
POV Mayang
Dari lubuk hati yang paling dalam aku sangat membenci laki-laki yang kusebut sebagai suami itu. Dia dengan tega memperlakukanku seperti seorang pembantu bahkan lebih parah. Aku menyesal menikah dengannya, jika saja waktu itu aku lebih mendengarkan kata ibuku mungkin sekarang aku sudah bahagia.
Bertahun-tahun aku bertahan dalam nestapa, bertahan demi sang buah hati yang teramat kucintai. Ali tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, yang Ali tahu hanya Riska pamannya lah sebagai ayahnya. Kasih sayang yang Riska torehkan melebihi ayahnya sendiri. Beruntung aku memiliki keluarga yang teramat cinta padaku.
Hatiku hancur berkeping saat kepalaku di cukur alasan karena bau dan kotor, dia hanya tahu aku kotor tak pernah tahu kalau aku bersih. Jelas kotor karena aku baru pulang dari perkebunan karet milik tetangga yang jauhnya sangat lumayan, andai dia tahu aku menahan mual selama di kebun keret. Aku sebagai istri yang tak menuntut apa pun padahal aku tahu suamiku punya banyak uang. Aku juga tahu dia berbagi dan foya-foya untuk temannya tapi untukku dan Ali dia tidak peduli. Juga karena kejadian ini ayahku meregang nyawa, benciku pada ayah anakku semakin bertambah.
Mengidap suatu penyakit juga bukan keinginanku, aku benci kamu bang. Benci sangatlah benci. Hari-hari yang kuhabiskan di kebun belakang rumah, menanam sayuran, cabai dan ternak ikan lele untuk kujual. Laki-laki yang telah mengatakan menerimaku serta kekuranganku di depan penghulu nyatanya hanya bual belaka.
Kulitku yang dulunya putih bersih kini berubah kecoklatan dan kering, ini semua karena terik mentari yang terus saja menyengat tanpa ampun juga kadang hujan yang mengguyur tubuh ini. Hingga daya tahan tubuh melemah.
Kepedulian laki-laki yang tak ingin kusebut suami itu tak pernah ada sedikitpun. Dia sibuk dengan dunianya, lalu memaksakan kehendaknya. Tak pernah peduli apa aku sehat ataukah sakit. Penyakit berlahan mengrogoti tubuh ini, sakit di bagian saluran buang air kecil begitu terasa juga bagian perut atas begitu sakit saat aku telat makan. Bukan sekali aku telat makan namun sering kulakukan agar anak dan laki- yang tak pantas kusebut suami itu terlebih dulu makan, aku hanya makan sisa-sisa yang tertinggal, juga sering memakan buah jeruk yang yang asam yang dia bawa membuat lambungku menipis, aku memakannya di depan ayah anakku itu atas paksaan darinya.
Hatiku tambah teriris seperti sembilu menyayat hati, ketika mata kepalaku melihat dia merangkul mesra wanita yang usianya lebih muda dariku. Saat itu aku ingin periksa kerumah sakit bersama ibu tentang penyakit yang kurasakan. Ibu selalu tahu apa yang kurasakan namun beliau diam dan memilih tidak pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga kami.
Selalu ibu yang peduli padaku. Seperti ini rasanya sama saja seperti janda yang menghidupi anaknya sendiri dan berjuang sendiri.
Masih melekat dalam ingatan saat aku di tinggalkan di rumah sakit sendiri dan berjuang sendiri, saat itu aku berdoa agar Tuhan mengambil nyawaku saja, hidup yang tanpa arah dengan suami seperti dia membuat aku lelah.
Mataku terus saja menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih, tiba-tiba ada seseorang datang lalu duduk di sampingku.
__ADS_1
”Kamu baik?” Tanyanya dengan nada khas yang pernah aku kenal dulu. Jantungku seakan berhenti berdetak untuk sesaat.
”Baik,” jawabku menoleh kearah suara. Mata kami saling bertemu untuk sesaat.
”Kamu berbeda sekarang,” lirihnya. Ingin meraih tanganku tapi segera kutepis.
”Jangan sentuh. Kita bukan mahram,” sungutku. Bukankah laki-laki dan perempuan yang belum menikah bukan mahram dan tidak boleh bersentuhan kecuali dalam keadaan darurat.
”Maaf, Mayang. Aku tau tapi aku terlalu khawatir padamu, aku masih sangat mencintaimu hingga saat ini. Banyak wanita yang datang namun hanya bayanganmu yang menari dalam ingatan,” jelasnya panjang lebar. Tanpa di sadari ada sosok yang mendengar percakapan kami di ambang pintu.
