CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 54


__ADS_3

Sore menampakkan cahaya jingga di ujung langit, Rohman duduk menyesap secangkir kopi sambil melipat koran yang baru saja selesai ia baca.


Pekerjaan hari ini cukup membuatnya sakit pinggang walaupun hanya duduk saja di tempat tanpa bergerak.


"Semoga Allah memberkahi hidupku agar aku bisa memberikan nafkah kepada anakku," lirih laki-laki bertubuh kurus yang kini duduk sendirian sedangkan yang lainnya tak terlihat. Mungkin beristirahat di kamar masing-masing.


Laki-laki bertubuh kurus itu sekarang sudah mulai menyadari akan pentingnya nafkah untuk anaknya, tidak seperti dulu yang selalu melarang bocah kecil itu membeli jajan, makan enak dan mainkan.


Rohman mengusap wajahnya pelan, pikirannya kembali ke belasan tahun silam saat bersama Mayang.


Flashback.


"Dek buatkan Abang kopi," hardik Rohman pada wanita yang baru saja melahirkan putranya.


"Iya, Bang. Sebentar lagi aku sedang menyusui Ali," terang Mayang yang tubuhnya terlihat begitu kurus.


Seharusnya ibu menyusui cukup gizi untuknya dan putranya namun berbeda dengannya.


Tak lama Mayang keluar sambil membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.


"Ini, Mas," ucap Mayang sambil meletakkan kopi di meja kecil di depan teras rumahnya.


Saat ini mereka masih tinggal di rumah Yeyen karena rumah Mayang sedang di renovasi. Berlahan Rohman menyesap kopinya yang masih panas, sedangkan Mayang menjatuhkan bokongnya dia Ampung Rohman karena Ali sudah tertidur.


Rohman menyesap begitu dalam kopinya hingga membuat ia tersedak, dengan sengaja ia menuangkan kopi panas kearah ke lengan Mayang hingga ibu satu anak itu mengaduh karena rasa panas dan perih yang ia rasakan di bagian lengannya.


"Kok aku di siram, Bang?" tanya Mayang menahan bulir bening yang akan luruh dalam satu kedipan.


"Lagian kopi pahit, mana panas pula. Makanya aku tersedak tau, semua gara-gara kamu. Ya tanggung jawab," ucapnya tanpa rasa berdosa.


Kopi mana yang tak ada rasa pahit sama sekali, Mayang hanya diam lalu perlahan hendak masuk kedalam rumah, tiba-tiba Yeyen datang karena suara Rohman yang begitu meninggi.


"Ada apa?" tanya Yeyen pada ibu satu anak yang masih menunduk di hadapannya.


"Ga tau nih si dekil, bukannya mandi malah duduk di sampingku. Ya kusiram aja pakek kopi panas biar bisa mandi dia," jelas Rohman membalikkan fakta, sementara Yeyen mengelus pundak menantunya.


Mayang bukan tak mandi, namun asi yang selalu tumpah membuat aroma berbeda pada tubuhnya.


Plak.


Pipi Rohman saat ini terasa menghangat, seiring rasa panas yang menjalar di hatinya. Lamunannya tentang kezaliman yang ia pada mantan istrinya buyar seketika.


"Kau ga salad magrib?" tanya laki-laki tembun setelah menampar Rohman tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Salad, memang udah jam berapa?" Rohman balik bertanya lalu berusaha bangkit dari duduknya.


"Yang jelas sudah adzan magrib dari beberapa menit yang lalu," jawab laki-laki bertubuh tembun itu setelahnya ia menghirup asap rokok dalam-dalam dan mengembuskan dengan kasar.

__ADS_1


Laki-laki bertubuh kurus itu meninggalkan teras dan masuk ke area dapur untuk berwudhu. Salad adalah kewajiban setiap hamba Allah walaupun masa lalu yang suram dan dosa yang menumpuk.


.


.


.


_____


Sementara di tempat lain Tuti tersenyum lebar setelah menceritakan apa yang harus ia lakukan, tanpa ragu ia memberikan nomor ponsel Mayang pada laki-laki yang ia temui itu.


"Jika tidak sesuai seperti perintahku maka kamu ga akan dapat upah," jelas Tuti lalu bangkit dari duduknya.


"Pasti sesuai, dia cantik." Laki-laki berkulit sawo matang itu juga bangkit dari duduknya.


Keduanya berpisah setelah meminum es Boba di taman.


Tuti tak pernah puas sebelum Mayang benar-benar jatuh, ia tak pernah bahagia jika Mayang masih bisa ternyum walaupun kadang senyuman Mayang hanya sebuah keterpaksaan.


.


.


Di taman bermain saat ini Mayang, Ali dan Abizar sedang bersenang-senang, bocah itu seakan lupa pada rasa sakit di kakinya saat ini. Usai salad magrib mereka melanjutkan permainan yang membuat anak dan ayah sambung itu bahagia, sedangkan Mayang hanya memperhatikan dari kejauhan.


"Laper lagi," kekeh Abizar membuat Mayang tersenyum.


"Iya. Bener, Pak." Ali mengekor di belakang laki-laki bertubuh gempal itu.


"Ayo makan!" ajak Abizar, setelahnya ia berjongkok berniat mengendong Ali di punggungnya.


Keluarga bahagia keluar dari dalam mall untuk mencari restoran lain, alasan klasik yang Mayang ucapkan karena makan di mall ga kenyang.


