CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 21


__ADS_3

Dikontrakkan suami istri yang baru saja menikah itu terlihat sedang berdebat.


"Selalu alasannya ga ada uang dan menghemat," kata Anita saat wanita mungil itu meminta dibelikan susu kambing di persimpangan jalan dekat dengan masjid.


"Beneran, Dek. Abang ga ada uang, kita menghemat uang untuk persalinan kamu nanti," ungkap Rohman dengan nada ketus.


"Ya cuma susu doang, aku ga minta baju." Anita membenamkan wajahnya di sofa ruang tamu.


"Ya susu kambing harganya mahal. Satu botolnya lima puluh ribu, Dek, sementara abang belum menemukan pekerjaan," jelas Rohman dengan sungguh-sungguh.


"Ini permintaan bayi kita loh bang, Setega itu Abang sama Adek." Sesaat tubuh itu bergetar. Anita menangis.


"Iya. Abang belikan, tapi jangan nangis." Dengan terpaksa uang dalam sakunya harus keluar karena ia mendengar Isak Anita dan demi cabang bayi yang belum lahir. Anita diam tanpa suara setelahnya dengkuran halus terdengar, sebenarnya dengan uang lima puluh ribu ini ia akan naik angkutan umum membawa ijazah dan mencari pekerjaan di kantor terdekat.


Laki-laki bertubuh tinggi itu keluar dari rumahnya menuju pangkalan susu kambing permintaan istri barunya yang teramat ia cintai itu.


"Bang ini berapa?" Tanya Rohman pada penjual susu segar itu.


"Lima puluh ribu aja, Bang," jawabnya lalu mengambil pastik gula ukuran satu kilo untuk memasukkan susu, biasanya penjual tak pernah memberikan botol kaca kepada pembeli karena tak pernah mereka kembalikan walaupun sudah berjanji.


"Mahal banget. Lima belas ribu aja deh, buat ibu hamil nih." Rohman menawarkan sesuka hatinya.


"Rugi dong, Bang. Saya juga beli dari orang," jelas penjual. Rohman yang kesal mengeluarkan uang pas dan melemparkan kearah penjual. Penjual susu hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.


Terkadang kita tidak pernah menyadari, roda kehidupan hidup yang selalu berputar. Saat orang lain kita hina, maka hinalah kita di mata Allah.


Dengan cepat Rohman pulang kerumahnya dan membanting pintu kasar, Anita terperanjat dari tidurnya, ruhnya belum terkumpul sempurna.


"Ngagetin, copot jantungku, Bang!" Pekik Anita mengelus dadanya pelan.


"Gitu aja kaget. Biasa aja kali, bahkan aku dulu lebih kasar sama Mayang dia biasa aja," ujar Rohman kesal.

__ADS_1


"Jangan samakan aku sama dia, Bang." Rajuk Anita, memalingkan wajah tak lagi menatap kearah Rohman.


"Ini." Rohman menyodorkan susu kambing yang ia beli. Susu segar itu terlihat begitu menggoda bagi Anita. Lekas ia sambar bungkus plastik itu dan beranjak ke dapur untuk menuangkan kedalam gelas lalu meminumnya perlahan. Rohman yang mengikuti Anita dan melihat aksinya hanya bisa menggelengkan kepalanya, laki-laki bertubuh tinggi itu tak pernah suka semua jenis susu, selain susu wanitanya. (Hahaha)


___


Di tempat lain Mayang ditemani Bagas datang kepengadilan agama, hati dan pikirannya sudah mantap untuk bercerai dengan Rohman, tak perlu alasan apa pun karena sudah jelas Rohman sudah menikah lagi tanpa izin darinya.


"Anak kamu gimana nanti, apa dia akan menerima kenyataan kalau kamu dan ayahnya berjauhan?" Tanya Bagas saat Mayang duduk menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.


"Yakin, Mas. Aku yakin ini juga yang ia mau," jawab Mayang mantap.


"Jangan pernah ada penyesalan nantinya Mayang," kata Bagas lagi, walau bagaimana pun dirinya tak ingin melihat karyawannya sekaligus temannya bersedih.


"Ga akan, Mas. Aku akan memperjuangkan Ali," ungkap Mayang, wanita itu tahu betul watak Rohman. Jika di anggap hak dirinya maka akan ia ambil cepat atau lambat.


"Setelah ini aku ga mau lagi lihat kamu mengis, dengar!" Tegas Bagas, Mayang hanya mengangguk, seperti ada bongkahan batu besar di tenggorokannya saat ini yang membuat suaranya tercekat.


Beberapa saat menunggu Mayang sudah dipanggil dan di tanya kenapa, bagaimana kejadian sebenarnya, namun Rohman tak hadir, jadi sidang akan di tunda lagi dua Minggu kedepan.


