
Beberapa menit dalam perjalanan akhirnya Mayang yang di temani Abizar sampai di tujuan,ada rasa ragu di hati Mayang saat ini.
Perlahan langkah ibu satu anak itu ia ayunkan menuju rumah mantan mertuanya, wanita cantik itu menghormati ibu dari ayah anaknya sebab itulah dia hadir di rumah Yeyen malam ini.
"Assalamualaikum..." Mayang mengetuk pintu rumah yang pernah ia tempati bersama Rohman dulunya.
Tak lama terdengar sahutan dari dalam, "masuk," ucap Yeyen setelah membukakan pintu.
"Saya datang kesini atas perintah mbak Tuti," kata Mayang sambil menjatuhkan bokong di atas sofa ruang tamu setelah menyalim takzim tanyan ibunya Rohman.
"Iya. Maafkan Mama udah merepotkan kamu malam-malam begini, Mama ingin Ali tinggal sama Mama di sini boleh tidak?" tanya Yeyen pada mantan menantunya itu.
"Ga merepotkan kok, Ma. Tapi Mayang juga minta maaf karena Mayang tidak bisa mengizinkan Ali tinggal di sini," lontar Mayang.
Yeyen menghela napas panjang, "ibu kesepian di rumah sementara Eti sudah kembali bekerja sambil kuliah," imbuh Yeyen.
"Kenapa enggak ajak anak mbak Nila aja tinggal bersama Mama," ujar Mayang, memperhatikan manik mata Yeyen, ibu satu anak itu mencari kejujuran di manik mata Yeyen.
"Ga dikasih sama bapak e," jelas Yeyen lalu menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya yang terus saja ia usap mengunakan punggung tangannya.
Wanita paruh baya itu kemudian merangkul Ali mengajak bocah kecil itu untuk tinggal bersamanya berkali-kali, walaupun berkali-kali pula Ali menolak untuk tinggal bersama Yeyen, sedangkan Abizar enggan untuk masuk kedalam rumah Yeyen, laki-laki bertubuh gempal itu memilih duduk di teras sambil menghirup asap rokok yang baru saja ia bakar.
.
.
Setelah berbincang-bincang sesaat Mayang kembali pulang dengan wajah lesu, antara kasihan dan kesal masih begitu terasa pada mantan mertuanya itu.
"Kenapa?" tanya Abizar saat sudah dalam perjalanan, sedangkan Ali sudah tertidur lelap.
"Mama minta pinjam uang sepuluh juta, katanya mau bayar cicilan bank. Dalam satu bulan ini harus ada sepuluh juta kalau tidak Mama harus pergi dari rumah peninggalan almarhum ayah," jelas Mayang pelan, satu sisi wanita cantik itu juga takut jika Abizar marah padanya.
"Beli apa dia sampai habis sepuluh juta?" Abizar merasa heran karena biasanya orang yang sudah paruh baya tak banyak maunya.
Mayang menghela napas panjang, "mbak Nila yang ambil uang bank dua puluh lima juta, masih tersisa sepuluh juta dan di suruh lunasi sama Mama," papar Mayang.
Ada rasa tak enak hati harus menceritakan tentang mantan mertuanya pada suaminya saat ini, terlebih Abizar sudah begitu peduli pada Ali saat ini.
"Apa kamu yakin mama mertua kamu ngutang di bank?" Abizar melirik sekilas kearah Mayang lalu kembali menatap jalanan.
"Yakin, soalnya mama memperlihatkan tagihan bank yang menunggak," jelas Mayang.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan di rumah," pungkas Abizar, ia terus melajukan kendaraannya, membelah jalanan yang mulai sepi.
.
.
.
_____
Di tempat lain Rohman belum terlelap, ia masih berkumpul dengan teman-temannya.
"Kalo Rohman yang bawa enggak akan ketahuan, kita kasih tau sama kepala yayasan kalo Rohman keluar menemui keluarganya," terang teman satu kamar Rohman, sedangkan laki-laki yang memakai kaki palsu itu hanya diam saja tanpa menjawab apapun.
Kali ini mereka punya cara besar untuk menjual g*nja dengan cara mereka, Rohman bisa jadi jalan untuk mereka agar barang haram itu laku dan tanpa di curigai oleh polisi.
Pukul sepuluh akhirnya mereka usai melakukan rapat dan Rohman sebagai jalan mereka, laki-laki kurus ini akan memulai menjual barang harap itu bukan dia sebagai bandar tapi hanya orang yang menerima upah ongkos jalan saja.
Laki-laki bertubuh kurus itu memejamkan matanya, meresapi setiap embusan angin yang menembus tulang, hatinya telah terpatri pada pemilik hati, apapun yang terjadi ia sudah pasrah untuk saat ini. Kelopak mata berbulu lentik itu akhirnya terpejam dengan segala rasa gundah gulana yang ia rasakan.
.
.
.
Mengendap-endap keluar dari kamar sambil menenteng kantong plastik dan beberapa helai baju didalamnya agar tidak menimbulkan rasa curiga sama sekali.