.


.


Tak lama mereka tiba di taman kota, berputar mencari restoran dekat dengan taman saja hitung-hitung cuci mata.


Tanpa sengaja Mayang bertemu dengan Tuti yang sedang menunggu angkutan umum, namun Mayang sengaja menoleh kearah lain seolah tak melihat keberadaan Tuti tapi tidak dengan bocah polos yang bersamanya saat ini.


"Mak De Tuti!" Pekiknya membuat Tuti menoleh kearah Ali yang masih dalam mobil. Bocah itu mengulas senyum kearah Tuti, karena saat Nila memukul betisnya tadi Tutilah yang menolong dan menyuruhnya lari.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu begitu menyayangi anak-anak karena ia dulu sudah bertahun menikah belum di karunia anak. Dalam buruknya wanita itu masih ada sisi baiknya.


"Ali sama siapa?" tanya Tuti saat bocah itu sudah benar-benar mendekat, walaupun sebenarnya ia tahu jika tidak bersama Mayang dan neneknya ia tak pernah mau ikut siapa pun.

__ADS_1


Ali menoleh kearah Mayang dan Abizar yang berdiri tak jauh dari mobil, wanita yang memakai bedak pemutih itu juga ikut menoleh.


Abizar membiarkan Ali berbicara dengan Tuti karena laki-laki bertubuh gempal itu mengajarkan tata Krama pada orang tua, walaupun Mayang tak pernah suka jika Ali dekan dengan Tuti bukan apa-apa karena Tuti suka menyuntikkan kata-kata pedas yang sering Ali tanyakan pada Mayang.


Laki-laki bertubuh gempal itu mengisyaratkan pada Ali yang menoleh kearahnya kedua kali, menyodokkan tangan kosong kedalam mulutnya berkali-kali pertanda ia sedang lapar.


Namun ada yang aneh saat Tuti malah mendekat, Tuti mengira Abizar mengajaknya makan.


"Ayo kita makan, Bang. Tuti juga laper," kekehnya sambil bergelayut manja di tangan kiri Abizar sementara tangan kanan laki-laki bertubuh gempal itu sedang menggenggam jemari istrinya.


Mayang memutar bola matanya malas lalu menghempaskan kasar tangan Abizar, mata suaminya itu membola sempurna namun Tuti malah tersenyum sumringah.


"Ayo, Abang!"


Abizar menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu berjalan pelan kearah menuju kearah Mayang.


"Ih. Di sana aja," kata Tuti sambil menunjuk restoran yang begitu mewah.


"Ogah!" Laki-laki pemilik mata elang itu mempercepat langkahnya menyusul Mayang yang begitu jauh dengannya saat ini, namun Tuti tak ingin menyerah begitu saja ia berlari kecil menyusul langkah Abizar hingga membuatnya terjatuh.


"Mas, tolongin tuh istrinya jatoh," kata salah seorang yang lewat membuat Abizar menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Mau tak mau Abizar harus menolong wanita yang begitu egois dan suka menebar fitnah itu, di luar dugaan Abizar saat menolong Tuti malah wanita itu semakin bergelayut manja. Dengan berat hati Abizar membantu Tuti berjalan hingga masuk kedalam restoran.


Abizar menuju kearah Mayang yang sedang memesan makanan, terburu laki-laki bertubuh gempal itu memesan makanan yang sama begitu juga Tuti.


"Abang yang traktir kan?" tanya Tuti saat bokongnya telah mendarat sempurna di atas kursi.


"Ya harus. Kan harus tanggung jawab udah ngajak kemari," ungkap Mayang yang sedang memainkan gawainya. Malas sekali ibu satu anak itu menatap kearah Tuti saat ini.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu duduk di samping Abizar karena memang tak ada bangku lain lagi, tangannya Tuti begitu sibuk meraba bagian demi bagian tubuh Abizar walaupun laki-laki bertubuh gempal itu berkali-kali menepisnya.


Tak lama makanan datang dan Mayang menyantapnya, begitu juga dengan Tuti. Mayang masih berniat untuk makan makanan penutup namun sepertinya ia muak melihat pemandangan di depan matanya saat ini.


Tuti dengan sengaja mengelap bibir Abizar yang sedikit belepotan, menjatuhkan sendok lalu mengambilnya lagi ia begitu mencari perhatian Abizar.


Mayang menghela napas kasar lalu menyeret kursinya kebelakang kemudian bangkit dari duduknya, sementara Tuti mencondongkan tubuhnya lalu mengecup pipi Abizar tanpa aba-aba.


"Mak De ngapain cium bapak Ali?" tanya bocah itu dengan polosnya, sementara Tuti tersenyum malu-malu dan menutup mulutnya.


Mayang yang melihat hanya tersenyum sinis, mengandeng tangan Ali lalu beranjak pergi meninggalkan dua manusia di hadapannya saat ini.


Laki-laki bertubuh gempal itu tak bisa menyusul Mayang karena ia belum membayar tagihan makanan yang mereka makan saat ini.


"Abang tunggu," kata Tuti saat Abizar bangkit dari duduknya lalu mempercepat langkahnya menuju kasir.


Namun langkahnya terhenti saat seseorang sedang memeluk tubuh istrinya di luar restoran yang masih bisa ia lihat dari kaca transparan.

__ADS_1


__ADS_2