
POV Rohman
Ini hari kedua berada di rumah sakit, hanya wanita yang melahirkanku yang setia menemaniku saat ini dan Eti yang pulang pergi dan bergantian menjagaku.
Kasian sebenarnya sama Eti yang lelah kekampus lalu kembali lagi kesini untuk menjagaku.
Kutatap wajah lelah mama yang tertidur di alas kecil di samping ranjang tempat aku berbaring namun di bawah, aku tak sanggup menyewa kamar VIP untuk perawatan terbaik untuk diriku sendiri, kasihan sekali wajah yang sudah mulai keriput itu kini harus lelah karena ulahku.
Aku sudah menjadi laki-laki lemah, untuk berdiri saja aku tak mampu, aku harus mengandalkan tongkat untuk menopang berat tubuhku.
"Kamu sudah bangun, Nak," mama terburu bangkit dari tidurnya yang tak begitu nyaman dan tergesa menghampiriku.
"Sudah. Kenapa Mama ga pulang aja, biarkan aku di sini sendiri. Ada perawat yang menjagaku," ucapku, aku berusaha menenangkan wanita yang melahirkanku agar tak merasakan gundah.
"Perawat hanya jenguk sebentar, lagian Mama ga keberatan untuk menjaga kamu," tak terlihat keterpaksaan dari wajah keriput Mama.
"Mama beli makanan dulu, katakan pada Eti nanti untuk menjualkan perhiasan di kotak merah dalam lemariku," kataku pada Mama yang hanya terdiam tanpa kata-kata.
"Tapi itu perhiasan siapa?" Mama mengernyitkan dahinya, aku tersenyum pahit menatap wanita yang sudah tua di hadapanku namun masih terlihat cantik.
"Itu mahar yang pernah kuberikan pada Mayang, saat aku memutuskan pergi dari kehidupannya aku mengambil kembali mahar yang pernah kuberikan padanya," tuturku lemah, tenggorokanku tercekat, rasanya begitu sesak membayangkan betapa pedihnya penderitaan yang kualami saat ini, aku teringat kembali perkataan Mayang yang mengatakan sumpah mendoakanku menderita.
Apa mungkin saat ini doanya sudah dikabulkan oleh Tuhan.
"Kenapa harus mengambil hak Mayang, mama menyesal telah berburuk sangka dan percaya omongan Tuti dan fitnah dari kamu," ungkap wanita yang melahirkanku itu sambil menyeka sudut matanya lalu merogoh tas kecil miliknya, setelahnya wanita yang kupanggil mama itu keluar tanpa permisi.
"Ya Tuhan, aku menyesal telah menelantarkan wanita yang menjadi tanggung jawabku dulu," lirihku, tak terasa akhir-akhir ini aku begitu cengeng di buat oleh keadaan.
Beberapa saat dokter masuk, beberapa alat ia bawa untuk membuka perban pada kakiku sebelah kanan yang hanya tinggal setengahnya.
"Sudah kering, benangnya bisa di lepas tiga hari lagi," ucap dokter itu sambil menatap kearahku.
"Kapan saya bisa pulang dokter?" Aku bertanya sedikit was-was karena takut kena marah, biasanya dokter sedikit galak.
"Setelah benang kita lepas, setelahnya kita cek riwayat penyakit lain," jawabnya singkat lalu meninggalkan aku di ruang rawat ini sendiri.
__ADS_1
Aku memandang hingga tubuh dokter itu menghilang, di ambang pintu berdiri bocah kecil sambil menatap sendu kearahku.
"Ali," lirihku, kembali air mataku tumpah, tak kusangka kabar bahwa aku kecelakaan sampai ke telinga Mayang mantan istriku.
"Bagaimana keadaan, Abang?" Tanya Mayang menatapku lekat, pandangannya sama seperti saat awal kami pertama bertemu.
"Seperti yang kamu lihat, apa kamu puas Mayang?" Nada bicaraku meninggi, menatap tajam kearah wanita yang telah melahirkan anakku itu.
"Astagfirullah. Puas apa, Bang?" Kulihat mata Mayang berkaca-kaca, mungkin saja hanya air mata kebohongan seperti yang Anita keluarkan.
"Puas dengan keadaanku seperti ini, kamu kesini hanya untuk menghina keadaanku kan?" Aku menuduh Mayang. Biasanya seseorang akan puas jika sumpahnya telah terlaksanakan.
"Hatiku tak pernah bersungguh-sungguh menginginkan Ayah dari anakku mengalami hal buruk," lirih Mayang sambil menyeka matanya.
Susah payah aku berusaha duduk, ingin mengecup pipi Ali walaupun hanya sekali. Mayang berusaha membantuku untuk duduk namun aku menepis tangan Mayang yang sudah terlihat begitu mulus, persis seperti saat awal kami bertemu.