"Bismillah," lirihnya lalu keluar dari gerbang yayasan tanpa menimbulkan decitan pagar.
Jalanan masih sedikit sepi, angin menerpa meniup setiap helai rambut Rohman. Apapun yang terjadi saat ini ia sudah pasrah, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya saat ini membahagiakan anak semata wayangnya.
Sangat menyedihkan cara berpikir Rohman yang tak pernah berubah, laki-laki bertubuh kurus itu selalu mengatasnamakan uang diatas kesehatannya.
Ia menaiki bus luar kota lalu menuju tempat tujuan, sudah di tetapkan perjanjian akan bertemu pukul berapa nanti di tempat itu.
.
.
Sedangkan di tempat lain Mayang baru selesai Salat Subuh bersama sang suami, tiba-tiba saja Mayang kembali muntah udara membuat Abizar panik dan menyusul kekamar mandi.
__ADS_1
"Kamu masuk angin?" tanya Abizar lembut pada wanita yang sudah mulai mencintainya itu, sementara Mayang hanya mengangguk lalu menyentuh perutnya.
"Kita periksa ke puskesmas atau klinik," sambung Abizar sambil mengelus tengkuk Mayang pelan namun lagi-lagi ibu satu anak itu menggeleng.
Abizar diam sejenak, ia mulai curiga pada Mayang saat ini, selalu ada penolakan dari ibu satu anak itu dalam segala hal, seperti makan makanan yang biasanya ia suka namun kali ini Mayang menolaknya.
Laki-laki pemilik mata elang itu memindai wajah Mayang yang pucat, ia menatap manik mata Mayang lalu mengusap bulir bening di sudut mata wanita yang bertahta di hatinya saat ini.
Laki-laki bertubuh gempal itu menangkupkan wajah Mayang, "jangan menolak untuk periksa ke klinik atau tidak aku akan marah padamu."
Abizar mengajak Mayang keluar dari kamar mandi lalu membuatkan ibu satu anak itu teh hangat. Rasa khawatir Abizar pada Mayang begitu kuat terlebih wanita cantik itu terlihat pucat saat ini.
.
.
Matahari terbit malu-malu, awan bergelayut manja, rintik gerimis membasahi bumi. Abizar mengantikan pakaian Mayang lalu mentitahnya menuju mobil, walau sebenarnya Mayang bisa melakukannya sendiri tapi Abizar memaksa harus membantu.
"Hujan, ga usah pigi ke link aja. Aku ga apa-apa," ucap Mayang, setelahnya ia menyunggingkan senyuman kearah Abizar.
"Hujan di luar mobil, dalam mobil ga hujan," seloroh Abizar membuat wanita yang melahirkan Mayang yang sedang duduk di bangku teras ikut tersenyum.
Leha sama curiganya seperti Abizar saat ini, ia juga yakin kalau anaknya saat ini sedang mengandung namun Leha menyarankan Abizar membawanya ke klinik setidaknya Mayang dapat asupan vitamin karena ia begitu malas menyentuh nasi.
Tak lama mobil Abizar sampai di sekolah Ali, laki-laki pemilik mata elang itu memiliki pergi lebih awal agar ia bisa sekalian mengantarkan Ali kesekolah, melanjutkan kembali kendaraannya setelah bocah itu turun dan menyalim takzim kedua orangtuanya.
Sesuai kesepakatan semalam ia akan meminjamkan uang pada Leha karena merasa kasihan pada seorang janda, karena Abizar tahu menolong seorang janda akan mendapatkan pahala besar.
Sebenarnya Abizar juga tidak mengharapkan di kembalikan uangnya karena dia tahu akad sebagai hutang itu cukup berat jika orang yang kita pinjami tidak ikhlas maka pertanggungjawaban di akhirat kelak begitu berat.
Terkadang banyak manusia yang merasa sepele tentang hutang piutang yang membuat mereka terjerat masalah akhirat, terlebih hutang yang mengandung riba.
Tak lama mobil Abizar mendarat sempurna di halaman rumah Yeyen, wanita paruh baya itu sedang duduk di terasnya sambil menyesap teh.
Mayang mengucapkan salam yang disambut antusias oleh Yeyen, senyumnya sumringah saat ia melihat Mayang tiba dengan suaminya seolah Yeyen tahu kedatangan Mayang untuk memberi pinjaman uang untuknya. Wanita paruh baya itu mempersilakan Mayang dan Abizar masuk dan duduk di sofa.
"Ada perlu apa nak Mayang datang kesini?" tanya Yeyen lembut, suaranya mengalahkan lembut sutra.
"Tentang pinjaman selam, tapi dengan satu syarat," terang Mayang pada mantan mertuanya itu.
Bukan ingin membebani Yeyen tapi luka hatinya atas perlakuan keluarga ini belum bisa Mayang maafkan sepenuhnya. Mata Abizar membola sempurna, ia tak percaya akan ada surat yang akan Mayang sebutkan.
__ADS_1