”Ibu,” lirih laki-laki yang teramat mencintaiku dulu hingga detik ini. Dia bangkit dari duduk lalu mendekati wanita yang melahirkanku itu segera meraih tangannya dan menyalaminya dengan takzim.
”Mayang, maafkan ibu. Suamimu meminta agar ibu menjagamu di sini sampai kamu pulih. Mayang dengarkan ibu kali ini, laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti dia ada baiknya kamu gugat cerai saja,” ucap ibu tanpa henti. Entah apa yang merasukinya hingga dia mengatakan kata-kata yang tak pernah dia katakan sebelumnya.
”Bu, bisakah kita bicara ini lain waktu,” harapku pada wanita yang berdiri membawa tas besar. Mendengar perkataan ibu yang ngaur laki-laki bertubuh tegap itu keluar dari ruangan rawat.
”Dibilangin kok susah kamu itu. Kamu sekarang udah kayak gembel, ga seperti dulu kamu itu kembang desa,” protes ibu lagi.
Aku tahu hatinya hancur melihat aku bekerja banting tulang demi mencukupi nafkah keluarga. Laki-laki berbadan kekar itu kembali masuk dan meninggalkan selembar kartu nama di atas almari kecil di sampingku lalu menyalim tangan ibu dengan takzim berpamitan dan keluar dari ruangan tanpa menoleh ke arahku.
Hatiku hampa, jangankan untuk mencintai orang atau laki-laki lain, mencintai diri ini saja rasanya enggan. Untuk apa aku bertahan jika aku harus selalu menderita, Ali? Tidak sepenuhnya Ali bergantung padaku, Ali lebih sering bersama ibu karena ibu di rumah sangat kesepian dan Riska juga sering mengajaknya liburan dan bermain.
__ADS_1
Permohonan agar Tuhan mengambil nyawaku dalam ruangan operasi tidak dikabulkan oleh Tuhan, mungkin Tuhan ingin sedikit bermain-main dalam sandiwara yang sedang kujalani. Aku sudah menghabiskan waktu tiga hari di rumah sakit tapi ayah dari anakku itu tak kunjung datang, hingga hari ini kepulanganku dari rumah sakit juga aku harus berjalan sendiri menuju kursi tunggu di rumah sakit.
Dia yang tak punya hati atau aku yang egois tak pernah peduli pada diriku sendiri, terlalu banyak tuntutan darinya hingga aku merasa lelah dan sakit. Beberapa menit menunggu ayah dari anakku datang dengan sebuah mobil mewah entah milik siapa. Tak ada kata spesial keluar dari mulutnya, bahkan kata sayang saja tak pernah terucap.
Hatiku terasa sesak saat sepasang sepatu hak tinggi berada di kursi samping kemudi, aku memilih positif saja mungkin ini mobil yang temannya yang dia pinjam.
____
Hingga dua Minggu aku sudah merasa sedikit lebih segar dan sedikit bersih dan kulitku juga sudah mulai putih kembali. Rumah yang tadinya bersih kini seperti kapal pecah yang habis menabrak karang di lautan. Namun aku lebih memilih diam dan mengabaikan semua yang terjadi dalam rumah ini.
Ada yang mengganjal dalam hati, mobil mewah itu tak beranjak dari halaman, batinku mengatakan bahwa ini mobil miliknya namun dia berkilah bahwa mobil itu milik saudaranya yang ada di Malaysia.
Kini keadaanku sudah membaik dan bekas operasi juga sudah mengering. Di teras aku membersihkan beras usang yang di beli oleh ayah anakku itu, beras yang sudah bau apek dan keras jika di masak menggunakan air yang sedikit.
Selesai membersihkan beras aku membereskan semuanya, tanpa kusadari laki-laki yang biasa kusebut pipi itu memerhatikanku dan menyentuh kalung yang kukenakan, menanyakan milik siapa dan dari mana, aku menjawab dengan jujur jika yang kudapat dari ibu, tak pernah berbohong padanya semasa kami berumah tangga.
Aku kembali masuk dan merima panggilan dari benda pipih milikku yang telah usang. Laki-laki yang akan menjadi bosku nanti akan datang mengecek keadaanku dan juga mengecek rumahku.
Baik, kali ini permainan akan kita mainkan dengan mulus. Siapa yang lebih dulu bermain api denganku. Semoga Tuhan selalu berpihak kepadaku dan menyertaiku.
Bersambung....
__ADS_1