CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 30


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi, mata hari sudah merangkak naik dan semakin hangat, tubuh berlumur dosa itu masih meringkuk diatas ranjang.


"Heh tidur di sini?" Wanita tua itu mengguncangkan tubuh Rohman kasar.


"Maaf. Rasanya begitu mengantuk," ucap Rohman tanpa menoleh, ia semakin menarik selimut dan menutup kepalanya.


"Mana bagian saya?" Tanya wanita tua itu, mencari sesuatu, Rohman hanya menunjukkan ke arah ranselnya, ia tak peduli seberapa banyak wanita itu mengambil jatahnya, lagi pula itu hitung-hitung sewa kamar dan wanita tua itu yang memberikan pekerjaan ini untuknya.


.


.


.


Matahari semakin meninggi, di rumah ibunya Anita baru bangun dari tidurnya dan langsung menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh ibunya, ingin rasanya ia selamanya merasakan kenyamanan layaknya seperti ratu tapi apa boleh buat, sekarang Rohman sudah menjadi suaminya, mau tak mau ia harus melayani Rohman.


Di tempat yang berbeda Rohman beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri lalu keluar dari tempat menjijikkan itu.


Menunggu angkot membuatnya muak, berlahan ia melangkah menelusuri trotoar pejalan kaki, banyak mata memandang kearahnya namun ia tak peduli. Sepasang mata Rohman tertuju pada showroom motor, laki-laki itu merasakan lelah jika harus naik angkutan umum setiap saat.


Memasuki showroom dan melihat motor yang kiranya sesuai dengan isi kantongnya saat ini. Laki-laki bertubuh tinggi itu memilih motor matic bekas yang masih terlihat baru, lumayan bisa membantu menghemat pengeluaran nantinya. Menuju kasir dan membayar motor bekas yang akan menjadi hak miliknya, senyumnya mengembang saat keluar dari showroom motor.


Rohman memacu motornya sedang, menyusuri jalanan yang sedikit agak macet. Tak butuh waktu lama dirinya sudah berada di depan rumah, keningnya sedikit mengernyit saat melihat sepeda motor terparkir di depan rumahnya.


'Siapa ya?' batinnya. Rohman memarkirkan motornya sedikit jauh dari kontrakannya, tepatnya di halaman rumah tetangganya.


Rohman memasuki rumah setelah sebelumnya memberi salam tapi tak ada sahutan, berlahan handel pintu itu ia buka tanpa suara decitan.


Seperti seorang pencuri saja ia masuk dengan cara mengendap-endap, pintu kamar tertutup sempurna, kembali handle pintu kamar kini ia putar berlahan.


Dua manusia sedang mereguk nikmatnya madu dunia, saling merengkuh dan saling mengeluarkan suara kenikmatan. Rohman terpaku, hatinya hancur dunianya kini porak-poranda, istri yang ia sangka sedang mengandung anaknya itu rela memberikan tubuhnya untuk di nikmati orang lain selain dirinya.


"Ah...." Suara Anita yang menjadi candu ini berubah menjadi benci untuk Rohman dengar saat ini.


Mata laki-laki itu memerah menahan amarah yang kian membara.


Anita!" Hardik Rohman. Dua insan manusia yang sedang mereguk manis madu dunia itu menghentikan aktivitasnya, mereka menutupi tubuhnya bersamaan.

__ADS_1


"Menjijikkan sekali apa yang kulihat saat ini Anita!" Suara Rohman bergetar hebat.


"Mas," lirih Anita.


"Mulai hari ini. Aku melepaskanmu, aku menalakmu." Rohman bersuara lantang, langit bergemuruh setelah ucapan Rohman terucap, seakan alam tahu jika yang diucapkan Rohman saat ini adalah yang dibenci oleh Allah.


Rohman mendekati tubuh laki-laki yang masih mengenakan selimut itu, laki-laki bertubuh tinggi itu melayangkan tinju kearah laki-laki itu.


"Ini belum seberapa bangsat!" Hardik Rohman, matanya masih memerah.


"Mas, bagaimana anak kita nanti kalau kamu menceraikan aku?" Tanya Anita pada laki-laki yang telah menalaknya itu.


"Aku tak peduli, bisa saja dia juga bukan anakku," kata Rohman memiringkan bibirnya dan menatap nyalang kearah Anita.


