CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 36


__ADS_3

Detak jam terus berbunyi, tubuh Rohman yang terlihat kurus belum terlelap, udara dingin seakan menusuk tulang, ia masih memandang langit-langit kamarnya, menata hatinya yang kian merana dan tubuh yang semakin menderita.


Meringsut mengambil gawai yang telah pecah layarnya akibat ia lempar kemarin, ia tersenyum pahit, membuka gawai yang masih menyala lalu mengirim pesan ke nomor mantan istrinya.


"Mayang, apa kamu begitu berniat menghina saya melalui Ali?" Pesan yang sesuai isi hatinya ia utarakan pada mantan istrinya itu, sesaat setelahnya centang biru.


"Ga ada niat sama sekali, Bang. Aku tulus," balas Mayang singkat.


Senyum menghiasi wajah yang berjambang itu, ia merutuki kebodohannya dalam menilai siapa yang benar-benar tulus dan tidak.


Tubuhnya gemetar lalu Rohman berusaha menggapai kursi rodanya, perutnya lapar karena perutnya belum terisi makanan sore tadi, kembali ia teringat pada perkataan Eti yang melarangnya untuk menyentuh makanan yang telah tersedia di atas meja.


Rohman menelan salivanya, kali ini ia memilih berdiam diri dan membatalkan memngambil makanan, memejamkan matanya dalam keadaan lapar.


Mungkin tubuh kurus itu akan semakin ringkih setelah perlakuan yang tidak mengenakkan dari keluarganya.


Mata laki-laki bertubuh tinggi itu terpejam, namun hatinya masih enggan terlelap.


Berlahan ia mendorong kursi rodanya menuju ruang tengah, mendekati tongkat pemberian Mayang yang telah di sandarka oleh Eti tadi di sudut almari.


"Bismillah," lirihnya, tubuh kurus itu berusaha berdiri mengunakan tongkat, beberapa kali terjatuh namun masih gigih berusaha, sampai akhirnya ia berdiri sempurna mengunakan tongkat.


Sepasang mata menatap iba kearahnya, mengusap bulir bening yang berjatuhan. Yeyen ingin membantu tapi ia juga ingin anaknya itu tidak tergantung padanya, karena usianya semakin tua.


Rohman melangkahkan kaki yang di bantu oleh tongkat itu menuju kamarnya, sedikit terlihat senyum di wajah Rohman.


Dengan susah payah ia melangkah menuju kamar mandi lalu berwudhu, setelahnya keluar tertatih mengambil sajadah yang tak pernah ia sentuh lalu menggelarnya perlahan, Rohman salat sambil duduk.


Dengan hikmat ia melaksanakan salat, tanpa terasa bulir bening menetes tak dapat ia bendung, berjuta penyesalan dalam hatinya, dosa yang ia buat berputar di benaknya.


Setelah salam, tangannya ia tadahkan. Kembali ia menjatuhkan jutaan bulir bening.


"Ya Allah. Ampuni hamba, hamba telah salah menilai wanita yang telah setia menerima kekurang hamba, hamba juga menyesal atas perbuatan yang pernah hamba lakukan. Sekarang hamba ikhlaskan jika Engkau menghukum hamba ya Allah," lirihnya dengan pilu, tubuh kurus itu tergugu hebat.


Sepasang mata menatap nanar kearah Rohman, wanita yang melarikan Rohman itu menyeka sudut matanya kasar, berlalu meninggalkan Rohman yang masih larut dalam doanya.


.


.

__ADS_1


Di rumah sakit Yazidin sibuk mengurus Anita yang harus di operasi, wanita itu kritis karena aksi percobaan bunuh diri.


"Ibu ngomong apa sama Anita sampai dia seperti itu?" Tanya Yazidin sambil menatap curiga kearah ibu kandungnya itu.


"Orang ibu cuma bilang malu kalo anak ibu bawa wanita hamil kerumah, toh kalian belum sah suami istri," jawabnya santai seolah tak merasa bersalah sama sekali.


Wanita hamil begitu sensitif, hatinya begitu gampang terenyuh dan terpengaruh dalam suasana apapun. Yazidin mengacak rambutnya kasar, bagaimana bisa wanita yang menyandang status sebagai seorang ibu itu tega menyakiti hati wanita.


"Sekarang lihat karena ulah ibu," ucapnya pelan. Berusaha memberikan pengertian pada ibunya itu.


"Halah. Lagian salah kamu, pake bawa wanita ga jelas itu kerumah, kan Ibu malu," papar wanita gemuk itu.


"Ya aku harus tanggung jawab, yang ada di kandungan Anita memang anakku," jelas Yazidin dengan raut sedih dan mata yang berkaca-kaca.


"Terserah!" Wanita yang melahirkan Yazidin itu pergi meninggalkan anaknya seorang diri yang sedang berbalut kesedihan.


.


.


_____


"Bang, bangun!" Eti menguncangkan tubuh Rohman pelan yang tertidur di atas sajadah.


"Ya, ada apa, Eti?" Rohman megusap matanya yang terasa begitu berat karena kurang tidur.


"Mbak Mayang di depan tuh," ucapnya sambil membantu Rohman berdiri dan Eti menyerahkan tongkat pada Rohman.


"Mau nagapain dia kesini, Ti?" Rohman tergesa keluar dari kamarnya dan menuju teras menemui Mayang, karena wanita beranak satu itu tak ingin masuk kedalam rumah.