Entah kenapa debaran di dadaku bertolak dengan perkataan yang keluar dari bibirku.
"Nenek mana, Yah?" Tanya Ali padaku.
"Nenek beli makanan," jawabku singkat. Ali hanya menganggukkan kepalanya.
"Aduh Rohman, kenapa harus puntung kakimu Rohman?" Tanya Mbak Tuti tanpa memperdulikan perasaanku sama sekali.
"Astagfirullah, mulut kok kayak sampah sih Mbak. Jaga perasaan Bang Rohman sedikit ngapa?" Mayang menghardik mbak Tuti, entah kenapa aku senang mendapatkan pembelaan darinya walaupun selama ini aku tak pernah membelanya sama sekali.
"Kamu tuh kelakuan kayak sampah. Ngelonte terus buka toko gamis untuk menutupi bahwa kamu jual diri," ucap mbak Tuti menatap tajam kearah Mayang.
"Fitnah itu akan kembali padamu nantinya, Mbak," Mayang masih bersikap tenang. Tak ada lagi Mayang lemah seperti dulu, Mayang yang dulu begitu senang membuatku susuah.
"Sudah, pulang sana, kalo bikin ribut di sini," ucap mama sambil membukakan bungkusan nasi dan menyuapkan padaku, aku mengambil alih bungkusan nasi dari tangan mama lalu aku memakannya sediri, ingin aku menyuap kemulut Ali sebagai permintaan maaf tapi Ali sudah berada di luar kamar bersama seorang laki-laki. Ah, mungkin saja itu calon suami Mayang atau Mayang bsudah menikah.
Sedikit nyeri di hatiku, rasa begitu berat lepaskan Mayang untuk hidup bahagia bersama laki-laki lain. Aku menyesal meninggalkan wanita yang begitu tulus mencintaiku dulu.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa menit berlalu suasana hening dan nasi yang kumakan sudah habis.
"Ma, Mayang pamit pulang." Mayang meraih punggung tangan wanita yang dulunya pernah menjadi mertuanya dan menciumnya dengan takzim. Anita tak pernah melakukannya sama sekali.
"Hati-hati, Mama minta maaf atas segala salah dan dosa sama kamu, Mama juga minta maaf atas kesalahan Rohman," papar wanita yang telah melahirkanku itu sambil berlinang air mata, sementara Mayang hanya mengangguk seolah tak ingin memaafkan aku dan mama.
Aku menatap punggung Mayang yang semakin menjauh dan beralih menatap mbak Tuti yang sedang menyantap gorengan yang ia bawa sendiri.
"Mbak. Sudah ada duitku?" Tanyaku dengan nada pelan.
"Halah uang satu juta aja pelit banget. Hitung-hitung uang itu sebagai lelahku memfitnah Mayang dulu," hardik mbak Tuti tak terima jika aku meminta uangku untuk segera di kembalikan.
"Jika aku sehat boleh saja aku ikhlas, Mbak. Tapi lihat keadaanku saat ini, harusnya Mbak yang menolongku saya aku butuh seperti ini," jawabanku dengan nada masih rendah, aku benar-benar ingin uangku di kembalikan, karena aku benar-benar membutuhkannya.
"Kalo aku kaya dah kutolong," ucapnya sambil terus saja mengunyah gorengan yang tersisa dia dalam kantong plastik yang ia bawa, tak ada sama sekali niatnya untuk menawarkan padaku.
"Tak perlu kaya untuk menolong," lirihku, aku terpaksa mengunakan perkataan Mayang yang pernah ia ucapkan saat aku melarangnya dulu memberikan sayura secara gratis untuk para tetangga.
"Kalo ga kaya ya gimana nolong. Perut sendiri aja masih ke iket," jawab Mbak Tuti tak mau mengalah.
"Ya sudah, kembalikan saja uangku besok atau lusa, aku benar-benar butuh," ucapku, lalu aku meringsut kebawah sedikit membenarkan posisiku, aku membaringkan tubuhku, kembali kupejamkan mata ini, namun bayangan Mayang menari di pelupuk mata. Rangkaian kejahatan yang pernah kulakukan padanya menghantuiku saat ini.
.
.
.
____
Tak selamanya orang yang kita tolong dapat menolong kita saat kita butuh, ada saatnya tuhan menegur hambanya dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Ada masanya orang yang kita benci tulus menolong kita tanpa meminta untuk kita membalasnya.
Sejatinya ketulusan datang dari hati, bukan lisan yang hanya sekedar terucap, juga tak selamanya uang yang menjadi perioritas, ada tenaga yang tulus suatu saat yang kita butuhkan.