CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 45


__ADS_3

Hari semakin beranjak sore namun laki-laki bertubuh gempal itu enggan untuk menemui Mayang karena ia malas jika mendapatkan perlakuan kurang baik dari wanita yang ia cintai.


Mau tak mau ia harus datang, janji bertemu dan membawa Ali jalan-jalan adalah hal yang harus ia tepati.


Dua puluh menit akhirnya Abizar sampai di halaman rumah orang tua Mayang, rumah terlihat sepi dan pintu tertutup rapat.


Tak ada sambutan untuk kepulangan suami seperti yang dulu sering Mayang lakukan saat menunggu kepulangan Rohman entah dari mana itu.


Abizar merogoh kantong celana jeans yang ia pakai, menekan panggilan ke nomor Mayang, terhubung tapi diabaikan oleh wanita yang Abizar cintai.


Laki-laki bertubuh gempal itu berdecak kesal lalu kembali masuk kedalam mobilnya hendak putar balik, percuma menunggu jika kehadirannya tak di harapkan, begitu pikirnya.


Wanita yang melahirkan Mayang tiba-tiba pulang dengan sepeda motor miliknya dan tersenyum kearah Abizar yang masih dalam mobil, tergesa laki-laki bertubuh gempal itu turun dari mobilnya dan mendekati wanita yang melahirkan Mayang dan mencium punggung tangannya dengan hikmat.


"Kok sepi, Bu? Mayang sama Ali kemana?" Tanya Abizar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Mayang jualan, Ali sekolah. Ibu baru pulang rewang," jelas wanita yang melahirkan Mayang itu.


"Kalau begitu aku pamit pulang, Bu. Pulang kerja nanti kesini lagi," dusta laki-laki bertubuh gempal itu, padahal kerjaan bisa diambil alih oleh sahabatnya yang bekerja sudah lebih dari sepuluh tahun bersamanya.


"Ya sudah. Hati-hati, Nak." Wanita paruh baya yang terlihat raut wajah kecewanya itu membuka handle pintu dan masuk kedalam rumahnya.


Tak lama Abizar sudah benar-benar pergi dari rumah orang tua Mayang itu, ada rasa sedih dalam hati yang tak bisa ia gambarkan.


Abizar menepikan mobilnya, merogoh saku lalu mengambil gawainya dan menelpon Mayang. Ia berniat mampir ke toko Mayang, ia sangat ingin menghabiskan waktunya bersama kekasih halalnya yang hanya dalam sementara waktu saja.


"Dimana?" Sesat setelah panggilan tersambung.


"Di toko," Jawabnya singkat, tapi rasanya Abizar merasa dirinya saat ini sama sekali tak ada harganya di mata Mayang.


"Aku mau ke situ. Kirim alamat," kata Abizar dengan suara plean tapi dengan nada perintah.


"Mau apa?" Ibu satu anak itu sepertinya tak ingin Abizar datang ke tokonya.


"Ada kepentingan. Ga butuh alasan sibuk, cepat kirim melalui WhatsApp," ucap Abizar sambil tersenyum kecil, setelahnya panggilan berakhir.


Tak lama pesan masuk kedalam gawai Abizar, alamat pasar sampai nomor toko tertera dengan jelas. Abizar kembali tersenyum saat foto yang Mayang kirim ada beberapa pembeli.


"Dia pikir aku peduli." Abizar terkekeh seperti orang setres dirinya saat ini.


Menyusuri jalanan padat lalu memasuki area pasar, Abizar memarkirkan kendaraannya dengan hati-hati.


Abizar menatap lekat kearah laki-laki yang menggunakan tongkat menatap kearahnya, ada rasa iba namun rasa kesal juga pada laki-laki bertubuh kurus itu.


Laki-laki kurus itu sibuk memarkirkan kendaraan roda dua, sedangkan Abizar menatap Rohman begitu kesal.


"Kenapa tuhan seakan menghukumku saat ini," batin Abizar mengalihkan pandangannya lalu turun dari mobil.


Laki-laki paruh baya yang biasanya bersama Rohman memberikan selembar kertas kuning pada Abizar sambil mengulas senyum.


Tak ingin berlama-lama berlarut dalam kekesalannya ia memilih segera menemui Mayang di tokonya. Dari kejauhan laki-laki bertubuh gempal itu menatap Mayang yang terlihat sibuk.


Mempercepat langkahnya lalu masuk kedalam toko tanpa aba-aba, tubuh gempal itu ia jatuhkan di atas ranjang kecil di sudut toko yang terdekat dengan rak pakaian. Laki-laki bertubuh gempal itu tak peduli jika Mayang terus menatap kearahnya dengan tatapan tidak suka.


Saat pelanggan sudah benar-benar pergi Mayang menghampiri Abizar yang hampir terlelap.