"Ada apa Mayang?" Saat Rohman sudah berada di samping Mayang, wanita itu memandang lurus kedepan.


"Ali katanya mau nginap di sini," ucap Mayang sambil menoleh menatap mantan suaminya itu.


"Ga usah. Aku tidak menerimanya," kata Rohman, matanya beralih menatap Ali yang terlihat terkejut.


"Kenapa, Ayah?" Tanya bocah kecil itu sambil memeluk tubuh Rohman, air mata Rohman sekuat tenaga ia tahan, bagaimana harus ia jelaskan pada bocah kecil yang tidak mengerti apa-apa.


"Ayah udah ga sayang lagi sama kamu, Ali," jawab Rohman sambil membalikkan badan lalu masuk kedalam rumah, air matanya yang tadi ia tahan luruh seketika.

__ADS_1


Bocah kecil itu menagis sesugukan lalu segera mengajak ibunya pulang, sementara Rohman mempercepat langkahnya menuju kamarnya, tempat ternyamannya saat ini. Menutup pintu lalu tubuh itu luruh kelantai yang begitu dingin.


"Maafkan Ayah. Ayah ga ingin kamu tertular," lirihnya, bulir bening itu berlomba-lomba turun. Membayangkan bagaimana hancurnya hati bocah kecil itu dan hatinya juga tersayat saat ini.


Mungkin Allah mendengar doanya tadi malam, tapi ia patahkan kembali pagi ini dengan menolak kedatangan putranya.


Bagaimanapun ia sadari bahwa penyakit HIV yang ia derita mampu menularkan ke orang terdekat, terlebih Ali tak pernah merasa jijik jika meminum air yang ada di gelas ayah atau ibunya.


Tak lama Eti masuk kedalam kamar Rohman, melihat Abang yang begitu menyayanginya itu begitu lemah ia merasa iba, Eti mengusap pelan punggung Rohman sebagai tanda menguatkan Rohman.


"Jangan sedih lagi, ada Eti sama mama," lirih adiknya itu, ia berusaha membantu tubuh tinggi itu bangkit, Rohman melirik sekilas lalu tersenyum pahit kearah adiknya yang sempat merasa jijik dengannya.


Rohman membaringkan tubuhnya di atas ranjang, perutnya yang dari semalam terasa lapar sama sekali belum terisi. Eti yang sudah keluar dari kamar Rohman kembali masuk dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk dan segelas air mineral.


"Makan, setelahnya minum obat," titah Eti sambil menyodorkan piring nasi dan meletakkan air di atas nakas.


"Iya," hanya itu yang mampu Rohman katakan. Hatinya terlalu lelah, laki-laki bertubuh tinggi itu menyantap habis makanannya tanpa tersisa, setelahnya meminum obat yang terletak di atas nakas.


Obat yang ia minum tak dapat menyembuhkan penyakitnya namun hanya sebatas menekan angka perkembangan virus agar tidak semakin banyak. Terasa begitu bosan berada dalam kamar, ia kembali meraih tongkat lalu keluar untuk duduk di teras, walau hanya memandang beberapa orang yang lewat tapi itu mampu sedikit mengusir jenuh.


Ia mendaratkan bokongnya dia atas kursi panjang yang terbuat dari bambu, lalu membenarkan celananya agar tak begitu terlihat kakinya yang sudah tak ada lagi.


"Eh Rohman udah baikan kamu?" Tuti yang baru saja datang menampilkan senyum manis dan mengibaskan gamis kembang yang baru saja ia beli.


"Alhamdulillah, Mbak," lirihnya sambil memandang pohon mangga. Laki-laki bertubuh tinggi itu malas menatap Tuti terlebih Rohman tau sifat Tuti yang sedang memamerkan pakaian barunya.


"Orang di sini malah lihat kesana," ciict Tuti yang mencolek bahu Rohman pelan.


"Ga kelihatan, Mbak. Habisnya silau sama gamis baru," ucap Rohman memandang Tuti dengan tatapan tidak percaya.


"Iya nih. Kreditan dari Mayang," jelas Tuti sambil mengulas senyum seolah dia paling manis.


"Terserah. Bayar hutang dulu, aku butuh uang itu untuk beli obat," ucap Rohman datar.


"Ih. Pelit banget kamu. Balik aja sama Mayang kamu, lumayan dia sekarang udah hidup enak," jelas Tuti, matanya melirik sesekali kedalam, ia berharap Eti segera keluar. Kebiasaan wanita yang memakai pemutih wajah itu memamerkan pakaiannya pada Eti, sementara Rohman tak merespon ucapan Tuti yang membuat dirinya semakin sakit hati.


"Eti, mbak mau ngajak kamu ke pasar, ikut engga?" Tuti berteriak di ambang pintu, kebiasaan memanfaatkan orang lain demi memenuhi keinginannya.


Semenjak Eti memiliki motor, Tuti akan sering datang di antar oleh suami atau tetangganya untuk mengajak Eti berbelanja, ia akan merasakan keuntungan tak harus membayarkan ojek atau angkutan umum untuk pulang kerumahnya.

__ADS_1


Banyak orang memanfaatkan kebaikan orang lain demi kepentingan dirinya tanpa ia sadari dirinya akan di manfaatkan oleh keadaan nantinya.


__ADS_2