CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 17


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Rohman menatap nanar kearah Anita yang terbaring nlemah di rumah sakit, tangannya terus saja mengusap kepala wanita mungil itu dengan lembut.


"Aku akan membalas perlakuan Mayang yang telah menyusun rencana untuk kedatangan warga. Niat sekali dia mempermalukan aku. Aku akan melakukan lebih dari itu," lirihnya, padahal bukan Mayang yang memperlakukan dirinya seperti itu, kelakuannya sendiri yang membuai seperti saat ini.


Berlahan Anita membuka matanya, mendapati Rohman di depannya segara Anita memeluk tubuh Rohman dan menangis tersedu. Seolah dirinya begitu terzalimi.


Cup...


Rohman mengecup pucuk kepala Anita dengan lembut, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya terhadap Mayang istri sahnya.


"Apa kita tidak di hukum lagi?" Tanya gadis itu dengan muka panik.


"Tidak. Akan kupastikan tidak akan pernah terjadi, setelah ini kita akan pergi keluar kota," ungkap Rohman.


"Aku senang mendengarnya." Senyum paksa terlihat dari wajah Anita.


Sudah dua hari di rumah sakit, hari ini mereka di perbolehkan pulang. Tetapi Rohman punya niat lain, ia ingin menemui Mayang terlebih dahulu dan memberi pelajaran pada wanita itu.


Rohman dan Anita kembali ke kontrakan mereka, rencananya akan mengosongkan kontrakan saat malam tiba dan mereka akan menginap di hotel yang agak jauh dari desa mereka, agar tak ketahuan kabur.


Sore ini dengan hati kacau Rohman datang menemui Mayang, motor ninja miliknya agak jauh ia parkiran. Pikiran liciknya mengatakan jika Mayang mendengarkan suara motornya maka wanita itu akan kabur.


Matanya terus menyoroti Mayang yang sedang asyik bersenda gurau dengan putranya, hati wanita itu ia tata serapi mungkin untuk menyembunyikan luka di depan putranya.


"Mayang!" Hardik Rohman tanpa menghiraukan tetangga memperhatikannya dari tadi. Wanita itu hanya menoleh dan menyuruh putranya masuk kedalam rumah.


Ibu satu anak itu tak pernah ingin jika anaknya mendengarkan keributan yang tak seharusnya didengar oleh anak-anak.


"Ada apa, Bang?" Tanya Mayang menatap kearah Rohman, wanita itu berusaha menutup lukanya.


"Kamu yang membayar warga untuk menyaksikan suamimu ini dihukum cambuk hah?" Kata-kata itu keluar sebelum tangan kanan Rohman melayang di pipi mulus Mayang. "Tamparan ini untuk balasan karena kamu telah menampar kakak sepupuku," sambung Rohman.


Oh. Jadi yang mengadu adalah Tuti, wanita itu suka mencari muka. Mungkin dalam pemikirannya ia akan mendapatkan hak adu domba dengan ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Mereka harus tau kalo kamu yang salah. Bukan aku," jelas Mayang. Tubuhnya bergetar menahan tangis, sementara bocah kecil yang mengintip dari jendela terisak lirih. Ada dendam di sana.


"Istri udik, tak tau terimakasih seperti kamu ya begini. Kamu itu sudah tidak perawan saat ku nikahi tapi masih saja banyak tingkah. Wajar jika aku mencari wanita lain untuk kepuasanku," kilah Rohman berdusta, membuat kedua bola mata merah Mayang menatap nyalang kearah Rohman.


"Apa? Jangan bercanda kamu, Bang. Tak pernah ada yang menyentuhku selain kamu." Mayang membela dirinya. Benar adanya wanita itu masih suci saat malam pertama mereka.


Banyak pasang mata yang menyaksikan mereka berdebat di teras rumah, ibu-ibu pasti akan percaya perkataan Rohman dengan sedikit bantuan dari Tuti.


Berlahan tubuh Mayang melemah, tubuh itu terduduk di lantai sementara Rohman dengan bringas masuk kedalam rumah dan mengacak-acak isi rumah, Rohman mencari sertifikat rumah dan surat-surat motor, mobil hingga membuat kegaduhan dan beberapa barang pecah. Ali duduk di pojokan rumah sambil memeluk lututnya.


"Apa yang Abang cari?" Mayang masuk dengan tertatih.


"Sertifikat dan surat-surat milikku," jelas Rohman masih sibuk mencari-cari.


"Sertifikat apa? Jika sertifikat rumah tidak ada," kata Mayang tegas. Ia tak ingin terlihat lemah di depan calon mantan suaminya itu.


"Ada hakku di situ. Aku mau menjualnya," terang Rohman membuat Mayang tersulut emosi, tak ada hak Rohman pada rumah yang ia tempati, rumah ini murni hasil keringatnya bekerja saat masih gadis dulu dan tanahnya pemberian dari orang tua Mayang.