Membuka almari dan mengeluarkan seluruh isi pakaiannya, lalu membuka laci ingin mengambil kartu ATM miliknya beserta bukunya. Matanya terbelalak saat menemukan akta cerai atas nama dirinya.


"Jadi selama ini Anita menyembunyikan segalanya," lirih Rohman. Akta cerai itu ia masukkan juga kedalam tas ransel miliknya.


Dunianya kini seakan runtuh, kekasih halalnya telah berkhianat, dengan langkah gontai laki-laki bertubuh tinggi itu keluar dari rumah kontrakan itu, meninggalkan Anita yang terpaku bersama selingkuhannya. Ia tak tahu kemana langkahnya akan ia ayunkan setelahnya, sementara Anita bergeming.


"Kamu tanggung jawab," kata Anita pelan.


"Kamu di sini aja dulu, kan rugi jika kontrakan belum habis tapi udah di tinggal," kata laki-laki itu mengecup kening Anita pelan.


"Iya. Tapi kamu harus sering jenguk aku," ucap Anita lembut.


"Pasti, aku akan melakukan apapun demi kamu dan anak kita," jelasnya, Anita tersipu. Rayuan maut itu membuatnya melayang, mereka kembali pada kegiatan yang sebelumnya sempat tertunda.


.


Flashback


Saat pulang dari rumah orang tuanya Anita memesan ojek online, wanita hamil itu tidak memperhatikan foto profil ojek tersebut.


Matanya membulat saat yang datang adalah kekasih hatinya yang telah beberapa bulan menghilang. Anita berusaha menghindar tapi laki-laki itu terus saja mendekat dengan sejuta alasan.


"Sayang, dengarkan penjelasanku," ucap laki-laki itu sambil mengejar Anita yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Aku ga butuh penjelasan apapun dari kamu," jawab Anita sambil menoleh kearah laki-laki tampan berkulit kuning langsat itu, matanya menyimpan segala duka.


"Nita, aku bukan sengaja meninggalkan kamu, tapi paksaan dari orang tuaku untuk ...." Ucapannya diptong segera oleh Anita.


"Untuk kuliah atau menikah?" Tanya Anita dengan nada tinggi.


"Kuliah, tapi sekarang aku pindah kesini lagi setelah ayah meninggal dunia," jelas laki-laki itu memasang wajah mengiba.


"Aw." Anita menyentuh perutnya yang terasa sakit.


"Kamu hamil?" Laki-laki itu memandang perut Anita yang mulai terlihat buncit.


"Ya anak kamu!" Pekik Anita sambil menjatuhkan bulir bening. Laki-laki berkulit kuning langsat itu segera turun dari motornya dan memeluk Anita erat.


"Maafkan aku," lirihnya, Anita melonggarkan pelukan laki-laki itu lalu memandang manik matanya. Masih ada getaran cinta seperti dulu, rasa itu masih sama, aroma tubuh laki-laki itu seakan mampu membius wanita hamil itu.


"Anita. Aku masih mencintaimu," ucap laki-laki itu.


"Aku juga masih mencintaimu, Yazid," ucap Anita, ia kembali memeluk tubuh tegap Yazid.


Tak lama hujan turun membasahi bumi, menyejukkan hati yang sebelumnya rapuh dan sudah hampir patah. Mereka menaiki motor yang Yazid kendarai lalu melaju menembus rintikan hujan.


Syahdu antara dua insan itu semakin terasa, melepas rindu yang dulunya sempat menghujam dada.


Beberapa lama dalam perjalanan mereka tiba di rumah kontrakan Anita, dua sejoli itu basah kuyup, namun terasa hangat dalam gelora asmara yang kini mulai tersulut kembali dan memberi bara pada hamparan ladang cinta.


"Masuk, Yazid," ajak Anita pada laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu. Laki-laki itu mengangguk dan masuk lalu duduk di sofa dengan tubuh tergugu.


"Sebentar aku ganti baju." Anita masuk kedalam kamar dan mengantikan pakaiannya yang basah.


Tak lama Anita keluar dengan kain sarung di tangannya.


"Pakailah," ucap Anita lembut, laki-laki itu meraih sarung pemberian Anita dan melepaskan pakaiannya. Keduanya saling bertukar cerita, bahkan Anita menceritakan bagaimana perjuangan dirinya menjebak Rohman agar laki-laki itu jatuh dalam pelukannya.


Keduanya larut sampai mereka merasakan getaran yang sama, hal terlarang pun mereka lakukan demi kepuasan keduanya.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2