penuh selidik.
"Aku mau rumah ini," pintanya tanpa rasa malu sama sekali.
"Emang ini rumah emakmu?" Tanya Mayang kesal dan menatap sinis kearah kakak sepupunya Rohman.
"Rumah adik sepupuku," jawabnya enteng. Seolah dia tahu segala permasalahan rumah tangga Mayang dan suaminya.
"Gila." Mayang menutup pintu dengan membanting kasar. Meninggalkan kakak sepupu Rohman yang mematung di halaman.
__ADS_1
"Dia kira abangnya hebat," ibu satu anak itu menggerutu. Otaknya saja kini di penuhi dengan hal-hal yang membuatnya jengkel, di tambah lagi ulah sepupunya yang menyebarkan fitnah entah dari mana dia mendapatkan informasi palsu yang membuat dirinya terpojokkan.
____
Matahari sudah bersembunyi di balik bukit. Mayang terduduk lesu menatap kosong kearah dinding. Pikirannya memikirkan apa yang tadi dilakukan suaminya, di video juga di jelaskan mereka akan di hukum cambuk di area Masjid terdekat. Mayang memutar otak merencanakan sesuatu yang membuat dirinya tidak terus menerus menanggung malu atas tuduhan dan cemoohan warga.
Dret...
Gawainya yang dari tadi ia abaikan memekik keras. Ibunya memanggil.
"Iya, Bu," jawab Mayang, dengan suara yang masih bergetar, tanda ia masih menangis.
"Kamu kenapa? Ada warga lapor sama ibu kalo kamu itu wanita ga tau diri, tega ngusir suami kamu," tegur ibunya tak terima dengan perlakuan Mayang. Walau bagaimanapun itu suaminya dan mulut tetangga sangat pedas.
"Ibu dengarkan penjelasan Mayang dulu. Mayang kesitu sekarang," jelasnya lalu mematikan panggilan yang berlangsung. Mengusap air matanya, percuma menangisinya. Semua sudah terjadi, wanita satu anak itu kini harus kuat menerima kenyataan bahwa takdirnya harus seperti ini. Mengayunkan langkahnya menuju kerumah wanita yang telah melahirkannya, yakin dengan sepenuh hati bahwa ibunya akan mendengarkan penjelasannya.
"Assalamualaikum," ucapnya lalu menolak handle pintu pelan. Matanya terbelalak rasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Baiknya kau pergi dari sini!" Mayang mulai murka.
"Jaga ucapanmu Mayang. Dia suamimu."
Rohman tersenyum puas saat ibu mertuanya memarahi anaknya sendiri. Sedangkan Mayang memijit pelipisnya, seakan tak percaya apa yang terjadi saat ini.
"Bu. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Mayang, menarik tangan ibu kandungnya itu menuju dapur. Secepatnya Mayang memperlihatkan video yang memperlihatkan adegan tak wajar itu, wanita paruh baya itu menutup mulutnya tak percaya.
"Sekarang ibu masih membela dia?" Tanya Mayang lagi. Ibunya menggeleng pelan. Rasa malu yang teramat sangat ia rasakan saat ini, bahkan menyesal teh membentak anaknya tadi.
Wanita paruh baya itu mengangkat sapu lalu memukuli badan Rohman bertubi-tubi hingga dia mengaduh kesakitan, sambil berlari keluar dari rumah.
"Maafin ibu," lirih wanita yang melahirkan Mayang tersebut. Suasana haru seketika menyelimuti keduanya. Mayang memeluk erat ibunya dan menumpahkan tangis dalam pangkuan wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
Duka bukan selamanya akan jadi petaka, duka awal dari bahagia yang akan datang, jiwa dan raga di tuntut untuk bersabar karena di setiap masalah pasti ada jalan keluar.
Bersyukur Ali sudah terlelap saat Mayang kesini, jadi ia tak harus melihat adegan yang tidak pantas.
___
Suasana semakin larut, sementara wanita yang telah melahirkannya telah terlelap, Mayang masih duduk termenung dalam kesunyian malam. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian.
Mengatur strategi untuk membuat laki-laki yang menyakitinya juga akan merasakan apa yang ia rasakan sebelumnya.
"Uang," lirihnya. Mayang merencanakan rencana besar hari Minggu besok, tepat pada saat suaminya akan di hukum cambuk bersama dengan selingkuhannya. Tak lama dengkuran halus terdengar, ibu satu anak itu terlelap dengan memikul begitu banyak beban. Dari dulu sampai sekarang, suatu hal yang ia syukuri saat ini memiliki anak yang luar biasa, semua lengkap di miliki Ali, anak Saleh itu tidak pernah menuntut apa pun pada ibunya. Limit edition kalau kata jaman sekarang.
Baru beberapa jam tertidur suara adzan subuh sudah terdengar, Mayang membuka matanya berlahan. Meraba-raba gawai miliknya untuk memastikan suara adzan subuh ini bukan halusinasinya saja. Ia menyipit saat tertera di benda pipihnya puluhan panggilan masuk dari suaminya. Ah bukan, lebih tepatnya calon mantan suami.
Melakukan kewajiban sebagai seorang muslim tak pernah ia tinggalkan, bahkan dulu sering ia berdoa agar suaminya berubah menjadi manusia lebih baik lagi. Namun apa? Tuhan tak pernah mengabulkan permintaannya atau mungkin Tuhan sedang marah padanya bisa juga Tuhan saat ini sedang mengujinya.
Diatas tempat yang suci Mayang menumpahkan segala gundah di hati, meratapi nasib yang telah terjadi, mengadu memohon dan bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuknya saat ini, lalu permintaannya pada hari yang akan datang, ia tidak akan ingin terjatuh kedalam kubangan yang sama. Mayang terisak, sementara wanita yang melahirkannya berdiri di ambang pintu mendengarkan tangis putrinya, ia tahu saat ini sandaran Mayang jauh lebih kuat daripada sandaran yang mampu ia berikan. Air mata wanita yang melahirkannya luruh tak dapat di bendung.
__
Mentari mengintip malu-malu, Mayang mempersiapkan putranya untuk berangkat ke sekolah, tak ada drama sebelum sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Ali menuruti apa kemauan bundanya tanpa ada kata penolakan sama sekali.
Mayang juga berpamitan ingin berangkat kerja, walau matanya sembab karena menangis terlalu lama. Tekatnya kini sudah mantab tak ingin menangisi lagi laki-laki yang tak pernah menangisinya sama sekali. Dulu saja saat Mayang melahirkan putranya Rohman sama sekali tidak perduli, yang ada di otaknya kerja dan kerja.
Berjalan kaki menuju rumahnya seperti biasa, banyak pasang mata ibu-ibu yang memandangnya. Seolah Mayang saat ini adalah wanita terburuk yang pernah mereka lihat.
"Eh, Mayang," sapa Tuti-- kakak sepupu Rohman. Mayang malas malayani wanita yang tidak penting sama sekali menurutnya.
"Kamu tuli Mayang!" Seru Tuti dengan logat khasnya. Mayang malah mempercepat langkahnya mengingat hari ini dia harus masuk kerja. Profesional, itulah tuntutan dari Bagas.
Membanting pintu kasar agar Tuti paham betapa dirinya saat ini lelah dan malas melayani hal yang tak penting sama sekali.
__ADS_1
Bersambung....