CINTAMU YANG MENGHILANG

CINTAMU YANG MENGHILANG
Bab 53


__ADS_3

"Buk. Kaki Ali sakit," lirihnya, bocah kecil itu memeluk Mayang begitu erat seolah ada rasa takut yang begitu dalam.


"Kok bisa lebam gitu?" tanya Mayang menyentuh kemerahan hampir kebiruan yang ada di kaki anaknya itu.


"Tadi Ali lari-lari sama temen saat pulang dari sekolah, terus ga sengaja nabrak bude Nila dak kepijak kaki bude Nila ...." Bocah kecil itu menyeka sudut matanya.


"Terus?" Mayang melonggarkan pelukannya lalu menatap putranya, mencari kejujuran di mata indah Ali.


"Ali dah minta maaf tapi bude ga mau maafin Ali, bude hukum Ali. Mukulin Ali pake ranting," jelas bocah itu sambil menyusut air matanya, menahan sesugukan.


"Kita kerumah bude sekarang," lirih Mayang lalu mengajak Ali masuk kedalam rumah untuk mengantikan pakaiannya.


"Ga mau, Buk. Takut nanti tambah di marahin," kata Ali pelan sementara Abizar juga sama kesalnya seperti Mayang saat ini.


Bocah kecil itu masuk kedalam kamarnya untuk mengantikan pakaian sementara ibu satu anak itu duduk di teras sambil mengatur napasnya.


"Yakin mau kerumah Nila?" Abizar mengusap pelan bahu Mayang lalu mengecup kening ibu satu itu.


"Yakin. Aku g terima anakku disakiti sama siapapun, Mas," ucap Mayang lalu bangkit dari duduknya.


"Tapi ini udah siang, Dek."


Tak lama bocah kecil itu keluar dari kamar dan menemui ibunya.


"Laper, Buk." Bocah kecil itu seolah takut jika bertemu kembali dengan Nila nantinya.


"Ya udah ayo makan dulu, sebentar lagi kita kerumah budemu itu," ucap Mayang lalu memegang tangan Ali dan mengajaknya masuk.


Laki-laki bertubuh tegap itu menghentikan langkah Mayang yang sudah berada di ambang pintu.


"Makan chicken crispy yuk, Al." Abizar mendekat kearah anak sambungnya itu lalu memindai wajah yang begitu mirip dengan Rohman.


"Mau, tapi apa boleh makan chicken crispy? Dulu kata ayah chicken crispy itu ayam mati di goreng sama tepung," jelas Ali pada laki-laki pemilik mata elang itu dengan serius.


"Ya boleh. Kalo Ayamnya di tepungin masih hidup ya lari-lari dong," seloroh Abizar membuat Ali dan Mayang tergelak begitu juga dengan dirinya.


Perkataan Rohman yang dulu sering melarang anaknya untuk makan enak, alasan sederhana karena waktunya masih panjang menjalin hidup, Ali juga akan menikmatinya nanti dengan hasil keringatnya sendiri kata Rohman.


"Jadi gak ni? Bengong aja." Abizar laki-laki yang penyayang pada anak-anak langsung menggendong tubuh bocah itu masuk kedalam mobil sementara Mayang berpamitan pada ibunya di dapur.


Tak lama Mayang keluar dengan membawa tas kecil lalu meninggalkan pekarangan rumah, membelah jalanan kota yang macet pada siang hari. Menuju restoran sederhana dan laki-laki bertubuh gempal itu juga berencana mengajak Ali bermain sepuasnya agar bocah itu melupakan kejadian tadi.


.


.


.


_____


Di tempat yang berbeda Tuti sedang mengobrol dengan tetangganya dan memperlihatkan video Mayang menampar Nila.

__ADS_1


Wanita licik itu selalu bisa mencari celah untuk menghancurkan Mayang, tak pernah ada rasa syukurnya walaupun Mayang memberikan gamis cicilan untuknya yang sampai sekarang belum lunas, saat Mayang mengih Tuti mengelak tak ada uang.


"Buk ... Buk. Lihat deh aku punya berita hot," celetuk Tuti saat Tuti mengahmpiri ibu-ibu yang sedang merujak di balai dekat dengan rumah Mayang yang dulu, para ibu-ibu biasa berkumpul sambil menunggu tukang sayur di situ.


Pos ibu-ibu itu selalu ramai setiap harinya kecuali menjelang magrib dan pagi hari.


"Emang berita apa, Tut?" Tanya ibunya Ugik hingga membuat yang lainnya tergelak.


"Tut. Emang aku kentut," jawab Tuti sambil memanyunkan bibirnya lalu ia naik ke atas balai yang mirip pos ronda itu kemudian duduk di samping ibunya Ugik.


"Ya maaf. Kan nama kamu Tuti, ga salah juga dong aku." Ibunya Ugik itu bergeser sedikit agar wanita yang memakai bedak pemutih itu bisa duduk.


Tuti menatap kesal kearah ibunya Ugik lalu mengeluarkan gawainya dari dalam saku daster kebanggaannya.


"Ini lihat!" Tuti menyodorkan gawainya kearah ibunya Ugik dengan kesal.


Wanita bertubuh sedikit berisi itu memperhatikan video yang ada di gawai Tuti, terlihat jelas saat Mayang menyiram dan menampar Nila begitu kerasnya.


"Sakit banget pasti, itu Kakaknya Rohman kan?" tanya salah satu dari ibu-ibu yang berkumpul itu.


"Kayaknya sih, Buk. Mau coba, Buk. Sini!" seloroh ibunya Ugik membuat suasana semakin riuh dengan tawa.


"Ogah, dia pasti salah. Aku ga salah apa-apa," wanita berambut gelombang itu memanyunkan bibirnya lalu meninggalkan balai dan masuk kedalam rumahnya yang ada di depan balai itu.


