CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 44


__ADS_3

Tiga hari berlalu Abizar mendatangi rumah Mayang tanpa ada raut kebahagian, tiga puluh gram emas dan seperangkat alat salat telah ia bawa demi mendapatkan wanita yang begitu ia cintai.


"Maaf jika mbuat bapak penghulu menunggu lama," ucap Abizar sesaat setelah memberikan salam, ia duduk di depan penghulu tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Tidak masalah anak muda, baru lima belas menit telat. Nanti saat bulan madu tidak boleh telat," seloroh penghulu membuat lima orang saksi itu terbahak.


Andaikan orang di sini tahu apa yang sebenarnya ia rasakan maka tak mungkin mereka tega mengatakan hal yang membuat Abizar semakin terpojok.


"Siap?"


"Saya siap, lahir dan batin saya saat ini," ucap Abizar mantap, sementara Mayang terlihat begitu sedih menatap kearah Abizar, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Setela dua kali melafazkan ijab kabul yang salah, pada lafaz yang ke tiga ia berhasil.


"Sah!" Ucap beberapa saksi dengan suara pelan. Mayang beranjak ke dapur untuk menyuguhkan beberapa cemilan dan teh hangat untuk para saksi dan pak penghulu.


Abizar menatap Mayang penuh keraguan, wanita yang ia cintai kini ia dapatkan dan harus ia lepaskan demi masa lalu Mayang yang tak menemukan titik terang di masa depan.


"Tidak usah di pandang. Besok juga akan selalu ada disisi," ucap pak penghulu sambil menyeggol pelan tubuh Abizar yang dari tadi sudah duduk di sampingnya.


"Tidak. Ini tidak seindah yang terlihat," ucap Abizar membuat mereka mengernyitkan dahi.


Ucapan ambigu Abizar menimbulkan tanda tanya pada pak penghulu dan beberapa saksi, namun mereka memilih diam karena tak ingin ikut campur urusan kedua mempelai yang akan membuat mereka semakin pusing nantinya.


.


.


Beberapa saat setelah teh dan makanan ringan habis mereka berpamitan pulang, begitu juga Abizar yang akan izin pada orang tua Mayang dengan alasan ia lupa membawa pakaiannya.


"Masa pengantin baru mau pulang, nanti apa kata ibu kamu, Nak?" Wanita yang melahirkan Mayang itu menatap wajah Abizar yang terlihat tidak ada cahaya kebahagiaan sama sekali.


"Ga apa-apa, biar itu urusan Abizar sama Mama," jelas laki-laki pemilik mata elang itu.


Ibu satu anak itu menatap nanar kearah Abizar yang hendak pulang, ingin menahannya tak ada keberanian sama sekali.


Suasana canggung terlihat pada sepasang suami-istri yang baru saja di sahkan itu.


"Boleh kan Mayang?" Abizar beralih menatap Mayang yang seolah sedang sibuk dengan gawainya saat Abizar memendang dirinya.


"Bo ... Boleh kok," kata Mayang tergagap saat manik mata keduanya saling beradu. Padahal Abizar berharap istri sesaat yang telah ia nikahi itu akan mencegah kepulangan dirinya.

__ADS_1


"Nah, kan ibu dengar Mayang aja ga apa-apa," tutur Abizar menatap sinis kearah Mayang yang terlihat salah tingkah.


Satu sisi Abizar senang jika ia tidak menggauli Mayang maka kesempatan Mayang untuk bersama dengan dirinya akan lebih lama lagi, satu sisi lagi ia kecewa karena Mayang hanya memanfaatkan kebaikannya.


.


.


Abizar telah benar-benar meninggalkan pekarangan rumah orang tua Mayang di malam pertama setelah akad. Malam yang seharusnya penuh kebagian malah berubah kelam penuh dengan air mata.


"Bodoh ... Ya aku begitu bodoh mau menikah dengan wanita yang sama sekali tidak mencintaku," lirihnya, laki-laki bertubuh gempal itu turun dari dalam mobil dan masuk kedalam toko khusus pakaian dalam wanita.


"Cari apa, Pak?" Sambut pelayan toko dengan ramah.


"Saya mau cari lingerie untuk istri saya," jelas Abizar sambil ikut tersenyum menatap pelayan yang tersenyum ramah.


Wanita cantik itu memilih beberapa pakaian lingerie lalu memperlihatkan pada Abizar yang mana yang akan ia pilih.


"Aku mau semuanya," ucap Abizar lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya, ia memilih membayar mengunakan kartu kredit miliknya karena lebih memilih tak ingin mengetahui berapa harga pakaian yang ia beli tersebut.


Ia kembali masuk kedalam mobil dan langsung pulang ke kediaman orang tuanya, tak ada cinta yang benar-benar mencintainya selain ibundanya saat ini.


Tak butuh waktu lama ia sampai di rumah orang tuanya. Lingerie dalam paper bag ia biarkan teronggok di dalam mobilnya saat ini. Tubuh dan pikirkannya begitu lelah saat sudah.