"Jangan gila. Ini rumahku, jika kepengadilan pun, ini semua tidak akan jatuh atas hak Gono gini," terang Mayang. Mendengar itu Rohman berkacak pinggang.


"Bang. Aku memang wanita kampung, tapi aku ada kuliah walau sebentar. Aku paham sedikit ...." Perkataannya terputus saat ibu Mayang masuk dan memeluk Ali.


"Kalian manusia bodoh yang bertengkar di depan anak kecil," hardik ibu yang melahirkan Mayang dengan lantang. Memperhatikan pipi anaknya itu memerah belas tamparan yang dilayangkan Rohman membuat amarahnya memuncak.


"Mayang. Nanti kita ke kantor polisi untuk membuat laporan." Menatap nyalang kearah Rohman.


"Jangan, Bu." Rohman menangkupkan kedua tangannya di hadapan wanita yang masih berstatus sebagai ibu mertuanya.


"Terserah saya, karena anak saya. Jika suaminya tak layak maka saya berhak mencari gantinya," neneknya Ali itu mengertak, terbukti walau hanya gertakan membuat nyali Rohman menciut.


"Bu, saya mohon beri tahu pada Anita kalau saya ingin kunci mobil dan surat-surat," pinta Rohman.


Dasar memang laki-laki tak tahu malu, sudah mencaci menghina, memfitnah bahkan menuduh masih saja menginginkan mobil yang dibeli dengan warisan Mayang.

__ADS_1


"Kamu pikir saya bodoh Rohman?" Baru kali ini wanita yang melahirkan Mayang itu memanggil Rohman dengan sebutan nama, biasanya ia dengan senang hati memanggil nak.


"Maksud ibu apa?" Mayang dan Rohman mengeluarkan kata-kata bersamaan.


"Mayang. Itu mobilmu, hakmu. Rohman membelinya dengan uang warisan yang ibu kasih. Kebetulan tanah yang Rohman jual di beli oleh anaknya teman ibu," jelas ibunya Mayang dengan sungguh-sungguh.


Jengkel sekali hati Rohman mendengarkan perkataan neneknya Ali itu. Tubuh tinggi itu segera beraksi kembali mencari surat motor miliknya, usai menemukan surat motor ninja kesayangannya yang sudah lunas dua bulan yang lalu itu Rohman pun bergegas keluar dari rumah Mayang.


Sebenarnya saat berangkat tadi, selain dirinya dapat mempermalukan Mayang juga bisa mengambil surat-surat motor dan mobil juga menguasai rumah Mayang. Keadaan sedang tak berpihak padanya saat ini.


Ali menangis sesugukan dalam pelukan neneknya sementara Mayang terduduk lemah di lantai. Beberapa tetangga yang menyaksikan hanya berbicara pelan, seolah takut.


___


Beberapa hari berlalu hati Mayang sudah di tata dengan rapi walau belum sepenuhnya rapi, goresan luka ia tutupi dengan sempurna.


Semenjak kejadian itu Mayang lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya, karena kesehatan mental lebih penting baginya, terkadang wanita satu anak itu masih sering mengunjungi dan membersihkan rumahnya.


Pagi ini suasana sedikit cerah, embun sisa gerimis semalam masih duduk indah di atas dedaunan. Mayang tersenyum menatap keluar jendela, matanya menatap dua ekor burung yang saling membersihkan tubuh dan saling membantu. Wanita bitu berandai jika dirinya seperti itu maka hatinya sungguh merasakan bahagia.


Usai mengantarkan Ali sekolah Mayang mempersiapkan dirinya seperti biasa, memakai stelan yang tak muak jika di pandang mata, ibu satu anak itu berpamitan pada wanita yang telah melahirkannya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


Berjalan melewati beberapa rumah tetangga seperti biasa, pandangan aneh mereka perlihatkan setelah tiga hari Mayang tak keluar rumah sama sekali, dirinya teramat malu pada kelakuan suaminya yang semakin menjadi bahkan terang-terangan menghina dirinya.


Langkahnya ia percepat agar mata-mata itu tak lagi menatap, namun satu tangan dengan sigap menarik baju Mayang hingga terkoyak sedikit.


"Ga ada otak!" Hardik Mayang. Menatap nyalang kearah Tuti.


"Kamu juga." Tuti tertawa miring, persis orang yang sedang di rasuki roh halus.


"Saya mau berangkat kerja. Minggir jangan halangi saya," protes Mayang kesal.


"Kerja jadi l*nte aja bangga." Tuti terbahak sementara Mayang mendorong tubuh Tuti dan mempercepat langkahnya. Tuti mengejar Mayang tergopoh-gopoh ingin mengatakan hal buruk lagi untuk memukul mental Mayang agar Rohman merasa senang. Beruntung angkutan umum segera tiba dan Mayang masuk dengan cepat angkutan umum itu pun segera melaju meninggalkan Tuti yang menghentakkan kakinya kesal, Mayang melambaikan tangan tanda mengejek, terlihat seperti perpisahan dua sahabat jika penumpang memperhatikan sekilas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2