"Sidang dilanjutkan Minggu depan," ucap Mayang pada Bagas yang masih duduk di ruang tunggu menemaninya.


"Oh. Tunggu aja, semoga Rohman ga datang. Sidang akan cepat di tutup," jelas Bagas, Mayang hanya mengatakan oh saja.


Mayang dan Bagas pulang kerumah orang tuanya, setela ini Mayang akan menemui calon pemilik rumahnya.


Tak butuh waktu lama mobil Bagas menepi di halaman ibunya Mayang. Mereka turun bersamaan dan disabut dengan senyuman oleh Ali yang baru saja pulang sekolah, jika Mayang tak menjemputnya maka ia akan berjalan kaki menuju rumah neneknya.


"Ibu dari mana?" Tanya Ali saat melihat wanita yang melahirkannya itu membawa plastik berisikan mainan mobil remote yang ia beli sebelum sampai di pengadilan tadi.


"Beli mainan untuk Ali," dustanya, Mayang tak ingin menceritakan apa pun saat ini demi menjaga mental anaknya agar baik-baik saja.

__ADS_1


"Asik." Anak itu begitu bahagia, karena dirinya sudah meminta mainan saat ayahnya masih bersamanya, namun Rohman mengatakan selalu tidak ada uang.


"Ibu mau bicara sebentar sama Ali boleh?" Tanya Mayang pada putranya, ia mengacak rambut Ali. Mereka kini duduk di teras dengan alas bermotif bunga-bunga, sementara Bagas memperhatikan dari jauh, dirinya tak ingin menganggu momen anak dan ibu.


"Ali keberatan tidak kalo rumah kita dijual?" Tanya Mayang pada putranya yang sedang membuka plastik mainannya.


"Ga, Buk. Rumah itu bikin ibuk capek, bikin ibuk sedih. Di rumah itu ayah sering jahatin ibuk. Enakan di rumah nenek, ibuk selalu tersenyum dan ada nenek juga yang bantu ibuk," jelas putra dari Mayang tersebut. Anak seusianya sudah dapat melihat mana yang baik dan mana yang buruk.


"Jadi, hari ini ibu mau jual rumah itu. Jangan sedih ya?" Mayang mengusap lembut kepala putranya.


"Ali ga sedih. Lagian Ali jarang di sana," kata bocah itu sambil memainkan mobil remote barunya.


Memukul telak wanita yang bergelar ibu itu, dirinya terlalu sibuk mengurus sang suami hingga sedikit abai pada putranya. Ali sering menghabiskan waktu bersama dengan nenek dan pamannya yang kini sudah bekerja di luar kota karena sekarang sudah ada Mayang yang tinggal bersama ibunya jadi paman dari Ali itu lebih memilih untuk bekerja keras demi mengumpulkan mahar.


Bocah itu berlari kedalam saat mendengar suara neneknya memanggil menyuruh Ali berganti pakaian dan menyimpan sepatu pada tempatnya. Orang tua Mayang mendidik Ali untuk jadi anak mandiri, terkadang nenek dari Ali itu menyuruh cucunya untuk mencuci piring dan menjemur pakaian. Sebenarnya belajar mandiri dari kecil sangat penting untuk membuat mereka terbiasa dan selalu ingat dan hatinya tergerak jika melihat sesuatu yang tak enak di pandang mata.


Mayang masih duduk di teras, Bagas segera mendekat saat menyadari Ali sudah masuk kedalam rumah.


"Jadi kita menemui calon pembelinya?" Tanya Bagas serius.


"Jadi. Tapi dekat kok, ga usah di antar. Dia datang kerumah bik Sora nanti agak siangan dikit," jelas Mayang menatap manik mata Bagas yang masih berstatus suami orang itu. Mayang wanita normal yang mempunyai nafsu, dirinya begitu menjaga jarak dengan laki-laki bukan mahram apa lagi Bagas berstatus sebagai suami orang.


"Ya sudah. Besok harus masuk, banyak banget pekerjaan kalo kamu ga datang," kata Bagas pada Mayang, wanita itu memainkan jemarinya, sebenarnya ada yang ingin ia katakan namun ragu.


"Baik, Mas," jawab Mayang saat tubuh tegap itu berdiri dan membelakanginya.


"Kalo begitu aku pamit."


"Terimakasih, Mas."


Wanita cantik itu menghela nafasnya kasar, saat mobil Bagas sudah keluar dari halaman rumah.

__ADS_1


"Mas. Sebenarnya aku ingin berhenti bekerja, karena persahabatan kita sudah begitu dekat. Aku takut rasa cinta itu tumbuh dan semakin mekar di hatiku," lirihnya. Mayang bangkit dari duduknya dan masuk kedalam rumah, rumah yang penuh kenangan bersama mendiang ayahnya.


Bersambung....


__ADS_2