"Ngambeg," kata ibunya Ugik sambil kembali memperhatikan video tersebut dan memberikan pada ibu lainnya untuk melihat bergantian.


"Ga nyangka ya Mayang setega itu," ucap seorang ibu yang usianya hampir seusia ibu Mayang itu.


"Buruk ya perlihatkan aja kayak kamu kan Tuti," seloroh ibunya Ugik setelahnya kembali tergelak membuat Tuti berdecak kesal dan menyeggol kasar tubuh ibunya Ugik.


"Mulut di jaga," ucap Tuti lalu merampas kasar gawainya di tangan ibu-ibu di depannya yang sedang melihat video itu.


"Elah dalah. Marah sama emaknya Ugik aku pula sasarannya," kekeh wanita cantik berkacamata yah duduk di depan Tuti tersebut.


Wanita yang memakai bedak pemutih itu turun dari balai sambil melompat kecil dan meninggalkan ibu-ibu yang masih merujak, ia sama sekali tak memakan satu potong buah pun sangking kesalnya pada ibu-ibu yang ada di sana.


Tuti kesal karena mereka malah memperolok dirinya bukan menghujat Mayang yang jelas-jelas salah menurutnya.


"Jijik banget! Kesel ... Kesel ... Kesel ...." teriak Tuti lalu menekan tombol panggilan dan menelpon seseorang.


"Ketemu yuk!" Ajak Tuti setelah panggilan terhubung, tanpa memberi salam.


"Di mana?" Jawab laki-laki di sebrang sana.


"Di taman, pengen Boba juga nih," kekeh Tuti sambil menutup mulutnya.


"Boleh. Tapi kalo ga ada duit atau pijit nikmat kok males," jawab laki-laki di sebrang sana ikut terkekeh kecil.


"Tenang. Aku mau kasih duit banyak sekaligus cewek," jelas Tuti lalu mematikan panggilan agar laki-laki yang pernah jadi teman kencannya itu penasaran.


.

__ADS_1


.


Jika sudah tertanam rasa benci maka apapun akan ia lakukan untuk membuat orang lain tidak bahagia.


Tuti mempersiapkan dirinya lalu memindai wajahnya di cermin, sebenarnya Tuti wanita berkulit sawo matang, namun memakai bedak pemutih hingga kontras wajahnya berbeda dengan leher, tangan dan kakinya.


"Ga mandi aja cantik," cicitnya lalu menyambar tas di atas tempat tidurnya.


Tuti keluar dengan pakaian memukau dan aroma parfum yang hampir habis satu botol.


"Ga mandi to, Ti?" Ibunya Ugik menyunggingkan senyum kearah Tuti karena Tuti keluar dari dalam rumah begitu cepat, tidak mungkin madi seorang wanita tak butuh waktu dua puluh menit, sementara Tuti mengabaikan perkataan ibunya Ugik dan berlalu begitu saja.


"Ti, aroma kamu ketinggalan nih. Bawa sekalian dong. Kita-kita di sini mau muntah," seloroh ibunya Ugik kembali dengan suara keras agar Tuti dapat mendengarkan perkataannya.


"Bilang aja iri," pekik Tuti, ia mempercepat langkahnya karena ada angkutan umum di jalan besar sepertinya sedang menunggu seseorang.


Dengan napas terengah-engah Tuti menghampir angkutan umum yang masih berhenti di bahu jalan.


"Pak kok ga ada penumpang? Lagian kok berhenti di sini?" Tuti menanyakan beberapa pertanyaan pada supir angkutan umum yang sedang beristirahat di bangku samping gerobak bakso yang masih tutup.


"Mogok, Dek," lirihnya lalu mengelap keringat yang ada di dahinya.


"Capek aja aku lari ya Alloh," ucap Tuti pelan, ia merogoh tasnya lalu melihat jam yang bada di gawainya.


Beberapa saat menunggu akhirnya angkutan umum lain tiba dan Tuti langsung masuk kedalamnya, lagi-lagi sepi tanpa satu penumpang pun.


"Jalan, Bang," kata Tuti sambil membenarkan bajunya.


"Siapa yang mau narik, Dek. Saya mau jemput dan perbaiki angkutan teman saya yang itu," jelasnya dengan heran.


Lagi-lagi Tuti tertipu, ia berdecak kesal lalu turun dari dalam angkutan umum sambil menepuk pundak supir angkutan umum itu dengan kesal.


Kedua laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan Tuti itu saling melempar senyum, lalu berbisik lirih.


Beberapa saat menunggu angkutan umum yang biasa lewat tak terlihat satu pun.


"Ih. Lama banget, mana panas, laper lagi," gumamnya. Tuti hampir terlelap saat bersandar di bangku di depan gerobak bakso itu.


Tak lama angkutan umum tiba dan Tuti di panggil oleh dua laki-laki yang sedang memperbaiki angkutan umum yang rusak itu. Ia berdecak kesal karena tidurnya di ganggu.


"Serba salah ngomong sama perempuan," seloroh salah satu dari mereka hingga keduanya tergelak saat angkutan umum yang di tumpangi Tuti telah benar-benar pergi.


.


.


Kita merugi jika menyimpan rasa iri dan dengki pada orang lain karena semua itu akan menjerumuskan kita sendiri ke dalam kubangan dosa yang akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.


Dosa yang tidak akan Allah ampuni adalah dosa pada sesama hamba Allah itu sendiri.


Jadi berhati-hatilah jika berbuat dosa pada manusia, karena tak ada ampunan dari Allah jika manusia itu sendiri tidak memaafkan dosa kita.

__ADS_1


__ADS_2