"Mau apa kesini, Bi?" Mayang menyentuh pelan bahu Abizar. Laki-laki bertubuh gempal itu hanya bergumam pelan membuat Mayang semakin kesal.


"Jika kesini hanya untuk tidur baiknya pulang saja, Abi," sambung Mayang dengan suara sedikit meninggi.

__ADS_1


"Aku ingin bicara denganmu, ayo kita bulan madu hari Minggu," ucap Abizar sambil bangkit dari pembaringan.


"Tidak usah banyak mau, Abi. Aku tidak mencintaimu, baiknya gauli saja aku dan kita bercerai secepatnya," tutur Mayang pelan membuat hati Abizar seperti terhantam batu besar bertubi-tubi.


Pembicaraan mereka pelan tapi seakan dunia dan seisinya tahu jika seorang insan manusia yang sedang mempertahankan cinta, hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Jika aku tidak mau menggaulimu maka kamu tidak bisa menikah dengan Rohman. Aku tidak ingin menggauli seseorang yang tidak mencintaiku!" Abizar terkekeh pelan sesaat setelah membuang pandangannya kearah lain. Begitu kesal memandang wajah Mayang saat ini.


"Jangan buat keputusan yang tidak kita sepakati sebelumnya, Abi!" Suara Mayang meninggi, membuat seorang pelanggan yang baru saja masuk terkejut.


"Maaf. Apa kami mengganggu, jika ingin menyelesaikan masalah baiknya di rumah aja, Mbak. Aman ga ada fitnah buat Mbaknya," kata wanita yang berhijab syar'i berdiri tak jauh dari Mayang dan Abizar saat ini.


"Kami memang mau pulang kok, Mbak," pungkas Abizar setelahnya tersenyum puas menatap kekesalan Mayang yang berdecak kesal karena pelanggannya pergi.


.


.


Abizar membantu menutup toko pakaian Mayang, namun wanita itu menolak beberapa kali yang berakhir dengan saling olok mengolok, sebenarnya Abizar sangat senang jika melihat kekesalan Mayang padanya saat ini. Terlebih ibu satu anak itu terlihat cantik di mata Abizar jika sedang merajuk.


"Naik!" Perintah Abizar saat sudah sampai di parkiran, namun Mayang semakin menjauh dan menunju parkiran motor.


Abizar menutup kembali pintu mobil dan menuju parkiran motor menyusul Mayang yang langkahnya begitu cepat.


"Sial! Pasti ia ingin bertemu dengan Rohman," lirih laki-laki bertubuh gempal itu sambil menendang udara. Rasa cemburu kini menguasai hati dan pikirannya.


Rasanya Abizar malas berdebat dengan mantan suami Mayang dan Mayang di tempat keramaian saat ini. Abizar memilih memperhatikan dari kejauhan Mayang yang mengeluarkan motor miliknya dan memberikan pecahan uang sepuluh ribu lalu keluar dari parkiran, tak ada obrolan diantara mereka berdua seperti pemikiran Abizar.


Laki-laki bertubuh gempal itu juga berlari kecil menuju mobilnya dan membayar uang parkiran lalu secepatnya menyusul Mayang yang semakin menjauh, ibu satu anak itu singgah di beberapa tempat termasuk rumah temannya yang menjual gamis secara angsuran, sementara Abizar setia menunggu dalam mobil walau rasa jenuh menghampiri dirinya.


Beberapa jam dalam perjalanan karena Mayang singgah di beberapa tempat seperti ketesengajaan membuat Abizar lelah menunggu dirinya.


"Gauli aku sekarang!" Perintah Mayang membuat Abizar menatap kearah Mayang sambil terkekeh kecil.


"Aku tidak mau, aku sudah mengatakan padamu aku tidak akan pernah menggauli wanita yang tidak pernah mencintaiku," ucap Abizar membuat Mayang murka.


Perjanjian hanya tinggal perjanjian antara mereka berdua, bodohnya Mayang tidak melibatkan orang lain dalam perjanjian mereka jadi Abizar bisa berbuat sesuka hatinya.


Plak ....


"Sakit? Itu untuk janji yang kamu ingkari, Abi," pekik Mayang di iringi deru napas yang berat dan terengah-engah, tak lama tubuh ibu satu anak itu tergugu.


Tamparan di pipi yang sedikit berjambang itu terlihat membekas sedikit kemerahan. Abizar diam tak mengatakan apapun, berlahan tubuh gempal Abizar memiring, kepalanya tepat kini di pangkuan Mayang.


Abizar menatap lekat wajah yang sesugukan itu, ia meraih tangan yang menutup wajah yang sedang dalam tangisannya.


"Jangan menangis, aku mohon kamu mengerti saat ini aku di posisi sulit," ucapnya berdusta. Laki-laki akan senang saja menggauli wanita terlebih wanita yang meminta terlebih dahulu.