Lagi-lagi hati gundah akan menemani tidurnya sepanjang malam, berlahan pemilik mata elang itu terpejam dalam keadaan hati yang sulit untuk diartikan.


.


.


Alarm membangunkan laki-laki bertubuh gempal itu salat subuh rutin ia laksana kecuali ia kesiangan.


Tak butuh waktu lama ia selesai salat, masih sendiri, harusnya ada makmumnya saat ini yang berdiri menemani salatnya saat ini.


Untaian doa ia panjatkan berharap pada sang maha cinta memberikan cinta pada Mayang agar Mayang tulus mencintai dirinya seperti cintanya pada ibu satu anak itu.


.


.


____

__ADS_1


Di tempat yang berbeda Rohman sedang memandang gawainya yang sudah retak, berharap pesan dari Mayang akan segera ia terima namun nyatanya Mayang tak mengirimkan pesan apapun untuknya saat ini.


Ada rasa kecewa dalam hatinya tapi mau bagaimana lagi, saat ini Mayang sedang sedikit menjaga hati Abizar untuk menjaga jarak dengan Rohman karena begitu perjanjian sebelum mereka menikah.


Rohman bangkit dari atas sajadah lalu mengambil sajadah itu dan menyangkut di tiang khusus yang terletak di sudut ruangan.


Kembali pakaian lusuh ia kenakan untuk menjaga parkiran seperti biasa. Karena ini satu-satunya tempat ia mencari nafkah untuk membelinya obat untuk mengurangi perkembangan virus yang terus berkembang jika ia biarkan begitu saja.


Rohman di bantu dengan tongkatnya berjalan menuju parkiran, tak lama parkiran sedikit lenggang karena hari Jumat jadi tidak banyak pengunjung di pasar.


Laki-laki bertubuh kurus itu berjalan menuju toko gamis Mayang, ia hanya melihat dari kejauhan karena begitu malu untuk bertemu dengan Mayang jika bukan wanita itu terlebih dulu mengajaknya bertemu.


Dari kejauhan Rohman menatap Mayang yang sibuk dengan ponselnya, karena sepi pembeli jadi Mayang memainkan ponselnya dan sesekali tersenyum kearah benda pipih itu.


Laki-laki bertubuh kurus itu menyentuh dadanya yang terasa begitu nyeri, terbakar api cemburu yang kini ia rasakan, walaupun ia mengetahui Mayang akan menikah lagi namun kekesalannya tidak dapat ia sembunyikan.


Dengan menahan rasa malu ia datang ke toko gamis Mayang ingin menanyakan kepastian pada ibu satu anak itu.


"Assalamualaikum ..."


"Ada apa, Bang?" Ibu satu anak itu bangkit dari duduknya dan bertanya setelah menjawab salam. Mayang ingin meraih tangan Rohman namun laki-laki itu menghindar.


"Berikan kepastian siapa yang sebenarnya kamu pilih Mayang? Laki-laki itu apa aku?" Rohman berbicara dengan nada tinggi membuat wanita itu menatap heran kearah mantan suaminya itu.


"Kenapa bertanya seperti itu, aku sudah memberikan kepastian sebelumnya," kata Mayang sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


"Aku akan ikhlas jika kamu bersamanya, Mayang. Asalkan kamu bahagia," dusta Rohman, laki-laki bertubuh kurus itu menyembunyikan air matanya, rasa cemburunya menghimpit dadanya saat ini.


"Aku tidak bahagia dengan siapa pun," lirih Mayang dengan sikap tenang, ia kembali duduk di kursinya.


"Lalu kenapa kamu selalu tersenyum dengan ponselmu?" Tanpa bisa di cegah bibir Rohman mengeluarkan isi hatinya yang bisa membuatnya malu.


"Oh ... Jadi karena itu," kata Mayang terkekeh membenarkan lengan bajunya yang sebenarnya masih rapi, sedangkan Rohman menunduk malu, kata-kata dari mulutnya sendiri mampu membuatnya benar-benar malu.


"Aku cemburu, Mayang," lirih Rohman sambil memilin ujung bajunya yang lusuh.


"Aku paham. Tapi ingat, Bang. Aku sama sekali tidak mencintaimu lagi, bukankah sudah kukatakan sebelumnya?" papar Mayang dengan suara tegas, suara yang tak pernah Rohman dengar sebelumnya.


Seakan batu besar menghujam dada Rohman berkali-kali, begitu sakit berharap pada seseorang yang kini ia cintai lagi.


"Ya Allah, beginilah rasanya dulu saat aku mengatakan hal-hal yang membuat hati Mayang sakit," batinnya, Rohman berbalik lalu meninggalkan toko gamis Mayang tanpa memberikan salam dengan rasa sesak yang teramat menyakitkan dada.

__ADS_1


Hati yang pilu itu menahan air mata yang siap tumpah dari tempatnya, akan jatuh harga dirinya jika menangis di keramaian saat ini.


Rohman berjalan tertatih menuju toilet umum, membasuh mukanya untuk menyamarkan air mata yang luruh di dalam sana.


__ADS_2