
"Itu Pak RT," tunjuk Tuti kearah Rohman yang sedang menjabat tangan Mayang, karena laki-laki bertubuh kurus itu baru saja meminta maaf pada mantan istrinya.
"Sabar ... Sabar ...." Pak RT menyuruh Tuti dan ibu-ibu lainnya mundur agar tidak main hakim sendiri.
"Apa benar kalian mesum di sini? Bukankah kalian sudah bercerai?" brondong pak RT beberapa pertanyaan pada Rohman yang sudah berdiri sambil memegang tongkatnya.
"Enggak, saya lagi sakit," lirih Mayang membuat pak RT merasa bersalah telah mendengarkan fitnah yang dituduh oleh Tuti.
Tak lama Abizar pulang sambil membonceng Ali diikuti ibunya Mayang di belakang Abizar.
Ali berlari menyelip beberapa orang yang sedang berkumpul di ruang tamu, bocah itu takut terjadi sesuatu pada ibunya karena melihat kerumunan warga, begitu juga dengan Abizar mempercepat langkahnya melihat kearah warga yang memasang wajah tak suka kearah Rohman dan kearah Abizar.
Semakin Mayang terlihat tampil memukau maka Tuti semakin iri pada perempuan yang terlah melahirkan anak Rohman itu.
"Punya anak udah janda bok Yo di jaga," cetus ibu-ibu yang sedang berada di samping pak RT saat ini pada wanita yang telah melahirkan Mayang.
"Saya suaminya, dia bukan janda. Kami akan segera meresmikannya, dia sekarang lagi sakit mana mungkin mesum!" terang Abizar memukul telak perkataan ibu yang mengatakan Mayang janda.
"Alasan aja untuk menutupi aib Mayang," ucap Tuti kesal, ia ingin fitnahnya berhasil memisahkan Abizar dan Mayang.
Pak RT ikut membenarkan perkataan Abizar karena waktu akad nikah ia ikut menghadiri undangan pernikahan siri yang begitu sederhana.
Beberapa ibu-ibu bersorak dan meninggalkan rumah orang tua Mayang, ibunya Ugik ikut hadir dan ia merasa kesal sama Tuti, wanita tembun itu menolak kepala Tuti dengan kasar hingga ia terhuyung.
"Ih apaan?" Tuti hendak membalas kelakuan ibunya Ugik namun kalah cepat dengan ibu lainnya tak sabar langsung menarik rambut Tuti.
Muka Tuti saat ini sudah memerah menahan malu karena tidak terbukti benar ucapannya. Ia juga merasa cemburu karena Abizar terang-terangan menyebut bahwa Mayang adalah istriya.
"Sudah ... Sudah .... Semua jelas sekarang, silakan pulang keeumah masing-masing," ungkap pak RT sambil berbalik dan mengangkat kedua tangannya seperti mengusir bebek.
Pak RT duduk sejenak menasehati Mayang dan Rohman juga Abizar, sementara bocah kecil itu sedang asik memainkan robot yang baru saja di belikan oleh Rohman.
Ini kali kedua Ali merasakan di belikan mainan oleh laki-laki yang ia sebut sebagai ayah.
Sesat kemudian pak RT berpamitan pulang begitu juga dengan Rohman, laki-laki kurus itu tak ingin menambah luka di hatinya dengan menyaksikan kebahagiaan Mayang saat ini.
.
__ADS_1
.
Laki-laki pemilik mata elang itu menghampiri Mayang yang terbaring lemah, menyerahkan tes yang baru saja ia beli.
Berlahan Abizar membantu ibu satu anak itu untuk bangkit lalu menuju dapur, menyuruhnya duduk dan memberikan teh hangat yang telah di sediakan oleh ibunya Mayang, sedangkan Ali sudah pergi bermain kerumah temannya.
"Makan sedikit," ucap Leha pada putrinya yang sedang duduk sambil memandang teh hangat dengan pandangan kosong.
"Tidak, Bu. Aku memikirkan nasibku dan Ali jika nanti aku benar-benar hamil," gumam Mayang membuat Abizar dan dan ibu kandung Mayang saling melempar pandang.
"Jangan di pikir yang belum terjadi," tegas Abizar. Mayang hanya diam tanpa respon apapun terlebih tadi kedatangan warga membuat ia semakin drop.
"Maaf tadi telat pulang karena ketemu sama ibu di jalan, motornya lagi mogok," terang Abizar membuat Mayang menoleh kearahnya.