Hening tak ada jawaban, Abizar mengusap air mata Mayang dengan lembut, meraih tangan ibu satu anak itu lalu mengecupnya perlahan.


"Maaf jika aku kasar, Abi." Mayang mengusap pelan rambut Abizar, laki-laki bertubuh gempal itu meresapinya merasakan kehangatan yang diberikan Mayang walau hanya sesaat.


.


.


Entah berapa jam Abizar tertidur di sofa sehingga Mayang tidak ada lagi di sisinya saat ini, ia mengira hanya mimpi bahwa Mayang menamparnya sekaligus meminta maaf padanya.


"Udah bangun?" Mayang mendekat sambil mengulas senyum seolah tidak terjadi apapun antara mereka berdua.

__ADS_1


"Jam berapa?" Abizar mencari gawainya yang entah di mana.


"Ini yang kamu cari Abi?" Mayang menunjukkan benda pipih milik Abizar yang tidak memakai pola pengaman.


"Jam tiga," sambung ibu satu anak itu sambil mendekat dan memberikan gawai milik Abizar.


"Aku lapar. Ayo kita cari makan!" Laki-laki bertubuh gempal itu menarik lengan Mayang dan hendak keluar.


"Om, Mau kemana? Ibu udah masak banyak," kata Ali yang berlari menghampiri Abizar.


Laki-laki bertubuh gempal itu berjongkok mensejajarkan diri dengan Ali.


"Mulai hari ini panggil ... Siapa sama Om tampan ini, Buk?" Abizar mengalihkan pandangannya pada Mayang yang berdiri di hadapannya.


"Bapak aja, Deh," kata Mayang sambil tersenyum kearah Ali.


"Bapak?" Ali menatap wajah Abizar lekat membuat laki-laki bertubuh gempal itu bingung dibuatnya.


"Ali ga mau panggil Bapak," ucap Ali sambil memanyunkan bibirnya kesal.


"Kan Om udah jadi orang tuanya Ali saat ini, Om akan antarkan Ali kesekolah setiap harinya agar Ali tidak lagi di ledekit sama temen-temen Ali," bujuk Abizar lembut, ada rasa sesak saat mengatakan demikian mengingat Mayang tak pernah menginginkan dirinya.


"Beneran, Om?" tanya Ali antusias sambil memeluk Abizar. Laki-laki bertubuh gempal itu melonggarkan pelukannya setelah melihat Mayang mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kapan Om pernah ingkar janji. Eh, bukan Om sekarang Bapak," seloroh Abizar membuat Ali terkekeh, Mayang mengulum senyum kearah lain yang tidak dapat di lihat oleh Abizar.


.


.


Mereka menyantap makanan buatan Mayang walaupun hari sudah kian sore, sementara wanita yang melahirkan Mayang tidak pulang karena harus menginap di acara pesta saudara mereka yang jaraknya lumayan jauh.


Setelah makan selesai Ali bersiap mandi dan akan berangkat pengajian, tinggalah kini dua manusia yang berbeda karakter saling menatap. Mayang membersihkan sisa makanan sementara Abizar menuju kamar Mayang sekadar menghilangkan rasa bosan.


Ia menatap dinding kamar yang masih terpampang foto pernikahan Mayang dan Rohman, kembali hatinya teriris. Ingin rasanya berteriak untuk melepaskan belenggu dalam dada namun dirinya tak mampu.


"Abi!" Panggil Mayang saat ibu satu anak itu melihat Abizar memandang foto pernikahannya dengan Rohman.


"Tidak seperti yang kamu pikirkan, itu hanya aku belum memindahkannya," ucap Mayang ingin meraih foto, namun Abizar menahan tangan Mayang dan menariknya sedikit kuat hingga tubuh Mayang terhuyung dan jatuh keatas ranjang bersamaan. Kini posisi Mayang tepat di atas tubuh gempal Abizar.


Laki-laki bertubuh gempal itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Abizar memeluk erat tubuh Mayang lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Aku mencintaimu," lirih Abizar sambil melonggarkan pelukannya.


"Tapi ... Aku ...." Tanpa menunggu Mayang menyelesaikan perkataannya Abizar ******* bibir Mayang lembut.


Sesaat ibu satu anak itu terdiam merasakan debaran tak biasa dalam dadanya, memejamkan matanya hingga Abizar melepaskan ******* bibirnya.


"Tidak cinta, tapi di ***** mau," seloroh Abizar, laki-laki bertubuh gempal itu terkekeh sementara Mayang tersipu malu lalu mengambil bantal dan menutup mukanya.


.


.


.


Wanita terlalu malu untuk mengungkapkan rasa cinta, namun tak pernah bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


Abizar punya rencana besar setelah ini untuk memancing kecemburuan Mayang, jika benar-benar Mayang tidak mencintai dirinya maka Mayang tak merasakan cemburu sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2