"Ga apa-apa. Besok pagi aja aku tes," ucap Mayang pelan sambil menyunggingkan senyum kearah Abizar.
Laki-laki pemilik mata elang itu menepuk jidatnya. "Harusnya kan bisa nanti sore belinya, Sayang," keluh Abizar sedangkan Mayang hanya terkekeh kecil.
Abizar mengikuti langkah Mayang kedalam kamar, ia membantu wanita cantik yang kini sudah menjadi istrinya untuk berbaring. Sebenernya ada rasa tak tega meninggalkan Mayang syang sedang sakit saat ini namun apa boleh buat pekerjaan menantinya.
Laki-laki pemilik mata elang itu harus segera datang ke pabrik kue kering miliknya karena mesin ada yang rusak seperti ketesengajaan, padahal selama ini ia rajin memantau CCTV tapi masih saja bisa kecolongan. Setelah berpamitan Abizar meninggalkan rumah Leha setelah sebelumnya sudah berpamitan juga pada mertuanya.
.
.
"Halah. Iri aja pake fitnah si Mayang," pekik ibunya Ugik yang duduk di balai yang tak jauh dari rumah kontrakan Tuti, sedangkan Tuti kini udah teramat kesal membanting pintu kasar hingga dentuman keras begitu jelas terdengar.
.
.
.
___
Magrib menjelma memperlihatkan cahaya kekuningan di ujung langit, sedangkan Rohman belum tiba di yayasan saat ini, ia ingin menikmati alam selagi ia masih ada di dunia saat ini. Ia tak tahu kapan ajal akan menjemputnya, siap tidak siap manusia harus siap.
__ADS_1
Laki-laki bertubuh kurus itu sedang duduk menikmati senja yang hampir meninggalkan dirinya dalam gelap malam, ia masuk kedalam masjid setelah puas menikmati matahari tenggelam.
Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim lalu meminta ampunan pada sang maha kuasa, waktu terus berlalu namun laki-laki kurus yang kini sudah tidak ada yang mengurus itu masih saja berada dalam Majid, ia menanti adzan isya berkumandang.
.
.
Sedangkan di yayasan temannya sibuk mencari keberadaan Rohman, mereka bingung harus mencari kemana karena Rohman tidak berpamitan saat hendak pergi tadi pagi.
"Itu bukannya Rohman?" tunjuk laki-laki tembun yang tega memfitnahnya kemarin.
"Eh iya. Dari mana kok pulang malam banget ya?" Nurul ingin membantu Rohman berjalan namun ia urungkan demi menjaga persahabatannya dengan Rohman dan persahabatan laki-laki tembun itu dengan Rohman.
Senyum laki-laki yang memakai tongkat itu mengembang setelah tepat kini berada di ambang gerbang, saat hendak masuk ada seseorang menawarkan benda pipih dengan harga murah. Rohman ingin membelinya namun ia saat ini tak punya uang sama sekali.
"Saya ga ada uang," ucap Rohman pelan sambil membolak-balikkan gawai yang lumayan canggih.
Nurul dan laki-laki tembun itu kini mendekat kearah Rohman untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Murah ini, Teh." Laki-laki berlogat khas itu menyodorkan gawai yang masih padam.
"Kok ga mau nyala?" tanya Nurul pada laki-laki berlogat khas sambil tersenyum kecil.
Laki-laki berkulit putih yang mengambil gawai dari tangan Nurul terlihat kebingungan.
"Ya udah kalau tidak mau, Teh." Laki-laki berlogat khas meninggalkan pekarangan Yayasan.
Ketiganya masuk kedalam kompleks yayasan sedangkan Rohman berjalan agak lambat dan ia sebenar lagi menutup gerbang.
Bug ....
Seseorang memukul kepala Rohman dengan balok kayu lalu melarikan diri sambil tertawa begitu nyaring. Nurul berteriak histeris sesaat setelah berbalik, ia melihat Rohman sudah terkapar dan bersimbah darah.
Laki-laki bertubuh tembun itu masih punya hati nurani, ia tak membiarkan Rohman terbaring begitu saja, dengan gerak cepat ia mengendong tubuh Rohman lalu membawanya masuk kedalam yayasan, sementara Nurul melaporkan kejadian ini pada kepala yayasan.
Kadang buruk tak selamanya buruk, begitu juga dengan orang baik, orang baik tak selamanya bersikap baik.
__ADS_1
Adakalanya orang baik merasakan titik jenuh yang membuat dia lelah berbuat baik karena tak pernah dihargai.